Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Permintaan maaf Ayah Johan



Sore menyapa dengan warna yang cantik. Di dalam sebuah ruangan kantor JFB. Keyan tak hentinya tersenyum, hari ini ia benar-benar bahagia. Perubahan rasa di lidah istrinya pertanda jika Valonia dalam masa sulit di awal kehamilan. Keyan melirik jam mewah di tangannya, ia menghela nafas membuang rasa lelahnya. Keyan merapikan meja kerjanya dan menyimpan file yang tengah ia kerjakan. Tak sabar segera ke rumah sakit menemui istrinya.


Dengan hati berat Keyan pergi ke kantor. Setelah istrinya dipindahkan ke ruangan inap karena pekerjaan kantor yang tidak bisa ia tinggalkan. Hari ini Keyan meminta Endi membagikan bonus untuk seluruh karyawannya sebagai rasa syukur Keyan atas kehamilan Valonia Jasmine. Tak hanya itu, Keyan juga meminta Endi menyalurkan bantuan ke panti asuhan serta panti jompo. Ucapan selamat pun tak luput dari Endi dan Derry. Para Karyawan menerima dengan rasa bahagia bonus yang masuk ke dalam rekening mereka masing-masing. Doa-doa terbaik mereka panjatkan untuk Valonia dan janinnya.


"Ke rumah sakit atau pulang ke rumah dulu, Kak ?" Derry bertanya sambil membuka pintu mobil. Laki-laki ini masih setia di sisi Keyan sebagai sopirnya.


"Ke pusat perbelanjaan dulu. Aku akan membeli susu untuk Jasmine."


"Baiklah." Derry melajukan mobil menuju pusat perbelanjaan. Ia juga bahagia mendengar berita kehamilan Valonia. Kini ia mengerti kenapa istri Keyan itu tiba-tiba ingin makan di rumahnya. Setelah mendengar ibu Marisa memasak semur daging.


...----------------...


Di rumah sakit Valonia dipaksa makan oleh Bunda Arini. Demi janin di kandungannya, Valonia berusaha menelan makanan yang di suap oleh Bunda Arini. Belum makanan itu tertelan Valonia memuntahkannya.


"Jangan memaksanya."


Suara berat di ambang pintu membuat Valonia dan Bunda Arini terkejut. Jantung mereka berdua berdegup kencang, terlebih Bunda Arini. Ia merapatkan tubuhnya pada sang menantu berusaha akan melindunginya. Valonia pun tak kalah takutnya. Sekarang berbeda kondisi, andai tidak ada mahkluk bernyawa di dalam tubuhnya. Maka Valonia tidak gentar menghadapi sosok yang perlahan masuk ke dalam ruangannya.


"Bunda." Tubuh Valonia gemetar. Tangan kirinya berpegang erat pada lengan Bunda Arini. Lalu tangan kanannya meraba perutnya seolah memberikan keamanan pada buah hatinya.


"Tenang, Nak. Bunda akan melindungi mu. Ayah tidak lagi seperti dulu." Bunda Arini menenangkan menantunya. Ia merangkul tubuh Valonia. Tak di pungkiri jika ia merasa takut kalau suaminya itu berbuat kasar pada Valonia. Meski pun hubungan mereka berdua telah membaik sejak satu bulan lalu.


Sosok yang datang adalah Ayah Johan. Entah dari mana ia tahu jika Valonia hari ini tengah dirawat. Laki-laki paruh baya itu melangkah mendekat ke arah brankar. Tatapannya hangat tidak seperti dulu. Tangannya terulur mengusap lembut pucuk kepala Valonia Jasmine.


"Bagaimana kabar cucu Ayah ?"


Valonia memberanikan diri menatap langsung wajah Ayah Johan.  Ia berusaha cari jalan aman untuk janinnya. "Dia sehat." Jawabnya pendek. Rasanya oksigen disekelilingnya menipis. Ia menarik nafas perlahan agar tidak ketahuan jika dirinya saat ini sangat tegang dan gugup.


