Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Saling Support



Semakin hari jalinan persahabatan itu semakin kuat. Keyan tidak lagi merasa segan ketika berkumpul bersama Varen dan Levin. Hubungan dimasa lalu dapat mereka damaikan dengan baik. Keyan juga telah meminta maaf dengan benar atas sikapnya yang labil.


Hari ini, sepulang dari kantor. Keyan langsung menuju Jasmine Boutique. Ia membawa beberapa kertas sketsanya. Tak hanya sketsa perhiasan yang ia gambar tapi juga wajah Valonia.


Setiba di sana, Keyan dikejutkan dengan adanya beberapa orang di dalam butik Valonia, bukan seperti biasanya. Orang-orang terfokus pada satu objek yaitu Valonia Jasmine. Butik terpaksa ditunda untuk tutup. Karena, ada ibu-ibu yang tengah komplain. Wanita paruh baya itu terlihat begitu marah sambil membuka lebar-lebar rok yang ia bawa.


Melihat hal itu, Keyan melangkah dengan cepat menghampiri kerumunan yang melingkari Valonia Jasmine.


"Ada apa ini ?"


Suara Keyan mengalihkan perhatian mereka. Sejenak para kaum hawa itu terhipnotis pada wajah tampan Keyan Ganendra.


"Hanya masalah kecil, aku juga belum mengerti. Ibu ini datang dan marah-marah tidak jelas."  Valonia menatap datar pada wanita paruh baya di hadapannya.


"Tolong jelaskan dengan benar, Bu !" Keyan berdiri di samping Valonia. Ia bisa melihat rok yang ada di tangan wanita paruh baya itu. Namun belum mengerti permasalahannya.


"Begini, saya mau menukar rok ini. Kemarin saya dapat hadiah dari teman berupa rok ini. Dan dia mengatakan membeli rok ini di Jasmine Boutique. Tapi setelah saya buka rok ini sobek, jahitannya lepas dan tidak rapi." Jelas ibu itu dengan nafas naik turun.


"Bu, sudah saya katakan. Butik kami tidak menjual rok seperti itu. Di pajangan kami ada rok yang berbeda-beda modelnya. Mungkin ibu salah butik." Valonia menjelaskan lagi jika rok itu bukan dari butiknya.


"Hei, Nona ! Jangan karena butik mu ini terkenal dan berkelas. Jadi tidak mengakui barang mu sendiri. Tidak mungkin temanku itu membohongi. Dia orang kaya dan mampu membeli semua baju di butik ini." Ibu itu berapi-api sambil menunjuk-nunjuk wajah Valonia dengan rok di tangannya.


"Bu, turunkan tangan anda." Keyan memperingatkan. Ia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi.


Valonia tersenyum. "Tujuh puluh lima persen barang yang ada di dalam butik ini. Hasil rancangan saya, jadi saya tahu barang milik saya atau punya orang lain. Dan tak hanya itu, tiap barang karya saya di butik ini memiliki brand."


Valonia mengambil rok itu, lalu memperlihatkan bagian dalamnya. Rok itu tidak memiliki brand. Kemudian ia juga meminta Mia mengambil salah satu baju yang dipajang dan menunjukan brand nya pada ibu itu.


"Ini lihat, brand dari butik kami. Nah, silahkan ditanya lagi di mana teman ibu membeli rok ini." Mia mengembalikan rok itu.


Wanita paruh baya ini diam, ia mengamati rok itu lalu merasakan kainnya sangat berbeda dengan baju yang di pegang Mia. Tidak puas dengan itu, ia juga membandingkan dengan rok yang ada di pajangan. Tidak ingin berlama-lama di sana dengan rasa malu. Tanpa pamit dan minta maaf ia langsung meninggalkan Jasmine Boutique.


"Mia, tutup butiknya. Yang lain boleh pulang." Valonia melangkah naik ke lantai dua. Di ikuti Keyan di belakangnya.


"Ada yang terluka?" Keyan memegang kedua pundak Valonia. Tatapannya begitu cemas.


"Aku baik-baik saja." Valonia tersenyum dan berkata lembut.


"Aku hanya takut dia menjambak mu."


Valonia tertawa. "Sebelum itu terjadi karyawan ku lebih dulu menghadangnya."


