Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Valonia & JFB



Beberapa hari kemudian...


Valonia sibuk menyiapkan pakaian rancangan terbarunya untuk pertunjukan hari ini. Di halaman Jasmine Boutique dua buah mobil mewah lengkap dengan pengawalnya sudah menunggu.


"Mia, apa ini tidak berlebihan ? Kenapa kita digiring pengawal juga." Valonia berbisik pada Mia karena melihat beberapa laki-laki berpakaian serba hitam.


"Mungkin untuk menjaga keselamatan kita, karena kehadiran kita sangat penting juga untuk mereka." Mia membalas berbisik.


"Sudah siap, Nyonya ?"


Valonia tersenyum. "Sudah, ayo berangkat." Meski pun ada rasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Tapi ia tetap berusaha bersikap biasa saja.


"Baiklah, anda silahkan masuk ke mobil yang di depan. Sopir pribadi CEO khusus menjemput anda."


"Ba—baiklah." Valonia segera menarik tangan Mia. Mereka duduk di dalam mobil dengan gugup, mobil yang mereka tumpangi sangat mewah.


"Santai Nyonya. Ini Mobil milik CEO, anda bebas menaikinya." Sopir yang mengenakan masker dan kaca mata itu tersenyum melirik kaca di depannya. Ia bisa melihat wajah tegang Valonia dan Mia.


"Kenapa memakai mobil CEO ? Kami bisa menaiki taksi."


"Karena anda tamu spesial." Sopir itu menjawab sambil melajukan mobilnya.


Valonia mulai berpikiran buruk. Setelah acara ini, ia akan menjauhi JFB. Valonia takut jika CEO misterius itu memiliki niat buruk padanya. Tak ingin bertanya lebih jauh, Valonia memutuskan untuk diam.


Mobil mewah ini melaju dengan kecepatan rata-rata. Sang Sopir sesekali melirik kebelakang. Tak butuh waktu lama mereka tiba di halaman gedung bertingkat  yang bertuliskan JFB. Ya, itu adalah kantor induk JFB. Sejenak Valonia tertegun kantor besar itu terdapat kuncup bunga jasminum sebagai logo perusahaannya.


"Kita sampai Nyonya, nanti barang-barang anda akan dibawa oleh pegawai kami. Di pintu masuk ada asisten CEO yang menunggu anda."


"Terimakasih." Valonia terhenyak dengan penjelasan sang sopir. Sampai disini ia merasa jika perusahaan baru ini mengistimewakan dirinya.


Di pintu masuk. Endi asisten CEO JFB sudah menunggu. Valonia dan Mia merasa tidak enak hati ketika banyak mata melihat ke arah mereka.


"Kak, apa Kak Keyan tidak ikut ?" Mia baru ingat jika tidak melihat keberadaan suami Valonia itu.


"Keyan, di rumah. Aku berangkat pagi sekali. Dia tidak mau ikut karena ada janji bersama Bunda." Valonia menjawab pelan.


"Selamat datang, Nyonya." Endi menyambangi Valonia dan Mia. Senyum laki-laki ini tidak pudar selalu terlihat hangat.


"Terimakasih, Pak Endi. Harusnya anda tidak perlu menunggu kami disini."


"Panggil Endi saja, ini sudah menjadi tugas saya. Mari ikut saya ke ruangan ganti, di sana para model sudah menunggu." Endi mempersilahkan dengan sopan.


"Kalau begitu anda bisa memanggil saya Valonia."


Endi tersenyum. "Akan tiba waktunya kita layaknya teman, Nyonya. Karena CEO kami sangat menyukai anda."


Di tiap sudut gedung itu, netra Valonia  melihat ada bunga Jasminum berbagai jenis hidup di dalam pot. Bahkan para OB merawatnya dengan baik. Terbukti bunga-bunga itu tumbuh dengan segar dan cantik.


...----------------...


Tamu undangan mulai menempati kursinya masing-masing. Megahnya aula tempat pelaksanaan, membuat semua orang berdecak kagum. Tamu undangan duduk saling berhadapan hanya berbatas catwalk. Sementara para fotografer berdiri di posisinya masing-masing.


