Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Cerita sesungguh nya



Tubuh Keyan bergetar. Tangannya merengkuh erat tubuh wanita yang ia cintai itu. Dalam hatinya tak henti  berucap syukur atas apa yang ia lihat. Keyan memeluk erat istrinya. Seolah Valonia Jasmine hanya miliknya seorang. Tak memperdulikan orang lain yang berada satu ruangan dengannya. Keyan bahagia melihat istri yang mengguncang ketenangan dunianya duduk sembari tersenyum melihat ke datangannya.


"Dari mana saja, hm... ?" Suara lembut Valonia begitu merdu terdengar di gendang Telinga Keyan. Netra nya terpejam merasakan kehangatan jari-jari lentik Valonia membelai wajahnya. Rasanya Keyan enggan membuka kelopak matanya. Takut jika ini hanya halusinasinya belaka. "Aku merindukanmu." Tiga kata terlontar dari bibir wanita cantik ini bagai peluru menembus jantung Keyan. Ia yakin ini bukan halusinasinya.


Keyan tersenyum disela air mata yang mengalir di pipinya. Ia mengecup buku-buku jari Valonia dengan lembut. "Aku mencintaimu sayang... Sangat mencintaimu. Jangan tidur lebih lama lagi, aku tidak sanggup kesepian tanpamu."


"Apa kamu tidak bosan, mengatakan mencintaiku dari sejak masih di bangku SMA ?" Seulas senyum tercetak sempurna di bibir pucat Valonia Jasmine.


"Ma—maksudmu ?"


"Keyan Ganendra suamiku, apa kamu lupa? Sejak SMA kamu sudah mengatakan cinta padaku. Saat kita pergi piknik. Apa kamu tidak bosan sayang." Tangan Valonia menangkup wajah suaminya yang nampak terkejut. Ia tersenyum melihat mata tajam Keyan berkedip-kedip bak boneka.


"Ka—kamu mengingat piknik itu, sayang."


"Iya, aku bisa mengingat semuanya." Valonia mengangguk yakin sembari tersenyum.


Keyan tak bisa berkata-kata lagi. Ia merengkuh kembali tubuh ramping istrinya. Rasanya seperti mimpi dan Keyan tak ingin bangun dari mimpi itu. Ia berharap ini selamanya bukan sesaat yang hanya mampir menyenangkan hatinya.


"Valonia sudah mengingat semuanya, Key. Bahkan tentang kecelakaan itu." Seru Varen. Ia baru saja selesai menelpon Rara dan Mia untuk datang ke rumah sakit.


"Benarkah? Apa kamu merasa sakit atau sesak? Kamu tidak salah sayang. Itu kecelakaan yang tidak bisa kamu hindari." Keyan membalas menangkup wajah istrinya. Ia terlihat sangat cemas.


"Aku baik-baik saja."


...----------------...


Kilas Balik


Suasana hening menyelimuti ruang rawat Valonia. Selain Keyan yang tidur untuk menstabilkan kondisi tubuhnya sebelum pertemuan penting di kantornya. Ibu Merry juga hanya diam sambil menggenggam jemari Valonia.


"Ma, bagaimana kondisi Valo." Varen datang bersama Levin. Dua laki-laki ini membawa rantang makanan untuk Pak Andre dan juga Keyan serta Mama Merry.


"Masih seperti ini, belum juga bangun." Mama Merry tak bisa menutupi rasa sedihnya. Hingga menitikkan air mata.


"Sabar, aku yakin Valo akan bangun. Mungkin dia masih nyaman dengan kondisinya saat ini." Varen merangkul tubuh Mama Merry sembari menyemangati. "Sekarang Mama makan ya."


"Mama belum lapar, Nak. Bagaimana kondisi Levin?"


"Aku sudah lebih baik, Tante." Sahut Levin sembari melangkah menuju brankar.


"Jangan terlalu lama marah sama istrimu, Nak. Itu tidak baik, kamu selesaikan masalah dengan kepala dingin ketika kamu sudah merasa lebih baik." Nasehat Mama Merry.


"Iya, Tante. Aku akan segera menyelesaikan masalah kami." Levin tersenyum meyakinkan Mama Merry. Laki-laki ayah satu anak itu mengelus lembut rambut Valonia. Dalam lubuk hatinya masih ada rasa sesal atas tindakan Fanny istrinya.


Usai membahas kondisi Valonia, tanpa mengganggu Keyan yang terlelap. Varen dan Levin langsung ke Ren's cafe. Tak lama kemudian Bunda Arini juga tiba. Ia hampir saja lepas kendali saat tahu tentang kejadian tadi malam. Ia tak menyangka efek dari kejadian kemarin membuat menantunya dalam titik keterpurukan.


Mama Merry dan Bunda Arini menoleh ke arah suara. Di sana Keyan duduk dan bangun dari tidurnya. Suami Valonia itu sangat lelap, selain tubuhnya yang lelah. Ia juga harus tidur yang cukup demi istrinya dan juga JFB.


"Belum, Nak." Sahut Mama Merry.


Bunda Arini melangkah menghampiri putranya. "Kata Endi, kamu ada pertemuan penting. Sekarang makan siang dulu. Dan bersiaplah ke kantor. Nanti, Derry datang menjemputmu. Baru saja Endi menelpon Bunda."


