
Kilau mentari pagi tembus dari tirai jendela. Kelopak mata ganda Keyan perlahan-lahan terbuka. Pandangan pertamanya jatuh pada sosok cantik yang tidur menghadap padanya. Seolah tak ingin hilang kesempatan Keyan mengabsen seluruh sudut wajah Valonia Jasmine.
Bertahun lamanya, menyimpan cinta yang amat dalam pada sosok cantik ini. Meski tidak ada kalimat balasan cinta yang terucap dari Valonia. Tapi Keyan tak mempermasalahkannya. Cukup gadis ini menerimanya dan bersedia tinggal di sisinya.
Hati kecil Keyan yakin, jika perasaannya mendapatkan balasannya. Meski pun kekasih hatinya itu lupa pada kisah masa lalu. Keyan perlahan bergerak mengecup lembut kening wanitanya.
"Tidur yang nyenyak ya... Ganti waktu terjaga mu." Keyan menyingkap selimut dari tubuhnya. Lalu menarik selimut menutupi tubuh Valonia. Ya ! Mimpi itu selalu menghantui gadisnya setiap malam.
Laki-laki ini bergegas membuat sarapan, sebelum sang ratu bangun dari tidurnya. Masih seperti sebelumnya. Keyan akan menenangkan Valonia setelah mengalami mimpi buruknya. Tangan Keyan begitu lincah membuat masakan. Tidak butuh lama sarapan telah siap. Keyan menatanya dengan cantik di atas meja.
"Selamat pagi, Key." Valonia bangun menghampiri Keyan di meja makan. Perasaannya senang mendapati pria itu menyiapkan sarapan. Hati kecilnya ingin jika Keyan tetap selalu di sisinya.
"Selamat pagi sayang. Ayo sarapan." Keyan menangkup wajah Valonia lalu meninggal kecupan di kening.
"Maaf, aku kesiangan."
"Tidak apa-apa, kita sarapan dulu. Nanti ada seseorang yang menjemputmu aku berangkat lebih dulu ada urusan sedikit."
Keyan dan Valonia sarapan bersama. Lidah Valonia telah hafal pada citra masakan khas milik Keyan. Tangannya menyuapi makanan, namun manik matanya tak lepas dari wajah tampan di seberang meja. Ada urusan apa ? Kenapa senyumnya terlihat menyebalkan? Valonia berpikir sambil mengunyah makanannya.
"Kamu mau kemana?" Tak tahan dengan rasa penasarannya. Valonia pun bertanya.
"Surprise ! Aku mandi dulu ya. Hari ini ada acara penting, aku tidak memiliki jas baru lagi. Pilihkan jas yang menurutmu bagus." Keyan melangkah ke kamar dengan senyum penuh kebahagiaan.
Menyelesaikan urusan dapur. Valonia menyusul Keyan ke kamar. Laki-laki itu sudah selesai mandi. Tapi masih mengenakan kimono. Ia duduk santai di atas kasur.
"Kamu belum pakai baju."
"Belum, aku nunggu kamu."
Keyan meletakkan ponselnya lalu berdiri mengambil beberapa kaos dalamnya di lemari.
Valonia terpaku ketika kimono yang Keyan pakai teronggok di lantai. Tanpa canggung laki-laki itu mengenakan kaos dalamnya dengan bawahannya hanya memakai bokser . Tubuh atletis itu begitu sempurna.
"Aku ambil jas di bawah, acara apa yang kamu hadiri ? Biar aku bisa menyesuaikannya."
Valonia gugup serta merasa gerah. Keyan menyadari itu. Jika gadisnya terpesona dengan bentuk tubuhnya. Hanya saja Valonia pandai menutupinya.
"Aku akan menghadiri pernikahan. Sama kamu juga sayang. Tapi aku berangkat lebih dulu. Nanti ada seseorang yang menjemputmu." Keyan menghampiri Valonia lalu memeluknya. Ia membiarkan gadis dicintainya ini menghirup aroma tubuhnya dan berharap agar jadi candu untuk Valonia. Niat yang jahat terselubung untuk mengikatnya lebih dalam.
"Ba—baiklah." Valonia terbata. Ia semakin gugup apa lagi wajahnya menempel sempurna di dada bidang Keyan. Bahkan suara detak jantungnya jelas terdengar.
...----------------...
Di halaman yang tidak terlalu besar namun cukup membuat satu acara dan bisa menampung sebuah keluarga besar. Valonia terlihat bingung. Dekorasi pesta pernikahan yang begitu indah. Simpel namun sederhana, berkisar lima sampai enam puluh orang sudah memenuhi halaman itu.
Dari depan gerbang, karpet merah terbentang panjang sampai ke panggung tempat pelaksanaan ikrar suci. Valonia semakin bertambah tak mengerti, pernikahan siapa ini ? Kenapa hampir sama dengan konsep pernikahan impiannya ?
