
Hari-hari terlewati dengan segudang cerita yang mengisinya. Cerita bahagia, duka dan banyak macamnya. Tapi dibalik cerita itu semua ada hari baru yang begitu damai Keyan jalani. Tanpa adanya tekanan harus ini dan itu.
Seharian berkutat dengan pekerjaan, kini Keyan bersiap untuk pulang. Sudah satu Minggu ia menjalani perannya sebagai karyawan pak Andre. Tidak perlu diragukan lagi memang kinerja Keyan patut diakui. Cekatan dan mudah mengerti. Jiwa kepemimpinan sudah matang dalam dirinya.
Badan jalan dipenuhi kendaraan lebih padat dari beberapa jam sebelumnya. Karena seluruh pekerja sudah akan pulang ke rumah masing-masing. Keyan berbaur di dalamnya. Lagu Ballad menemani kesendiriannya di dalam mobil. Alunan musik dan lirik lagu begitu menyentuh hatinya. Ketika salah satu lagu yang pernah Valonia nyanyikan.
Ingatannya melayang seketika, pada saat pergi piknik lima tahun lalu. Ada sedikit cerita terukir di sana. Senyum lembut membingkai wajah cantik Valonia Jasmine kala itu.
Jasmine, aku rindu saat-saat dulu. Saat kamu tidak melupakanku. Kapan kita bisa seperti dulu lagi ?
Dada Keyan bergemuruh hebat tentang kerinduannya. Andai waktu bisa Keyan putar mungkin ia akan pergi menuruti Ayahnya, tanpa melibatkan Valonia Jasmine. Dan dirinya bisa kembali mengejar gadis itu. Tapi semua hanya tinggal andai saja. Kini gadis pujaannya itu telah melupakannya, tidak disengaja namun terampas dengan paksa.
Mengingat hal itu Keyan semakin merasa menyesal. Bagaimana hari-hari yang Valonia lalui selama dirinya tidak bersama dalam satu tempat ? Pasti terasa sulit dan menyedihkan. Setiba di unit apartemennya, Keyan segera membersihkan diri. Meredam gejolak rindu yang tidak dapat ia salurkan.
Hidup sendiri maka melakukan apa pun sendiri. Keyan menyeduh susu hanya untuk menghangatkan perutnya. Malam ini sepertinya rindu itu tidak berkompromi. Tanpa makan malam laki-laki ini segera melajukan mobilnya menuju Jasmine Boutique.
Beberapa kali memencet bel, tidak ada respon dari dalam. Keyan mencoba memasukan sandi yang pernah ia lihat saat Valonia membuka pintu saat itu. Hanya sekali percobaan, nasib baik berpihak padanya.
"Jasmine ! Kamu di dalam ?" Keyan terkejut karena lampu menyala otomatis "Jasmine, kamu dimana ?" Keyan masuk sambil memanggil. Lagi-lagi tidak ada sahutan. "Apa dia keluar ?" Karena tidak menemukan orang yang dicari. Keyan memutuskan untuk menunggu di tangga lantai dua.
Ia menengadahkan wajahnya ke langit. Cuaca malam begitu cerah. Tidak ada tanda-tanda mendung, secerah hatinya yang sedang menunggu gadis pujaan hatinya. Nyamuk-nyamuk nakal disana bernyanyi menemaninya, ada pula yang berusaha melubangi Coat long blazer nya.
...----------------...
Seperti malam yang telah lalu. Valonia menghabiskan waktu untuk lari. Tapi untuk malam ini, dia tidak sendiri. Ada Alvan yang menemaninya. Laki-laki itu sengaja menjemputnya saat jam makan malam. Ia berniat menemani Valonia untuk lari atau hanya sekedar jalan-jalan.
"Sudah lelah?" Alvan mendaratkan tubuhnya di samping Valonia. Keringat di wajahnya bercucuran. Tapi semangat untuk menemani Valonia tidak luntur.
"Lelah, jam berapa sekarang ?" Valonia menyandarkan tubuhnya di kursi. Banyak orang berlalu lalang di hadapannya.
"Jam sembilan, sudah dua jam kita disini. Ayo pulang !" Alvan mengulurkan tangannya membantu gadis itu berdiri.
"Terimakasih."
Valonia menyambutnya dengan baik. Lalu mereka berlari lagi. Sambil berbincang tanpa terasa mereka tiba di halaman butik Valonia. Langkah mereka terhenti, mendapati Keyan duduk di anak tangga dengan kepala menunduk kebawah.
"Keyan."
Mendengarkan namanya dipanggil. Keyan mengangkat wajahnya. Dia terkejut melihat Alvan datang bersama Valonia.
"Kalian dari mana ?"
"Lari. Aku menemani Valonia. Apa kamu sudah lama?" Alvan duduk di samping Keyan sambil menyeka keringatnya dengan handuk.