Laki-laki itu kini mengerti tentang sertifikat yang dimaksud pak Andre. Syukurlah, Keyan sudah mengurus semuanya. Kini ia memiliki sertifikat atas karyanya. Jadi ia akan memiliki bahan jika sewaktu-waktu ada yang mengakui karyanya.


"Jasmine, bagaimana menurutmu. Sketsa perhiasan ini?" Keyan meletakan beberapa gambar di atas meja.


Valonia mengamatinya dengan seksama. "Bagus tapi kurang unik, untuk kuncup melati nya dikurangi biar tidak terlihat ramai. Bukankah ? kuncup Jasminum ini hanya ciri khas. Bila ada perhiasan dan di dalamnya terdapat kuncup Jasminum itu adalah karyamu."


"Benarkah seperti itu?" Keyan juga mengamati hasil karyanya .


"Iya, untuk kalung sudah bagus jika liontin nya berbentuk seperti ini. Tapi, tidak semua kalung harus berliontin kuncup bunga Jasminum kamu bisa membuatnya berkelopak lima atau tujuh. Dan untuk gelang bagusnya kamu ukir saja berbentuk daun dan bunganya. Kalau cincin sudah bagus antingnya juga." Valonia mengatakan pendapatnya.


"Baiklah, terimakasih atas masukannya. Tapi apakah menurutmu gambaran seperti ini bisa masuk dipasaran?"


"Tergantung pertunjukan promosi mu bagaimana? Di sini kamu membutuhkan model. Key ! Dan juga bagaimana kenyamanan mereka memakainya nanti. Selain itu, kamu juga harus mengerti dari bahan apa membuat perhiasan ini ?"


Keyan mengangguk paham, sebagai pemula memang ia harus banyak belajar. "Aku mengerti."


...----------------...


Karena sudah senja, Keyan berpamitan pulang. Di perjalanan ia mencerna semua pembahasannya dengan Valonia. Ia membutuhkan tempat untuk mulai mengatur jalan bisnisnya.


Usai merombak sedikit sketsanya. Keyan menghubungi pabrik. Untuk membuat satu set perhiasan. Jika hasilnya bagus maka ia akan memesan dalam jumlah banyak dan mengadakan product  launch.


Keyan menghembuskan nafas panjang mengusir rasa lelahnya. Ia mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower, agar rasa penatnya runtuh di bawa air. Banyak hal yang ia lalui saat sendiri, beruntung teman dan Bunda Arini ada mendukungnya. Apalagi Valonia Jasmine yang selalu ada mendukung dan suka rela menjawab tiap pertanyaan yang diajukan Keyan. Valonia masih seperti dulu tanpa pelit ilmu dan mau membimbing Keyan.


Mengingat gadis itu, Keyan tersenyum sembari mengeringkan rambutnya. Laki-laki ini merasa tubuhnya kembali segar. Setelah mengenakan kimono, Keyan ingin menghangatkan perutnya dengan segelas susu seperti biasa sesudah mandi. Saat ingin membuat susu, bel berbunyi. Keyan gegas membuka pintu.


"Masuk, Al."


"Kamu baru pulang ?"


Alvan duduk di sofa lalu meraih remote televisi. Sementara Keyan langsung masuk ke kamar mengganti kimono nya.


"Aku mampir ke tempat Jasmine tadi." Keyan membawa dua gelas susu.


"Masih belum ada kemajuan. Tapi dia mulai terbuka padaku." Keyan meraih gelas dan menyeruput susunya.


"Kemarin Tita menanyakan alamat mu."


Keyan menoleh lalu berkata. "Jangan memberitahunya."


Alvan mengangguk lalu mengambil susu miliknya. Dua laki-laki ini terdiam sejenak sampai suara bel berbunyi kembali.


"Aku saja." Alvan berdiri dari tempatnya duduk mendahului Keyan. Ia menarik daun pintu.


"Valonia."


Mendengar nama Valonia, Keyan langsung berdiri dan menghampiri Alvan. "Ayo masuk." Ucapnya senang.


"Terimakasih, kalian belum makan malam, 'kan?" Valonia masuk kemudian di ikuti Rara dan Sonny.


"Iya. Aku belum masak." Keyan tersenyum hangat lalu mengambil alih barang bawaan Valonia.


