Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Titik Terang



Di perjalanan, Valonia dan Derry terus saja muntah. Sudah beberapa kali singgah untuk membuang plastik tempat muntahan ke tempat sampah. Valonia semakin lemas begitu juga Derry. Mereka tak dapat bersuara atau membuka mata. Keyan semakin panik dan cemas Valonia bersandar di tubuhnya. Tanpa terasa air matanya menetes ketika bayangan buruk hinggap dibenaknya.


Nafas Keyan semakin berat memaksa menutupi rongga dadanya. Tak terbayangkan jika wanita berambut panjang ini pergi membawa buah hatinya. Apa jadinya hidup Keyan ? Ketika kebahagiaan untuk hidup bertiga musnah hanya karena kejadian ini.


Deru nafas laki-laki bertubuh atletis ini terdengar nyaring di dalam kesunyian serta ketegangan di dalam mobil. Valonia dan Derry sudah tak mengeluarkan kata atau merintih kesakitan. Hanya tersisa tubuh yang lemas dan tidak bertenaga.


Hati Keyan semakin diremas melihat istrinya tidak lagi membuka kelopak matanya. Hanya gelombang nafas yang letih terlihat di dadanya. Jemari kaki dan tangannya sedingin es. Dengan keringat dingin membasahi kulitnya.


"Key, sabar." Rara bisa melihat guratan sedih bercampur khawatir di wajah sahabatnya itu. Ia juga melihat air mata jatuh di pipi Keyan. Perasaan wanita berparas manis ini tak jauh berbeda hanya saja lebih sabar dibandingkan CEO JFB itu.


"En, bisa lebih cepat lagi. Jasmine benar-benar lemas sekarang."


"Iya, kita sedikit lagi sampai." Endi menambah kecepatan karena jalanan sedikit sepi. Manik matanya melirik sejenak di kaca depan memantau kondisi penumpang dibelakangnya. Tak hanya sekali. Namun berkali-kali, ia melihat kesedihan serupa di wajah atasannya itu.


Rara membantu menyeka wajah Derry dengan tissue. Istri Varen ini rela bersusah payah menjangkau Derry dibelakang. Perhatian Rara teralihkan karena deringan ponselnya. "Iya." Jawabnya sambil membenarkan posisi duduknya.


"Sayang, apa di mobil kalian ada Mia ?"


"Haa? Mia ! Tidak ada. Kenapa?" Wajah Rara terlihat serius lalu menoleh ke belakang bertepatan dengan Netra Keyan juga menatap ke arahnya.


"Mia tidak ada. Di mobil Alvan juga tidak ada. Ya sudah kalian hati-hati. Kabari aku kondisi Valonia."


Telpon terputus. Rara semakin bingung dengan kejadian hari ini. Pikirannya tiba-tiba kosong. Manik matanya menatap lurus ke depan. Tanpa bicara lagi mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di halaman rumah sakit.


Endi gegas turun memberitahukan petugas UGD ada pasien darurat. Laki-laki itu kembali ke mobil di ikuti beberapa dokter dan perawat. Rara turun membuka pintu sebelah Derry. Laki-laki itu sudah tidak berdaya. Tenaganya terkuras habis karena muntah.


Brankar di dorong ke sisi mobil. Derry diangkat lebih dulu oleh beberapa perawat. Selanjutnya Valonia dan disusul Nanda dari mobil Alvan dibelakang mobil Keyan.


Mereka segera ditangani sementara Keyan dan yang lainnya menunggu tak jauh dari ruang tindakan itu. Mereka memberi ruang untuk para dokter UGD melaksanakan tugasnya. Dalam hati mereka tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan tiga orang yang tergeletak di atas ranjang putih itu.


"Ra, ada apa ?" Endi yang penasaran dengan  perubahan raut wajah Rara langsung bertanya.


"Varen meneleponku menanyakan Mia."


"Apa ?! Kenapa dia tidak tahu keberadaan istrinya ?" Sahut Alvan juga terkejut. Karena Sera tidak mengatakan apa-apa saat menerima telpon tadi.


"Apa menurut kalian ini murni wabah? Atau... Ada hal lainnya." Endi melirik wajah teman-temannya satu persatu.


"Aku pikir begitu juga, En !" Rara menyetujui pendapat Endi. Ia melirik sejenak ke arah Keyan. Nampak laki-laki itu bergeming dengan pembicaraan mereka.


"Nanti lagi kita bahas." Endi mengerti kondisi hati Keyan. Ia tak ingin meneruskan pembicaraan itu.


