
Acara pembukaan kantor baru sudah selesai. Malam semakin larut, namun tak menyurutkan semangat Keyan dalam memberikan kejutan. Valonia memang tak mampu berucap apa pun. Hanya senyum kebahagiaan yang terpancar.
Keyan menjelaskan semua yang dilakukannya selama ini pada Valonia Jasmine. Termasuk bantuan para sahabatnya. Ia bersyukur karena mereka mendukungnya dari nol hingga sekarang.
"Jadi dia asisten mu ?"
Valonia menunjuk Endi dengan sorot matanya. Lalu beralih pada seseorang yang duduk di samping Endi. "Dia juga sopir pribadimu. Bukankah ? dia yang mengantarkan bunga-bunga mu ke butik ku waktu itu." Intonasi rendah dan datar itu cukup menggertak di telinga Endi dan sang sopir.
"Iya sayang, mereka semua teman-temanku. Kebetulan mereka juga belum bekerja, jadi saat aku butuh seseorang mereka ada untukku. Selama ini aku tinggal di Amerika."
Valonia menghembuskan nafas panjang. Perasaannya bercampur aduk. Tapi ia tak ingin lagi membahasnya dan menjadi debat tak bermakna.
"Terimakasih, karena kalian ada disisinya selama ini. Tanpa kalian Keyan mungkin akan kesusahan."
"Kamu benar, selama ini aku sudah sekuat tenaga menahannya untuk tidak pulang karena larangan dari Varen. Yang sangat menjengkelkan lagi dia tidak akan bekerja jika tidak memakai baju dari butik mu." Endi tidak lagi memakai kata formal pada Valonia. Karena Keyan melarangnya. Mereka adalah teman bekerja dalam satu tempat sebagai tim.
"Benarkah ?"
Valonia tampak penasaran. Ia melirik pada Keyan yang menyembunyikan wajah di pangkuannya. Laki-laki ini menghiraukan orang-orang melihatnya yang tengah berbaring di pangkuan istrinya.
"Benar sekali, setiap keluar rancangan terbaru. Kak Keyan meminta karyawan untuk membelinya ke butik anda." Sahut pria yang menjadi sopir pribadi Keyan. Laki-laki ini bernama Derry. "Dia merasa dipeluk oleh anda setiap hari jika memakai pakaian dari Jasmine Boutique. Gila bukan ?!" Sambung Derry berdecak kesal. Ia dan Endi seolah mengadu atas perbuatan bos mereka selama ini.
"Bagaimana caranya ?"
"Keyan akan meminta karyawan untuk pulang ke sini, membelinya dan perjalanan mereka di anggap cuti. Hampir tujuh puluh lima persen karyawan kantor orang sini." Jelas Endi.
"Sepertinya sudah malam, aku mengantarkan Rara pulang dulu." Pamit Varen yang hanya diam menyimak. Sebenarnya ia pun tahu, tingkah Keyan yang sering berlebihan. Varen menggenggam tangan Rara sembari tersenyum. Ia bisa melihat jika Rara mengantuk.
"Aku pulang ya, besok sore aku ke rumahmu."
Rara memeluk Valonia, setelah Keyan duduk. Wajah suami Valonia itu seolah tak rela bangun dari pangkuan sang istri, bantal ternyaman selain pangkuan Bunda Arini.
"Hati-hati" Valonia melambaikan tangannya.
Varen dan Rara meninggalkan gedung JFB. Di sana hanya tinggal Valonia, dan tiga orang yang berbincang dengannya. Karena Sonny dan Alvan sudah pulang lebih dulu bersama Mia.
"Ayo kita pulang, malam ini kalian menginap di rumah saja. Aku sudah lelah tidak bisa menyetir sendiri." Keyan berdiri dari sofa. "Aaahh" Rintihnya kembali. Tangan Keyan meraba-raba kakinya yang terasa pegal.
Valonia menoleh. "Kamu kenapa, Key ? Ada yang sakit ?" Tatapannya begitu cemas seraya meraba-raba kaki suami nya.