"Syukurlah. Kamu mau makan apa ? Biar ayah carikan." Ayah Johan duduk di tepi brankar. Ada senyum di wajahnya. Kali ini auranya begitu berbeda ada kasih sayang ikut bersama kedatangannya.


Valonia menggeleng cepat. "Tidak ada." Ia takut ini jebakan yang berujung pada janinnya. Bisa saja laki-laki di hadapannya ini berpura-pura baik padanya.


"Arini bisa tinggalkan kami berdua."


Manik mata Valonia langsung berpindah ke arah Bunda Arini. Ia meminta dari sorot matanya agar tidak meninggalkannya.


"Kalau kamu ingin bicara silahkan saja. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Valonia sendirian." Tolak Bunda Arini tegas. Ia tidak akan ambil resiko untuk cucu yang belum ia lihat wajahnya.


"Baiklah." Pasrah Ayah Johan. "Valonia, kedatangan saya ke sini untuk meminta maaf padamu. Saya sadar atas kesalahan dan keegoisan saya selama ini. Kebahagiaan Keyan yang terpenting dan itu ada padamu. Maka dari itu saya ingin memperbaiki hubungan kita yang telah rusak ini. Saya ingin meminta maaf padamu atas apa saja yang saya lakukan selama ini."


Valonia cukup terkejut. Namun tidak serta merta percaya begitu saja. Ia tahu betul bagaimana sikap Ayah Johan selama ini padanya. Tapi ia juga bisa melihat ada harapan di manik mata laki-laki paruh baya itu. Tak ingin berpikir lama ia pun berkata. "Karena kedatangan anda kesini untuk meminta maaf. Maka saya memaafkan anda, jika anda ingin memperbaiki hubungan yang telah rusak. Mari kita perbaiki, saya juga minta maaf atas sikap saya yang tidak sopan pada anda. Saya juga minta maaf karena telah egois mempertahan Keyan disisi saya."


"Terimakasih. Saya juga tidak ingin Keyan lebih menjauhi saya. Apalagi usia saya sudah tua. Jujur, saya pun ingin menghabiskan waktu bermain dengan cucu-cucu saya nanti. Lahirkanlah cucu yang banyak untuk saya. Hari ini saya menerimamu sebagai menantu dan merestui pernikahan kalian."


Valonia dan Bunda Arini menatap tak percaya pada Ayah Johan.


"Kamu serius ?" Bunda Arini menatap lekat wajah suaminya.


"Aku serius Arini." Ayah Johan tersenyum melihat wajah wanita yang ia cintai itu menatapnya tak percaya. "Aku ingin memperbaiki segalanya, aku tidak ingin berakhir seperti Anton dan Tania. Kita akan bermain bersama cucu kita ketika dia lahir nanti"


Iris mata Bunda Arini memerah dan berkaca-kaca. Ia terharu mendengar keinginan suaminya. "Terimakasih, Yah." Panggilan sayang itu terucap ringan dari bibir bunda Arini.


Hati ayah Johan menghangat melihat senyum tulus dari sang istri. Senyum yang hampir tak terlihat selama perpisahan dengan putra tunggal mereka. Jiwanya tenang setelah mendengar panggilan sayang dari bunda Arini.  "Mulai sekarang, Valonia juga panggil Ayah. Jangan lagi ada kata, anda dan saya."


"Iya, A—ayah." Valonia terbata karena belum terbiasa. "Terimakasih sudah menerimaku dan merestui pernikahan kami." Ia menarik telapak tangan Ayah Johan lalu mencium punggungnya. Terselip rindu pada adegan itu. Selama ini Valonia hanya mencium punggung tangan Papa Zaki setelah kepergian sang ayah. Setetes air mata mewakili perasaan haru Valonia.


Lagi-lagi perasaan Ayah Johan porak poranda. Valonia berhasil mencuri hatinya. Tak pernah ada seorang wanita selain bunda Arini yang mencium punggung tangannya selama ini. Sekali pun itu Tita gadis yang ia pilih untuk menantu. Dan hari ini menantunya sendiri memperlakukannya secara hormat. Ayah Johan menarik Valonia kedekapannya, mengusap lembut pundak sang menantu. Ia tahu perasaan wanita hamil itu tengah sensitif. Ayah Johan sengaja membiarkan Valonia menumpahkan segala rasanya di dalam dekapannya.


