Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Bukan Pura-pura



Keyan benar-benar melakukan apa saran Alvan padanya. Laki-laki ini memutuskan tidak menemui Valonia sementara waktu, ia mencoba menyelami isi hatinya sendiri, mencari jawabannya di sana. Pertunangan sudah menunggu hari. Tidak ada persiapan khusus yang berlebihan karena hanya akan bertunangan meski mengundang kolega bisnis dari dua buah keluarga itu.


Persiapan itu hanya dilakukan Tita, tidak pada Keyan. Laki-laki ini hanya sibuk memikirkan Valonia Jasmine. Sibuk tentang perasaannya.


Keyan juga jarang menemui Tita, dia sering membuat alasan agar tidak menemui gadis itu. Ia juga harus menyiapkan penjelasan untuk Tita dan keluarga jika sudah mendapatkan jawabannya nanti. Keyan harus memantapkan hatinya, tetap bertunangan dengan Tita dan menerima gadis itu untuk jadi istrinya atau mengejar Valonia Jasmine dan melupakan kebenciannya.


...----------------...


Valonia merasa tubuhnya kurang sehat hari ini. Ia merasa lemas, apa pun upayanya untuk tidur normal tetap saja gagal. Mimpi itu selalu datang setiap malam, ia juga sangat jarang mengonsumsi obat yang diberikan Sonny. Gadis ini tidak ingin ketergantungan pada obatnya. Ia ingin merasakan tidur dan ngantuk alami.


Penyakit insomnia perlahan menggerogoti tubuhnya. Tubuh yang dulunya berisi kini semakin kurus. Jika dulu bertenaga maka saat ini hanya lemas yang ia rasa. Nafsu makannya juga menurun. Hingga ia tidak memiliki kekuatan penuh untuk menopang tubuhnya sendiri.


Ada ketakutan dalam jiwa Valonia. Ketika mimpi itu hadir dalam tidur lelapnya. Terasa sangat mengerikan jika mimpi itu benar adanya dan terjadi. Valonia hanya menceritakan pada Varen dan Sonny tentang mimpi yang membuatnya terjaga hingga takut untuk tidur setelahnya.


Meski kondisinya tidak dalam keadaan baik. Namun jemarinya masih lincah menggambar di atas kertas. Otaknya masih bekerja menciptakan karya-karya baru. Serta matanya masih bisa melihat dengan teliti ketika menjahit kain atau memasang payet di gaun pengantin.


"Kak Valo, Tuan Alvan datang !" Mia datang memberi tahukan keberadaan laki-laki itu di lantai bawah. Ia sengaja memberitahu Valonia secara langsung karena ingin melihat kondisi atasannya itu.


"Baiklah." Valonia turun dengan tubuh  sempoyongan. Bibirnya pucat dan seperti orang mengantuk.


"Kakak sakit ? Aku telpon Kak Sonny, atau kita ke rumah sakit." Tawar Mia. Ia cemas dan merasa bersalah karena hampir setengah hari tidak mengecek kondisi Valonia.


"Telpon Sonny saja, hari ini aku hanya merasa lelah." Valonia tiba di lantai dasar.


"Valo, kamu kenapa ?" Alvan segera menghampiri gadis itu. Dari satu bulan yang lalu mereka sudah berteman. Valonia merasa Alvan laki-laki baik tidak salahnya untuk berteman.


"Aku hanya tidak enak badan." Valonia tersenyum tipis. Ia meminta Mia mengambilkan baju pesanan Alvan di etalase.


"Ayo kita ke dokter ! Kamu pucat sekali." Alvan terlihat cemas. Ia juga berdiri tak jauh dari Valonia, takut jika gadis itu jatuh tak sadarkan diri.


"Sebentar lagi Sonny datang. Tadi Mia sudah menelponnya." Valonia menyerahkan paper bag yang berisi pakaian Alvan. "Cobalah dulu di ruang ganti." Tunjuk nya hanya dengan isyarat mata.


