Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Kekecewaan Levin



Kilas Balik...


Levin sudah bersiap dengan tiga rantang makanan yang ia buat dengan tangannya sendiri. Laki-laki ini tersenyum puas setelah menyelesaikan pekerjaannya. Masih seperti dulu Levin akan memanjakan lidah Valonia dengan citra rasa masakannya.


"Aku sepertinya akan lama. Tante Merry baru datang." Levin menenteng tiga rantang di tangannya lalu meninggalkan kecupan lembut di kening istrinya.


"Iya, hati-hati. Nanti malam aku akan ikut ke rumah sakit." Fanny mengantarkan suaminya ke halaman kafe.


Setelah mobil Levin tak terlihat lagi. Fanny memutar tubuhnya untuk masuk kembali. Namun langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya disentuh seseorang.


"Kemana, Bang Levin ?"


Tita datang bersama Sindy. Meski pun dua wanita ini bermasalah pada Keyan dan Valonia. Tapi mereka pelanggan tetap Ren's cafe induk yang sekarang jadi hak milik Levin seutuhnya. Maka dari itu hubungan mereka dan Fanny biasa saja layaknya pelanggan tanpa masalah.


"Dia ke rumah sakit mengantarkan makanan untuk Valonia." Fanny bicara sambil melangkah masuk.


"Valonia masuk rumah sakit, kenapa?" Tita semakin penasaran. Begitu pun Sindy. Dalam hati keduanya sangat senang mendengar kabar terbaru dari owner Jasmine Boutique itu.


"Kemarin sore, dia tiba-tiba diserang beberapa orang. Namun ada Alvan yang membantunya. Dia juga dirawat di sana sama Pak Ardi sopir Valonia."


"Alvan, dia kenapa ?" Sindy semakin antusias bertanya.


"Alvan tertusuk karena membantu Valonia. Aku masuk dulu ya." Pamit Fanny langsung melenggang masuk.


"Tunggu !" Tita menghentikan langkah Fanny. "Apa kamu yakin jika Bang Levin tidak ada rasa lagi pada Valonia?" Otak cerdas Tita langsung bekerja mencari celah untuk menjatuhkan Valonia Jasmine.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Fanny berbalik menghadap Tita yang tersenyum padanya. Seolah meyakinkan jika Levin patut dicurigai.


"Apa kamu tidak curiga? Suamimu begitu perhatian pada Valonia. Padahal dia sudah bersuami. Apa kamu percaya begitu saja?"


Fanny melangkah ke meja kosong lalu duduk di sana. Pikirannya terusik. Apa benar, suaminya masih ada rasa pada Valonia Jasmine? Lalu apa arti dirinya selama ini di sisi Levin? Jika di hati suaminya itu masih terukir nama Valonia Jasmine.


"Dia sudah tidak memiliki rasa lagi pada Valonia. Tentang perhatiannya, memang sejak awal sudah seperti itu." Sanggah Fanny atas pikiran buruknya dan ucapan Tita.


"Selama ini ?! Wah, kamu tidak curiga sedikit pun? Meski Valonia sudah menikah. Tapi dia tidak pantas menerima kebaikan orang lain secara berlebihan dan Levin juga tidak sepantasnya memberikan perhatian yang lebih." Sahut Sindy. Ketika melihat Fanny masih teguh pendiriannya.


"Terserah padamu, aku sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai. Andai aku bisa memisahkan mereka. Akan aku lakukan." Tita memasang wajah sedihnya. "Aku bisa membuat Keyan mencintaiku. Tapi aku harus menjauhkan Valonia lebih dulu. Agar cinta Keyan sepenuhnya milikku."


Fanny melebarkan iris matanya. Tanpa sadar tangannya terkepal. Apakah cinta suaminya terbagi? Jika benar, maka ia setuju dengan pendapat Tita untuk menjauhkan Valonia. Agar cinta suaminya dapat dimilikinya seorang diri.


"Akan kuceritakan satu rahasia. Semoga saja ini bisa membatu."


Cerita Fanny mengalir bagai air. Putih hatinya tertutup hitamnya kabut cemburu dan prasangka buruk. Bak mendapatkan harta karun yang berharga. Tita dan Sindy teramat senang. Padahal, mereka hanya berniat menanam rasa benci Fanny untuk Valonia. Lalu menyulutkan api yang bisa meretakkan hubungan Fanny dan Levin, dari situ Tita berharap Levin akan mengejar cintanya kembali pada Valonia. Ya, Semua orang bisa melihat betapa cintanya Levin pada Valonia pada zaman itu. Namun sayang, cinta itu tak bersambut dengan baik.


Tanpa membuang waktu lagi. Tita dan Sindy melaju ke rumah sakit, disertai senyum mengembang sempurna tak pudar di bibir mereka berdua.


Kilas Balik selesai


...----------------...


