
Awan berubah warna, Matahari muncul di sela-selanya. Menjemput dari kegelapan malam. Sepoi udara pagi sejuk sangat alami dan belum terkontaminasi. Burung-burung berterbangan mencari makan. Hal sama pun dilakukan oleh tiap insan berikhtiar di atas bumi.
Pagi ini disambut dengan cerahnya sang mentari. Penuh semangat dan energi baru. Keyan mengayunkan langkah menuju ruangan tempatnya bekerja. Senyum penuh pesona di wajahnya lenyap tanpa bekas, kejadian kemarin membuatnya terusik. Ia belum menjadi apa-apa untuk berdiri di samping gadis pujaan hatinya itu.
...----------------...
Kilas Balik
Mobil Varen berhenti di depan Jasmine Boutique dan tak lama disusul mobil Keyan. Sepupu Valonia ini nampak sangat marah. Andai dia terlambat bisa saja Sindy berbuat lebih seperti dulu saat gadis itu mengurung Rara di toilet.
"Valo, naiklah ! Malam ini aku yang menemanimu." Varen melepaskan coat milik Keyan dari pundak sepupunya itu.
Tanpa menjawab hanya mengangguk pelan, Valonia mematuhi perintah Varen. Ia menoleh sebentar pada Keyan yang menatap sendu padanya. Valonia tersenyum lalu berbalik menaiki anak tangga. Keyan tidak mengalihkan pandangannya pada punggung Valonia sampai gadis itu sudah berada di lantai tiga.
Setelah memastikan Valonia masuk, Varen duduk di anak tangga. Netra nya langsung menajam pada Keyan .
"Key, kejadian malam ini jangan sampai terjadi lagi !"
"Aku minta maaf, ini luar dugaan ku."
Keyan merasa bersalah. Sedikit ia petik dari kejadian ini, batalnya pertunangannya dan Tita. Akan memberikan efek negatif pada Valonia. Orang akan memandangnya sebagai perebut calon suami orang. Padahal gadis itu tidak tahu apa-apa.
Varen menghela nafas panjang lalu berkata. "Untuk berdiri di samping Valonia kamu harus tegas dan kuat. Selama ini, seperti itulah peranku berada di sampingnya. Valonia pernah jatuh dan terpuruk, saat itu papa Danu meninggal. Dia koma dan Tante Merry depresi. Butik ini hampir bangkrut, tidak ada yang mengurusnya. Setelah Valonia sadar, ia bekerja tanpa henti sambil kuliah. Beruntung Mia ada bersamanya hingga pelan-pelan ia bangkit lagi dan bisa seperti ini. Aku harus menjadi kuat untuknya, sebagai teman, saudara, ayah dan ibu, aku juga menjadi guru untuk membantunya kembali belajar dan kuliah."
Keyan merasa tubuhnya lemas. Ya ! Benar yang dikatakan Varen. Ia harus lebih kuat untuk melindungi Valonia, terlebih sekarang efek batalnya pertunangannya dan Tita otomatis menyeret gadis itu.
"Aku tidak tega, karena Sindy wanita."
"Kamu harus bisa tegas ! Wanita bisa jadi kekuatan kita dan juga bisa jadi kelemahan. Tinggal kamu yang menempatkan bagaimana mengambil sikap ! Sekarang sudah malam, pulanglah. Pikir kata-kataku dengan tenang. Kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri dengan membangkang atas aturan ayahmu. Mereka tahu alasanmu melakukan itu karena perasaanmu pada Valonia. Jadi, suatu hari nanti dia juga akan menghadapi masalah yang besar dan kamu harus siap untuk itu."
Kilas Balik selesai.
...----------------...
"Ada masalah ?"
Suara Alvan membuyarkan lamunan sahabatnya itu. Keyan melepaskan pena di tangannya. Lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Tadi malam, aku bertemu Tita dan Sindy. Saat aku dan Jasmine jalan-jalan. Sindy menghujatnya dan Varen tiba-tiba datang lalu mencekik Sindy. Dia sangat mengerikan."
