Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Kesepian



Beberapa kali kilat menyambar di balik awan, hingga pancarannya sampai ke bumi. Kemudian terdengar dentuman petir yang sangat nyaring. Valonia berdiri di sisi jendela seperti biasanya bila hujan akan turun. Ia sengaja menunggu hujan itu turun, menurutnya pemandangan itu sangat menyejukkan.


Benar saja rintik-rintik air mulai berjatuhan mengenai kaca jendela kamarnya. Malam ini gadis cantik itu menginap di rumah Varen. Karena beberapa hari yang lalu ia sudah memasang iklan menjual rumah milik orang tuanya di sebelah rumah Varen.


Tak menyangka, jika di kampung halaman neneknya. Papa Danu sedang sakit keras. Valonia ingin sekali cepat pergi menengok sang ayah. Tapi terkendala pesanan gaun pengantin yang ia terima baru tujuh puluh lima persen selesai.


"Valo, ayo turun kita makan malam." Varen membuka sedikit pintu kamar yang di tempati Valonia.


"Iya, Ren." Valonia menghampiri Varen dan mereka turun bersama.


Di meja makan Mami Dilla sudah menunggu bersama Papi Zaki. Mereka tersenyum melihat Varen dan Valonia datang bersama. Sungguh mereka seperti kembar


"Ayo Nak makan dulu." Mami Dilla menyerahkan dua piring kosong untuk Varen dan Valonia.


"Iya, Mi." Jawab Valonia menerima piring itu. Beberapa hari ini wajahnya terlihat murung, ada semacam beban pikiran yang terlihat di parasnya yang cantik.


"Apa sudah ada orang berniat membeli rumah kalian?" Papa Zaki bertanya sebelum menyuap makanannya.


"Belum, Pi. Aku kepikiran biaya rumah sakit Papa. Aku ingin pulang, tapi gaun pengantin yang aku kerjakan tinggal sedikit lagi. Kemarin aku sudah transfer uang ke sana." Valonia mengatakan kegelisahannya.


"Lebih baik kita makan saja dulu, nanti kita bicarakan lagi. Pasti ada solusinya." Mami Dilla memutuskan pembicaraan Valonia dan Papi Zaki.


Varen tidak bersuara, untuk saat ini ia belum bisa membantu sepupunya itu. Karena dia dan Levin baru saja membuka cabang kafe mereka di kota lain.


Usai makan malam, Papi Zaki mengajak mereka berkumpul di ruang tengah. Mencari solusi atas masalah yang dihadapi Valonia Jasmine.


"Valo, tadi Papi menawarkan rumah kalian pada teman kantor. Dia berminat dan sudah ke sini juga melihat rumahnya. Tapi dia minta harganya di turunkan. Nah, jika  kamu dan orang tuamu setuju. Dia akan ambil rumah itu." Cerita Papi Zaki pada Valonia.


"Aku akan telpon Mama dulu, kalau mereka setuju maka aku juga setuju. Yang penting pengobatan Papa tidak terhenti." Valonia meraih ponselnya kemudian menelpon Mama Merry.


Tak lupa ia menyampaikan apa saja yang diceritakan Papi Zaki. Tanpa berpikir lama lagi, Mama Merry setuju.


"Kalau begitu besok kita lakukan proses jual - belinya." Ujar Mami Dilla. Dan mendapatkan persetujuan dari Papi Zaki.


...----------------...


Hari ini proses jual - beli rumah milik Keluarga Valonia akan dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari pihak pembeli. Mereka melakukannya di kediaman Papi Zaki.


Sedih itu yang dirasakan Valonia. Rumah penuh kenangan dari telapak kakinya merah sampai ia bisa berdiri dengan tegap tersimpan di sana.


Waktu itu, Papa Danu memang berencana pensiun dini. Karena penyakit yang beliau derita sudah semakin parah. Akhirnya satu tahun lalu Papa Danu mengundurkan diri dari Universitas tempatnya mengajar


"Semoga Papa Danu cepat sembuh."


Varen merangkul pundak Valonia. Mereka berdiri di ruang keluarga melihat beberapa orang yang melepaskan bingkai foto tergantung di dinding.


"Setelah  reunian aku akan pulang ke tempat Nenek. Karena disaat itu juga gaun yang aku kerjakan selesai. Jadi aku bisa libur dan menengok Papa." Valonia mengatakan rencananya.


Varen mengangguk. "Aku yang mengantarmu."


Satu jam kemudian, truk berangkat membawa barang milik keluarga Valonia Jasmine ke kampung halaman sang Nenek. Yang tersisa hanya beberapa box yang berisi barang pribadi milik Valonia.


"Mi, aku langsung ke butik ya, barang-barang ini aku bawa." Valonia  menyimpan ponselnya kedalam saku jaketnya.


"Iya, Nak. Ingat pulang ke rumah ini. Jangan sering tidur di butik." Pesan Mami Dilla.


"Papi antar." Papi Zaki bergegas masuk mengambil kunci mobil. Kemudian tidak lama keluar.


"Aku saja Pi." Varen meminta kunci mobil pada Papi Zaki. "Masih ada mereka." Tunjuknya pada teman kantor Papi Zaki yang membeli rumah.


...----------------...


Malam tiba tanpa terasa, sederet aktivitas begitu menyita waktu. Hingga terang menjadi begitu singkat. Tubuh pun terasa lelah seolah baru habis memikul benda berat.


Di lantai tiga Jasmine Boutique, Valonia baru selesai membersihkan dirinya. Rasa lelahnya berkurang karena larut bersama air di kamar mandi.  Ia merendam tubuhnya untuk merelaksasikannya, Valonia merasa segar sambil meminum susu hangat yang baru saja dibuatnya. Ia duduk di ujung kasurnya.


Netranya terkunci pada box yang  ada di samping pintu masuk ke kamarnya. Ia menghela nafas panjang lalu berdiri dan melangkah menghampiri box itu.


Valonia membukanya dan mengeluarkan barang-barangnya. Ia menatanya dengan rapi. Ruang kamar yang ia tempati cukup besar. Tak tanggung-tanggung Valonia mengeluarkan uang begitu banyak saat itu. Untuk merenovasi butik milik Mama Merry ini.


Satu - persatu barang-barangnya telah tersusun rapi. Valonia berdiri duduk di kursi dekat jendela. Ia melemparkan pandangannya pada lampu-lampu yang mirip hamparan bintang.


Merasa kesepian, Valonia berniat memainkan piano yang ada di dalam kamar tidurnya. Jari-jari lentiknya mulai menyentuh tuts hingga menghasilkan melodi yang begitu merdu. 


Siapa menyangka kesehariannya dikelilingi banyak teman namun jauh dalam lubuk hati Valonia. Ia merasa kesepian.