"Kamu seperti Bunda, saat hamil Keyan juga sering masuk rumah sakit karena tidak mau makan nasi." Ayah Johan terkekeh hingga mengeluarkan air mata. Ia mengingat kembali perjuangan Bunda Arini saat hamil putranya.


"Benarkah? Ah, maaf aku mengotori baju Ayah." Valonia menarik diri dan mengusap sisa lelehan air mata di pipinya. Ia tersenyum canggung suasana sedikit mencair dari bekunya haru biru mertua dan menantu itu.


"Ayah benar, Nak. Bunda tidak mau makan nasi sama sepertimu. Sekarang katakan kamu mau makan apa ?" Bunda Arini meletakkan mangkuk yang berisi bubur itu sembari menyeka air mata di pipinya. Ia bahagia hubungan kekeluargaan itu telah membaik.


"Aku ingin oseng sayur, Bun. Jangan dicampur yang lain khusus sayur saja."


"Baiklah. Bunda akan meminta Bi Noni untuk membuatnya sekalian meminta dia mengantar baju ganti kamu dan Keyan."


"Kalau tidak mau makan nasi, kamu bisa menggantikannya dengan ubi rebus." Usul Ayah Johan yang telah berpindah duduk di sofa. Pria paruh baya itu merasakan himpitan beban di dadanya selama ini sedikit melonggar.


Bunda Arini menelpon Bi Noni untuk menyiapkan permintaan Valonia. Setelahnya ia berpindah ke sofa duduk di samping suaminya. Mereka berbincang-bincang seputar kehamilan.


Di saat asik berbincang, Keyan datang dengan dua keresek besar di tangannya. Ia datang sendiri karena Derry harus pulang ke apartemen lebih dulu. Ia berjanji akan membawa ibu Marisa untuk menjenguk Valonia nanti malam.


Langkah Keyan terhenti melihat sosok yang ia rindukan selama ini duduk santai bersama Bunda Arini. Tak hanya itu, Ayah Johan juga tersenyum kearahnya.


"Sayang." Keyan melangkah cepat ke arah brankar. Ia mengecup lembut kening Valonia lalu memeluknya erat. Ia sangat takut melihat keberadaan ayahnya di dalam ruangan itu. Karena Valonia tengah hamil muda, Keyan takut ayahnya menyakiti istrinya.


"Jangan memeluk menantu ayah terlalu erat, Key ! Dia susah bernafas." Tegur ayah Johan dari tempatnya duduk. Manik matanya menatap penuh peringatan.


Keyan melonggarkan pelukannya lalu berpaling menghadap ayahnya. "Menantu ?"


"Iya, Valonia istrimu, 'kan ? Otomatis menantu ayah."


Keyan melepaskan pelukannya lalu melangkah ke sofa. "Bisa ayah jelaskan, aku tidak ingin ada motif tersembunyi dari ke datangan ayah." Netra nya menatap penuh curiga.


Ayah Johan bisa memaklumi tatapan putranya. Ia menghela nafas panjang dan berkata." Ayah minta maaf padamu. Atas perlakuan ayah selama ini, ayah sudah meminta maaf pada Bunda dan juga Valonia. Ayah ingin memperbaiki segalanya, Key ! Ayah merestui mu dan menerima Valonia sebagai menantu Ayah."


"Ayah yakin ?" Keyan tak ingin cepat percaya meski hatinya sudah berteriak senang dan bahagia.


"Iya."


"Aku sudah memaafkan ayah. Aku juga minta maaf jika telah membangkang pada ayah selama ini. Terimakasih sudah menerima istriku dan juga merestui pernikahan kami." Keyan berdiri dan memeluk ayahnya. Menyalurkan rasa rindunya selama ini.


