
Ketinggian langit, matahari telah membelah gelap. Menerobos cahayanya menyingkap kegelapan. Memaksa pasangan mata agar cepat bangun dan segera kembali beraktivitas.
Seperti di sekolah saat ini, seluruh siswa berdatangan memenuhi kewajiban sebagai seorang pelajar. Mereka telah siap dengan wajah segar dan tenaga yang bugar untuk menerima pelajaran hari ini.
Setelah berembuk bersama Varen dan Rara. Valonia memutuskan untuk menerima Keyan dan Alvan dalam kelompok belajar mereka. Bagaimana pun juga, mereka tidak boleh egois. Siapa yang ingin ikut belajar maka mereka menerimanya dengan senang hati.
Jam istirahat sudah tiba, seluruh siswa dan siswi berhamburan ke luar kelas menyerbu kantin. Valonia dan Rara juga ikut berbaur, mereka duduk di kursi sambil menikmati makanan masing-masing.
"Kalian jahat sekali, kenapa meninggalkan ku?" Varen datang sambil mengomel. Ia meletakkan nampan makanannya dan duduk di sebelah Valonia.
"Makanya, jangan suka mampir ke kelas sepuluh !" Sahut Rara di seberang Varen. Mereka jarang akur jika bertemu. Mungkin, di kehidupan sebelumnya mereka adalah pasangan.
Varen tersenyum. "Banyak gadis cantik di kelas itu." Ia mengedipkan matanya pada Rara.
"Cepat makan." Valonia bersuara memutuskan celotehan dua temannya itu.
Varen dan Rara mulai makan, mereka mengabaikan sekelilingnya. Ungkapan kagum dan senyum malu-malu siswi terdengar ramai saat Keyan dan Alvan masuk ke kantin. Semakin ribut lagi saat dua laki-laki itu duduk di meja yang ada Valonia.
"Bagaimana keputusan kalian?" Alvan yang selalu suka bicara langsung pada intinya membuka suara.
Valonia meletakkan sendoknya kemudian melipat tangannya di atas meja. "Kalian bisa bergabung, dalam seminggu empat kali belajar kelompok. Atau jika kalian sulit memahami penjelasan di sekolah bisa diatur ulang tentang jadwalnya." Ucapnya menatap Keyan dan Alvan bergantian.
"Di mana belajarnya ?" Keyan ikut bicara. Namun, matanya terarah pada Valonia.
"Terserah kalian memilih, di rumah siapa saja boleh." Sahut Varen pertama kalinya bicara dengan dua laki-laki itu.
"Baiklah kita bisa giliran. Terimakasih sudah mau membantu kami." Alvan tersenyum tulus. "Jadi kapan kita mulai ?" Tanyanya lagi.
"Sore ini." Rara menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kita belajar sore ini di rumah Valonia." Sambungnya.
"Di rumah mu?" Keyan ragu.
Bagaimana jika rumah Valonia kecil ? apa mungkin menampung mereka berlima untuk belajar ?
"Rumah ku masih mampu menampung sepuluh orang untuk belajar." Valonia langsung melayangkan tatapan tajamnya. Ia mengerti arah pembicaraan Keyan.
"Maaf..." Keyan kehabisan kata-kata. Ia menjadi tidak enak hati atas pemikirannya itu.
Selesai pembicaraan tentang belajar kelompok. Varen menarik tangan Valonia untuk meninggalkan kantin. Rara pun ikut berdiri dan mengikuti langkah Valonia dan Varen.
Sementara itu, Keyan dan Alvan masih duduk sambil melihat punggung tiga orang itu menjauh.
Seluruh siswa dan siswi mengikuti pelajaran kembali. Di kelasnya Keyan tidak berkonsentrasi memikirkan perkataannya tadi.
Bagaimana jika Valonia tersinggung ?
"Kamu kenapa ?" Alvan merasa heran karena Keyan hanya mencoret-mencoret bukunya.
Keyan menoleh kesamping.
"Aku, kepikiran ucapanku tadi. Apa Jasmine marah ? Bukan maksudku menyinggungnya." Ia terlihat frustasi.
Alvan tertawa. "Aku rasa Valo tidak tersinggung. Sudahlah jangan dipikirkan lagi ! Lebih baik kamu pikirkan cemilan apa yang akan dibawa ke rumah calon kekasihku itu." Usulan yang terdengar bagus laki-laki itu lontarkan. "Jadi tidak sabar ingin bertemu papa mertua." Sambungnya sambil tersenyum.
"Jangan berpikiran macam-macam !"
"Hanya satu macam, aku cuma ingin bertemu dengan calon mertua." Alvan menawan tawanya.
Keyan kembali mengerjakan tugasnya. Ucapan ayahnya kembali terngiang, kesempatan ini akan dia gunakan sebaik mungkin. Agar bisa membuktikan pada ayahnya jika dia pun bisa menjadi cerdas.
...----------------...
Hari ini Varen tidak ada jadwal untuk datang ke kafe. Sepulang sekolah ia dan Valonia langsung pulang ke rumah.
"Ren, makan dulu, Nak."
"Iya Mi." Varen bergegas keluar kamar dan menghampiri Mami Dilla di meja makan.
"Kamu pergi ke kafe?" Mami Dilla menyerahkan piring yang berisi makanan penuh.
Mami Dilla adalah adik kandung mama Merry. Dengan kata lain Varen dan Valonia adalah saudara sepupu, jarak kelahiran mereka hanya satu jam. Karena tanpa di sangka Mami Dilla dan Mama Merry hamil bersamaan. Karena jarak pernikahan mereka hanya hitungan Minggu.