"Kamu baru tahu Varen seperti itu ? Dia akan mengerikan jika menyangkut Valonia. Andai aku ada di sana mungkin akan berbuat sama. Karena aku tidak akan membiarkan orang yang aku sayangi terluka hatinya. Ingat, Key ! Ini hanya masalah kecil entah nanti apa yang kalian hadapi. Jadi kamu harus memiliki pondasi yang kuat untuk Valonia. Karena secara tidak langsung kamu menempatinya dalam masalah."
Alvan menepuk pundak Keyan. Ia berharap sahabatnya mengerti dengan apa yang ia maksud. Ia juga menyesal karena sempat mendorong Keyan agar bertunangan dengan Tita. Waktu itu Alvan benar-benar tidak tahu jika benci yang disebutkan Keyan masih ada cinta yang besar tersimpan.
"Kamu benar."
Keyan tersenyum. "Tidak apa-apa, aku saja yang labil. Harusnya aku menelaah isi hatiku yang sebenarnya hingga tidak ada yang tersakiti. Di sini Tita lah yang merasakannya." Sesalnya begitu dalam.
"Menurutku kamu harus bicarakan dengan Tita sebaik mungkin. Minta maaflah dengan benar, agar tidak jadi dendam." Usul Alvan. Di balas anggukan dari Keyan.
"Al, aku ingin berbisnis. Sekarang aku menemukan peluang untuk terjun ke dunia usaha."
"Aku mendukungmu, memangnya peluang apa yang kamu temukan ?"
Alvan dan Keyan mengganti topik pembicaraan. Mereka membahas tentang dunia usaha. Kini Keyan bertekad untuk berbisnis dan bisa mendapatkan pengakuan dari ayahnya. Bahwa seorang Keyan Ganendra juga bisa sukses.
"Aku ingin membuat perhiasan. Aku mengambil gambarannya dari kuncup bunga Melati. Sudah ada sketsa yang aku gambar. Tidak hanya perhiasan tapi aksesoris lainnya." Keyan membuka laci mejanya. Lalu memberikan lembaran sketsa yang telah ia buat.
Alvan tersenyum kemampuan sahabatnya itu sangat baik. "Sangat bagus, Key. Biar aku tebak, apa ini juga ada kaitannya dengan Valonia ?" Laki-laki ini mengamati hasil gambaran Keyan. Tiap sketsa perhiasan itu di beri sentuhan kuncup bunga Jasminum.
"Benar sekali, ini ada kaitannya dengan Jasmine. Aku mengambil tema perhiasan itu dari kuncup Jasminum. Lalu memberinya nama, kuncup Jasminum.
"Kamu harus mendapatkan sertifikat kepemilikan dulu, Key."
Suara Pak Andre mengejutkan Keyan dan Alvan. Mereka langsung berpindah duduk di sofa. Entah sejak kapan pria paru baya itu sudah berdiri di ambang pintu.
"Papa mendengar semuanya ?"
"Iya. Rencana yang bagus." Puji pak Andre. Dalam hatinya bangga dengan jiwa bisnis dalam diri Keyan.
"Bagaimana caranya, Om ?"
"Membuat perhiasan dengan gambaran yang kamu inginkan, harus membuat sertifikat kepemilikan. Agar karyamu tidak mudah dijiplak. Temui lembaga sertifikat agar mengeluarkan sertifikat atas namamu. Serta berikan bukti jika karya itu benar milik kamu." Jelas pak Andre.
Keyan mengangguk paham. Sekarang ia mengerti langkah-langkah apa saja yang harus ia ambil lebih dulu. Keyan semakin bersemangat. Jika dirinya berhasil, maka impiannya adalah bisa membuat pertunjukan besar suatu hari nanti.
...----------------...
"Jadi, dia benar-benar bersama gadis itu ?"
"Iya, Om. Aku bertemu dengannya tadi malam."
Ayah Johan nampak geram duduk di kursi kebesarannya. Ia sudah meminta pada pak Andre agar menolak Keyan saat ingin bekerja di sana. Tapi Pak Andre menolak mentah-mentah permintaan ayah Johan. Tita menundukkan kepalanya ketika melihat wajah Ayah Johan kemerahan.
"Kamu tenang saja. Om, akan mengembalikan semuanya seperti semula."
"Terimakasih, Om."
Tita tersenyum senang. Setelah mendengar perkataan Ayah Johan. Gadis itu dengan langkah ringan keluar dari ruangan itu.