"Terimakasih, Nak." Ayah Johan menepuk pundak Keyan. Ayah dan anak itu larut dalam isak haru mereka. Perseteruan beberapa tahun telah hilang sore ini.


"Kamu beli apa, Nak?" Bunda Arini memecahkan keharuan ayah dan anak itu. Ia juga bahagia dan bersyukur karena hubungan Keyan dan Ayah Johan membaik.


"Aku beli susu ibu hamil dengan beberapa rasa. Aku juga membeli roti tawar siapa tahu Jasmine mau."


"Kalau Valonia tidak mau makan nasi, bisa diganti roti atau ubi rebus. Bundamu juga dulu seperti itu." Ayah Johan ikut melihat-lihat belanjaan Keyan.


"Benarkah ?"


"Iya. Tadi Bunda sudah meminta Bi Noni untuk membawa baju gantimu dan merebus ubi. Kebetulan Valonia juga mau oseng sayur."


"Kamu mau oseng sayur lagi sayang."


"Iya, tadi aku mencoba makan bubur tapi aku mual." Valonia menjawab sambil membaca kotak susu yang dibeli suaminya.


"Kalau ada yang ingin kamu makan, katakan padaku. Sebisanya aku memenuhi keinginanmu." Keyan menempelkan telapak tangannya ke perut rata Valonia.


"Sepertinya sudah senja. Ayah pulang dulu ya. Besok jika Valo diperbolehkan pulang,  Ayah langsung ke rumah kalian saja. Bunda ikut pulang apa tidak?" Ayah Johan berniat pulang dan menawarkan sang istri. Ia sengaja memberi ruang pada anak dan menantunya itu.


"Bunda tidak apa-apa kalau mau pulang. Nanti Mami Dilla juga ke sini." Valonia tersenyum meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.


"Baiklah, kalau begitu Bunda pulang sekarang saja bersama Ayah. Jika ada apa-apa kalian kabarkan Bunda."


Ayah Johan dan Bunda Arini meninggalkan ruangan rawat Valonia. Mereka pulang dengan hati yang tenang.


...----------------...


Kilas Balik.


Kisah retaknya rumah tangga Pak Anton dan Ibu Tania telah sampai ke telinga Ayah Johan dan Bunda Arini. Dalam hati kecil mereka takut jika hal itu juga terjadi. Setelah hubungan mereka merenggang sejak terusirnya Keyan dari rumah.


"Han, saranku lebih baik kamu perbaiki hubunganmu dengan Arini. Sebelum kamu kehilangan dia. Tak hanya itu, perbaiki juga hubunganmu dan Keyan. Sakit Han, jika kita tidak memiliki siapa-siapa. Jangan sampai kamu menyesal dan kehilangan mereka berdua. Untuk yang lainnya kita pikir cara lain nanti. Tenanglah aku selalu menemanimu. Valonia Jasmine seribu lebih baik dari putriku. Dia sukses di usia yang masih muda dan mampu berkembang di dunai usaha. Kamu lihat, Jasmine boutique semakin berkembang. Tak salahnya kamu menerimanya dan merestui pernikahan Keyan." Nasehat Pak Anton panjang lebar. Meski pun usia mereka tak muda lagi. Tapi karisma dan ketampanan mereka  tak diragukan.


"Kamu benar, aku sudah lama memikirkan ini. Bagaimana pun usahaku untuk memisahkan mereka. Keyan akan selalu memilih dia. Aku minta maaf karena tidak bisa membantumu agar Tania kembali."


"Jangan pikirkan itu, aku sudah banyak menyakitinya. Memanipulasi laporan kesehatanku dan menduakannya. Terimakasih karena kamu merahasiakan ini bertahun-tahun bersamaku. Aku minta maaf perihal wanita lain di sisiku tidak memberitahumu."


"Aku akan mencoba bicara pada Arini saat pulang nanti."


Dua laki-laki itu saling melengkapi dan membantu dalam persahabatan mereka. Ayah Johan dan Pak Anton memilih berpisah  di tempat itu setelah tidak ada lagi pembicaraan yang serius.


Kilas Balik selesai