Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Milik Siapa Itu ?



Di dalam ruangan dengan interior mewah, Keyan sedang termenung melemparkan pandangannya ke arah luar kaca ruangannya. Netranya tertuju pada langit yang mendung.


Awan hitam mulai berkumpul menjadi satu, sebentar lagi hujan akan turun. Memori yang telah lama ia singkirkan tiba-tiba berseliweran dibenaknya.


Keyan mengabaikan laptop di depannya dan hanya duduk termenung menatap jauh. Ingatannya kembali ke lima tahun lalu ketika piknik, hujan turun menyaksikan ungkapan cintanya. Yang ia kira berakhir manis, ternyata tidak sesuai ekspetasinya. Ungkapan cintanya mendapatkan jawaban kecewa.


Mengingat itu kembali, hati Keyan sedih dan terluka. Kemudian, pertemuan setelah perpisahan lama. Ia kira bisa melupakan segalanya. Tapi, ternyata dirinya terlupakan. Hal itu membuatnya memanas.


Jasmine, aku membencimu ! Kenapa semudah ini kamu melupakanku ? Dan membuangku dari ingatanmu. Apa kamu sengaja melakukannya ? Keyan bergumam dalam hati. Tanpa ia sadari ada rasa tidak terima ketika dirinya terlupakan begitu saja.


Keyan merogoh saku celananya. mengeluarkan sepasang gelang tali berwarna hitam. Ia menatapnya dengan seulas senyum di bibir merahnya. Keyan teringat kembali kenangan saat membeli gelang itu. Siapa yang mengira sepasang gelang itu masih ia simpan. Mungkin laki-laki ini memang berniat menyingkirkannya. Tapi, hati kecilnya menolak.


...----------------...


Kilas Balik.


Saat malam reunian itu. Setelah Rara bicara, Keyan terdiam begitu juga dengan Alvan dan Tita. Manik mata laki-laki itu menatap punggung Valonia Jasmine yang melangkah keluar.


Keyan menunduk melihat gelang di tangannya. Matanya berembun. Perasaan marah, kecewa dan sedikit menyesal berbaur dalam dadanya. Tidak ingin berlama di sana, ia mengajak Alvan dan Tita untuk pulang.


"Jangan ditanggapi apa yang aku katakan tadi. Aku hanya ingin membalas Jasmine." Keyan sekali lagi mengingatkan Tita.


"Aku mengerti. Key !" Senyum paksa terlihat di bibir gadis itu. Bagaimana pun juga kalimat yang baru didengar Tita itu membuatnya terluka.


Ada aku, Key ! Dengan segala cintaku disisimu. Kenapa tidak melihatku sedikit saja ?


Tita membuang pandangannya ke arah luar. Sementara Alvan hanya diam duduk di belakang bersama Sindy. Ia juga menyesal, tidak seharusnya ikut emosi.


"Tidak seharusnya kita memperpanjang masalah tadi. Mungkin, Valonia tidak sengaja menumpahkan minumannya." Alvan menyadari jika mereka berlebihan.


"Itu pantas untuknya, dia sudah menolak, Key ! Jadi wajar jika mendapatkan balasannya." Sindy mendukung aksi Keyan. Senyum sinis terlihat di bibirnya.


"Sindy, turunlah sudah sampai !" Tegas Alvan. Ia marah mendengar kata-kata gadis itu.


Setelah mengantarkan teman-temannya pulang. Keyan melajukan mobilnya pulang ke rumah. Setiba di sana, ia bergegas naik menuju kamarnya. Bunda Arini heran kenapa putranya cepat pulang? Apa acara reuniannya  batal?


Keyan terus menaiki undakan tangga. Dengan kasar, ia mendorong daun pintu kamarnya. Langkahnya tertuju pada tempat sampah di pojok dinding. Ia menumpahkan tempat sampah itu ke lantai.


Keyan mengikis gumpalan kertas-kertas yang berserakan. Hingga, ia mendapatkan benda yang dicari. Keyan menghela nafas lega lalu meraih gelang tali miliknya yang telah ia buang tempo hari.


Keyan meletakkan sepasang gelang tali itu di atas kasur. Menatapnya dalam diam, ia mengingat perlakuannya tadi sangat kasar mencengkram pergelangan Valonia. Apa salahnya jika gadis itu masih ingin mengenakan gelang itu ?


Keyan mengambil kotak kosong dan menyimpan gelang itu dengan rapi dan aman di dalam laci lemarinya.


Kilas Balik selesai


...----------------...


Lamunan Keyan pecah karena getaran dari ponsel di atas mejanya. Ia meraihnya dengan malas.


"Iya, Ta. Ada apa ?" Keyan bertanya kenapa Tita menelponnya.


"Kamu sudah makan siang, Key?"


"Belum." Jawab Keyan pendek apa adanya.


"Akan kupesankan makanan. Maaf aku tidak bisa mengantarkan makan siang untukmu. Aku ada pertemuan penting."