Keyan diam tanpa bicara. Matanya tidak berkedip melihat dokter melakukan penanganan pada Valonia dan juga Derry. Jantungnya berdebar takut. Melihat wajah istrinya pucat tak berdarah terlebih kelopak matanya sayu tertutup. Bahkan dibawah mata Valonia sedikit hitam pertanda dia mengalami dehidrasi.


"Wali pasien Valonia Jasmine dan juga Derry Ganendra." Panggil dokter.


Keyan melangkah menghampiri dokter itu. Manik matanya seolah bicara. Jelaskan ! Karena bibinya tak terkatup rapat dengan suara tercekat di tenggorokan. "Nyonya Valonia dan Tuan Derry mengalami dehidrasi ringan. Tindakan yang bagus memberikan mereka air putih setelah muntah. Dari gejalanya mirip muntaber tapi saya curiga keracunan makanan. Tunggu satu jam lagi hasil pemeriksaan akan keluar. Baru kita tahu selengkapnya. Untuk sementara kita observasi dulu."


...----------------...


Di desa, pesta pernikahan penuh kebahagiaan tadi berganti dengan ketegangan. Sonny dan Varen sudah mencari Mia ke segala tempat. Seluruh keluarga panik pengantin wanita tiba-tiba menghilang.


Sementara pak Ariel dan ibu Neta sibuk membantu pihak puskesmas menangani pasien yang berdatangan. Ambulans puskemas bersiap untuk membawa pasien yang parah untuk dirujuk ke kota.


Sonny mengusap wajahnya frustasi. Laki-laki ini terlihat kacau. Tuxedo yang ia kenakan masih melekat ditubuhnya. Ia dan Varen tanpa henti mencari keberadaan Mia. Apa lagi Nenek sudah jatuh pingsan membuat Sonny semakin cemas.


Varen bersandar di badan mobilnya laki-laki ini memijit keningnya. Tak menyangka pernikahan sahabatnya ini berakhir kacau. Tubuhnya sudah lelah karena sejak tadi belum ada makanan yang masuk diperutnya. Laki-laki ini merasakan getaran ponselnya disaku celananya. Varen terburu-buru menjawab setelah tertera nama Rara di layarnya.


"Bagaimana kondisi Valo." Tanya Varen yang masih memikirkan kondisi sepupunya itu


"Dari hasil laboratorium mereka keracunan disebabkan bakteri pada makanan. Sekarang mereka dirawat dan sudah diberi antibiotik."


"Kabari terus perkembangan mereka padaku. Bagaimana kondisi janinnya?" Varen melangkah menghampiri Sonny yang masih saja mencari-cari petunjuk yang ditinggalkan Mia.


"Janinnya sehat karena Valo cepat ditangani. Sekarang mereka dirawat bila sudah lumayan membaik Keyan minta mereka dirujuk ke rumah sakit milik Om Ariel."


"Baiklah kamu kirimkan hasil tes laboratorium milik Valonia. Aku akan memberikannya pada Om Ariel. Disini pasien sudah mulai banyak." Pinta Varen.


"Baiklah."


Telpon terputus. Varen mendekati Sonny. Ia menepuk punggung sahabatnya itu. Hari semakin senja. Namun, Mia juga belum ditemukan. Sonny menyesali karena meninggalkan istrinya seorang diri di pelaminan.


Pesan dari Rara sudah masuk. Varen yang tidak mengerti langsung mengajak Sonny ke puskesmas. Percuma meminta sahabatnya itu membacakan untuknya. Karena Sonny dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Keracunan bakteri." Pak Ariel melihat hasil tes laboratorium milik Valonia dan Derry. Ia menyerahkan ponsel itu pada istrinya.


"Beri mereka antibiotik. Minta pada keluarga Mia untuk menyimpan sisa makanan sebagai sampel. Setelah kejadian ini dinas kesehatan setempat akan turun memeriksanya dan mencari tahu bakteri apa yang menyebabkan keracunan ini." Perintah ibu Neta sekaligus menjelaskannya.


"Iya Tante. Kira-kira berapa orang sudah pasien yang sakit ?" Tanya Varen menjatuhkan tubuhnya di kursi ruangan tindakan.


"Sudah dua puluh lima orang." Sahut Pak Ariel dengan guratan wajah penuh kesedihan.


"Kita hadapi ini sama-sama, Om !"


"Kak dokter ! Tadi aku melihat Kak Mia dibawa orang !"


Suara anak remaja laki-laki terdengar nyaring seiring langkah kakinya yang berlari menuju ke arah Sonny.


"Dimana kamu melihatnya ?"Laki-laki itu langsung berdiri dari tempatnya duduk. Iris mata Sonny menatap penuh harap pada remaja laki-laki itu.


"Di rumah kebun. Aku melihat Kak Yoga membawa Kak Mia ke sana. Ayo ikut aku "