
Mentari pagi menyapa dengan cahayanya melalui celah ventilasi udara. Gadis cantik dalam selimut tebal di kamar bernuansa putih ini, membuka matanya perlahan sambil menggeliat.
Valonia Jasmine melihat jam bertengger di atas nakasnya menunjukkan jam 05.00 pagi. Gadis pendiam itu segera bangkit dan berlari ke kamar mandi. Menghabiskan waktu dua puluh menit, Valonia telah siap pergi ke sekolah. Namun, sebelum keluar kamar. Valonia membereskan kamarnya terlebih dahulu.
"Selamat pagi, Pa... Ma..." Valonia mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Di sana kedua orang tuanya telah duduk dan memulai sarapan.
"Pagi sayang." Papa Danu. Ayah Valonia memberikan senyuman kasih sayangnya untuk menghiasi pagi.
"Kamu sarapan roti atau nasi, Nak?" Mama Merry. Istri papa Danu menyiapkan sarapan penuh cinta untuk suami dan putrinya.
"Nasi saja, Ma." Valonia melirik jam di pergelangan tangannya. "Mama ke butik lagi ?" Bertanya sambil menerima piring nasinya.
"Iya, Mama harus ke butik lagi. Papa sebentar lagi pensiun butik itu harapan kita. Jadi, mama harus mengembangkannya sebelum papa pensiun." Mama Merry menjelaskan sambil tersenyum.
Valonia meletakkan sendoknya ke piring, Ia menatap lekat mata mama Merry. Rasa lelah itu sangat terlihat di wajah beliau yang cantik. Dada Valonia bergemuruh mengingat perjuangan kedua orang tuanya hingga ke tahap ini.
"Ma, aku akan membantu mengembangkan butik itu. Aku berjanji, akan membuat butik itu menjadi besar." Tekad Valonia yakin. Tatapannya begitu tegas dan bertanggung jawab.
Mama Merry tersentuh, putrinya tak menuntut apa pun. Valonia Cukup tahu diri dalam bergaul. Hingga, tidak mudah terpengaruh dengan godaan yang akan menghancurkannya. Valonia sosok penurut dan mengerti kondisi orang tuanya dalam keadaan apa pun.
"Selama ini, Valo sudah banyak membantu mama. Terbukti hari libur pun, kamu menghabiskan waktu dengan menggambar di butik Mama. Terimakasih, Nak ." Mama Merry meraih kedua tangan Valonia dan menggenggamnya.
"Jangan cemas, Papa masih ada tabungan untuk kamu kuliah. Jadi, belajarlah dengan giat dapatkan nilai yang memuaskan. Tapi ingat, semampu mu saja, jangan memaksa karena Papa tidak memberi mu tekanan harus lulus dengan nilai terbaik. Selama ini Valo sudah membanggakan Papa." Papa Danu memberi semangat serta dukungan untuk putri nya.
"Aku mengerti." Valonia tersenyum dan kembali melanjutkan sarapannya. Suasana di rumahnya setiap hari terasa hangat.
Suara klakson motor milik Varen tepat di depan pagar rumah keluarga Pak Danu.
"Varen sudah di depan, hati-hati berkendara." Papa Danu menghabiskan sisa teh di gelasnya.
"Ma...Pa... Aku berangkat." Pamit Valonia seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati sayang." Mama Merry berpesan dari tempat nya duduk.
Valonia meraih helm yang diberikan Varen. Tak biasanya pria itu menutup kaca helmnya di depan Valonia. Tanpa bertanya gadis pendiam itu langsung naik ke atas motor Varen.
Keduanya membisu sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa sudah berada di tempat parkiran sekolah. Valonia dan Varen turun dari motor tanpa mereka sadari, dari jauh ada sepasang mata mengamati mereka berdua.
Mata Valonia terbelalak ketika Varen melepaskan helmnya. Di sudut kening dan bibirnya memar kebiruan.
"Ren, apa yang terjadi?" Tatapan cemas terpancar dari netranya.
Varen tersenyum tipis dan berkata.
"Biasalah perkelahian anak laki-laki." Berusaha membuat Valonia tidak mencemaskan nya.
"Sampai kapan kamu seperti ini ? Hindari hal yang bisa merugikan mu. Ayo aku obati di UKS." Valonia menghela nafas panjang dan melangkah lebih dahulu.
"Tidak perlu cemas luka ini tidak apa-apanya. Di banding luka di hatiku." Varen mengimbangi langkah Valonia. "Panggil aku abang, jangan Varen." Sambungnya lagi.