Tak hanya sampai di situ. Valonia juga datang dengan gaun pengantin yang cantik. Rancangan desainer ternama. Ia di paksa mengenakannya. Valonia terpaku berdiri di depan gerbang. Semua mata melihat ke arahnya. Namun, gadis itu belum menyadari ada siapa saja di sana.
Valonia larut dalam kebingungannya. Hingga tak mengenali seseorang yang telah menunggunya. Wajahnya yang cantik semakin cantik dalam balutan gaun pengantin.
"Ayo."
Suara Varen menyadarkan Valonia. Ia menoleh pada sepupunya itu. Varen sangat tampan mengenakan jas hitamnya. Laki-laki ini memberikan tangannya untuk Valonia gandeng.
"Ada apa ini sebenarnya?" Valonia bergeming. Mengabaikan tangan Varen.
"Ini pernikahanmu Valonia." Bukan Varen yang menjawab. Namun, seorang dokter tampan.
"Sonny"
Valonia menoleh ke sebelahnya. Ada Sonny berdiri dengan gagahnya mengenakan jas. Senyum laki-laki itu tidak pudar menatap manik mata Valonia.
"Ini pernikahanmu dan Keyan." Sonny menggenggam telapak tangan Valonia. Matanya berkaca-kaca, hari ini ia mengantarkan sahabatnya itu menuju kebahagiaan.
"Benar, Valo."
Valonia menoleh ke belakang ada Rara dan Mia mengenakan gaun yang sama. Di tangan mereka memegang keranjang bunga tabur.
"Ayo ! Kak Keyan sudah menunggu." Mia mengangguk dan tersenyum lembut.
Valonia tak mampu berkata-kata, hanya kepalanya mengangguk bersama senyum manis yang ia suguhkan. Tangannya merangkul lengan Varen dan Sonny melangkah pelan menuju tempat pelaksanaan ikrar suci.
Rara dan Mia menghamburkan bunga seiring langkah Valonia. Hari ini mereka mengantarkan sahabat yang mereka cintai menaiki anak tangga pernikahan.
Keyan menyambut tangan wanitanya dengan rasa yang amat bahagia. Laki-laki itu tidak sendiri ada Pak Andre dan Alvan berdiri di sampingnya. Gemuruh tepuk tangan menyambut kedua calon pengantin menggema di halaman terbuka ini.
"Selamat untuk kalian berdua. Kini kalian sudah jadi sepasang suami istri. Cintai dan sayangi pasangan kalian tanpa syarat." Pak Andre menyalami Keyan dan Valonia. Dalam dadanya bergemuruh hebat. Harusnya tugas ini dilaksanakan oleh Ayah Johan. Tapi sungguh disayangkan atas semua yang terjadi.
"Terimakasih, Om."
Keyan merasa terharu di hari pernikahannya hanya pak Andre yang mendampinginya. Meski ada terselip kesedihan tapi bahagia itu mampu meleburnya.
"Selamat ya." Alvan merangkul sepasang pengantin baru itu. Sudut matanya berair. Cinta tak sampainya terasa menyedihkan. Namun Ia tetap mendoakan kebahagiaan untuk sahabatnya itu.
"Terimakasih, Al."
"Selamat untuk kalian berdua. Tidak banyak kata yang aku ucapkan. Saling mencintai dan menghargai." Rara memeluk Valonia. Ia juga menitikkan air mata harunya.
"Sebentar lagi giliran mu. Terimakasih kejutan luar biasa ini." Valonia semakin mengeratkan pelukannya.
"Selamat untuk kalian berdua. Giliran kami kalian harus memberikan kejutan juga." Sonny datang bersama Mia.
"Kalian ?" Valonia menatap Sonny dan Mia bergantian.
"Iya, dia milikku sekarang. Tapi tidak ada aksi bunuh diri ya. Untuk memaksa diterima." Sindiran Sonny. Membuat Keyan memalingkan wajahnya.
"Iya tunggu saja kejutan dariku." Valonia merangkul manja lengan Keyan.
"Selamat Jasmine. Kamu boleh jadi miliknya. Tapi kamu tetap adik kesayangan kami. Bila terjadi masalah jangan sungkan mencari ku." Levin ingin sekali memeluk wanita yang pernah mengisi hatinya ini. Tapi ia harus menahannya demi menjaga perasaan istrinya.
"Selamat ya Valo, Terimakasih atas kebahagiaan yang kamu berikan padaku." Fanny juga mengucapkan selamat serta memeluk Valonia.
"Ingat ya, kejutan untuk kami." Sonny masih membahas masalah kejutan. Ia tak menuntut balasan untuk hari ini. Namun sengaja melakukannya hanya agar Keyan kesal.