"Ini ! Kakiku sulit untuk melangkah. Rasanya juga pegal." Adu Keyan manja. Ia kembali duduk lalu melemparkan tatapannya pada Endi. "Kursi roda."
Endi tersenyum lalu gegas mengambil kursi roda. Persiapan mereka begitu matang dan menduga hal ini akan terjadi.
"Apa separah itu ?" Valonia semakin cemas. Ketika Keyan meminta kursi roda. Ia menyentuh kaki suaminya dengan lembut. "Nanti sampai di rumah aku pijat."
"Tubuhku sakit semua sayang. Leherku juga rasanya kaku." Keyan mencoba menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Ayo !"
Endi datang membawa kursi roda. Lalu membantu mendorong Keyan hingga ke basemen. Laki-laki itu tak melepaskan genggamannya dari tangan Valonia. Ia tahu jika istrinya itu cemas.
Mobil mewah milik Keyan melaju meninggalkan kantor. Di perjalanan pria itu tertidur. Tubuhnya terasa berat. Valonia menatap Endi dan Derry bergantian. Tatapan penuh tanya itu, di hiraukan dua laki-laki yang mengulum senyum ini.
Berhadapan dengan Valonia serasa berada dalam sebuah ruangan bersuhu dingin. Salah ucap maka jadi masalah. Keyan telah menceritakan sosok istrinya pada Endi dan Derry, agar mereka tahu siapa seorang Valonia Jasmine.
"Key... Bangun. Kita sampai !" Valonia menepuk lembut pipi suaminya. Di luar mobil Endi telah siap dengan kursi roda.
"Aku ketiduran."
Keyan perlahan turun lalu duduk kembali ke kursi roda. Endi mendorongnya perlahan, sementara Derry memarkirkan mobil di garasi.
"Selamat datang Tuan. Nyonya !" Sapa Bi Noni. Para asisten rumah tangga bersiap di depan pintu utama menyambut kedatangan Keyan dan Valonia.
"Bi, antarkan air hangat ke kamar dan buatkan teh manis. Lalu siapkan kamar tamu untuk Endi dan Derry." Valonia mengambil alih mendorong kursi roda. Hingga batas tangga. Ia memapah tubuh Keyan untuk menaiki anak tangga.
Perlahan-lahan Valonia membaringkan Keyan di atas kasur. Ia melepaskan sepatu dari kaki suaminya. Tak lama masuklah Bi Noni membawa air hangat di dalam baskom. Setelah mendapat ijin dari Valonia.
"Sayang aku haus." Keyan berusaha duduk melepaskan jas dari tubuhnya.
"Lepaskan semua pakaianmu."
Tangan Keyan terhenti ketika mendengarkan ucapan istrinya. Ia tersenyum menatap manik mata indah seorang Valonia Jasmine. "Maksudmu ?"
"Aku kira kamu yang akan memimpin malam ini."
"Tidak ada pimpin-pimpinan !" Bantah Valonia atas ucapan suaminya. Ia membantu Keyan melepaskan pakaiannya. Tidak ada yang aneh dari tubuh suaminya hanya saja terasa panas pertanda akan demam.
"Apa kita ada obat pereda nyeri ?"
"Tunggu sebentar." Valonia mengambil kotak obat. Tanpa banyak bicara ia memberikan pada Keyan.
Usai mengurus suaminya yang tiba-tiba sakit. Valonia juga berganti baju. Ia merasa tubuhnya remuk karena lelah. Tapi tak ada keluhan dari bibirnya. Rasa lelah hari ini tak seberapa menurutnya. Bahkan ia pernah merasakan lelah lebih dari saat ini.
Tanpa bertanya lagi apa penyebab Keyan merasa sakit di tubuhnya. Valonia juga ikut berbaring. Karena ia yakin suaminya itu akan bercerita dengan sendirinya.
...----------------...
Tetesan hujan mengawali pagi hari ini. Di langit, awan hitam menggumpal di beberapa tempat. Udaranya juga terasa dingin. Membuat sebagian orang malas beranjak dari atas kasur.
