Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Rumah Kita



Senyum bahagia terlukis di wajah semua orang. Khususnya keluarga, melihat Valonia Jasmine menikah hari ini rasanya seperti mengeluarkan duri dari kulit. Ya ! Mereka salah satu saksi hidup perjalanan Valonia Jasmine hingga detik ini.


Malam bertaburan bintang, bulan pun ikut andil merayakan kebahagiaan insan penuh cerita itu. Acara pernikahan baru saja selesai, rasa yang lelah terbayar dengan kebahagiaan.


Apa lagi Keyan yang telah mempersiapkan sejak satu bulan lalu. Sebelum kepulangannya. Ia menyiapkannya dengan sempurna. Meski kesannya sedikit memaksa, tapi rona kebahagiaan itu tercetak jelas di wajah Valonia Jasmine.


"Key, ini rumah siapa ? Aku baru sadar jika ada rumah di tempat ini." Valonia mengitari isi dalam rumah dengan pandangannya.


"Ini rumah kita."


Valonia menoleh pada laki-laki yang berstatus suaminya ini. "Rumah kita ? Kamu tidak salah. Jangan berhalusinasi lagi, Key. "


"Aku tidak berhalusinasi sayang. Ini rumah kita. Aku membelinya dua bulan lalu. Besok kita akan pindah ke sini, untuk malam ini biar kita menginap di sini saja. Ayo ke kamar kamu pasti lelah." Jelas Keyan sembari menggiring Valonia ke kamar.


Malam semakin larut keluarga yang hadir telah kembali ke rumah masing-masing. Keyan menyiapkan pesta sederhana namun sangat berkesan. Konsep pernikahan outdoor adalah keinginan Valonia Jasmine. Varen memberitahu semua apa saja yang di inginkan oleh sepupunya itu.


Siapa yang mengira jika pernikahan yang baru dilaksanakan siang hari ini berada di halaman rumah Keyan dan Valonia Jasmine sendiri. Bak raja yang selalu memberikan kenyamanan untuk ratunya, itu lah yang dilakukan Keyan.


Di dalam kamar utama, Keyan dan Valonia selesai membersihkan diri. Tidak ada rencana untuk pergi ke suatu tempat untuk berbulan madu. Hunian mewah dan besar itu terasa sepi. Karena para pekerja akan didatangkan esok hari. Sebagai pengantin baru, Keyan ingin menghabiskan waktu berdua bersama istrinya. Kondisi rumah yang sepi, masih hangat dengan aura pernikahan. Membuat Keyan tak ingin terganggu.


"Sayang, ayo makan malam." Keyan masuk ke dalam kamar membawa nampan makanan. Ia tersenyum melihat Valonia cantik mengenakan piyama tidur pilihannya.


"Maaf, Key. Harusnya aku yang menyiapkannya untukmu." Valonia merasa tidak enak hati. Berstatus menjadi istri tapi belum menjalani tugas seorang istri.


"Tidak apa-apa, aku senang melakukannya. Lain waktu kamu bisa menyiapkannya untukku." Keyan penuh pengertian. Ia tahu jika istrinya lelah dengan pakaian pengantin yang lumayan berat di tambah lagi riasan kepala. Meski terlihat simpel dan ringan tetap saja terasa lelah.


Valonia mengangguk sembari menerima piring makanannya. Ia tersenyum melihat menu yang dimasak oleh Keyan. Suaminya itu sangat lahap karena saat acara pernikahan ia melewatkan makannya.


"Biar aku yang mengantarkannya ke bawah." Valonia membereskan piring kotor bekas makan mereka berdua.


"Aku temani." Keyan tersenyum membawa gelas kotor. Ia tak akan membiarkan istrinya turun sendiri ke bawah dalam keadaan sepi seperti itu.


Usai makan malam yang telah lewat waktunya. Valonia dan Keyan masih belum merasa mengantuk. Hanya saja tubuh mereka memang terasa lelah.


"Sini sayang." Keyan duduk bersandar di dinding kasur setelah menghidupkan televisi. Tangannya menuntun sang istri untuk bersandar di dadanya.


Tanpa bantahan Valonia Jasmine langsung bersandar di tubuh Keyan. Ia merasakan jika suaminya itu mengecup lembut pucuk kepalanya.


"Terimakasih untuk hari ini." Valonia mendongak ke atas tersenyum pada suaminya.


"Aku yang berterimakasih karena sudi hidup bersamaku." Kecupan lembut Keyan tanamkan di kening Valonia.


