Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Dukungan sahabat



Kilas Balik...


Satu tahun sudah Keyan pergi. Hanya empat orang yang tahu keberadaannya. Laki-laki itu seperti robot bekerja siang dan malam, tak sabar ingin bertemu dengan sang pujaan hati.


Keyan juga merindukan para sahabatnya. Yang selalu mendukungnya dari jauh. Andai tidak takut dengan ancaman Varen, mungkin dia sudah pulang diam-diam menemui Valonia.


Keyan merapikan kopernya, lalu meraih ponsel di atas bantal. Sebelumnya ia tersenyum melihat foto terbaru Valonia. Gadisnya berambut panjang seperti dulu.


"Ada apa ?!"


Jawaban ketus dari dalam telpon membuat Keyan terkekeh. Ia sadar saat ini mengganggu jam istirahat seseorang.


"Ren, aku mau pulang."


"Hm, APA ?! Kamu bercanda ?" Suara yang hampir seperti gumaman tadi melengking nyaring tiba-tiba. Varen terbangun dari tidurnya.


"Aku serius, siapa yang menjemput ku? Dua jam lagi penerbangan ku." Keyan kembali tertawa bisa ia bayangkan betapa kesalnya Varen saat ini. Padahal kedatangannya akan membutuhkan waktu yang sangat lama.


"Alvan, Aku mau lanjut tidur." Varen mematikan telpon.


Keyan tersenyum lalu melemparkan tatapannya ke luar jendela, sengaja mengambil penerbangan malam . Agar tiba di kota kelahirannya malam hari juga. Rencana licik sudah tersusun rapi di otaknya. Keyan menempuh rute keberangkatan saat dirinya pergi dulu.


Persis yang telah direncanakan, Keyan mengudara berjam-jam lamanya. Ia berusaha untuk tidur mengenyahkan rasa bosan yang mulai merajainya. Keyan tiba di bandara, setelah mengurus segalanya. Ia langsung melangkah ke pintu keluar. Senyumnya mengembang melihat Alvan berdiri dengan gagahnya.


"Apa kabarmu?" Keyan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Kabarku baik, kita makan dulu. Setelahnya baru cari hotel untuk istirahat."


"Aku tidak mau menginap di sini, kita langsung pulang saja. Hanya tiga jam saja, 'kan? Biar aku yang menyetir." Tolak Keyan sekaligus menawarkan diri untuk menyetir.


"Baiklah, sebenarnya aku ke sini baru tadi pagi. Berangkat bersama sopir. Kami bergantian menyetir."


Alvan membantu Keyan membawa kopernya. Dua laki-laki ini melangkah sambil berbincang apa saja yang mereka lewati selama berpisah. 


Usai makan dan beristirahat, Keyan dan Alvan langsung melanjutkan perjalanan. Mereka bergantian pada sopir untuk menyetir. Setibanya di kota mereka. Alvan mengantar Keyan untuk menginap di hotel, mengingat apartemennya lama tidak di tempati perlu dibersihkan lagi.


Bukan Keyan namanya kalau tidak menjalani rencana liciknya. Setelah Alvan pulang. Ia langsung pergi dari hotel menuju butik Valonia.


Setibanya di Jasmine Boutique. Keyan langsung mengakses kode pintu. Tidak ada yang berubah masih seperti dulu. Karena merasa lelah, Keyan langsung ke kamar mandi setelah mengeluarkan satu setel piyamanya. Tanpa banyak pikir lagi, laki-laki ini langsung menyusup dalam selimut Valonia.


Kilas Balik Selesai.


...----------------...


Valonia duduk di sofa tunggal. Manik matanya memindai empat pria yang duduk di hadapannya. Tangannya berlipat di dada serta bersandar nyaman di dinding sofa.


"Jadi kalian tahu, kemana dia selama ini ?"


Intonasi datar itu dapat empat laki-laki ini tafsirkan. Valonia marah saat ini. Mereka antara berani dan tidak mengangkat wajah masing-masing.


"Iya."


Valonia menghembus nafas kasar. Ia kesal. Sangat kesal ! Setahun lamanya. Tiga orang ini menyembunyikan keberadaan Keyan.


"Terserah kalian, aku tidak tahu kebaikan apa yang kalian dapatkan dengan semua ini. Dan kamu, Key ! Pulanglah ke rumah orang tuamu. Mereka sangat mencemaskan mu."


Keyan menggeleng cepat. "Tidak mau ! Dimana kamu disitu aku." Ia duduk rapi di atas sofa menaikan kakinya seperti meringkuk.