Valonia merasa gugup melihat banyaknya kamera dan tamu undangan yang berdiri di depan dan di belakangnya. Ia bersyukur karena pakaian yang ia bawa semua cocok dikenakan untuk tubuh para model yang akan tampil.


"Mia, aku gugup. Bagaimana jika pakaian yang dikenakan para model itu tidak cocok untuk acara ini ? JFB pasti malu."


Mia menggenggam tangan Valonia dan tersenyum. "Kak, percayalah semuanya akan berjalan lancar. JFB memilih kita. Itu tandanya mereka memang mengakui kita layak bersanding dengannya dipertunjukkan ini." Ia menggosok-gosok telapak tangan Valonia yang terasa sedingin es.


Valonia merasa tenang setelah mendengar kata-kata Mia. Gadis itu benar, terpilihnya Jasmine Boutique itu tandanya mereka layak hadir disini.


Dari deretan kursi Valonia, ada Tita dan Sindy yang menatapnya tidak senang. Mereka sengaja datang karena kantor pak Anton mendapatkan undangan.


Tidak jauh dari deretan kursi Valonia. Ada juga Ayah Johan, Pak Andre dan Pak Anton. Tak luput pula Varen dan teman-temannya juga hadir di sana.


"Dia pasti gugup. Di mana Keyan, kenapa tidak mendampingi istrinya?" Rara hanya bisa melihat punggung Valonia dari tempatnya duduk.


"Dia ada janji bersama Bunda Arini. Mungkin dia sibuk."


Varen tiba-tiba menggenggam hangat tangan Rara. Ia tersenyum manis pada gadis yang menatapnya heran.


Perhatian semua orang tertuju pada seorang laki-laki yang berdiri di atas catwalk. Ia mengucapkan salam pembuka dan membacakan susunan acara.


Valonia semakin gugup, takut rancangan terbarunya tidak dapat diterima oleh masyarakat. Jujur,  ia butuh Keyan saat ini, namun laki-laki itu telah mengutamakan ibunya. Ya, itu memanglah seharusnya. Valonia tidak mempermasalahkan hal itu.


"Selamat malam semuanya. Terimakasih meluangkan waktu untuk hadir di acara pembukaan kantor induk JFB. Saya ucapkan selamat datang." Endi asisten CEO membuka acara. "Malam ini di pembukaan kantor baru kami, akan diadakan peluncuran produk baru dari JFB. Malam ini pula, CEO kami menggandeng seorang desainer dari Jasmine Boutique yaitu Valonia Jasmine. Untuk melengkapi tampilan para model kami." Sambung Endi lalu menyerahkan acara selanjutnya pada MC.


Valonia berdiri membungkukkan tubuhnya menghadap pada tamu undangan lalu kembali duduk. Tak jauh dari sana, netra ayah Johan membulat sempurna. Tak menyangka jika seorang Valonia Jasmine lebih dulu menggandeng JFB.


Tak hanya dirinya Pak Anton juga merasa tak terima, padahal baru saja ia memberikan titah pada Tita agar bisa berkenalan dengan orang-orang penting JFB. Apa lagi bisa berkenalan secara langsung pada CEO nya itu akan lebih baik lagi


Tita dan Sindy semakin tidak terima atas pencapaian Valonia malam ini. Mereka merasa kalah, tapi di balik ini semua. Tita punya rencana untuk Valonia dan Keyan. Dengan terlibatnya Valonia dalam pertunjukan malam ini. Secara tidak langsung CEO JFB dan Valonia ada hubungan terlarang atau skandal.


"Apa kamu berpikiran sama denganku ?" Bisik Sindy dengan tatapan tak lepas pada Valonia.


Tita mengangguk. "Iya, aku yakin dia sudah mengenal CEO JFB atau bahkan lebih dari sekedar hubungan kerja sama. Aku harus memberitahu Keyan. Lihatlah bahkan dia tidak ada disini."


"Kamu benar." Lirih Sindy ketika netra nya menangkap sosok yang ia cintai duduk bersama Rara.