"Baru saja. Karena sudah malam aku pulang dulu ya. Jasmine pasti lelah, istirahatlah."
Keyan beranjak dari tempatnya duduk. Entah kenapa rasanya sesak ketika melihat Valonia datang bersama Alvan. Dua jam menunggu di sana terbayar rasa kecewa.
"Tunggu dulu, ayo masuk ! Kalian sudah datang kenapa hanya sampai tangga ?"
Valonia menghentikan langkah Keyan. Laki-laki itu terkesiap, mendengar ajakan Valonia. Nada bicaranya juga ramah tidak terdengar ketus seperti biasanya.
"Baiklah kalau begitu."
Senyum di bibir Keyan begitu lebar. Ia senang atas perubahan Valonia Jasmine padanya. Alvan merasa dirinya harus memberi waktu pada dua insan ini. Meski ia ingin sekali bersama Valonia. Tapi Alvan tidak mau egois dengan memanfaatkan hilangnya ingatan gadis itu
"Valo, sepertinya aku harus pulang. Tubuhku lengket." Alvan memberikan senyum manisnya.
"Hati-hati, terimakasih sudah menemaniku."
"Key, aku duluan." Tak lupa Alvan berpamitan pada sahabatnya.
Setelah mobil Alvan meninggalkan tempat itu. Barulah Valonia mengajak Keyan masuk. Tubuhnya lelah tapi matanya belum mengantuk. Ia butuh teman berbincang, setelah dipikirkan dengan tenang. Valonia memutuskan untuk berdamai dengan rasa kesalnya saat pertama kali bertemu pada Keyan. Apa lagi mendengar laki-laki itu terusir dari rumahnya karena membatalkan acara pertunangan. Sungguh membuatnya iba.
"Kamu duduklah. Ambil minum sendiri aku mau mandi dulu."
"Iya, terimakasih Jasmine."
Keyan duduk di sofa, sementara itu Valonia masuk ke kamar. Setelah ia pikir-pikir sangat berbahaya jika gadis itu selalu keluar malam hanya untuk lari atau jalan kaki, agar tubuhnya lelah dan mengantuk.
"Kenapa tidak ambil minum ? Aku tiba-tiba lapar."
"Kamu lapar ?"
Keyan menoleh pada Valonia yang menuang air putih. Gadis itu sudah terlihat segar dan memakai piyama. Tidak ada pilihan Valonia mengambil mie instan untuk dimasak. Ia tidak bisa memasak sayur yang enak. Kalau hanya untuk mengenyangkan perutnya sendiri telur dadar pun jadi atau mie instan. Keyan berdiri menghampiri Valonia. Tanpa segan ia membuka kulkas, banyak bahan mentah dan lengkap di dalamnya.
"Apa nasinya ada ?" Keyan melihat ke arah Valonia. Gadis ini hanya mengangguk karena sudah fokus pada mie di tangannya. "Aku akan membuat nasi goreng. Sekarang kamu duduk di sana ya, tunggu sebentar saja." Keyan mengambil mie dari tangan Valonia.
"Benarkah ?"
"Iya."
Aroma masakan Keyan menyeruak, sangat wangi. Ya ! Valonia semakin lapar. Tidak sabar ia langsung menghampiri Keyan.
"Sudah selesai ?"
Keyan terkejut lalu tersenyum. "Lapar sekali ya..."
Valonia mengangguk lucu. "Baru malam ini aku kelaparan. Biasanya habis lari atau jalan aku langsung tidur."
Tangan Keyan terulur menyentuh pucuk kepala Valonia. "Manisnya. Tunggu ya aku taruh di piring dulu. Kamu ambil air minum saja bawa ke sana."
Tunggu ! Kenapa tangan ini terasa hangat ? Kemarin saat tiba-tiba dipeluk Keyan juga terasa hangat dan menenangkan. Valonia terpaku di tempatnya berdiri, netranya menatap lekat wajah laki-laki ini.
"Ayo."
Keyan membawa dua piring nasi goreng. Valonia tersadar dari lamunannya langsung menyusul membawa dua gelas air putih . Tak lupa Keyan mengirim pesan pada Varen untuk memberitahu jika dirinya saat ini bersama Valonia.
"Enak ?"
"Sangat enak. Kamu pintar masak."
Puji Valonia menyuap nasi gorengnya. Keyan tersenyum lalu melanjutkan makannya. Rasanya sangat bahagia bisa berdua seperti ini.
"Jasmine, maaf tadi aku masuk ke sini tanpa ijin. Aku memasukan sandinya sendiri tadi. Waktu itu aku melihatmu menekan sandinya." Keyan jujur karena sempat masuk tadi.
Kenapa aku tidak merasa takut ? Hanya lima orang yang tahu sandi rumahku
"Tidak apa-apa. Tolong jangan kasih tahu siapa pun. Yang sering kesini hanya lima orang. Varen, Bang Levin, Sonny dan Rara serta Mia."