"Kenapa ?" Valonia bingung sejak pagi Keyan menolak untuk pulang. Membuatnya semakin kesal saja.


"Kalau pulang, maka kamu juga pulang bersamaku."


"Kenapa aku harus ikut denganmu ?!" Ketus Valonia . Apa lagi lawan bicaranya itu lengket bak prangko di atas sofa.


"Karena kamu istriku."


"Rupanya penyakit halusinasi mu belum sembuh. Sonny ! Apa tidak ada obat untuk menyembuhkan dia. Lihatlah penyakitnya kambuh lagi." Valonia melihat pada Sonny.


"Tidak ada obatnya." Sahut Sonny cepat. Cari aman dulu pikirnya.


"Kamu memang benar istriku, pernikahan kita sudah terdaftar. Tinggal pelaksanaannya saja." Jelas Keyan. Jari-jarinya berpegang erat pada dinding sofa. Takut jika dirinya dilempar keluar oleh Valonia Jasmine.


Valonia terkejut, kenapa tidak ada satu orang pun yang memberitahunya ? Ia senang tapi juga kecewa. Iris mata Valonia semakin membidik tajam pada sosok yang tersenyum manis ke arahnya. Bahkan laki-laki itu tanpa susah payah menjelaskan semuanya. Karena sudah diwakilkan oleh Varen.


"Aku tidak menganggap dia calon suami atau pun suamiku !"


"APA ?!" Pekik Keyan. Ia refleks berdiri tak terima. Gumpalan daging lembut di dadanya berdenyut sakit. 


Tangan Keyan terkepal erat hingga buku-bukunya memutih. Tidak ! Ia tidak akan membiarkan usahanya ini gagal begitu saja. Netra nya menelisik bola mata indah milik Valonia. Mencari keseriusan dalam ucapannya. Tapi sayang, pantulan datar dari manik mata Valonia menutupi penglihatan Keyan. Di tambah lagi gadis itu tanpa ekspresi mengatakannya.


"Tapi pernikahan kalian terdaftar, Valo." Sonny angkat bicara karena suasana sudah tidak kondusif.


"Kalian melakukan ini tanpa persetujuan dariku !" Tegas Valonia Jasmine. Ia kesal bisa-bisanya keluarga tak satu orang pun memberi tahu.


"Itu kejutan, Jasmine." Lirih Keyan menatap sendu Valonia. Bisakah ? Hatinya menerima andai pernikahan ini juga ditolak ? "Jangan menolak ku lagi dan juga aku tidak mau pulang !" Keyan melangkah ke dalam kamar Valonia dan mengurung dirinya di sana.


"Hei, buka pintunya !" Teriak Valonia menggedor pintu. Ia mencoba mendorong pintu itu namun terkunci rapat.


"Aku tidak mau, sebelum kamu menerimaku !"


"Kapan dewasanya anak itu !" Kesal Varen. Ini memang terlalu cepat, harusnya Keyan mengerti dulu kondisi hati Valonia bukan dengan cara memaksa seperti itu.


"Key, buka pintunya. Kamu harus pulang !" Valonia kembali menggedor pintu.


Hening tidak ada jawaban. Sonny turun ke lantai satu. Laki-laki ini bergegas ke halaman butik yang masih sepi dan tutup.


Alvan melangkah menghampiri Valonia di depan pintu kamar. Ia menguatkan hatinya. Langkah ini harus Alvan ambil, karena tak mungkin lagi baginya memiliki Valonia dan menikung sahabatnya sendiri. Ia juga tahu bagaimana besarnya cinta pria kekanak-kanakan itu pada Valonia.


"Valo, jangan minta dia pergi dari sisimu. Jangan paksa dia untuk jauh. Keyan serius dengan perasaannya. Cinta yang dimilikinya sangat besar, suatu hari nanti kamu bisa merasakannya. Keyan mencintai kamu sejak dia masih jadi pria bodoh dan labil, hingga saat ini cinta itu semakin dalam. Saking takut kehilanganmu, dia banyak melakukan hal yang tidak terduga oleh siapa pun. Percayalah Keyan laki-laki baik, hanya saja kadang terlihat bodoh." Alvan sengaja meninggikan suaranya di akhiran kalimatnya. Agar orang yang tengah menguping di daun pintu itu mendengar makiannya.


Valonia terdiam, ia kembali duduk di sofa. Ia bingung harus berbuat apa ? Di tengah kebingungannya. Varen mendekat.


