
Hujan semakin deras. Bahkan angin ikut andil membagi hujan ke sana kemari. Petir di langit menggelegar seolah alam semesta tengah marah. Jika di kediaman lain terjadi pertengkaran karena rencana yang tak sejalan. Maka di kediaman Keyan Ganendra dua sejoli itu tengah bermanja ria sembari menonton televisi.
"Aku takut, kenapa kamu suka nonton film horor?" Kesal Valonia sudah beberapa kali bersembunyi di dalam selimut. Memang ada perubahan, jika dulu ia tidak merasa takut entah kenapa sekarang Valonia bisa merasakan takut ketika nonton film horor.
Keyan tertawa sambil mengecup singkat kening Valonia yang berbaring di pangkuannya. "Karena ada keuntungannya sayang."
"Keuntungan apa?"
"Bisa dipeluk kamu." Seringai licik tercipta di bibir Keyan. Ia sudah menduga jika istrinya takut, maka Valonia akan refleks memeluk tubuhnya. Disitulah Keyan merasa menang banyak.
Hujan semakin deras, Keyan juga semakin erat mendekat tubuh Valonia. Laki-laki ini masih saja menonton film horor, meski pun Valonia sudah menguap beberapa kali.
"Aku tidur duluan ya."
"Tunggu sebentar lagi sayang, nanti aku kesepian tidak ada temannya." Keyan mengecup bahu terbuka istrinya.
"Baiklah..." Pasrah Valonia. Ia harus membalas kebaikan suaminya. Yang selalu setia menemaninya dikala lembur malam.
Beberapa menit kemudian, Keyan selesai menonton. Tangannya meraih remote televisi dan mematikannya. Ia tersenyum ketika melihat istrinya perlahan-lahan menutup mata untuk tidur.
"Selamat malam belahan jiwaku." Kecupan lembut dan lama Keyan tanamkan di kening Valonia. Ia menarik selimut hingga batas leher lalu memeluk erat tubuh istrinya.
...----------------...
Seluruh asisten rumah tangga sudah bangun sejak pukul empat pagi. Mereka melakukan pekerjaannya masing-masing. Bi Noni selaku kepala asisten rumah tangga mengatur apa saja yang harus dikerjakan hari ini.
"Selamat pagi, Bi." Suara Valonia mengejutkan Bi Noni yang tengah menyiapkan sarapan pagi.
"Selamat pagi, Nyonya." Bi Noni memindahkan hasil masakannya ke dalam wadah.
Valonia membantu pekerjaan Bi Noni sedikit. Karena Keyan tak akan membiarkannya bekerja di rumah lebih banyak lagi.
Keyan dan Valonia bekerja seperti biasa. Namun hari ini Valonia sangat ingin datang ke makam Papa Danu. Ada rindu yang tak dapat ia jabarkan, andai dia tidak lupa. Mungkin, kenangan indah bersama Papa Danu akan selalu teringat sampai tua. Sayangnya, semua tinggal kata andai saja.
"Sayang, insomnia mu lumayan membaik. Kamu tidak mengonsumsi obat, 'kan ?" Keyan bertanya sembari menjatuhkan kepalanya di bahu istrinya.
"Iya, jam tidurku sudah lumayan. Aku juga tidak minum obat lagi. Tapi... Mimpi itu selalu ada setiap malam. Aku bingung kenapa mimpi itu ada?" Valonia menoleh ke arah suaminya. Seolah mencari jawaban dari laki-laki itu.
Keyan menegakkan duduknya dan meraih tangan Valonia untuk ia genggam. "Selama ini aku tidak pernah bertanya dan kamu pun belum juga bercerita. Apa boleh aku tahu mimpi apa yang kamu alami?"
"Mimpi itu seperti nyata. Aku, Papa dan Mama berada di dalam satu mobil. Lalu... Mobil itu terbalik beberapa kali. Aku merasa tubuhku sakit dan lemah, sejengkal pun aku tak bisa menggapai Papa. Hingga pandanganku gelap. Aku tidak tahu penyebab mobil itu terbalik rasanya begitu mengerikan."
Keyan memeluk tubuh istrinya yang terlihat gelisah dengan tatapan sendu. Ia dapat mengerti perasaan Valonia saat menceritakan mimpinya. "Maaf, aku tidak berniat membuatmu terbebani dengan menceritakan mimpi itu." Ia mengecup pucuk kepala Valonia Jasmine dengan lembut.
Itu mimpi nyata sayang dan kamu benar-benar mengalaminya.
Keyan semakin erat melingkarkan tangannya.
"Hari ini aku akan ke makam Papa. Apa kamu ikut?"
...----------------...
Valonia dan Derry tiba di komplek pemakaman. Mereka langsung menuju ke arah makam Papa Danu dengan membawa sekeranjang bunga yang baru dibeli. Derry mengikuti dari arah belakang sambil membawa keranjang.
