Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Tidak Sendiri



Keyan melajukan mobilnya dalam derasnya hujan. Jarak pandang yang terbatas menghambat perjalanannya agar cepat sampai tujuan. Laki-laki ini berkendaraan dengan sangat hati-hati. Ada kelegaan dalam hatinya setelah lepas dari cangkang yang menaunginya selama ini. Cangkang yang mengurungnya. Hingga ia harus berjalan sesuai porosnya.


Keputusan besar ini tidak ia sesali. Rasanya Keyan bisa yakin memulai dari awal kehidupannya sendiri. Tanpa ada aturan dan tuntutan yang mengekangnya. Malam semakin larut tujuannya adalah hotel. Keyan harus mencari hotel untuknya tidur malam ini. Satu hal yang ia lupa, apartemen miliknya hadiah ulang tahun dari kakeknya dua tahun lalu sebelum beliau wafat.


...----------------...


Pagi menjelang. Hari pertama Keyan menjadi pengangguran. Ia terkekeh sendiri, didepak dari keluarganya hanya karena membangkang. Tidak ingin larut dalam pemikirannya Keyan bergegas mandi. Hari ini ia berniat menemui Alvan di kantor.


Usai sarapan, sesuai rencananya Keyan langsung pergi ke kantor Alvan. Namun sebelum ke sana, ia berniat mampir dulu ke Jasmine Boutique. Rasa rindunya dua kali lipat karena belum melihat wajah gadis pujaan hatinya itu. Mobil Keyan berhenti di halaman butik. Mia melihat kedatangan Keyan langsung menghadangnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Mia bertanya dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Kejadian kemarin membuatnya ektra hati-hati.


Keyan mengerti karena memaksa masuk hari kemarin. Karena ia menyadari tanggung jawab Mia di situ. "Apa Jasmine ada di dalam ?"


"Kak, Valo. Pergi belanja bersama kak Varen." Ketus Mia.


Keyan mengangguk. "Baiklah, sampaikan padanya nanti siang aku menemuinya."


"Iya."


Keyan meneruskan perjalanannya ke kantor Alvan. Di perjalanan, ia kembali mengingat pertengkaran tadi malam. Bukan ini yang diharapkannya. Ada sesal dalam hati laki-laki ini. Mengingat dengan egoisnya memaksa untuk menolak kuliah di Amerika lima tahun lalu.


Sehingga Valonia menjadi bahan tekanan keluarganya. Andai dia berpikir dewasa, tidak takut dengan sesuatu yang belum terjadi. Mungkin, dirinya sudah bisa memiliki Valonia Jasmine.


Meski hubungan itu dijalani jarak jauh. Dengan saling percaya dan memberi dukungan mungkin hubungan itu akan baik-baik saja.


Mobil Keyan berhenti di halaman kantor Pak Andre. Dia tahu ayahnya pasti dari sana. Karena ia melihat mobil ayahnya keluar dari halaman kantor Pak Andre.


Keyan melangkahkan kakinya langsung ke ruangan Alvan. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Matanya terpejam lalu menghembuskan nafas perlahan. Mengusir rasa jenuh yang melandanya. Baru beberapa jam jadi pengangguran, rasanya sudah seperti berminggu-minggu. Tanpa aktivitas membuat Keyan seolah buntu memulai semuanya.


"Kenapa ? Ada masalah ?" Alvan meletakkan secangkir kopi yang baru ia seduh.


"Aku diusir." Keyan menegakkan posisi duduknya. Terlihat sekali jika ia tidak bersemangat meski ini pilihannya.


"Tadi, Om Johan kesini. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tidak tahu." Alvan meraih cangkir kopinya lalu menyeruputnya sedikit. Ia tidak terkejut lagi karena ini resiko yang akan sahabatnya ambil.


Keyan tersenyum kesal. "Ayah datang pasti membahas masalah tadi malam. Aku sudah memutuskan tidak melanjutkan pertunangan dengan Tita. Karena itulah Ayah murka dan mengusirku."


"Ini resikonya jika kamu siap. Aku hanya mendukungmu."


"Aku bersalah, tapi sebelum semuanya menjadi runyam lebih baik aku mengambil keputusan sekarang sebelum aku menyesal. Aku memang memikirkan saran mu waktu itu dengan tenang untuk menerima Tita. tapi setelah bertemu dengan Jasmine aku tidak bisa mengendalikan hatiku." Jelas Keyan panjang.


Alvan menghembus nafas panjang dengan tenang. Ia melemparkan pandangannya ke segala arah. Jika ada kesempatan ingin rasanya memperjuangan Valonia Jasmine. Tapi mengingat Sahabatnya yang sudah begitu lama mencintai gadis itu. Ia memilih akan diam diri dan melihat situasi. Namun jika harus ada persaingan maka harus persaingan sehat dan siap melepaskan jika dirinya gagal.


Alvan menghabiskan sisa kopinya begitu juga dengan Keyan. Dua laki-laki tampan ini keluar dari ruangan wakil direktur. Di dalam ruangannya Pak Andre mendengar daun pintunya di ketuk.


"Masuk."


"Pa."


Pak Andre menoleh ke asal suara. Di sana berdiri putranya dan Keyan. Ia tersenyum pada dua anak muda itu.


"Kemarilah." Pak Andre berpindah ke sofa. "Ada apa?"


"Tadi, Om Johan kesini ada apa?"


Pak Andre tersenyum lagi, lalu melihat pada Keyan. Dari kecil laki-laki ini selalu patuh pada pengaturan Ayahnya.


Arini, kenapa kalian tega pada putra sematang wayang kalian. Kenapa ego harus dipelihara ? Dan apa salah gadis itu hingga kalian tidak menyetujuinya


"Key, tadi Ayahmu datang kemari. Dia menceritakan semuanya pada Om. Selain itu... dia meminta jika kamu datang kemari meminta bantuan. Maka Om harus menolaknya."


"Aku mengerti, Om. Tidak apa-apa, aku hanya mengunjungi, Al." Keyan tersenyum paksa. Rupanya sang Ayah sudah mulai melumpuhkan pergerakan nya.


"Posisi manajer keuangan kosong. Besok datanglah, bawa lamaran mu." Om Andre tersenyum hangat. "Kamu tidak sendiri." Sambungnya lagi.


Keyan terharu. Pak Andre membantunya saat sulit seperti ini. "Terimakasih, Om."


"Untuk saat ini, di mana kamu tinggal?" Pak Andre berpindah ke kursi kerjanya.


"Tadi malam di hotel, Om."


Alvan tertawa. "Hei, kamu punya apartemen, hadiah dari almarhum kakek mu."


Keyan tersentak. "Benar juga, kenapa aku bisa lupa ? Baiklah, Om ! Besok aku akan datang ke sini dan mulai bekerja. Hari ini aku mau bersih-bersih dulu di Apartemen." Ia berdiri dari tempatnya duduk.


"Ayo aku bantu. Nanti aku ajak anak-anak mereka pasti mau bantu. Kecuali Sonny dia pasti sibuk banyak pasiennya." Alvan juga berdiri dan berpamitan.


"Kamu yakin mereka mau bantu." Keyan meragu karena hubungannya dan Varen tidak sedekat dulu.


"Pasti mau. Nanti aku ajak Rara dan Valonia juga."


Wajah Keyan berbinar mendengar penuturan Alvan. Dengan semangat penuh ia bergegas bersama sahabatnya itu.