Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Pelukan Ayah



Suasana ruang tengah rumah Keyan dan Valonia. Masih tegang dan suara isak tangis masih bersahut-sahutan. Keyan menyandarkan tubuhnya di dinding sofa setelah mendengarkan cerita dari ibu Marisa.


"Janji itu juga ingin ayah ingkari ?!" Keyan menoleh pada sang Ayah yang duduk di sofa tunggal sementara bunda Arini sudah berpindah duduk di samping Valonia.


"Iya, dia sudah berulang kali mencari dokumen itu hingga kami harus berpindah-pindah tempat. Aku tidak ingin harta itu, hanya pengakuan untuk putraku."


"Dan untuk memusnahkan dokumen itu serta untuk menutup rahasia ini. Ayah berencana membunuh istriku !"


Perkataan Keyan membuat Bunda Arini menegakkan kepalanya. Ia tak menyangka jika suaminya tega melakukan itu. Demi menutupi kesalahannya hampir saja laki-laki pendamping hidupnya ini membunuh menantunya sendiri.


"Maafkan aku... Saat itu aku ketakutan karena Valo sudah mengetahui rahasia ini. Secara tidak langsung aku merasa terancam. Meski pun dia tidak tahu aku orang yang diceritakan padanya."


"Kamu jahat ! Kenapa hampir membunuh menantuku ?!" Bunda Arini mengepalkan tangan.


"Karena dia menghalangi perjodohan Keyan dan Tita. Karena dia juga sudah tahu masalah ini. Niat itu datang dengan sendirinya. Aku menyesal." Ayah Johan menatap sendu wajah menantunya yang menatap kosong.


"Jadi, pertunangan Keyan dan Tita sengaja diatur untuk menutupi rahasia ini. Dengan kata lain, harta itu tidak terbagi jika Keyan menikahi Tita. Karena Pak Anton pemegang rahasia  ini juga."


Semua orang tersentak mendengar kata-kata Valonia. Sekarang mereka mengerti kenapa Keyan dipaksa untuk menikahi Tita. Agar harta Ayah Johan tidak terbagi dan rahasia tetap terjaga, apa bila dokumen itu dimusnahkan. Tentu ibu Marisa dan Derry tidak bisa menuntut apa-apa.


"Semuanya sudah selesai. Rahasia ini sudah terkuak. Jadi urusan kami telah selesai. Aku juga tidak mengharapkan pengakuan atau pembagian harta. Aku hanya memecahkan bisul yang tumbuh di hati mama." Derry menghela nafas  mengusap air mata ibu Marisa. "Kak Key dan Kak Valo. Terimakasih atas kebaikan kalian selama ini. Maaf karena aku pengecut dan bersembunyi pada kalian berdua." Ia tersenyum hangat pada sepasang suami istri yang menatapnya tanpa ekspresi itu. "Ayo Ma kita pergi." Derry bangkit dari tempatnya duduk lalu membantu ibu Marisa untuk berdiri.


Perasaan Derry lega, hal sama juga dirasakan oleh Ibu Marisa. Mereka tidak mengharapkan apa-apa lagi. Terpenting keluarga Ayah Johan tahu jika dia juga putranya. Meski kelahirannya tidak di inginkan dan keberadaannya tidak di akui. Derry cukup senang bisa membebaskan sakit hati ibunya selama ini.


"Tunggu ! Apa kamu mau pergi begitu saja setelah kekacauan ini ?!"


Suara Keyan menghentikan langkah Derry dan Ibu Marisa. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum.


"Sesuai janjiku. Kami akan menerima hasil akhir dari kekacauan ini."


"Aku juga ingin mengakhiri kekacauan ini. Saatnya kesalahan harus ditebus." Keyan menoleh pada Ayahnya, kemudian berkata. "Dia juga putra ayah. Apa tidak berniat mengakuinya?"


Ayah Johan tersentak begitu pun yang lainnya. Apa lagi Derry mematung dengan iris mata memerah menatap wajah Keyan. Tunggu ! Wajah ini begitu mirip dengannya. Selama berada di samping Keyan. Ia merasa terlindungi sebagai adik.


