
Yoga merangkak di atas dipan. Tepatnya, memposisikan tubuhnya di atas Mia. Tangannya terangkat untuk menurunkan tali gaun pengantin yang dikenakan Mia. Matanya berbinar melihat kulit putih bersih itu. Yoga sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mengecup lengan atas Mia. Namun, tiba-tiba tubuh laki-laki itu terpental ke samping hingga jatuh ke lantai.
"Kak Sonny."
Varen tak memberi jeda untuk memberi pelajaran pada Yoga. Laki-laki itu meringis sambil tertawa menahan sakit dan juga luka di bibirnya.
"Kamu terluka?" Sonny memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. Ia merasakan debaran jantung Mia berdetak lebih cepat. Tubuh istrinya itu gemetar hebat menandakan dia sangat takut luar biasa.
"Aku takut." Tangis Mia hampir tidak terdengar karena seraknya. Ia membenamkan wajahnya di dada Sonny.
"Mia, dia melecehkan mu ?" Varen bertanya sambil menarik tubuh Yoga dari sisi dipan. Laki-laki itu hanya tersenyum meski sudah babak belur.
"Hampir saja."
"Syukurlah." Sonny menghela nafas lega dan penuh syukur. "Sayang pakai ini. Aku harus menyelesaikan masalah ini." Ucapnya melepaskan tuxedo nya lalu menyampirkan di pundak Mia.
Yoga berbalik menendang Varen. Alhasil suami Rara itu tersungkur di lantai. Yoga melayangkan tinjunya ke arah Varen. Namun, cepat ditangkis oleh Sonny. Dokter tampan itu memojokkan Yoga dan memukulnya membabi buta. Ia tak memperdulikan Yoga yang terkulai lemas.
"Son berhenti ! Dia sudah tidak berdaya." Varen menahan pergelangan tangan Sonny.
"Ingin rasanya aku meledakan kepalanya dengan timah panas !" Sonny membuang ludahnya tepat di sisi Yoga yang tidak berdaya.
"Berbeda kondisinya sekarang. Kita tidak bisa lagi memakai cara biasa untuk menyelesaikannya karena ada istri. Kepala Desa dan kedua orang tuanya ada diluar. Mari kita bawa Mia pulang."
...----------------...
Jam semakin berputar, malam makin sempurna. Lain di desa lain pula di kota. Sejak Valonia dan Derry di pindahkan ke ruang rawat inap. Keyan tidak meninggalkan istri dan adiknya itu. Gejala yang Valonia dan Derry alami sudah teratasi.
"Key, makan dulu." Rara meletakkan makanan yang baru dibelinya bersama Endi di atas meja.
"Aku belum lapar, Ra."
"Meski belum lapar kamu harus makan. Key !" Paksa Rara tegas. "Kamu harus memiliki tenaga yang banyak untuk merawat mereka berdua."
"Menurutku malam ini mereka dirawat disini saja. Besok pagi baru kita minta rujuk ke rumah sakit Om Ariel." Usul Endi.
"Aku setuju." Rara meletakkan makanan di hadapan Keyan. "Kamu bersihkan tubuhmu. Biar nanti Valo bangun tidak mual mencium bau di tubuhmu." Sambungnya sambil melangkah untuk duduk di sofa bersama Endi. Rara mengurungkan niatnya untuk menyuapi makanannya. Karena ponselnya di atas meja bergetar. "Bagaimana kabar di sana ?" Tanyanya sambil bersandar di sofa dengan manik mata mengawasi Keyan agar memakan makanannya.
"Sudah teratasi. Pasien juga mulai membaik. Meskipun masa pemulihannya 4 sampai 5 hari. Tadi ada juga pasien yang dirujuk ke kota. Mia juga sudah ditemukan. Dia diculik seseorang dan hampir saja mengalami pelecehan."
"Yoga putra pemilik kebun terbesar di desa ini. Sudah beres semua, dia dibawa pihak keamanan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya. Mia juga lebih tenang. Bagaimana Valo dan Derry ?"
"Sudah stabil, rencananya besok baru dirujuk ke rumah sakit Om Ariel. Sekarang mereka masih tidur. Bagaimana masalah keracunan makanan itu ?" Rara terpaksa makan sambil menjawab telpon suaminya dari pada makanan itu dingin.
"Om Ariel meminta paman dan bibi menyimpan sisa makanannya untuk sampel. Sebab, kejadian ini lumayan besar korban hampir 50 orang termasuk Derry dan Valonia. Jadi, berita ini pasti sudah sampai di dinas kesehatan sini. Pihak puskemas sudah melaporkannya. Kemungkinan mereka besok datang untuk meninjaunya."