Valonia tertawa mengingat kekonyolan Keyan saat di butiknya. Pria ini menyelinap masuk ke rumahnya dan tidur bersamanya. Lalu melakukan aksi niat bunuh diri agar dapat pengakuan darinya. Dan hari ini laki-laki berstatus suami Valonia itu mengesahkan hubungan mereka dalam sebuah pernikahan. Sungguh terasa singkat untuk Valonia Jasmine.


"Key, kemana kamu selama ini ?" Valonia bertanya sambil menaikan selimut ke atas dadanya.


"Aku bekerja."


"Perusahaan baru" Keyan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh sang istri. Lagi-lagi ia mendaratkan kecupan kecil di pucuk kepala Valonia.


"Iya, mereka juga mengambil kuncup bunga jasminum sebagai ciri khas perhiasannya. Aku sudah melihatnya di majalah."


"Biarkan saja" Keyan mengurai lembut rambut panjang istrinya, sesekali ia menghirup wanginya.


"Apa kamu pernah menceritakan ide mu pada orang lain ? Dan bagaimana tentang rancangan perhiasan mu waktu itu ? Apa sudah kamu pesan ke pabrik ?" Valonia kembali mendongakkan wajahnya ke atas. Netra nya menangkap guratan sedih di wajah Keyan.


"Sketsa itu hilang, aku tidak tahu tercecer dimana saat aku akan berangkat ke luar negeri."


"Benarkah ?! Apa ada seseorang yang menemukannya atau pemilik perusahaan JFB." Valonia refleks duduk dan menghadap Keyan. Ia mencurigai pendiri JFB. "Jadi, kamu di sana bekerja dimana ?"


Keyan menggenggam tangan Valonia dan duduk saling berhadapan. "Aku bekerja di perusahaan asing. Atas rekomendasi Om Andre. Gajinya juga besar." Ia tersenyum hangat lalu membawa tubuh Valonia ke posisi semula.


"Kenapa kamu menyulitkan diri sendiri ? Harusnya kamu tidak melakukan ini. Maka kamu akan duduk nyaman di kursi yang menunggumu untuk kembali."


"Ini tidak ada kaitannya dengan mu sayang. Pilihanku adalah keinginanku. Jadi, tidak melibatkan siapa pun termasuk istriku. Jangan pikirkan macam-macam ya. Sekarang aku sudah pindah ke sini makanya aku bisa pulang." Keyan segera menenangkan istrinya.


"Kemarin malam saat kepulangan mu. JFB mengirim e-mail memintaku untuk bergabung dalam pertunjukan produk terbaru. Mereka menyewa beberapa model untuk pertunjukannya, lalu... Meminta model mereka mengenakan pakaian rancangan terbaru dari Jasmine Boutique." Valonia bercerita dengan mimik sedih. Ia serasa mengkhianati suaminya yang memiliki ide perhiasan ini lebih dulu.


"Kamu menerimanya ?"


Valonia mengangguk dan berkata dengan berat hati. "Iya. Aku juga butuh model untuk baju rancangan terbaruku. Dengan menerima kerja sama ini, aku tidak perlu membayar model atau pun studio foto. Secara tidak langsung aku merasa ini pencapaian terbesar karena rancangan terbaruku ikut promosi dalam pertunjukkan besar milik JFB."


Keyan semakin merengkuh tubuh Valonia Jasmine. Mendekapnya erat penuh rasa bahagia. "Tidak apa-apa, bila ada peluang saling menguntungkan kenapa tidak diambil. Aku mendukungmu sayang. Tak apa ide ku dimiliki orang lain, terpenting aku memiliki serifikat atas karyaku." Ucapnya lembut.


"Terimakasih, Key..."


"Apa kamu sudah bertemu dengan pemiliknya atau orang kepercayaan JFB ?" Keyan bertanya sembari mengganti channel televisi.


"Belum dan besok janji temu kami. Di Ren'Cafe cabang."


"Boleh aku ikut ?" Keyan bertanya sambil mengecup singkat bibir istrinya.


"Ciuman keduaku."


"Sama, aku juga !" Keyan kembali mengulang mengecup bibir Valonia. "Jadi, apa boleh aku ikut ?"


"Boleh." Valonia mengangguk dan tersenyum.


"Sudah malam ayo kita istirahat."


Malam ini kosongkan saja malam pertama, tapi tidak untuk malam kedua dan seterusnya.


Keyan menurunkan tubuhnya dari sandaran lalu memeluk erat wanita yang telah jadi istrinya ini. Ia sengaja tak menuntut haknya sebagai suami. Ia harus memberi jeda pada istrinya yang masih terkejut dengan pernikahan ini. Meski disambut baik oleh Valonia tapi ia tak ingin egois.