Namun, untuk seorang Keyan dan Valonia yang pekerja keras. Apa pun kondisi cuaca mereka akan tetap bekerja.
"Selamat pagi. Tuan, Nyonya." Sapa Bi Noni dan para asisten rumah tangga. Mereka berdiri di ruang makan untuk melayani atasan mereka.
"Selamat pagi." Valonia mengambil piring untuk Keyan. Ia mengisi makanan di dalamnya. Namun pergerakannya terhenti saat menyadari dua tamunya tadi malam tidak ada di meja makan. "Apa Endi dan Derry belum bangun ?"
"Sudah, mereka berada di ruang kerja Tuan Keyan."
"Panggil mereka untuk sarapan bersama." Titah Keyan. Laki-laki ini terlihat pucat. Padahal ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
Tidak butuh lama Endi dan Derry datang bergabung. Dua laki-laki itu juga sudah siap dengan pakaian kerja mereka.
"Key, Kamu sakit istirahatlah hari ini. Biar aku yang mengurus kantor."
Mendengar perkataan Endi. Valonia dan Derry sama-sama melihat pada Keyan. Ya, laki-laki itu nampak lesu. Mungkin, tubuh itu perlu istirahat sekarang. Bekerja seperti robot selama ini sudah sepantasnya ia mengambil waktu untuk menyegarkan tubuhnya kembali.
"Endi benar, kamu istirahat saja." Seru Valonia setuju dengan pendapat Endi.
"Tapi, kamu di rumah, 'kan ? Aku tidak mau ditinggal sendiri di sini. Atau aku ikut ke butik saja." Keyan bersikap manja saat tubuhnya sakit dan lelah.
"Aku akan di rumah."
Keyan tersenyum senang. Valonia mau meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemaninya. Tak hanya itu, suami Valonia itu akan meminta istrinya untuk beristirahat mengingat tadi malam Valonia terbangun seperti sebelumnya dan memilih untuk tidak melanjutkan tidur hanya untuk mengurus Keyan yang demam.
"Ayo berangkat ! Kami pamit." Derry menyudahi sarapannya. Dan di ikuti oleh Endi.
"Hati-hati." Keyan mengantarkan Endi dan Derry ke depan pintu. Langkahnya masih tertatih, pegal di kakinya belum sembuh total.
Usai sarapan, Keyan dan Valonia duduk di ruang tengah. Keyan meletakkan jasnya di atas sofa. Melihat hal itu Valonia berniat membawa Keyan ke kamar.
"Key, ayo ganti baju dan istirahat lagi."
"Iya sayang. Kamu tidak bertanya kenapa aku seperti ini ?" Keyan mulai memancing agar istrinya penasaran.
"Kenapa ?"
Keyan duduk di tepi kasur sambil membuka kancing bajunya. "Itu semua ulah mereka. Kemarin aku dilatih untuk berjalan di atas catwalk. Sampai mengulang-ulang. Kepalaku juga ditaruh buku tebal sampai leherku tegang."
Valoni tertawa lalu membantu Keyan mengenakan baju rumahan. "Siapa yang mencetuskan ide itu ?"
"Varen dan Alvan."
"Apa ?!" Valonia mendongakkan wajahnya ke atas. Ia mengunci netra suaminya yang juga menatapnya. Kenapa Keyan mau melakukan hal konyol itu?
Keyan mengecup lembut bibir Valonia dan berkata. "Mereka melatihku sangat keras, sampai aku bisa. Semua itu aku lakukan agar bisa mengimbangi istriku saat berjalan di atas catwalk."
"Kamu sudah melakukan yang terbaik." Valonia membenamkan wajahnya di dada bidang Keyan.
"Aku keren, 'kan?"
Pertanyaan bermakna haus pengakuan itu membuat Valonia tertawa. Keyan memeluk erat istrinya dan menghujaninya banyak ciuman di pucuk kepalanya.
"Kamu keren dan membuatku terpukau. Tak menyangka teman satu ranjang ku adalah CEO misterius yang ramai diperbincangkan orang."