
Terik matahari perlahan meredup. Namun hawa panas masih saja merajai. Di dalam ruangannya Keyan meregangkan ototnya sembari melirik ke kaca jendela. Ada awan berarak mendung di atas langit.
Laki-laki ini menghembus nafas panjang sebelum membereskan meja kerjanya. Manik mata Keyan bergulir pada pigura cantik di atas mejanya. Ia tersenyum meraih bingkai foto itu. Mengusap kacanya dengan lembut seolah bersentuhan langsung pada pemilik foto itu.
Tak sabar menahan rindunya, CEO JFB ini gegas berkemas sambil merapikan meja kerjanya. Langkah Keyan lebar sambil mengirim pesan pada Endi untuk pulang bersama ke rumahnya. Usai pesan terkirim Keyan melanjutkan langkah ke basemen kantor.
"Menginaplah di rumah." Keyan berkata sambil mendaratkan tubuhnya disisi Endi.
"Bagaimana rencana mu?" Endi mulai melajukan mobil. Menginjak pedal gas untuk keluar dari basemen.
"Nanti kita bahas bersama Jasmine." ******* nafas Keyan terdengar frustasi. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menghela nafas panjang.
Percakapan terhenti ketika mobil sudah berbaur dengan pengendara lain. Badan jalanan sedikit lebih padat karena para pekerja mulai pulang dari tempat bekerja masing-masing.
Keyan melemparkan pandangannya ke luar kaca jendela. Banyak gedung menjulang tinggi menandakan kota itu semakin maju dan berkembang. Di awal karirnya sebagai pengusaha, tidak mudah untuk laki-laki ini mendapatkan pengakuan. Berkali-kali ditolak saat mengajukan kerja sama. Beberapa kali jatuh bangun menghadapi berbagai masalah. Dan untuk kali ini, Keyan juga akan lebih kuat terlebih ada istri di sampingnya yang selalu menguatkannya.
...----------------...
"Ada masalah ?" Valonia bertanya sambil memakan bubur kacang hijau yang baru saja dibuat oleh Bi Noni. Wanita hamil ini duduk bersandar di dinding sofa.
"Sedikit sayang." Keyan mengecup perut buncit istrinya itu. Laki-laki berambut lurus ini duduk di karpet bulu. Tangan dan wajahnya menempel sempurna di bulatan perut istrinya.
"Rancangan terbaru JFB dijiplak orang lain." Sahut Endi. Iris matanya menggambarkan rasa bersalah yang amat besar karena dirinya yang bertanggung jawab untuk produk baru itu.
"Kenapa bisa seperti itu? Apa ada yang mengkhianati kalian?" Valonia meletakkan mangkok kacang hijaunya di atas meja. Raut wajah wanita cantik ini terlihat serius. Manik matanya bergulir menatap suaminya meminta sebuah jawaban.
Keyan menggeleng lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuan Valonia. Laki-laki ini ingin membiarkan bayi di dalam kandungan itu bergerak di atas kepalanya. "Kami belum tahu pasti sayang. Tapi aku yakin tidak ada yang berani melakukan hal itu. Selama ini kami berjuang sama-sama untuk JFB." Ucapnya membiarkan Valonia membelai rambutnya.
"Aku yang bersalah karena tidak hati-hati. Tapi aku juga bingung dimana aku ceroboh?" Sahut Endi bingung dan bercampur dengan rasa bersalahnya.
"Yenika !" Keyan menyahut sambil menarik kepalanya dari pangkuan sang istri. Ia berpindah naik ke atas sofa.
"Apa rancangan itu sudah pernah diperlihatkan ke publik ?"
"Belum, itu yang membuat aku bingung." Endi memijit pangkal keningnya sambil menghembus nafas berat. Ia menyandarkan tubuhnya dengan kasar di dinding sofa.
"Aku tidak masalah kalau hal ini bukan lagi sebuah kejutan. Apa dia sudah mengunggahnya?" Valonia nampak serius. Dalam hal menjiplak karya ia sering menghadapinya.
"Iya sayang. Lihatlah !" Keyan memberikan tablet milik Endi pada Valonia.
Wanita hamil ini melihatnya dengan seksama. "Apa ini sudah mereka luncurkan?" Tanyanya dengan posisi masih fokus pada gambar-gambar itu.
"Rancangan ini akan dia luncurkan dimalam yang sama dengan ulang tahun JFB. Kita juga dapat undangan untuk menghadirinya." Sahut Keyan mengambil alih tablet itu dan memperlihatkan undangan dari Yenika.
"Tidak tanggung-tanggung dia mengundang kita secara pribadi dan juga resmi." Endi meletakkan satu lembar undangan di atas meja.
"Niat sekali ! Sekarang, apa yang kalian berdua kalian cemaskan ?" Valonia berpangku tangan menatap wajah suaminya dan Endi bergantian.
"Di malam yang sama, JFB juga meluncurkan produk ini. Hanya berbeda jam. Otomatis publik beropini JFB menjiplak karya Yenika." Ujar Endi lesu.
"Apa kalian lupa? Setiap karya akan memiliki ciri khasnya. Setiap sentuhan dalam sebuah karya, maka ada definisinya di balik itu semua. Ketika kita ingin membuat sesuatu maka disertai temanya. Contohnya rancangan ini pasti ada cerita di balik pembuatannya dan yang terpenting setiap karya ada sertifikat pemiliknya."
"Aku mengerti !" Endi sumringah. Beban di dada laki-laki ini terhempas begitu saja mendengar perkataan Valonia Jasmine.
"Terimakasih sayang." Keyan menghujani wajah istrinya itu dengan banyaknya kecupan kasih sayang. Ia sangat lupa jika wanita pendamping hidupnya itu lebih berpengalaman darinya dalam hal ini.
Ya, tidak diragukan lagi. Valonia Jasmine lebih dulu terjun ke dunia bisnis dan bergelut dengan pasang surutnya sebuah usaha. Bahkan dalam event tertentu mencuri atau menjiplak karya orang sering terjadi. Dan dirinya sendiri pernah menjadi korban ketika desain miliknya di akui orang lain.