Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Kondisi Endi



Tanpa makan malam, Keyan dan juga Valonia langsung ke rumah sakit. CEO JFB itu benar-benar terkejut mendengar kabar yang disampaikan Valonia. Ia berharap sahabat sekaligus asistennya itu baik-baik saja. Langkah Keyan begitu lebar menuntun Valonia yang dalam keadaan hamil. Raut khawatir itu sangat tercetak jelas diwajahnya. Bahkan, telapak tangannya sudah dingin.


"Sonny."


Keyan menghampiri Sonny yang berdiri bersama Mia di depan ruangan ICU. Wajah dokter tampan itu sangat sedih dan juga sembab.


"Key, sahabat kita kritis."


Keyan tertawa sumbang. "Jangan bercanda padaku." Sanggahnya tak ingin percaya. Tak dipungkiri jika hatinya sakit mendengar perkataan Sonny.


"Aku serius." Sonny mengusap sudut matanya yang kembali basah.


"Cukup ! Jangan bercanda lagi padaku. Endi baik-baik saja." Keyan berusaha menahan lajunya air mata yang akan menerobos pertahanannya.


"Sayang kamu yang tenang." Seru Valonia juga ingin menampik kabar itu. Ia bisa melihat jika suaminya mulai tidak baik-baik saja.


"Kak, ayo duduk." Mia menuntun tubuh owner Jasmine Boutique itu untuk duduk di kursi tunggu.


Keyan menyandarkan tubuhnya di dinding. Tangannya meraup kasar wajahnya, dadanya rasa tertekan sebuah benda tajam. Berulang kali ia menghela nafas mengusir rasa yang tak dapat ia ungkapkan.


Di saat semua orang terdiam, gema sepatu berlarian semakin dekat dan nyaring. Semua teralihkan dengan kebisingan itu.


"Bagaimana kabar Endi ?" Varen bertanya sambil mengatur nafasnya. Laki-laki ini berlari bersama Levin dan juga Rara agar cepat sampai di ruang ICU.


"Kritis."


"Jangan katakan itu ! Endi akan baik-baik saja." Sahut Keyan dengan nada sedikit nyaring. Pria ini menatap tajam pada Sonny.


"Key, tenang." Levin menepuk pundak Keyan. Ia tahu jika laki-laki ini terpukul.


"Valo, kendalikan dirimu." Rara meraih tubuh Valonia dan memeluknya. Ia melihat jika sahabatnya itu pucat dengan wajah yang muram.


"Jangan menangis !" Lagi-lagi Keyan membentak. Iris matanya semakin merah dengan nafas naik turun. "Sembuhkan dia, atau aku akan membakar rumah sakit ini. Aku tidak perduli ini milikmu. Aku mau Endi sembuh." Sambungnya mulai terdengar kacau.


"Key, sabar ! Endi pasti bisa melewati masa kritisnya." Varen melangkah menghampiri Keyan. Sambil memberi kode pada Sonny agar tidak terlalu terlihat menyedihkan.


Keyan tiba-tiba berbalik dan memukul tembok. Rasa kesalnya terluapkan di sana. Laki-laki ini menengadahkan wajahnya ke atas agar air matanya tidak tumpah, tak menampik melihat Sonny menitikkan air mata. Ia pun terbawa.


"Apa yang kakak lakukan ?"


Derry  datang langsung menarik pergelangan tangan kakak laki-lakinya itu. Ia tak sendiri ada Alvan dan Nanda bersamanya. Dengan penuh kasih sayang Derry meniup buku-buku jari Keyan yang terluka. Sementara pemilik tangan itu tak merasakan apa-apa.


"Bagaimana Endi bisa sampai disini ?" Alvan melontarkan pertanyaan pada Mia. Karena istri Sonny itu yang mengabari mereka semua.


"Tadi aku mengantar makan malam untuk Kak Sonny dan juga Papa Ariel. Terus aku mendengar seseorang berteriak memanggil dokter jaga karena ada pasien kecelakaan di ruang IGD. Aku penasaran lalu melihatnya, saat dibawa keluar dari ambulans ternyata Kak Endi. Aku langsung menelpon Kak Sonny."


"Kecelakaan tunggal atau tabrakan ?" Sambung Levin bertanya.


"Tabrakan, aku bertanya pada orang yang ikut mengantarnya. Motor Kak Endi tabrakan dengan mobil. Pemilik mobil itu juga sedang di rawat disini." Cerita Mia lagi.


"Itu artinya Kak Endi kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari rumahku." Timpal Derry masih meniup buku-buku jari Keyan.


"Karena kalian sudah disini semua, aku akan menjelaskan tentang kondisi Endi." Sonny bersuara.


Semua mata melihat ke arahnya, hanya Keyan yang enggan mengalihkan pandangannya. Laki-laki ini diam menatap lantai. Kepalanya tertunduk seolah tak ingin mendengarkan apa-apa.


"Iya katakan." Varen merubah posisinya.


"Endi kritis, banyak kehilangan darah. Tangan kanannya patah dan juga tulang rusuknya. Ada beberapa bagian kulitnya sobek termasuk kulit kepalanya. Gigi bawahnya ada beberapa yang hilang."


"Dokter Sonny, anda di panggil dokter Ariel." Seorang perawat membuka sedikit pintu ruangan ICU.