
Menunggu selama setengah jam, Keyan memutuskan untuk menyudahi sandiwaranya. Sebab, Valonia tidak menghiraukannya atau mengajaknya bicara. Gadis ini masih membaca buku seperti sebelumnya. Alvan tertawa melihat wajah Keyan yang terlihat kesal.
"Ayo ke kelas." Varen datang bersama Rara, di tangannya ada satu mika kue donat. Ia menyerahkannya pada Valonia. Kemudian matanya melirik ke atas brankar. "Dia masih pusing ?"
"Hm..." Valonia beranjak dari tempatnya duduk lalu menoleh pada Keyan. "Sudah waktunya masuk kelas, jika kamu masih pusing. Aku akan ke kelas mu, untuk memberitahu guru yang masuk. "Valonia meletakkan buku yang dibacanya ke tempat semula. Kemudian melangkah keluar dari ruang UKS.
"Tunggu Jasmine !"
Keyan menghentikan langkah gadis itu. Varen dan Rara juga berhenti dan menoleh.
"Jasmine."
Tiru Varen dan Rara bersamaan. Sementara itu Alvan menahan tawanya melihat raut bingung di wajah Varen dan Rara.
"Ada yang kamu butuhkan ?" Valonia melihat pada Keyan yang sudah duduk di atas brankar.
"Aku juga kembali ke kelas. Terimakasih sudah menemani ku." Keyan menurunkan kakinya ke lantai sambil menatap wajah cantik Valonia Jasmine.
"Sama-sama." Valonia melanjutkan langkahnya kembali lalu di ikuti oleh Varen dan Rara.
Keyan terdiam di tempatnya berdiri, gadis itu sungguh menarik. Kharisma dirinya yang dapat julukan idola sekolah tidak berpengaruh apa-apa di mata seorang Valonia Jasmine.
Tidak hanya sang idola sekolah, Alvan pun ikut tercengang. Apakah kepopuleran Keyan sudah memudar ? Dalam hatinya tertawa ketika ada satu wanita tidak terpesona pada ketampanan Keyan Ganendra.
"Apa aku harus memeriksa mata ke dokter ? Pesona mu sudah pudar kawan ! Lihatlah Valonia Jasmine tidak terpengaruh. Andai dia gadis lain. Mungkin, kamu sudah ditempel terus menerus." Alvan menggeleng kepala sambil berkacak pinggang.
"Ayo ke kelas. Aku menjadi tertantang menaklukannya !" Keyan merangkul pundak Alvan dan setengah menyeretnya karena mengejeknya sejak tadi.
...----------------...
Tiap mata pelajaran sudah dilewati dengan baik oleh seluruh siswa. Ada yang mengerti dan ada juga yang tidak mengerti bahkan ada yang berpura-pura mengerti. Guru-guru tidak pernah bosan mengingatkan jika sebentar lagi siswa-siswi kelas 12 akan segera menghadapi ujian akhir. Penentuan kelulusan atas perjuangan mereka saat di bangku SMA.
"Valo, nanti malam aku ke rumah mu. Pelajaran tadi aku belum mengerti dengan baik." Rara bergelayut manja di lengan Valonia.
Valonia mengangguk. "Iya, hati-hati di jalan." Mereka berpisah di halaman parkir sekolah.
Jam pulang sekolah sudah tiba, banyak siswa yang menaiki sepeda motor. Sudah menjadi ciri khas anak SMA. Begitu pun dengan Valonia Jasmine, ia sedang menunggu Varen mengeluarkan sepeda motor dari padatnya kendaraan. Setiap hari mereka akan berangkat dan pulang bersama.
"Ayo naik." Varen menyerahkan helm milik Valonia. Tidak hanya memberikannya, dia juga membantu mengenakannya. Jika dilihat mereka sudah seperti sepasang kekasih. Sangat manis.
Valonia duduk dengan benar, tak lupa jaket milik Varen menutup sedikit bagian depannya, agar roknya yang tertarik ke atas tidak terlalu terbuka. Dengan perlahan Varen menarik gas motornya, sebelum mereka pulang ke rumah. Varen dan Valonia akan mampir ke kafe terlebih dulu.
Tanpa Valonia dan Varen sadari, ada dua pasang mata memperhatikan mereka. Keyan dan Alvan duduk di dalam mobil berseberangan dengan parkiran motor. Disana mereka bisa melihat sepasang anak manusia itu.
"Ikuti mereka !" Keyan yang masih penasaran dengan Valonia meminta pada Alvan untuk mengikuti motor Varen.
"Kenapa, kamu suka dia ?" Tebak Alvan segera. Dalam hatinya curiga, tidak pernah sekali pun seorang Keyan berinisiatif menjadi penguntit.
"Aku hanya penasaran. Seberapa tangguhnya dia menolak pesonaku." Keyan tersenyum tipis. "Dia cerdas, 'kan ? Aku ingin ikut belajar dengannya. Ayah menuntut agar aku mendapatkan nilai yang baik." Sambungnya lagi.
Alvan tertawa. "Baiklah, aku pun mau ikut kelompok belajarnya. Aku dengar ayahnya seorang dosen, ibunya pemilik butik yang di minati oleh kalangan menengah."
