
Dua Minggu kemudian...
Rencana Sonny terealisasi dengan baik. Rombongannya dari kota mulai memasuki perkampungan tempat kediaman Mia dan sang Nenek. Mia adalah gadis cantik yang tumbuh besar di desa. Dia juga gadis yang telah menjadi yatim piatu semenjak remaja.
Kini, Mobil iring-iringan Sonny dan kawan-kawan berada di dalam desa. Laki-laki itu sangat tampan mengenakan stelan pakaian dari butik Valonia Jasmine. Dokter tampan ini begitu senang mendapatkan baju dari Jasmine Boutique secara gratis sebagai hadiah dari Valonia dan Keyan.
"Masih jauh ya rumahnya?" Valonia sudah gelisah di tempatnya duduk. Istri Keyan ini baru saja bangun dari tidurnya.
"Sebentar lagi. Sepertinya itu rumahnya. Mobil Sonny berhenti di sana." Sahut Endi fokus mengemudi.
"Kamu kenapa sayang ?" Keyan baru menyadari jika istrinya nampak gelisah. "Ada yang sakit?" Tanyanya cemas.
"Mau pipis."
"Kita sampai." Endi mematikan mesin mobil. Laki-laki ini sedikit sedih karena Sera tidak bisa ikut bersama mereka. Gadis dingin itu menghadiri acara keluarganya.
Di halaman rumah Mia. Keluarganya menyambut dengan ramah kedatangan Sonny dan orang tuanya. Keyan dan yang lainnya juga turun dari mobil.
"Nek, perkenalkan ini Kak Valonia Jasmine bersama suaminya Kak Keyan Ganendra. Butik milik kak Valo ini tempat aku bekerja." Jelas Mia ketika Valonia turun mobil dan melangkah masuk ke halaman rumahnya.
"Kamu cantik sekali, Nak ! Terimakasih sudah datang ke desa kami. Inilah rumah kami semoga kalian betah. Mari masuk." Nenek menyambut mereka dengan hangat disertai lengkungan senyum menghiasi garis wajah tuanya.
"Terimakasih, Nek." Valonia memeluk tubuh tua Nenek dengan perasaan sayang. Dalam hatinya teringat dengan neneknya sendiri.
"Der, ambil barang di mobil." Pinta Keyan pada adiknya itu. "Mia, istriku mau ke toilet." Lanjutnya teringat jika istrinya gelisah di mobil.
"Iya, Kak ! Mari..."
...----------------...
Pembicaraan penting tentang lamaran sudah selesai. Seluruh keluarga Mia menerima dengan tangan terbuka. Pernikahan akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Atas permintaan pihak keluarga Mia pernikahan akan dilaksanakan dengan sederhana. Sonny pun menyetujui.
"Nak, Valo istirahatlah di kamar Mia. Kamu pasti lelah dalam perjalanan kesini tadi yang lumayan jauh." Bibi adik oleh mendiang ibu Mia bersuara. Wanita paruh baya itu begitu baik dan perhatian.
"Terimakasih, Bi. Aku masih ingin melihat-lihat di luar. Nanti jika lelah aku akan masuk."
"Baiklah, kalau begitu. Jika perlu sesuatu jangan sungkan." Bibi tersenyum meninggalkan ruang tengah.
"Terimakasih kalian sudah menemani kami kesini." Ucap Pak Ariel ayah Sonny.
"Sama-sama Om kebetulan jenuh juga di kota. Pemandangan di sini sangat asri." Sahut Alvan. Laki-laki ini memilih ikut mobil Sonny saat berangkat. Ia pun juga bersedih karena kekasihnya tidak bisa ikut.
"Kak Valo, ini buahnya." Derry yang bertugas membawa perlengkapan kakak iparnya itu menyerahkan buah yang sudah dipotong-potong.
"Terimakasih, Der." Valonia meraih piring buahnya dan mulai memakannya.
Keyan tersenyum melihat istrinya yang jarang kosong mulutnya. Valonia selalu saja minta makanan untuk mengganjal perutnya. Alhasil persiapan Keyan begitu sempurna.
"Valo ! Sebenarnya tante ingin sekali kamu merancang gaun pengantin untuk Sonny dan Mia. Tapi kondisimu sedang hamil." Ibu Neta mama nya Sonny mendaratkan tubuhnya di sisi Valonia.
"Terimakasih, Nak." Ibu Neta sangat senang mendapatkan gaun pengantin untuk calon menantunya dari Valonia.