Alam menangis semakin deras, menyaksikan kepiluan hati seorang Levin. Kilat tak berhenti mengakar memancarkan cahayanya di balik awan, bahkan petir pun ikut andil mewakili amarah yang bersarang di dalam hati Laki-laki tampan ini.


Nafasnya naik turun disertai lelehan telaga bening yang telah penuh meluap ke pipinya. Levin meletakkan kepalanya di atas setir. Menunduk, menangis seorang diri. Meluapkan rasa kesal dan kecewanya yang melebur menjadi satu.


Sudah satu jam mobil Levin di bawah guyuran hujan lebat di area pemakaman. Meski tak turun tapi ia merasakan ketenangan saat berada di area itu. Levin tak ingin masuk ke komplek pemakaman dalam keadaan kacau untuk mengunjungi Papa Danu. Ia hanya butuh menenangkan diri.


...----------------...


Jika di tempat sepi, Levin menyendiri dalam kesepiannya dan menangis melepaskan perasaannya. Maka lain hal di rumah sakit. Semua keluarga Valonia berkumpul di sana. Sejak kejadian tadi, istri Keyan itu belum juga membuka kelopak matanya. Seolah tidur adalah pilihan terbaik saat ini untuk melupakan kejadian yang baru saja mengguncang dunianya.


Valonia tak sedikit pun membuka matanya. Ia seakan tenang dalam keadaan tidur. Biarlah sejenak wanita cantik ini melepas simpul beban yang selama ini mengikatnya.


"Key, makan dulu." Bunda Arini meletakkan piring nasi di hadapan putranya. Ia bersedih melihat kondisi Keyan yang kacau. Namun tetap tenang setenang air di danau yang belum ditiup angin.


"Aku belum lapar, Bun." Keyan tak menoleh pada piring yang berisi makanan itu. Iris matanya tak lepas dari wajah damai Valonia Jasmine.


"Key, kamu harus makan. Nak ! Kamu harus memiliki tenaga banyak untuk menjaga Valonia. Kita tidak tahu kemungkinan terburuknya saat dia bangun nanti." Papi Zaki ikut bersuara mencoba membujuk suami Valonia itu.


"Pi, kira-kira apa kemungkinan terburuknya?" Sungguh, pertanyaan itu mewakili kekhawatiran yang membelenggu hati Keyan sejak tadi. Ia takut pada jawaban yang akan membuat dirinya kehilangan dunianya juga.


"Efeknya pada kejiwaan. Semoga saja tidak." Sahut Sonny. "Jika dia tidak bisa mengalahkan rasa sedih dan menepis rasa bersalahnya. Tidak menutup kemungkinan dia akan depresi."


Keyan mengusap wajahnya kasar. Jawaban Sonny membuat jantungnya hampir saja berhenti berdetak. Ini bukan jawaban yang di inginkannya. Rasa dadanya sesak, nafasnya seolah tertindih ribuan batu. Keyan melemparkan tatapannya ke segala arah berusaha melapangkan cekikan di lehernya. Matanya berembun dan hampir saja meluap kepermukaan wajahnya. Keyan berusaha menahan lajunya embun itu mencair dengan menengadahkan wajahnya ke atas. Sambil menghembus nafas panjang, untuk menahan gejolak di hatinya yang hampir saja merobohkan dinding pertahanannya.


"Bagaimana kondisi Valo?"


Suara Varen di ambang pintu menarik  perhatian mereka. Semua mata menatap ke arahnya, laki-laki itu datang dengan baju yang masih ia kenakan siang tadi. Wajah lelahnya sungguh terlihat nyata.


"Ren, kamu belum pulang dan ganti baju?" Mami Dilla menghampiri putranya itu dan menuntunnya duduk di sofa.


"Belum, Mi. Aku harus mengurus sesuatu. Apa Valo belum bangun ?"


"Belum, sejak tadi masih seperti itu. Sekarang kamu mandilah. Biar gantian sama Keyan. Tadi Mami bawa baju ganti dan makanan. Ajak Keyan makan juga." Mami Dilla menyampir handuk di bahu Varen.


Tanpa bantahan Varen masuk ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya yang amat lelah hari ini. Lebih lelah dan tak percaya lagi, jika kejadian hari ini terkait pada istri Levin. Fanny, wanita dewasa dan lembut. Yang Varen tahu dia adalah sosok penuh perhatian dan baik hati.


Hampir sepuluh menit, Varen keluar dengan tubuh segar. Ia melangkah menghampiri Keyan lalu menyentuh pundak laki-laki itu. "Mandi dan mari kita makan. Percayalah, Valonia akan baik-baik saja. Sepupuku ini wanita hebat dan tangguh tak mudah untuk lawan menumbangkannya." Tangan Varen terangkat mengelus sayang pucuk kepala Valonia Jasmine.