"Baiklah, aku janji. Terimakasih karena mempercayaiku." Keyan merasa senang. Setidaknya ia dapat ijin untuk kembali ke rumah itu. "Biar aku yang mencucinya. Kamu istirahatlah."
Valonia mengangguk, merasa sudah hampir setengah jam selesai makan. Ia berbaring di ujung sofa karena merasa lelah. Ia menguap beberapa kali, hingga tak kuasa menahan kantuknya. Diliriknya jam sudah pukul sepuluh malam. Tanpa bicara lagi ia terlelap.
Usai mencuci piring dan membereskan dapur. Keyan bermaksud untuk berpamitan pulang, tapi ia terkejut karena Valonia sudah tidur di sofa. Wajahnya terlihat damai tapi tidak damai, terlihat lelah tapi berusaha kuat. Dengan perlahan Keyan memindahkan tubuh Valonia ke dalam kamar. Ia sangat ingat pesan Varen jika Valonia tidur maka jangan dibangunkan.
Keyan tidak tega meninggalkan gadis itu sendiri. Dengan nekad ia menelpon Varen meminta ijin untuk menginap di sana. Selain itu juga Keyan ingin melihat seperti apa gadis itu bila terbangun karena mimpi buruknya.
Keyan duduk di tepi kasur, menyisihkan rambut poni yang menutupi wajah Valonia. Ia ingin menatapnya berlama-lama.
"Selamat malam, tidur yang nyenyak ya. Ada aku di sini."
Keyan menggenggam telapak tangan Valonia, rasanya begitu kecil di genggamannya. Gelang tali di tangan gadis itu terlihat longgar. Hati Keyan teriris, tubuh kurus itu menyakitkan mata dan hatinya. Mata yang tadinya mengembun berubah jadi tetesan. Keyan terisak tak bersuara, laki-laki ini menggigit tangannya sendiri agar suara tangisnya tidak keluar.
"Beri aku kesempatan, agar kamu kembali seperti dulu. Biarlah yang terlupakan. Ayo kita buka awal yang baru." Keyan merasa lega sudah meluapkan perasaannya dengan menangis. Ia memilih menunggu sampai Valonia benar terjaga karena mimpi buruknya.
Keyan masih belum beranjak dari posisinya. Meski jarum jam sudah menunjuk jam dua belas malam. Ia sesekali melirik wajah Valonia lalu kembali menatap layar ponselnya. Kesepian semakin merajai malam, dengungan kendaraan sudah jarang-jarang terdengar. Namun mata laki-laki itu seolah bertuas hingga masih terjaga.
Valonia mulai bergerak, gelisah dalam tidurnya. Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Gelombang nafasnya memburu tidak beraturan, jari-jari kurusnya terkepal kuat. Melihat hal itu Keyan sangat yakin jika gadis ini tengah bermimpi.
Valonia membuka matanya kemudian berusaha untuk duduk. Ia menepuk-nepuk dadanya agar himpitan sesak di paru-parunya melonggar.
"Minumlah."
"Kamu masih di sini ?"
Valonia tersentak, baru menyadari jika Keyan masih di sana. Ia meraba tubuhnya ketakutan.
"Tenanglah, aku tidak macam-macam padamu. Aku sudah mendapatkan ijin Varen sekarang minum ya."
"Terimakasih."
Valonia menerima gelas dari tangan Keyan. Ia masih mengatur nafasnya. Remang lampu tidur membuatnya tidak jelas menatap wajah Keyan. Tapi yang ia tahu ada kaca-kaca bening di netra laki-laki itu.
"Aku hanya mimpi buruk." Valonia memberikan gelas air pada Keyan. Sudah merasa tenang, gadis itu turun dari kasur lalu melangkah menuju kamar mandi.
Keyan mengusap lelehan air mata di pipinya. Kini ia tahu hal inilah yang membuat Valonia takut melanjutkan tidurnya.
"Jasmine, tidur lagi ya. Jangan takut aku di sini." Keyan menuntun gadis itu menuju kasur setelah keluar dari kamar mandi.
"Tapi aku tidak mengantuk lagi, Key."
"Masih jam satu malam. Coba tidur lagi."
Valonia menurut saat Keyan membantunya berbaring. Laki-laki ini menarik selimut hingga batas dada Valonia.
"Aku tidak bisa tidur lagi."
"Jangan takut ada aku di sini. Sekarang pejamkan mata dengarkan ini."
Keyan melihat ada ketakutan di manik mata Valonia. Ia menghidupkan musik pengantar tidur. Ya, Keyan berharap dengan cara seperti ini, gadis itu kembali tidur nyenyak. Ia meletakan ponselnya di samping bantal. Membiarkan Valonia mendengar musik itu.