"Terimakasih, Valo kamu yang terbaik." Sonny memberikan finger heart. Sambil tersenyum lebar penuh bunga-bunga bahagia.
"Sonny ! Jarimu."
Sonny refleks menarik tangannya mendengar suara peringatan dari bibir Keyan. Laki-laki itu selalu mengawasi pergerakan istrinya meskipun berada sedikit jauh. Semua orang faham betul bagaimana pencemburu seorang Keyan Ganendra. Laki-laki ini tidak menutupi kecemburuannya. Ia langsung membahasnya ditempat apabila hatinya panas.
"Apa Varen kesini?" Endi bertanya sambil menyadarkan tubuhnya di sebatang pohon di halaman rumah Mia.
"Nanti saat pernikahan." Sahut Valonia. Wanita hamil ini masih mengunyah buah yang telah disiapkan oleh Derry.
...----------------...
Keluarga besar Sonny terpaksa menginap di desa. Karena pernikahan tinggal menghitung hari. Paman dari Mia menyiapkan sebuah rumah kosong berukuran besar yang ia pinjam pada tetangga sekitarnya. Agar calon besan mereka mendapat tempat istirahat yang layak.
"Pak Ariel, nanti Mia akan mengantarkan Bapak sekeluarga ke rumah sebelah untuk berisitirahat." Ujar Paman tidak enak hati karena besannya harus diungsikan ke rumah sebelah.
"Iya Pak, terimakasih. Di sini juga tidak apa-apa. Atau... Kami bisa mencari hotel terdekat di kota."
"Jangan Pak. Malam ini menginap saja disini. Rumah sebelah milik tetangga kebetulan kosong. Semua perabotannya lengkap. Sudah disiapkan semua." Paman menjawab cepat atas keinginan besannya yang ingin mencari hotel terdekat.
"Jangan sungkan bila perlu sesuatu." Seru Nenek ikut berbaur setelah membantu Bibi di dapur membereskan meja makan.
"Nek, apa yang perlu kami bantu untuk persiapan pernikahan ini ?" Ibu Neta meletakkan paper bag di atas meja. "Untuk gaun pengantin sudah ada. Valonia membawanya dari butik."
"Terimakasih, Nak." Nenek begitu terharu. Tangan renta nya terulur mengusap perut Valonia yang mulai terlihat membesar. "Semoga kamu sehat sampai persalinan." Doanya dengan tulus.
"Mengingat waktu hanya beberapa hari. Saya rasa untuk mempersiapkan pernikahan cukup mepet. Undangan juga belum dicetak dan disebarkan." Seru Pak Ariel.
"Untuk undangan. Om, jangan cemas kami sudah mencetaknya. Tadi saya sudah menghubungi percetakan dan meminta mereka mempercepatnya." Seru Endi dengan wajah meyakinkan.
"Terimakasih, En. Kamu bergerak cepat." Puji Sonny dengan raut bahagian yang tak pudar.
"Undangannya tidak perlu banyak hanya untuk orang sini." Sahut Bibi.
"Dan makanan kita catering saja. Di kota dekat sini. Jarak masuknya juga tidak jauh, 'kan?" Valonia ikut menyampaikan pendapatnya. Wanita hamil ini selalu menempeli Derry karena adik iparnya itu selalu menuruti kemauannya.
"Kamu benar sayang. Jadi hemat waktu." Tambah Keyan.
Rumah kecil milik Nenek, masih ramai dengan perbincangan keluarga berembuk untuk membahas pernikahan Sonny dan Mia yang dipercepat. Karena Pak Ariel dan Ibu Neta yang berprofesi sebagai dokter tidak banyak memiliki waktu luang. Terlebih Sonny sendiri.
Perbincangan itu semakin larut hingga tengah malam. Canda dan tawa menggema di sana. Apalagi calon pengantinnya yang berbinar penuh bahagia. Tanpa mereka tahu ada sepasang mata menatap tidak suka ke arah rumah nenek.
Orang itu menatap tajam penuh kebencian ke arah rumah Nenek. Nafasnya memburu disertai kepalan tangan yang erat hingga buku-buku jarinya memutih. Senyum pahit terukir di wajahnya bercampur himpitan sesal yang menyesak di rongga dadanya. Hatinya tiba-tiba sempit tidak memiliki keluasan lagi setelah berita lamaran dan pernikahan Mia sampai ke telinganya.