Keyan mengangguk dari keluarga sederhana pikirnya. Alvan mengendarai mobil mengikuti arah motor Varen. Menempuh beberapa menit mereka berhenti di kafe biasa tempat mereka nongkrong.
Keyan dan Alvan turun dari mobil, mereka sengaja memberi jarak agar terlihat tidak sengaja bertemu di sana. Apa jadinya, jika ketahuan mengikuti Varen dan Valonia ?
"Valo !" Alvan menyapa dan berdiri di sisi meja. Ia tersenyum manis pada gadis cantik ini, Valonia membalas dengan senyuman tipis tanpa menjawab.
"Kalian satu sekolah ?" Levin memecahkan kecanggungan. Ia dapat melihat jika tiga orang ini tidak terlihat akrab.
"Iya Bang." Alvan yang menjawab. "Valo, tadi kepala sekolah mengumumkan sebentar lagi kita akan ujian akhir. Karena jurusan kita sama, apa boleh aku dan Keyan bergabung dengan kelompok belajarmu?" Sambung Alvan to the point.
Valonia menoleh dan melihat pada Keyan dan Alvan bergantian. Ada tatapan harap dari netra dua laki-laki ini. Sejenak Valonia berpikir, haruskah ? Ia menerimanya. Apa Rara dan Varen setuju ? Jika ditolak, ia merasa berdosa merasa pelit ilmu.
"Akan aku bicarakan pada Varen dan Rara dulu, besok aku kabari di sekolah." Putus Valonia setelah berpikir.
"Terimakasih Val." Alvan tersenyum senang. Ia melirik pada Keyan, terlihat laki-laki ini juga senang.
Levin tersenyum menatap intens wajah Valonia di sampingnya. Levin Mahesa selain pemilik kafe, dia juga seorang mahasiswa semester akhir. Sebentar lagi Levin akan wisuda. Ia tipe pria sedikit dingin, tapi terlihat hangat pada orang yang telah dikenalnya.
"Ayo pulang." Varen datang menghampiri meja Valonia. Seperti dulu ia tidak menggubris keberadaan orang lain di meja itu.
"Bang, kami pulang." Pamit Valonia tersenyum. Kemudian melihat pada Alvan dan Keyan. "Besok tunggu saja kabar dariku." ucapnya kemudian meninggalkan meja.
"Ren, hati-hati bawa Jasmine !" Levin menatap lembut pada Valonia.
Mata Keyan tajam. Jadi, selain dirinya. Pemilik kafe itu juga memanggil Valonia dengan sebutan Jasmine. Alvan tersenyum hanya mereka berdua yang tidak tahu, terbukti Varen tak terkejut seperti saat Keyan memanggil Jasmine pada Valonia.
...----------------...
Perpisahan siang tadi di kafe menyisakan kegelisahan untuk Keyan. Dia sedikit cemas jika Valonia tidak menerimanya dan Alvan untuk ikut kelompok belajarnya.
"Key, kemarilah duduk di samping bunda." Bunda Arini menepuk sofa kosong di sisinya. Ia bingung melihat putranya seperti gelisah.
Keyan duduk di samping Bundanya, tak jauh dari mereka ada ayahnya Tuan Johan Ganendra duduk sembari menonton televisi.
"Ada apa Bun?" Keyan menoleh kesamping tersenyum pada bunda Arini.
"Kamu gelisah, kenapa ?" Bunda Arini bertanya dengan lembut. Jemarinya merangkul pundak putra semata wayangnya itu.
"Tidak ada apa-apa Bun." Keyan menjatuhkan kepalanya di pangkuan bunda Arini.
"Key, sebentar lagi ujian akhir. Kamu harus dapatkan nilai Bagus, sebagai pemilik yayasan itu. Papa malu jika kamu lulus dengan nilai tidak memuaskan." Ayah Johan Ganendra ikut bicara.
"Iya Yah, akan aku usahakan." Keyan menjawab sambil bangun dari pangkuan bundanya.
"Ayah tunggu pengumumannya saat ke lulusan nanti." Tekan Ayah Johan.
Keyan mengangguk, kemudian beranjak dari tempatnya duduk dan pergi melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Bunda Arini menatap punggung putranya yang telah menjauh lalu berpaling melihat ke arah suaminya.
"Yah, jangan menekan Keyan untuk mendapatkan nilai terbaik. Itu bisa menjadi beban untuknya. Kita dukung saja dia sesuai kemampuannya." Bunda Arini bicara dengan nada lembut.
Ayah Johan menoleh pada istrinya dan berkata. " Tidak bisa dibiarkan, Bun ! Keyan putra kita satu-satunya. Siapa lagi yang menjadi harapan Ayah untuk meneruskan usaha kita nanti. Di dalam dunia usaha harus memiliki mental baja dan ketangkasan dalam berpikir. Ayah menekan dia untuk dapat nilai terbaik agar bisa masuk ke universitas tanpa hambatan."
Bunda Arini mengangguk, kini ia paham maksud dari suaminya. "Bunda mengerti."
"Selama ini Ayah hanya ingin dia belajar tanpa memikirkan apa pun. Menikmati masa sekolahnya, agar nanti ketika sudah terjun ke dunia usaha. Keyan tidak lagi main-main." Ayah Johan menatap lurus ke depan. "Sampai titik ini, perjuangan Ayah tidak mudah." Sambungnya lagi.