"Valo, kenapa aku membantu Key pergi dan mendaftarkan pernikahan kalian ? Karena dia di pecat Pak Andre atas permintaan Pak Johan. Saat itu akses untuknya bekerja di sini sudah ditutup oleh ayahnya. Pak Johan ingin Keyan kembali dan menikahi Tita. Agar dua perusahaan mereka bisa saling melengkapi. Keyan menolak untuk pulang dan Pak Andre terpaksa harus menuruti keinginan Pak Johan."


"Papa, merekomendasikan Keyan untuk bekerja di luar negeri. Maka dari itu Keyan ingin pergi tapi tidak ada satu orang pun yang tahu kemana dia. Keyan tidak ingin ayahnya ikut campur lagi. Kami membantunya untuk pergi lewat kota lain." Alvan ikut bercerita lalu duduk di samping Valonia.


"Lalu kenapa Key, tidak memberitahuku ? Dia bahkan mengirim bunga-bunga itu ke sini."


"Aku yang melarangnya. Karena dia tidak akan benar-benar bekerja jika  berpamitan padamu. Karena itulah dia meminta aku menjamin mu untuknya. Keyan harus kuat untuk berdiri di sampingmu. Yang kalian hadapi bukan orang sembarangan. Punya kekuasaan dan uang." Perhatian Varen teralihkan dengan getaran ponselnya. Dilihatnya nama Sonny tertera dilayar ponselnya. Namun, Varen memilih mengabaikannya.


"Kami juga menemui mamamu dan keluarga kalian bersama papa. Keberuntungan itu berpihak pada si bodoh itu." Alvan kembali meninggikan suaranya. Ia sangat yakin jika sahabatnya itu mendengarkannya.


Valonia bingung harus menanggapinya seperti apa. Dia juga bukan wanita polos yang tidak tahu perasaan Keyan. Dan dia juga bukan wanita mati rasa yang tidak paham perasaannya. Keyan berhasil menanam cinta di hatinya. Dia bahagia mendengar penuturan Varen dan Alvan. Tapi bagaimana tanggapan keluarganya ?


Di saat semua hening ponsel Alvan bergetar, ia membaca pesan yang baru masuk. "Ayo kita ke depan butik, anak itu mau bunuh diri.


Valonia refleks berdiri, ia berlari menuju lift. Apa jawabannya jika Keyan bunuh diri rumahnya. Dengan tergesa-gesa, Valonia menghampiri Sonny yang menengadahkan kepalanya ke atas.


"Lihat, dia sudah gila. Hanya karena kamu tidak menerimanya, dia mau bunuh diri." Tunjuk Sonny pada Keyan yang menurun kakinya di pagar balkon.


Valonia mengepalkan tangannya, bagaimana jika Keyan benar-benar melakukannya ? Sisa hujan semalam belum dikeringkan. Bisa di pastikan saat ini tempat Keyan berpijak itu licin.


"Key, turun !" Teriak Valonia.


"Tidak mau ! Kamu tidak mengakui ku." Keyan berusaha menurunkan kaki satunya. "Untuk apa lagi aku hidup jika kamu tidak mengharapkan ku."


"Bagaimana ini ?" Sonny khawatir. "Tidak ada sesuatu yang bisa kita taruh di bawah sini untuk antisipasi jika dia jatuh."


"Ck, Anak itu !" Varen berdecak kesal. Masih saja melakukan hal yang menyusahkan.


"Key baiklah, aku tidak memaksamu untuk pulang. Kamu boleh tinggal bersamaku. Aku juga mengakui mu sebagai suamiku. Ayo kita tanda tangani berkas-berkas yang belum selesai biar kita dapatkan buku nikahnya." Bujuk Valonia.


"Benarkah ?" Keyan sangat bahagia. Tak bisa ia ungkap dengan kata-kata. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya meluapkan bahagia yang membuncah di hatinya. Jika tidak berbahaya Keyan ingin jungkir balik di atas balkon. Namun sayang keberanian itu tak ia miliki. Karena resikonya akan fatal dirinya mati terjatuh dan Valonia akan dimiliki orang lain.


"Iya benar. Bukankah ? Ada beberapa berkas yang belum aku tanda tangani."


"Baiklah sayang, aku akan buka pintu kamarnya."


Valonia kembali naik bersama Varen. Di belakang mereka, Sonny mengacungkan jempolnya pada Keyan. Sementara Alvan tertawa pelan mengusap sudut matanya. Kristal bening itu merembes keluar, menandakan kisah cinta sendirinya berakhir di sini.