"Kamu hanya tua satu jam dariku, kenapa lagi hatimu?" Valonia bertanya tanpa menoleh.
"Tita mengkhianati aku." Varen melingkarkan tangannya di pundak Valonia. "Jangan jadi gadis seperti Tita ya..." Ia menoleh pada Valonia sambil tersenyum.
Valonia diam tak menanggapi jawaban Varen. Sudah terbiasa tubuh pria ini di penuhi lebam jika menyangkut tentang perkelahian. Valonia dan Varen tetap melangkah menuju ruang UKS tanpa memperdulikan tatapan negatif siswa lain pada Varen.
Tita Adelia, gadis cantik tinggi semampai. Ia merasa bangga karena sudah menaklukan hati kapten basket sekolah. Pesona Varen tak kalah dengan Keyan. Tapi entah kenapa, Tita mencampakannya begitu saja setelah mereka resmi menjalin hubungan beberapa bulan ini.
"Hei, kenapa wajah tampan mu?" Rara menghadang langkah Valonia dan Varen. Ekspresinya sedikit terkejut.
"Kamu mencemaskan ku ?" Varen mengedipkan matanya sambil tersenyum. Sementara Valonia hanya diam saja.
"Tita berulah lagi? Cih, harusnya kamu tinggalkan saja gadis seperti itu. Cantik sih, tapi suka bertingkah ! " Rara bersedekap sambil menggerutu. Wajahnya terlihat semakin cantik jika berekspresi marah.
Varen tertawa mendengar ocehan Rara. Mereka bertiga bersama pergi ke UKS, disepanjang jalan Varen dan Rara tidak henti-hentinya bicara. Varen yang menggoda dan Rara yang mencibir. Valonia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.
"Duduklah." Valonia menurunkan tangan Varen yang melingkar di pundaknya.
Varen menurut duduk di atas brankar. Ia merintih saat Valonia mengoleskan salep di bagian yang memar. Rupanya pria seperti Varen bisa meringis juga disaat sakit.
"Kapan luka ini?"Rara memperhatikan tangan Valonia begitu lembut mengoles salep.
"Tadi malam." Varen meringis lagi karena merasa perih. Ia juga menerima obat anti nyeri dari Valonia.
"Diminum setelah sarapan. Hanya dosis rendah, tidak menyebabkan ngantuk. Siapa tahu nanti nyeri saat jam pelajaran berlangsung." Valonia kembali menyimpan peralatan kesehatan.
"Kapan kamu keluar ? kita pulang dari rumah Valo sudah jam sembilan malam." Rara nampak tak percaya.
Lagi-lagi Varen terkekeh mendengar penuturan Rara. "Jangan terlalu ingin mengenal ku, nanti kamu jatuh cinta." Ucapnya. Di balas dengusan kesal dari Rara.
"Ayo temani aku sarapan." Varen menarik tangan Valonia untuk keluar dari sana. "Aku tidak sarapan tadi di rumah." Sambungnya lagi. "Jika Mami melihat wajahku pagi ini, bisa di pastikan ceramahnya sampai sore." Varen tertawa mengingat Maminya.
"Aku ikut."Rara berlari mengikuti Valonia dan Varen. Ia kesal karena Varen tidak mengajak nya.
"Tunggu !"
Belum jauh melangkah suara bariton menghentikan mereka. Varen, Valonia dan Rara berbalik ke belakang melihat ke arah suara. Di sana berdiri seseorang tak jauh dari mereka.
"Kamu menghentikan kami?" Rara menatap tak percaya. Idola sekolah menyapa mereka pagi ini.
"Iya, aku perlu dengan teman mu itu." Keyan menunjuk dengan tatapannya ke arah Valonia.
"Ada keperluan apa?" Lagi-lagi Rara yang bicara. "Dia akan ke kantin." Sambungnya lagi.
"A—aku kurang sehat. Jadi, perlu obat. Boleh aku ke UKS dan minta obat?" Keyan tiba-tiba gugup tak beralasan. Haruskah ? Ada interogasi seperti ini? "Aku pikir tadi tubuhku membaik jika sampai ke sekolah, rupanya aku salah." Keyan mengutarakan alasannya.
"Baiklah, aku yang mengantar mu. Valonia akan ke kantin bersama Varen" Rara melangkah mendekati Keyan sambil melirik pada dua temannya yang hanya diam.
"Kamu bukan petugas UKS. Apa kamu tahu obat apa yang harus ku minum?" Keyan merasa kesal karena Rara seolah agresif. Yang dia inginkan adalah Valonia Jasmine, kenapa gadis ini yang menawarkan dirinya?