Di rumah Valonia, gadis cantik ini mempersiapkan ruangan tengah tempat mereka belajar. Ia juga menyiapkan cemilan untuk dimakan nanti. Selain itu, Valonia juga menyiapkan materi pembelajaran mereka. Di rasa sudah siap, Valonia melangkah ke arah pintu depan karena terdengar suara bel.
"Ra, ayo masuk !" Valonia membuka pintu lebar. Tak berselang lama ada mobil hitam berhenti di halaman rumahnya. Valonia mengamatinya dari depan pintu, rupanya Keyan dan Alvan datang bersamaan. "Kalian juga masuk." Sambungnya lagi.
"Terimakasih Val."
Keyan dan Alvan masuk sambil mengamati dalam rumah Valonia. Rumah tingkat dua cukup besar dan bersih.
"Varen belum ke sini ?" Rara mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Belum, kalian duduklah. Aku buatkan minuman dulu." Valonia meninggalkan ruangan tengah.
Keyan dan Alvan mengamati ruangan tengah itu. Di sana ada pigura yang di dalamnya ada foto Valonia dan Varen. Mereka berfoto sambil memegang piala, dilihat dari seragamnya, foto itu di ambil saat mereka SMP.
"Di mana mamanya Valo?" Alvan bertanya karena rumah itu nampak sepi.
Rara meletakkan ponselnya di atas meja kemudian beralih melihat ke arah Alvan. "Tante Merry di butik, sebentar lagi pulang. Kalau Om Danu biasanya main tenis lapangan sama Om Zaki ayahnya Varen."
Alvan mengangguk tanda mengerti. Kini mereka duduk menunggu Valonia membuatkan minuman.
"Ada tamu rupanya. Di mana Valo?" Mama Merry baru pulang dari butik. Ia menyapa ramah tamu putrinya.
"Lagi membuatkan minuman Tan." Rara berdiri dari tempatnya duduk. "Ini teman sekolah kami Keyan dan Alvan." Rara memperkenalkan dua laki-laki yang duduk bersamanya.
"Halo tante, saya Alvan calon menantu tante." Alva memperkenalkan diri.
"Dia bohong Tan, saya Keyan. "Keyan langsung menyangkal pengakuan Alvan. Dan mengulurkan tangannya. "Maafkan teman saya, dia sedikit korslet." Sambungnya lagi.
"Tante Merry, Mamanya Valo." Mama Merry menyambut uluran tangan Keyan dan Alvan. "Kalian duduklah, tante ke dalam dulu ya..." Mama Merry melangkah masuk ke kamarnya.
Valonia datang membawa nampan air lalu meletakkannya di atas meja. "Minumlah, kita sambil mulai belajar nya." Ia bicara sambil membuka buku.
"Tapi, Varen belum datang." Alvan meraih jus di atas meja lalu meminumnya.
"Aku di sini..." Varen datang dari lantai dua dan keluar dari arah dalam kamar Valonia.
"Eh, kamu masuk lewat balkon ?!" Pekik Rara heboh. "Kenapa tidak di kunci sih, Val ? kamar nya, biar dia masuk lewat depan." Sambung Rara yang sangat ingin melihat Varen masuk lewat pintu depan.
Valonia tersenyum. "Biarkan saja."
Keyan dan Alvan terkejut, kenapa Varen keluar dari kamar Valonia ? Apa hubungan mereka sebenarnya ? Pertanyaan itu bersarang di dalam otak dua laki-laki ini.
Waktu terus maju, Keyan dan yang lainnya belajar dengan serius. Meski sesekali ia mencuri pandang pada Valonia Jasmine. Ia juga merasa tidak senang dengan sikap Varen yang kadang menjatuhkan kepalanya di bahu Valonia.
Varen dan Valonia saling menyayangi, sejak kecil mereka tumbuh bersama. Melewati berbagai macam hal, tak pernah berpisah hingga saat ini. Maka tak jarang mereka di duga kembar. Varen memang bisa bersikap manja pada Valonia.
"Val, boleh aku bertanya. " Alvan mencoba mencari jawaban atas rasa penasarannya.
"Tanya saja." Valonia melihat ke arah Alvan kemudian menunduk lagi melihat buku.
"Apa hubungan di antara kamu dan Varen ? Bukankah ? Varen kekasih Tita." Pertanyaan itu terlontar dari Keyan.
Semua orang beralih melihat pada Keyan. Netra laki-laki itu terlihat berharap menunggu jawaban. Mendengar nama Tita, tangan Varen mengepal kuat. Valonia merasakan itu. Perlahan dia menyentuh lengan Varen.
"Kami saudara sepupu. Aku dan Valonia hanya beda satu jam. Kami lahir di hari, tanggal dan tahun yang sama. Ibu kami kakak- adik. Saat menemani Mami ku ke rumah sakit. Mama Merry juga ikut kontraksi." Bukan Valonia yang menjawab tapi Varen.
"Syukurlah, sebagai calon suami. Aku harus mengetahui latar belakang calon istriku." Alvan merapikan rambutnya kebelakang.
"Aku tidak mau punya ipar seperti mu." Sinis Varen.
"Kata-kata mu, Calon ipar. Sangat pedas ! Tapi masih tidak sepedas kehidupan ini." Alvan memasang raut sedih dan mengusap dadanya.
Rara tak mampu menahan tawanya. Ia terbahak di ikuti Varen. Sementara Keyan masih menatap Valonia yang tersenyum tipis.