"Minggir, giliran ku !" Varen membelah gandengan mesra Sonny dan Mia. Pria ini menatap wajah Valonia dengan lekat. Matanya memerah ada kelegaan dalam dadanya. Tugas besar yang ia emban selesai sampai di hari ini. Varen menarik tubuh Valonia ke pelukannya. Ia memejamkan matanya melepaskan sepupunya itu dengan baik. "Tugasku berkurang. Tapi percayalah aku akan selalu bersamamu. Meski beralih penanggung jawab mu." Varen melepaskan pelukannya lalu menyeka air matanya. "Untuk kamu, Key. Aku tidak perlu mengatakan apa-apa. Kamu sudah tahu apa saja yang harus kamu lakukan."
"Terimakasih, Ren." Keyan merangkul sahabat yang kini jadi saudara iparnya .
"Ren, apa pernikahan ini di ketahui oleh keluarga?" Hal inilah mengganjal di hati Valonia sejak tadi. Entah ia yang masih dalam keterkejutannya atau memang tidak fokus pada sekelilingnya.
Varen tersenyum. "Mereka ada disini," ia menoleh ke belakang dan bergeser. "Mereka sudah dari kemarin di rumah. Mereka juga ikut andil menyiapkan semua ini."
Valonia tertawa sambil menangis tak jauh di hadapannya. Berdiri Mama Merry mendorong kursi roda sang Nenek bersama Papi Zaki dan Mami Dilla.
Mereka sengaja memberi tanggung jawab pernikahan pada Varen dan teman-temannya. Papi Zaki juga memberikan tanggung jawab pada Varen untuk mendampingi Valonia.
Tangis haru penuh kebahagiaan itu pecah di sana. Nasihat dan petuah tak ketinggalan pula di ikut sertakan. Kebahagiaan itu tak sempurna karena tanpa kehadiran orang tuan Keyan Ganendra. Di sela menikmati hidangan ada canda dan tawa meramaikan tiap meja.
"Key."
Semua mata mencari sumber suara. Keheningan seketika membungkam tawa bahagia. Saat sosok yang mereka kenali melangkahkan kaki di atas karpet menuju panggung pernikahan.
"Bunda." Lirih Keyan. Tak menyangka jika sosok yang ia rindukan kini hadir di hari pentingnya. Entah memberi restu atau makian. Keyan tak memikirkan itu. Yang terpenting baginya melihat wajah sang Bunda.
Bunda Arini memeluk erat tubuh putranya dengan derai air mata. Keyan pun tak kalah eratnya. Melepaskan kerinduan setelah sekian lama tidak pernah bertemu.
"Bunda merindukan kamu, Nak." Bunda Arini mengecup seluruh sudut wajah putranya seperti bayi yang baru ia lahirkan.
"Aku juga Bun, maaf tidak pernah mengabari Bunda." Keyan menyeka air matanya lalu melakukan hal yang sama pada Bundanya.
Bunda Arini tersenyum lalu menoleh pada Valonia yang menunduk tak bersuara. Ia bukannya takut tapi hanya tidak ingin terjadi masalah didepan keluarga besarnya.
"Kamu tidak mau memeluk ibu mertuamu ?"
Valonia mengangkat wajahnya ketika kalimat yang baru saja ia dengar terucap dari bibir Bunda Arini. Wanita paruh baya itu membentangkan tangan lebar disertai seutas senyum bahagia. Valonia menoleh pada Keyan seolah meminta persetujuan. Anggukan kecil dari Keyan tanda memberi ijin.
"Terimakasih, Bu." Valonia membawa tubuhnya ke dekapan Bunda Arini.
"Panggil Bunda, Nak. Kamu istri Keyan, kamu menantu Bunda. Dia bahagia bersamamu. Terimakasih sudah menerimanya. Bunda merestui kalian."
Mata Keyan terbelalak mendengar kata restu. "Bunda merestui kami ?"
"Ya, bunda merestui pernikahan kalian. Bunda sangat yakin kalian akan hidup bahagia."
"Terimakasih Bunda." Keyan memeluk dua wanita kesayangannya itu. Rasa kebahagiaannya hari ini berlipat-lipat.
"Yang mana besan Bunda ?"
Keyan memperkenalkan Mama Merry pada Bundanya. Mereka saling memeluk dan bercerita. Bunda juga menceritakan bagaimana ia bisa hadir di pernikahan putranya. Semua itu karena pak Andre yang memberitahunya. Dengan syarat tanpa memberitahukan ayah Johan.
Pak Andre tak ingin pernikahan Keyan digagalkan oleh Ayah Johan. Meski pun menggoreskan luka di hati putranya dan di hatinya sendiri. Laki-laki paruh baya ini tahu jika putranya sangat menyukai Valonia Jasmine dan dirinya sendiri pun ingin gadis itu menjadi menantunya.