"Baiklah. Kamu makan dan bersih-bersih dulu."
"Malam ini aku tidak menyusul ke sana. Aku akan menemani Sonny disini." Varen memutuskan telpon.
Rara menceritakan pada Keyan dan Endi tentang kabar yang disampaikan Varen. Mereka ikut geram pada laki-laki yang bernama Yoga itu.
...----------------...
Kondisi Valonia dan Derry semakin membaik setelah mendapatkan perawatan selama 5 hari di rumah sakit. Mama Merry baru saja pamit pulang ke kampung halamannya setelah memastikan putrinya itu sembuh total. Bunda Arini dan Ibu Marisa begitu shock setelah mendapatkan kabar jika Valonia dan Derry mengalami keracunan makanan.
Tidak ingin membiarkan Sonny menghadapi permasalahan ini sendirian. Varen dan Keyan ikut membantu menyelesaikan secara kekeluargaan pada masyarakat yang juga menjadi korban. Sebab, mereka mendapatkan keracunan itu setelah menghadiri pesta pernikahan Sonny dan Mia.
Beberapa hari yang lalu hasil penelitian dari sampel makanan yang diamankan Paman dan Bibi sudah keluar. Pak Ariel dan istrinya masih belum meninggalkan Desa, begitu juga dengan Sonny. Ia harus memulihkan psikis Mia yang shock akibat kejadian yang menimpanya.
"Kejadian yang baru saja menimpa kita adalah murni keracunan bakteri. Namanya Bakteri Salmonella. Dan itu bisa saja dari daging dan sayuran. Bakteri ini bisa masuk saat pemotongan hewan. Jadi, kami simpulkan bakteri itu datangnya dari daging unggas yang kemarin dimasak." Jelas pak Ariel.
"Unggas itu sudah terkontaminasi saat pemotongan. Masa inkubasinya 7 atau 8 jam setelah mengkonsumsinya dengan gejala mual. Muntah dan pusing. Ada juga kram perut dan demam panas dingin. Masih banyak lagi gejala yang ditimbulkan." Tambah Ibu Neta menjelaskan. "Pemulihannya 4 sampai 5 hari. Jika mengalami gejala tersebut di perbanyak minum air putih." Lanjutnya menatap wajah-wajah perwakilan keluarga yang menjadi korban keracunan.
Semua wali korban keracunan berkumpul bersama di kantor Desa atas pemintaan kepala Desa. Pak Ariel dan Sonny ingin menyelesaikan permasalahan ini dengan baik. Mereka tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk di sana.
Sonny duduk didampingi Varen. Keyan dan juga Alvan. Mereka kembali lagi ke Desa itu setelah memastikan kondisi Valonia. Nanda dan Derry baik-baik saja.
"Saya sebagai pemilik acara ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya pada bapak dan ibu yang menjadi korban. Kejadian ini tak terduga hingga menyebabkan keracunan massal. Saya juga berterimakasih pada teman-teman disini yang membantu untuk menemukan istri saya dan juga kelangsungan pesta pernikahan kami." Sonny berdiri menyatukan tangan menghadap para wali korban dan juga kepala Desa. Sorot matanya begitu bersalah atas kejadian ini.
"Dokter Sonny. Kami tidak menyalahkan siapa pun. Kita juga tidak tahu kejadian ini akan ada. Kami juga berterimakasih karena biaya pengobatan korban ditanggung Dokter Sonny sekeluarga." Salah satu wali korban angkat bicara. Sontak saja perkataannya itu disambut respon positif dari yang lainnya.
"Tidak ada yang menginginkan kejadian seperti ini. Kami juga sebenarnya malu atas perlakuan putra desa kami ,Yoga ! Yang sudah membawa Mia dan hampir melakukan hal tidak baik." Kepala Desa juga mewakili para warga untuk meminta maaf atas kejadian yang menimpa Mia.
"Terimakasih Pak. Sebagai permintaan maaf kami. Ada bingkisan untuk para korban." Sonny mengarahkan tangannya pada tumpukan kardus di halaman kantor Desa.
Pembicaraan serius itu berakhir dengan saling memaafkan. Tidak ada yang bisa menyalahkan siapa pun. Termasuk bagian catering nya. Sebab, mereka juga mendapatkan daging unggas itu dari bagian pemotongan. Kesalahan itu juga tidak bisa dilemparkan kepada pemilik pemotongan karena mereka juga tak menduga hal itu terjadi. Hanya saja setelah ini mereka wajib berhati-hati saat melakukan pemotongan. Dengan memastikan peralatan yang digunakan sudah steril dan juga dalam pengolahan masakannya harus benar-benar matang.