Alvan bergeming, ia masih menatap Valonia dengan perasaan cemas. Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil berhenti  tak jauh dari butik. Dari kaca terlihat yang datang adalah Sonny dan Varen. Dua laki-laki ini rupanya memang bertujuan akan ke butik Valonia.


"Valo."


"Kalian datang." Valonia menghampiri Varen dan Sonny. Tatapan dua laki-laki itu juga terlihat cemas.


Varen dan Sonny melirik pada Alvan yang berdiri di samping sofa tunggu. Mereka berpikir, kenapa dia ada di sini?


"Kenapa masih bekerja ? Ayo aku periksa." Sonny langsung menarik lengan gadis itu.


"Keadaannya kurang baik, lebih baik bawa dia ke lantai tiga." Varen langsung menjongkok dan meminta Valonia naik ke punggungnya.


Gadis ini tersenyum lalu menuruti sepupunya. Varen bersiap membawa Valonia di ikuti Sonny di belakangnya.


"Boleh aku ikut ? Aku mencemaskan nya." Alvan menghentikan langkah Varen yang menuju lift.


"Iya."


Varen menjawab pendek lalu memencet tombol lift, mereka naik ke lantai tiga tempat Valonia tinggal. Varen menurunkan Valonia di atas kasurnya setelah membuka pintu kamar gadis itu. Sonny ikut melangkah masuk sementara Alvan memilih menunggu di ruang tamu. Pria itu mengamati tiap sudut ruangan lantai ini. Hunian yang nyaman menurutnya sudah dirancang seperti unit Apartemen.


"Bagaimana kondisinya?" Alvan berdiri dari tempatnya duduk ketika melihat Sonny keluar dari dalam kamar.


Sonny menaruh tas kerjanya kemudian duduk berseberangan dengan Alvan. "Tekanan darahnya rendah. Dia lelah karena kurang tidur, Valo hanya tidur dua atau tiga jam, setelah bangun dia akan susah tidur. Sebenarnya, insomnia pemicu tekanan darah tinggi untuk orang sudah berusia." Jelas Sonny sedikit tentang kondisi sahabatnya itu.


Alvan terdiam. Valonia mengalami insomnia, sejak kapan ? Melihat kehidupan gadis itu di masa SMA sangat baik dan normal. Varen keluar dari kamar Valonia lalu ikut bergabung di ruang tamu. Ia melirik paper bag di samping Alvan.


"Kamu tidak pulang ? Sonny sudah menjelaskan kondisi Valo, 'kan ?" Varen menanggapi kehadiran Alvan dengan dingin.


"Ren, Sonny. Aku minta maaf atas kejadian tiga tahun lalu saat reunian itu. Aku terbawa emosi Keyan. Aku minta maaf dengan tulus." Ucapnya sungguh-sungguh.


Varen menghela nafas panjang dan berkata. "Kita sudah sama dewasa sekarang, bukan lagi anak SMA. Kita sudah bisa berpikir yang baik dan buruk. Yang telah lalu lupakan saja, tiap orang memiliki emosi dan pemikiran sendiri."


"Terimakasih, Ren. Aku juga sudah minta maaf pada Valonia. Mungkin karena kejadian itu dia bersikap tidak mengenalku." Alvan melihat pada Varen dan Sonny bergantian.


Varen menarik nafas panjang seraya berpikir, sudah saatnya Alvan tahu keadaan Valonia. Agar dia juga bisa ikut menjaga gadis itu.


"Karena kamu membahas ini, maka aku harus memberi tahu ka—"


"Kalian masih di sini ?"


Suara Valonia menghentikan kalimat Varen. Laki-laki itu tersenyum begitu juga Alvan dan Sonny.


"Kami mencemaskan mu." Sahut Alvan menatap pada Valonia. Pemandangan yang miris menurutnya. Wajah yang dahulunya segar kini pucat tak berdarah. Di tambah lagi kulit Valonia yang putih sangat mencetak jelas garis-garis lelah di wajahnya.