"Iya Bun. Apa istriku sudah bangun?" Keyan melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan jam sebelas siang.


"Belum Nak. Jangan sedih nanti jika lapar dia akan bangun." Mama Merry menyiapkan makan siang yang dibawa Varen dan Levin.


"Iya." Dengan pergerakan lambat Keyan melangkah ke kamar mandi. Laki-laki ini mencuci wajahnya. Tak merasa segar, ia langsung mandi.


Usai membersihkan tubuhnya, Keyan sudah siap dengan pakaian kerjanya. Tak lupa memakan makan siang yang telah disiapkan Mama Merry. Netra nya tak kunjung beralih dari wajah wanita yang dicintainya itu. Namun, Keyan cukup puas sudah membalas Tita dan Sindy dengan berbagai tuntutan.


Keyan berpamitan dan meninggalkan jejak ciuman kasih sayang di kening Valonia. Ia berharap dalam hatinya,  istrinya akan bangun disaat dirinya kembali nanti dari pertemuan. Punggung Keyan menghilang di balik pintu.


Kelopak mata Valonia perlahan terbuka. Ada air mengalir di sudut matanya. Pandangannya hampa dengan mata yang terbuka hanya sedikit. Melihat hal itu, Mama Merry dan Bunda Arini bahagia. Valonia Jasmine sudah bangun.


"Nak, kamu bangun ?" Bunda Arini merapikan anak rambut yang menutup kening menantunya.


"Kamu lapar atau haus sayang, katakan pada Mama." Mama Merry mengecup lembut pucuk kepala Valonia. Tak mau membuang kesempatan. Ia pun berkata. "Jangan hukum diri kamu seperti ini sayang. kasian Keyan, dia tersiksa. Meninggalnya Papa bukan kesalahanmu. Seharusnya, setelah kamu bangun dari koma. Mama sudah mengatakannya. Namun kondisimu saat itu tak memungkinkan untuk harus mengingat kejadian itu. Papa dinyatakan meninggal sebelum kita ke rumah sakit. Mama berusaha mempercayai itu, sampai pengakuan Bi Irma yang meyakinkan Mama. Saat itu, beliau tidak lagi merasakan detak jantung Papa ketika Bibi membantu memasukan Papa ke dalam mobil. Tapi Bi Irma tidak mau gegabah maka dari itu dia membiarkan kita ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Papa. Mama yang terlalu panik tak merasakan jika tubuh Papa sudah dingin. Maafkan mama, Nak."


Iris mata Valonia merespon, perlahan-lahan Manik matanya menatap pada mama Merry. Ingatan Valonia kembali pada saat, ia dan mama Merry meminta bantuan Bi Irma untuk membawa Papa Danu ke dalam mobil. Pada saat itu, Bi Irma sempat menempelkan telinganya di dada Papa Danu. Namun Valonia dan Mama Merry tak menanggapinya lebih.


"Benarkah seperti itu? Lalu kenapa kalian tidak mengatakannya sejak dulu." Bunda Arini mulai bertanya karena rasa penasarannya


"Kejadian itu adalah pukulan terberat untuk saya sendiri. Kehilangan suami dan Valo mengalami koma. Lalu... Setelah sadar, Ia lupa pada dirinya sendiri dan kami. Kami memang tidak mengungkit tentang kecelakaan itu. Agar Valonia tidak penasaran. Jika dia sampai mengingatnya maka seperti inilah jadinya. Valonia akan menyalahkan dirinya sendiri, meski pun faktanya demikian karena Valonia mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Meski seperti itu. Saya tidak menyalahkannya karena kami sama-sama panik. Untuk kematian Papanya, bukan karena kecelakaan itu."


"Valo, kamu dengar. Nak ! Meninggalnya Papamu. Bukan karena kecelakaan itu. Jadi jangan menyalahkan dirimu lagi ya..." Bunda Arini tersenyum lembut mengusap pucuk kepala menantunya itu.


Valonia menatap lekat wajah Mama Merry. Ia mengedip maka turunlah air di sudut matanya. Tangis Valonia pecah demi menjaga perasaannya. Seluruh keluarga menutupi tentang kecelakaan itu. Ya, benar saja. Andai mereka menyinggung kecelakaan itu. Mungkin Valonia akan penasaran dan ingin tahu.


"Sudah Nak. Mama sudah memaafkan Valo karena mengemudi tidak hati-hati. Mama juga salah karena membuat mu panik. Maafkan Mama sayang. Maafkan Mama... Berhentilah menyalahkan dirimu." Mama Merry mengecup kening Valonia.


Valonia mengangguk dan berusaha untuk duduk. Lalu memeluk tubuh Mama Merry dengan erat. Ibu dan anak itu saling memaafkan dan menguatkan. Bunda Arini ikut menitikkan air mata menyaksikan air mata kesedihan Valonia dan Mama Merry.


Kilas Balik selesai


...----------------...


Keyan kembali membenamkan wajah istrinya di dada bidangnya. Rasanya begitu bahagia setelah tahu fakta yang sebenarnya. Jika Papa Danu meninggal bukan karena kecelakaan itu. Keyan juga bersyukur, disaat itu tidak ada korban lain yang bisa memberatkan Valonia Jasmine.