Keyan menghela nafas panjang dan mengangguk. "Ya, kamu benar. Istriku wanita hebat dan kuat, ini tidak seberapa untuknya." Ia berusaha mengibur hatinya sendiri. "Mama Merry juga makan ya. Ini bukan salah Mama jangan sedih lagi." Keyan juga menghibur Mama mertuanya.


Di kamar mandi, di bawah guyuran air. Pertahanan Keyan akhirnya runtuh juga. Bayangan wajah istrinya menari dibenaknya, Valonia yang selalu tersenyum. Berkata lembut dan memperlakukannya penuh kasih sayang. Tempatnya bermanja serta berkeluh kesah. Hari ini istri yang dicintainya itu tumbang tak berdaya. Mungkin fisik tak terluka. Tapi mental yang terguncang.


Tangis Keyan pecah meski tak bersuara. Pria tampan itu bersimpuh di lantai tak bisa terbayang jika hal terburuk akan terjadi pada Valonia Jasmine. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Sementara dunia Keyan adalah istrinya. Kebahagiaan Keyan adalah Valonia Jasmine. Jika wanita yang menjadi dunianya itu kacau bagaimana nasib dirinya ?


"Levin."


Semua orang yang ada di ruangan itu melihat ke arah laki-laki yang terlihat menyedihkan di ambang pintu. Matanya sembab dengan bibir yang pucat. Manik mata Levin mengarah hanya ke satu orang yaitu Valonia Jasmine. Bak zombi Levin begitu kacau dan berantakan.


"Bang." Varen meletakan piring nasinya lalu menghampiri laki-laki itu di ambang pintu.


Levin tertatih melangkah dengan tatapan yang tak lepas dari Valonia Jasmine. Semua orang nampak bingung termasuk Keyan. Semua tanya bersarang di otak mereka. Ada apa? Kenapa Levin sekacau ini?


"Jasmine." Levin menjatuhkan dirinya di lantai. Ia menyamakan tingginya dengan brankar. "Maafkan aku. Karena diriku, kamu mengalami ini semua." Pita suaranya terdengar bergetar dan pelan. Netra nya menatap sendu tanpa berani menyentuh kulit Valonia.


"Apa maksudmu, Bang ?" Keyan menghentikan makannya. Laki-laki ini langsung beralih menghadap pada Levin. Iris matanya menatap penuh penasaran.


"Tita dan Sindy tahu rahasia ini dari Kak Fanny." Sahut Varen berdiri diantara Levin dan Keyan. Tak dipungkiri dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia kecewa dan marah pada Fanny. Namun Varen menahannya demi Levin.


Semua mata terbelalak tak percaya. Kenapa Fanny yang lembut bisa setega itu? Apakah Valonia ada kesalahan?


Keyan mengepalkan tangannya. Tak percaya jika istri Levin bisa berbuat semacam ini. Kenapa ia tega mengungkapkan fakta itu? Tanpa memikirkan efek yang akan diterima Valonia.


"Kenapa dia melakukan itu?" Keyan segenap tenaga mengenyahkan amarahnya. Laki-laki itu membuang pandangannya ke segala arah.


"Dia terhasut oleh kata-kata Tita dan Sindy. Dia juga cemburu karena selama ini aku selalu memberi perhatian pada Jasmine. Padahal, Fanny tahu jika aku dan Jasmine tidak memiliki hubungan apa-apa. Hanya Jasmine dan keluarganya yang aku miliki dari dulu hingga saat ini." Jelas Levin yang kini duduk sempurna di atas lantai dingin ruangan itu. Ia menunduk tak kuasa mengangkat wajahnya. Rasanya begitu sakit mengetahui kenyataan jika istrinya pemicu kejadian hari ini.


"Bang, aku tidak menyalahkan kamu. Tapi aku kecewa pada istrimu yang tidak mempercayai kamu sebagai suaminya. Andai pun Jasmine memang berniat jahat, maka dia tak akan mau menikah denganku." Keyan berusaha dewasa menghadap situasi ini.


"Keyan benar, Bang. Kami juga tahu perhatian kamu pada Valonia selama ini. Andai kamu masih ada perasaan padanya. Tidak mungkin kamu mau hidup bersama Kak Fanny. Dia hanya cemburu kebetulan ada yang memanfaatkannya." Varen berusaha menghibur Levin yang nampak bersalah.


"Nak, bagi Tante kamu adalah seorang putra. Jadi, tenangkan dirimu. Jangan seperti ini lagi, Tante akan menceritakan kejadian kecelakaan itu ketika Valo sudah bangun. Semoga ini membantu mengeluarkan dia dari kesedihannya." Mama Merry merangkul pundak Levin dan membawanya duduk di sofa.


"Jangan menyalahkan dirimu. Sekarang makanlah. Jangan seperti ini." Papi Zaki mengusap lembut bahu Levin.