"Kita makan sama-sama. Tadi, Valo beli makanan." Rara langsung ke dapur mengambil piring.


Sementara Sonny duduk mengambil remote televisi. Tidak ada janji atau rencana namun Valonia dan Rara langsung menyeretnya untuk ikut.


"Valonia ingin melihat, bayi-bayi kalian." Sonny menatap kesal pada Valonia. Maksud hati ingin mengajak Valonia ke apartemen Mia. Malah dirinya di tarik gadis itu ke apartemen Keyan.


"Bayi-bayi kami?" Keyan tak mengerti dengan pembicaraan Sonny. Apa lagi Laki-laki itu langsung melahap makanannya tanpa penjelasan lebih rinci.


"Jangan dengarkan Sonny. Aku ke sini ingin melihat bunga-bunga mu. Ah, apa boleh aku panggil Mia ke sini. Unitnya berada di gedung sebelah."


Valonia menjelaskan perkataan Sonny. Mendengar nama Mia, dokter tampan itu langsung tersenyum. Wajah kesalnya berganti senang.


"Valonia Jasmine ! Aku sayang padamu." Sonny melayangkan kecupan dari tempatnya duduk.


"Bibirmu Sonny !" Geram Keyan. Berani sekali pikirnya memberikan ciuman jarak jauh seperti itu.


"Dari jauh, Key !" Sonny tersenyum lebar pada Keyan.


"Valo, makan dulu baru melihat bunganya." Alvan memberikan perhatiannya secara langsung.


Tubuh Keyan merasakan panas dingin. Tadi Sonny sekarang Alvan secara terang-terangan menunjukkan perhatiannya.


"Ayo ikut aku, nanti kita makan berdua. Setelah melihat bunganya." Keyan menarik tangan gadis kesayangannya itu.


"Dasar posesif !" Cibir Rara.


...----------------...


Valonia merasa segan masuk ke dalam kamar Keyan. Kenapa harus menanam bunga di balkon kamar pikirnya? Ia canggung mengikuti langkah laki-laki itu.


"Lihatlah, bayi-bayi kita tumbuh dengan baik. Papinya ini merawat mereka dengan baik dan penuh kasih sayang." Keyan tersenyum pada Valonia.


"Jangan dengarkan Sonny. Dia sedikit aneh." Valonia gugup tak karuan. Di tambah lagi detak jantungnya tak beraturan. Bisa dipastikan wajahnya sudah merona.


"Semoga saja perkataan Sonny jadi kenyataan." Keyan tersenyum.


"Mereka tumbuh dengan cantik !" Puji Valonia sambil melihat-lihat bunga itu. Tak lupa ia juga menghirup aromanya yang manis.


"Mereka akan semakin cantik, jika Maminya juga ikut merawatnya." Keyan melingkarkan tangannya di pundak gadis pujaan hatinya ini.


"Turunkan tanganmu ! Aku sudah katakan jangan dengarkan kata-kata Sonny." Valonia berusaha menormalkan sikapnya agar tak terlalu nampak kegugupannya.


"Aku bukan mendengarkan kata-kata Sonny. Tapi panggilan itu sudah disematkan Fendi pada kita berdua. Mami Jasmine." Keyan mengedipkan mata sembari tersenyum.


"Terserah padamu saja. Jadi kuncup ini yang kamu maksud itu ?" Valonia mengalihkan pembicaraan. Karena tidak sanggup melawan debaran jantungnya.


"Iya. Cantikan, Mi !" Lagi-lagi Keyan menggoda Valonia. Rasanya senang melihat semburat rona merah di pipi Valonia. Dia sangat bersyukur karena lampu balkonnya mampu menerangkan cetakan rona merah itu.


"Ayo makan." Valonia melangkah cepat meninggalkan Keyan yang menggeser pintu balkonnya.


"Mi, tunggu Papi." Teriak Keyan sedikit Keras. Ia menyusul Valonia Jasmine yang telah bergabung dengan teman-temannya.


"Panggilan apa itu ?!" Cibir Sonny. Disertai senyum ejekan. Laki-laki ini sudah tidak menekuk wajahnya lagi karena kehadiran Mia.


Keyan menggaruk tengkuknya. Ia lupa jika bukan hanya diri dan Valonia saja di sana.