Langkah Valonia terhenti setelah tiba di makam yang bertuliskan nama Papanya. Ya, disinilah dulu Varen sering mengajaknya berkunjung. Tangan Valonia terulur mengusap nama yang tercetak tebal di atas pusara.
Tak ada air mata seperti sebelumnya. Valonia sudah menerima kepergian ayahnya. Meski tak satu orang pun yang menceritakan tentang kecelakaan yang mengikutkan Papa Danu. Selama ini Varen menutupi fakta jika hilangnya ingatan Valonia karena dirinya mengalami kecelakaan. Dan memangkas cerita sesungguhnya.
"Kak, bagaimana rasanya punya Ayah?"
Pertanyaan Derry membuat Valonia melihat ke arahnya. Manik mata laki-laki itu terpaku pada nama Papa Danu. Valonia menyelami ada kerinduan yang tak bisa dilihat orang lain dari netra seorang Derry.
"Kenapa menanyakan itu ?" Valonia beralih melihat ke atas makam. Lalu menggenggam bunga dan menaburkannya.
"Karena aku hidup tanpa seorang Ayah. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan hidup bersama laki-laki yang disebut orang-orang sebagai Ayah." Derry mengikuti Valonia juga menabur bunga.
"Kemana Ayahmu ? Apa dia masih hidup ? Atau... Sudah meninggal."
"Dia masih hidup. Kata Mama Ayah biologis ku tidak menginginkan kami." Derry menjatuhkan tubuhnya di sisi makam. Ia tertunduk lalu tersenyum pahit menatap Valonia. "Dia tidak pernah mengakui aku sebagai anaknya."
"Kenapa seperti itu ? Apa dia tidak mencintai Tante Marisa ?" Valonia semakin tak mengerti. Ia dapat menilai ada bongkahan rasa yang tak dapat dimengerti begitu saja dari dalam diri Derry.
"Kak, boleh aku berbagi ? Selama ini aku tidak pernah bercerita apa pun pada orang lain. Entah kenapa, aku merasa kakak orang yang berbeda dan aku merasa nyaman di dekat Kak Valo."
Valonia menatap lekat laki-laki yang duduk berhadapan dengannya ini. Mereka terpisah oleh makam Papa Danu. Ia mengangguk dan berkata. "Jika kamu yakin, ceritakan lah ! Aku siap mendengarkannya."
Derry menghela nafas panjang menyiapkan dirinya untuk bercerita.
"Mama, korban pelecehan. Waktu itu Mama bekerja sebagai manajer hotel. Mama menyiapkan dengan baik segala hal untuk sebuah acara yang dilaksanakan di hotel tempatnya bekerja. Kejadian na'as itu menimpa Mama saat akan pulang. Ia diseret paksa oleh seseorang. Mama tak mampu melawan saat dipaksa masuk ke dalam kamar hotel. Kejadian itu terjadi, Mama tidak menerimanya begitu saja. Sehari setelah kejadian, Mama menemui orang itu untuk meminta pertanggung jawabannya, tapi laki-laki itu menolak karena beralasan tak bisa mengkhianati kelurganya. Mama mengancam untuk melaporkannya dengan bukti Cctv saat kejadian dia menarik paksa. Namun laki-laki itu membuat kesepakatan, akan menikahi Mama tapi dengan syarat menghilangkan bukti Cctv dan tanpa sepengetahuan istrinya. Tanpa pikir panjang, Mama menyetujuinya karena tak mungkin ada orang lain yang menerima kondisi Mama seperti itu." Derry menghentikan ceritanya lalu menenggak air dari botol yang ia bawa untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Apa mereka menikah ?"
Derry menggeleng. "Laki-laki itu mengingkari kesepakatannya dan menggantinya dengan kesepakatan baru hitam di atas putih. Karena Mama hamil."
"Astaga, apa dia benar-benar laki-laki ? Kenapa sikapnya pengecut seperti itu !" Valonia merasa geram atas kemalangan yang menimpa ibu Marisa.
"Dia tidak akan menikahi Mama, tapi akan bertanggung jawab penuh atas diriku. Lalu... Membagi hartanya secara adil jika aku sudah dewasa."
"Boleh aku tahu orang itu ?"
"Untuk yang ini, aku minta maaf tidak bisa memberitahunya." Derry menatap Valonia dengan tatapan bersalah.
"Tidak apa-apa, jika kamu sudah bertemu dengan ayah biologis mu. Maka tuntut hak kamu sesuai dengan apa yang tertera di dalam surat perjanjian."
"Terimakasih, Kak." Derry kembali meminum sisa airnya.
Tanpa mereka sadari jika seseorang mengintai dari tempat yang tak jauh. Bahkan percakapan mereka terdengar jelas di telinga orang itu.