"Kamu benar, Key." Ayah Johan melangkah menghampiri Derry. Hatinya teriris melihat luka lebam di wajah laki-laki itu. "Derry, maafkan Ayah, Nak !" Tangis Ayah Johan pecah. Sejak tadi air matanya tidak keluar. Namun berhadapan dengan putra yang tidak diakuinya ini. Air matanya tak mampu ia tampung. Ayah Johan melipat kakinya dan bertumpu dengan kedua lututnya menyatukan kedua tangan dihadapan Derry yang juga banjir air mata. "Ayah adalah laki-laki terjahat. Tidak mengakui putranya sendiri dan menjadi pengecut. Mungkin kata maaf tidak merubah apa pun. Apa lagi mengobati luka di hatimu dan mama mu. Tapi dikesempatan ini, Ayah benar-benar minta maaf dan ingin memperbaiki segalanya."


Derry terdiam masih menyelami manik mata Ayah Johan yang terdalam. Bibirnya terkatup hanya ada air matanya yang keluar. Tak menyangka hari ini akhirnya datang juga dalam hidupnya. Meski ia bahagia, tapi luka itu terlanjur tergores dan meninggalkan bekas


"Tuan Johan, bangunlah ! Jangan seperti ini. Kami tidak mengharapkan apa pun. Setelah ini kami akan pergi menjauh. Untuk kekacauan hari ini karena kamu yang memulainya dengan mengirim penyusup ke tempat kami."


"Maafkan saya Marisa. Maafkan saya." Ayah Johan menggeser posisinya menghadap pada ibu Marisa. "Saya pengecut. Untuk mengakui kesalahan saya pada Arini dan juga Keyan. Hingga, mengorbankan putra ku yang lain dan menyakiti kamu dan menantuku sendiri."


"Kami sengaja membongkar rahasia ini. Karena melihat penolakan mu pada Derry. Itu artinya kamu memang tidak ingin mengakuinya. Sekarang akan saya kabulkan. Saya akan membawa dia pergi jauh. Kelahirannya bukan suatu kesalahan. Namun, anugerah dari Tuhan untuk saya agar tidak sendirian menjalani kehidupan. Terlepas seperti apa proses terjadinya. Saya tidak pernah menyesal melahirkan dia di dunia ini. Walau pun hinaan akan datang sepanjang hidup saya nanti. Tubuh dan hati saya siap untuk menerima segalanya semenjak dia hadir dalam rahim saya."


"Tidak, jangan lakukan itu Marisa. Biarkan aku menebus kesalahan ini pada Derry. Jangan bawa dia dariku ! Aku mohon." Ayah Johan terkejut dengan raut wajah ketakutan. "Mungkin aku memang tidak bisa menebus kesalahan ini padamu. Tapi aku berharap bisa menebus kesalahan ini pada putraku."


Derry membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya menyentuh bahu ayah Johan dan menuntunnya untuk berdiri. "Terimakasih, karena sudah mengakui aku. Jujur hatiku sakit. Tapi untuk apa mendendam? Apa lagi orang itu adalah ayahku sendiri."


"Maafkan ayah, Nak ! Maafkan ayah..."


"Aku memaafkan ayah." Derry membiarkan tubuhnya direngkuh dan dipeluk oleh Ayah Johan. Hatinya menghangat, air matanya mengalir lagi. Inikah hangatnya pelukan sang ayah? Inikah rasanya memiliki ayah? Kerinduan itu terlepas hari ini. Jika selama ini Derry hanya bisa melihat dari kejauhan. Hari ini ia bisa berada dalam rengkuhannya.


Keyan menyeka sudut matanya. Ia tersenyum pada Valonia dan Bunda Arini. Memberi tanda jika semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Meski pun perasaan bunda Arini sangat sakit dan kecewa. Tapi sebagai wanita yang paling tersakiti adalah ibu Marisa dan Bunda Arini memahami itu.


Derry dan Keyan saling memeluk. Perasaan mereka benar-benar bahagia. Mereka baru menyadari jika dari wajah sudah ada kemiripan. Pantas saja, jiwa ingin melindungi dan mengasihi ada di hati mereka masing-masing.


"Aku juga ingin memeluk adik ipar ku." Valonia menepuk pundak Keyan.


"Biar aku yang mewakili mu." Keyan tidak melepaskan tubuh Derry. Ia tidak mau istrinya memeluk laki-laki lain.


"Aku ngidam loh."


Mata Keyan melotot. "Sayang, ngidam seperti itu hanya berlaku untukku." Ia melepaskan pelukannya dan beralih memeluk istrinya. "Aku mencintaimu sayang." Bisiknya pelan.


"Ayah akan mengurus dokumen kelahiran Derry."


"Benarkah?" Keyan sumringah akhirnya adiknya itu memiliki identitas di kelurganya.