Perlahan-lahan hati Levin menghangat di tengah keluarga yang tak sedarah dengannya. "Aku tidak akan pulang sebelum dia menyadari kesalahannya."


"Kamu perlu menenangkan diri. Tapi jangan terlalu lama. Tidak enak dengan keluarga mertuamu dan Fendi juga pasti mencari mu. Kamu pulang ke rumah untuk sementara waktu. Biar nanti Mami yang akan mengabari Fanny." Mami Dilla meletakan piring yang penuh makanan. Ia dapat mengerti perasaan Levin saat ini.


"Bunda, sama Mama Merry nanti tidur di rumah saja." Keyan tak berselera melanjutkan makannya kembali.


"Mama di sini saja." Tolak Mama Merry. Ia masih ingin menemani dan memantau perkembangan Valonia.


"Kalau begitu Bunda juga tidur di sini." Seru Bunda Arini juga ingin ikut bergabung di rumah sakit menemani menantunya.


"Tidak Bun, nanti Ayah akan marah. Jadi Bunda tidur di rumah saja."


Raut wajah Bunda Arini berubah, ia masih memiliki tanggung jawab di rumah. Ya, Dia harus pulang karena ada suami yang harus ia tunggu di rumah.


"Baiklah, sepertinya Bunda pulang sekarang. Hujan juga sudah reda." Bunda Arini tersenyum menyentuh pundak putranya.


"Sekalian sama aku saja Tante." Sahut Varen cepat. "Key, malam ini aku tidak bisa menemanimu." Sambungnya lagi menoleh ke arah Keyan.


"Iya, kamu tenangkan Bang Levin dulu."


Setelah sepakat, kini Varen dan yang lainnya meninggalkan rumah sakit. Di ruang rawat Valonia hanya tersisa Mama Merry menemani Keyan.


Ibu Merry mulai terlelap di atas sofa. Sementara Keyan belum merasa mengantuk. Ia menggenggam tangan istrinya yang telah tidur beberapa jam. Ia berharap istrinya cepat bangun dan tersenyum padanya.


"Sayang bangunlah ! Aku di sini membutuhkanmu, merindukanmu, mencintaimu. Bangunlah sayang. Jangan membuat aku takut." Keyan mengecup buku-buku jari istrinya dengan lembut.


"Key."


Keyan menoleh ke asal suara. Ia melihat Endi melangkah masuk dengan perlahan-lahan. Laki-laki itu sudah berganti baju dan menenteng beberapa camilan.


"Bagaimana Derry dan ibu Marisa ?"


"Mereka sudah menempati apartemen mu. Tidak banyak barang yang mereka bawa. Jika dilihat mereka memang dalam kesusahan, aku jadi penasaran, siapa laki-laki yang menelantarkan mereka? Dengan tidak bertanggung jawab seperti itu." Endi nampak geram ketika mengingat kejadian di unit apartemen ibu Marisa.


"Entahlah, mereka juga enggan memberitahu kita siapa orang itu. Mungkin, Derry bisa mengatasinya. Yang penting surat perjanjian itu tidak hilang."


Endi mengangguk. "Kamu benar, mereka hanya butuh perlindungan. Semua sudah beres, aku rasa tidak mungkin ada yang berani mengusik mereka jika tinggal di unit apartemen mu."


"Semoga saja."


"Aku juga tidak menyangka jika Tita dan Sindy melakukan ini semua. Jadi, apa langkahmu selanjutnya?" Endi bertanya sambil memakan camilan yang ia bawa.


"Menuntutnya atas kejadian hari ini dan kejadian saat butik diserang oleh beberapa orang."


"Aku akan membuat pelaku pelemparan itu bersaksi untukmu. Malam ini juga, dia akan diamankan. Agar tidak ada yang mengincarnya." Endi segera mengeluarkan ponselnya lalu memberi perintah para keamanan JFB untuk membawa pelempar batu itu ke suatu tempat.


"Terimakasih, En."


"Siapa yang memberitahu Tita dan Sindy tentang kecelakaan itu ?" Tanya Endi sambil kembali memakan camilannya.


"Fanny, istri Bang Levin. Andai aku tidak mengingat kebaikan Bang Levin selama ini pada istriku. Akan kupastikan mengirim istrinya itu untuk menemani Tita dan Sindy."


"Bagaimana kondisi istrimu setelah kejadian tadi?" Endi membuka tutup botol dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara.


"Masih seperti ini."


Endi menghela nafas panjang. "Istirahatlah,  Aku belum mengantuk. Nanti jika Valo bangun. Aku akan membangunkan mu."


Keyan mengangguk. Karena memang kelopak matanya terasa berat. Ia langsung naik ke atas kasur berbaring miring untuk menghadap istrinya. Ia rela menyempil di ranjang pasien asalkan bisa dekat dengan istrinya.