"Tidak apa-apa, Aku bisa makan di kantin Kantor." Keyan mengerti dengan kesibukan Tita.


"Sore nanti kita pergi melihat, gaun dan jas pertunangan kita."


"Maaf, Ta. Sepertinya aku tidak bisa jadwalku padat. "Keyan dengan cepat menolak.


Keyan menghela nafas panjang, menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia kembali melihat sepasang gelang tali di atas mejanya.


Aku harus membuktikan jika kamu hanya berpura-pura melupakan aku Jasmine


...----------------...


Valonia Jasmine baru saja menyelesaikan satu rancangan baju untuk anak laki-laki. Ia tersenyum puas menatap hasil rancangannya.


"Kak, Valo ! Di bawah ada tamu ingin bertemu kakak." Mia datang mengetuk daun pintu ruang  kerja Valonia.


"Siapa ?" Valonia membereskan meja kerjanya.


"Tuan, Key."


Valonia menatap heran pada Mia. "Kenapa ingin bertemu denganku ? Dia tidak ada urusan dengan kita." Gadis itu melangkah menghampiri Mia.


"Tidak tahu, Kak. Sebaiknya temui dulu... tanyakan maunya apa ?" Jika tidak penting kakak bisa meninggalkannya." Saran Mia memberi jalan untuk Valonia.


Dengan langkah elegan Valonia Jasmine menuruni anak tangga. Tatapan gadis itu terlihat datar seperti biasanya. Rambut sebahunya ia cepolkan ke atas. Hingga leher jenjangnya terekspos sempurna.


"Selama sore Tuan, Key ! Ada yang bisa saya bantu."


Keyan berpaling, ia terpaku saat berhadapan dengan gadis yang entah ia benci atau masih dicintainya itu. Netranya tidak berkedip, Valonia memang sangat cantik. Hanya saja tubuhnya kurus dan nampak matanya seperti mata panda.


"Tuan. Key ! Kak Valo bertanya apa anda butuh sesuatu?" Mia bertanya sedikit nyaring karena Keyan bergeming pada suara Valonia.


Keyan tersentak dari keterpakuannya, lalu mengubah ekspresinya. "Kamu masih berpura-pura, Jasmine !" Suara baritone itu terdengar mengejek.


"Apa maksud anda ?" Valonia mengernyitkan alisnya. Ia dan Keyan sama-sama melemparkan tatapan dingin.


"Bisa tinggalkan kami berdua." Keyan menoleh pada Mia.


"Tuan, jika anda ingin berkunjung untuk mencari sesuatu. Maka, kembalilah besok. Butik kami akan tutup. Tapi bila anda memang ingin bertamu naiklah ke ruangan saya." Valonia segera menyahut dan menaiki tangga.


Keyan tersenyum tipis. "Baiklah." Ia mengikuti langkah Valonia menaiki anak tangga. Manik matanya penuh selidik melihat ke tiap sudut.


"Silahkan duduk."


Keyan mendaratkan tubuhnya, lalu bersandar sambil melihat isi dalam ruangan itu. Tidak ada tanda-tanda kenangan dirinya yang tertinggal.


"Jasmine, berhenti berpura-pura. Jika kamu memang ingin melupakanku terserah padamu. Tapi, jangan dengan cara tidak mengenalku." Keyan menatap tajam manik mata gadis cantik ini. Tanpa ia sadar sudah membuat permohonan.


"Bang Levin, mengatakan jika anda dan dua orang lainnya itu. Adalah teman satu angkatan saya di sekolah. Maaf jika saya melupakan kalian." Jelas Valonia sabar.


Keyan semakin menajamkan netranya, setelah mendengarkan penjelasan Valonia. "Bagaimana dengan ini, apa kamu juga lupa ?!" Laki-laki ini mengeluarkan sepasang gelang tali yang ia bawa.


Valonia Jasmine melihat gelang itu. Ia mengamatinya sebentar lalu berkata. "Milik siapa itu ?"


Keyan menegakkan tubuhnya. "Kamu yakin melupakannya juga ?" Lirihnya dengan nada terendah.


Valonia mengangguk lalu meraih gelang itu "Cantik sekali gelang ini." Puji nya dengan bibir  tersenyum


Keyan tertular dengan senyuman gadis itu. "Kamu mau ?" Tawarnya ringan tanpa sadar.


Valonia menggeleng. "Tidak ! Terimakasih. Itu pasti gelang milik anda dan calon istri anda." Ia meletakkan gelang itu lagi di atas meja.


Keyan memejamkan matanya, sudut hatinya nyeri. Satu sisi Valonia masih bersikap tidak mengenalinya. Disisi lainnya. Calon istri disebutkan Valonia mengingatkannya pada Tita.


Apa yang harus ia lakukan ?


Keyan kembali mengabaikan Tita sejak pertemuannya pada Valonia. Benar ini benci atau cinta. Ada kerinduan dalam dirinya untuk Valonia.Tapi, gengsi itu juga menggunung tinggi dalam hatinya.