"Iya." Jawab Ayah Johan yakin. Kakinya melangkah menghampiri sang istri yang sudah nampak tenang. "Bunda, aku tahu kamu kecewa. Aku bukan suami dan ayah yang baik. Aku juga laki-laki pengecut. Maukah? Kamu memaafkan aku"


"Kami sama-sama korban. Untuk masalah kita, aku rasa nanti saja dibicarakan. Sekarang kamu urus saja dokumen Derry. Agar dia memiliki hak yang sama seperti Keyan. Jangan dibeda-bedakan." 


Ibu Marisa terperangah. Ia tidak menyangka jika Bunda Arini berhati lembut dan baik. Mau menerima Derry dalam keluarga nya.


"Tuan, Nyonya ! Saya tidak masalah jika Derry dimasukan ke dalam kartu keluarga kalian. Di sana juga nanti pasti ada keterangan tentang hubungannya dengan kalian."


"Tidak bisa seperti itu. Sampai kapan pun kamu adalah ibu kandungnya." Sahut Bunda Arini tegas. "Derry akan dapat hak istimewa yang sama meski dia bukan putra kandungku."


Derry bingung tidak tahu harus berbuat apa? Antara bahagia dan juga sedih. Apa status ibunya? "Bunda, aku hanya butuh pengakuan dari ayah."


"Derry, kamu putra seorang pengusaha. Di dalam harta yang dia miliki ada hak kamu. Jadi, kamu tenang saja." Tegas Bunda Arini. Meski hatinya sakit tapi ia tetap berlapang dada. Andai hal itu terjadi pada Keyan. Mungkin dirinya tidak bersabar seperti ibu Marisa. "Kamu berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahmu." Sambungnya pelan.


...----------------...


Jika pagi hari di awali cuaca mendung berserta hujan deras. Maka sore disambut dengan cuaca cerah. Warna jingga mempesona di kaki langit barat untuk mengantarkan matahari kembali ke peraduannya.


Burung-burung senja mengepakkan sayapnya untuk segera kembali ke dalam sarangnya sebelum menggelap. Menyambut malam dengan penuh rasa syukur.


Seharian ini dipenuhi banyak kejutan yang menegangkan penuh air mata dan emosi. Terkuaknya sebuah rahasia besar dan juga alasan di balik perjodohan selama ini. Bagai tombak yang merobek hati semua orang.


Helaan nafas terdengar kasar dari bibir Keyan yang tengah duduk menatap langit senja. Meski pun masalah masa lalu terselesaikan  dengan baik penuh keharuan. Tetap saja meninggalkan sebuah rasa sakit di hati dan untuk menyembuhkannya butuh waktu.


"Maaf." Lirih Keyan. Tatapannya sendu menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ia menoleh ke samping menatap lekat wajah istrinya yang juga termenung. "Maafkan ayah." Matanya berembun dan dadanya menyesak. "Hampir saja aku kehilanganmu selamanya." Embun dimata Keyan mencair sempurna dipermukaan kulitnya. Ia menjatuhkan kepalanya dipangkuan Valonia menangis tersedu-sedu. Nyaris ! Wanita yang dicintainya itu meregang nyawa ditangan orang suruhan ayahnya sendiri.


Tangan Valonia terulur mengusap punggung suaminya yang bergetar. Ia membiarkan Keyan menumpahkan perasaannya. Valonia tahu suaminya itu kecewa bercampur penyesalan yang terdalam. Karena dirinya hampir saja menjadi korban.


Tangis Keyan semakin pecah sambil menggenggam erat tangan Valonia. Ia benar-benar melepaskan rasa kesal dan sedihnya bersamaan. Merasa cukup lega, Keyan perlahan bangun dan mengangkat wajahnya. Ia menatap dalam manik mata istrinya.


Hampir saja Keyan tak melihat tatapan penuh cinta untuknya dari bola mata indah itu lagi. Air matanya kembali tumpah bahkan kali ini semakin deras. Keyan menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat.


Valonia tersenyum sambil membalas pelukan suaminya. "Aku baik-baik saja sekarang. Semuanya telah berlalu."


"Aku takut kehilangan kamu, aku tidak mau kehilangan kamu sayang. Apa arti hidupku tanpa kamu. Duniaku adalah kamu." Keyan semakin erat mendekap tubuh istrinya itu. Nafasnya naik turun disertai air mata yang membandel tidak mau berhenti. "Jangan jauh dariku ! Jangan pergi dariku." Sambungnya melepaskan belitan tangannya yang kokoh. "Jangan pernah jauh dari sisiku. Tetap bersamaku, hm... Jangan tinggalkan aku." Keyan meraih tangan  istrinya lalu mengecup jari-jarinya.