"Maaf, kalau begitu." Rara kembali ke tempatnya berdiri di samping Varen. Ia menyikut lengan laki-laki itu memberi kode.
"Val, kamu urus dia dulu. Biar aku sarapan sama Rara. Kamu mau apa biar aku bawakan ?" Varen menengahi. Benar apa yang di katakan Keyan, Rara bukanlah petugas UKS.
Valonia tersenyum dan berkata
"Aku sudah sarapan. Tapi aku mau donat."
Jantung Keyan berdetak cepat mendengar suara lembut milik Valonia Jasmine. Kegugupannya semakin menjadi, kenapa ia harus penasaran tentang gadis ini ? Apakah karena Valonia pintar ? Sebab, kecantikan itu tidak bisa menjadi alasan bahkan masih banyak gadis lebih cantik lagi. Apa dia jatuh cinta ? Atau hanya kagum.
"Baiklah, tunggu di kelas." Pamit Varen menarik tangan Rara ke genggamannya. Valonia menatap punggung kedua temannya itu sampai benar-benar menjauh.
"Dia kekasih mu?"
Suara Keyan mengalihkan perhatian Valonia. Gadis ini hanya diam, kenapa seorang idola kelas tiba-tiba sakit ?
"Ayo ke UKS." Valonia melangkah lebih dulu tanpa menjawab pertanyaan Keyan.
Laki-laki tampan itu tersenyum karena Valonia tidak menanggapi pertanyaannya. Mereka memasuki ruang UKS. Benar kata orang Valonia bicara se-perlunya saja.
"Apa yang kamu rasakan?" Valonia membuka lemari obat yang sudah dijelaskan dokter tentang fungsi dan aturan minumnya.
"Pusing." Keyan menjawab dengan matanya tak lepas memperhatikan pergerakan gadis pendiam itu.
"Sudah sarapan?" Valonia bertanya kembali sambil memilih obat yang akan diberikannya.
"Sudah."Keyan tertawa dalam hati tentang percakapan mereka yang pendek.
"Ada alergi obat?" Valonia masih mengajukan pertanyaan. "Jika ada, langsung ke dokter saja. Bawa surat rekomendasi dari sekolah." Sambungnya lagi.
"Tidak ada, ternyata kamu bisa bicara banyak juga ya..." Keyan senang karena Valonia bicara agak banyak padanya.
"Minumlah, ini obat pereda pusing." Valonia memberikan satu butir obat dan air putih.
Keyan menerimanya dan meminum obat itu. Dalam hatinya menggerutu, kenapa harus terjebak ke dalam permainannya sendiri? Minum obat, tapi tidak merasakan sakit apa-apa. Pusing adalah akal-akalannya saja agar bisa lebih mengenal seorang Valonia Jasmine.
Keyan berbaring di atas brankar, sementara itu Valonia duduk di kursi agak jauh sambil membaca buku. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua sampai suara Alvan memecahkan kesunyian itu.
"Pagi, Valo.." sapa Alvan tersenyum manis. Ia duduk di kursi tak jauh dari Valonia, tatapannya begitu tenang dan meneduhkan.
"Selamat pagi."Valonia melirik sekilas kemudian fokus pada bukunya lagi. Rasanya benar canggung bersama dua laki-laki ini.
"Apa buku itu lebih tampan dariku?" Alvan melangkah mendekati Valonia dan berdiri di depannya.
"Buku ini tidak memiliki ketampanan, tapi berisi melebihi ketampanan." Valonia bicara tanpa mengalihkan matanya dari halaman buku.
"Buku, kamu mengalahkan pesonaku." Alvan menyentuh wajahnya hingga terlihat lucu. Ia berpaling melihat ke atas brankar. "Kamu sakit? " Ejek Alvan pada Keyan di atas sana "Apa ini modus?" Sambungnya lagi dengan tatapan penuh selidik.
Valonia mengangkat wajahnya, melihat kepada Alvan dan Keyan bergantian. Berusaha mencerna ucapan Alvan.
"Jasmine, jangan dengarkan dia." Keyan kesal mendengar penuturan Alvan.
"Jasmine ?" Alvan tertarik dengan panggilan Keyan. Di sekolah ini seluruh siswa hanya memanggil Valonia. Baru Keyan seorang yang memanggilnya Jasmine. "Otak licik mu patut aku acungi jempol." Bisik Alvan sambil tertawa.
"Berisik !" Ketus Keyan mengubah posisi berbaringnya.
Di sudut dinding, Valonia tak menanggapi ocehan Keyan dan Alvan. Ia tetap kembali membaca buku sambil menunggu kondisi Keyan membaik.