"Sudah siang, ayo kita makan siang. Aku juga lapar." Valonia melangkah menuju dapurnya. Dia tipe pembangkang pada aturan, baru saja Sonny memintanya istirahat total sekarang malah ke dapur.


"Biar aku yang memasak." Sonny menyusul gadis itu. Dirinya tahu jika Valonia tidak pandai memasak. Selain itu, ia ingin sahabatnya ini kembali istirahat.


"Bagaimana aku bisa memasak ? Jika kalian tidak pernah membiarkan aku di dapur !" Kesal Valonia Jasmine.


"Biar aku bantu." Alvan berdiri menyusul Sonny. Ia tersenyum hangat pada Valonia. Ingin rasanya Alvan mendekap memeluk erat Valonia yang rapuh. Tapi apa itu mungkin ?


"Kamu bisa masak ?" Valonia tersenyum senang. Matanya begitu berbinar.


Alvan mengangguk lalu mengenakan apron. "Aku terbiasa memasak saat kuliah dulu." Jawabnya tersenyum bangga.


Muncullah ide jahat dibenak Sonny. "Kalau begitu, hari ini aku ingin mencicipi masakan orang yang baru pulang dari luar negeri ini" tangannya menepuk pundak Alvan.


"Baiklah, aku akan memasak untuk kalian." Alvan setuju dengan usul Sonny. Sementara itu Valonia bertepuk tangan pelan karena girang.


Varen menatap lekat sepupunya itu. Senyum yang jarang ada, kembali terlihat di wajah Valonia. Ia bergegas ke dapur lalu menghampiri tiga temannya. Ia tak rela senyum penuh kesenangan tadi lenyap dari wajah pucat Valonia, terlahir dari rahim berbeda namun darah mereka begitu kental.


"Sonny, ajak Valo ke ruang tengah, aku yang akan membantu, Al." Varen meraih apron dan mengenakannya.


Dua laki-laki tampan ini mulai melakukan pekerjaannya. Mereka nampak lihai memegang peralatan dapur. Saling berbagi tugas agar cepat selesai. Mereka tidak ingin sang putri yang tengah sakit kelaparan.


"Jangan memaksa Valo untuk mengingatmu atau pun Keyan."


Perkataan Varen menghentikan tangan Alvan saat mencuci beras untuk memasak. Ia heran apa maksud Varen ? Kenapa dengan Valonia ?


"Kenapa, apa yang terjadi sebenarnya? Aku dan Keyan sangat terkejut saat dia tidak mengenal kami. Karena itu Keyan beranggapan jika Valonia berpura-pura. Dia begitu gigih untuk membuktikan jika Valonia berbohong." Alvan melanjutkan lagi pekerjaannya.


"Keyan berpikiran Valonia berpura-pura? Apa dia memang tidak bisa membedakan yang mana serius dan tidak?" Varen menjadi kesal.


"Dia itu setengah waras. Lima tahun ini dia berusaha mengembang biakkan kebencian dalam hatinya atas penolakan Valonia. Tapi dia sendiri yang tersiksa, buktinya sekarang dia kesal saat Valonia tidak mengenalnya." Cerita Alvan sembari terkekeh pelan.


"Valonia bukan berpura-pura. Tapi itu benar adanya."


"A—apa maksudmu ?" Alvan terbata. Tangannya seketika berhenti saat memotong sayuran. Ia berharap pendengarnya saat ini salah, perasaannya tak karuan. Beberapa kali ia menghembuskan nafas pelan mengusir rasa yang berkecamuk di hatinya.


"Valonia amnesia."


Dada Alvan bergemuruh dan sesak. Tidak menyangka jika kecurigaannya benar. Valonia Jasmine bukan berpura-pura atau sengaja. Apakah dia terlupakan? Kejamnya takdir hingga gadis yang diam-diam ia sukai itu kini tidak lagi mengenalnya.


Ingin rasanya Alvan memaki, tapi siapa yang dia maki ? Ingin dia memukul tapi siapa yang dipukul ? Tangannya terkepal di atas meja, Alvan berusaha mengalahkan rasa sakit hatinya.