Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Teman rasa Mama Mertua



Matahari menyembul malu di balik awan di ufuk timur. Cahayanya menyelusup di sela ventilasi udara. Energinya memberi rasa hangat alami yang bermanfaat bagi tubuh. Tak ingin melewati waktu baik itu, Keyan membangunkan Valonia.


"Sayang, ayo berjemur. Masih jam enam pagi." Keyan mengecup lembut pipi mulus Valonia. Lalu bergantian mengecup penuh cinta perut ratanya. Tangannya terulur mengusap menyalurkan rasa sayangnya pada sang calon buah hati.


"Aku masih nyaman di kasur." Tolak Valonia. Ia menarik selimut hingga batas dadanya. Matanya masih terpejam melanjutkan tidurnya.


Keyan tidak kehabisan akal. Balkon kamar mereka tepat kena pantulan sinar matahari. Ia membuka pintunya lalu mengatur kursi. Tanpa aba-aba, dia langsung menggendong istrinya. "Kita berjemur sayang, biar kamu sehat." Ia meletakkan tubuh istrinya dengan hati-hati.


Valonia tersenyum sambil terpejam. Ia tidak mau membuka matanya karena akan merasa pusing. Valonia menyandarkan tubuhnya di dada Keyan. Membiarkan matahari menghangatkannya. Di atas meja sudah ada dua gelas susu yang akan mereka minum. Satu gelas yang masih hangat dan satu memang dingin diberi es batu. Agar susu itu lancar melewati tenggorokan Valonia.


"Kamu harus mendapatkan sinar matahari sayang, biar sehat." Keyan mengecup lembut pucuk kepala istrinya. Tangan kanannya menempel di perut Valonia.


"Aku tidak bisa melihat terangnya cahaya matahari secara langsung." Valonia semakin mencari posisi nyaman di dalam pelukan suaminya. Sekali pun ia tidak berniat membuka matanya.


Keyan tertawa. "Sepertinya nanti bayi kita akan lucu."


...----------------...


Siang menjelang menghentikan aktivitas untuk sejenak. Seluruh pekerja meluangkan waktu untuk mengisi amunisi agar bisa berperang melawan tumpukan pekerjaan.


Di Jasmine Boutique, Valonia dan Sera baru selesai merancang gaun yang kemarin dipesan klien mereka. Sambil berdiri mengelilingi patung tempat mereka merekat kain-kain yang akan di jahit. Valonia melirik jam di pergelangan tangannya.


"Ser, ajak yang lainnya untuk makan  lebih dulu. Sudah siang, nanti kita lanjutkan. Polanya sudah terbentuk tinggal dijahit saja. Ketika menjahit perhatikan kerapiannya dan kekuatan benangnya."


"Iya, Kak. Sekarang aku mengerti kenapa gaun seperti ini mahal. Tahap pengerjaannya pun tidak mudah." Sera merapikan kain-kain yang berserakan dilantai.


"Kak, di bawah ada Kak Alvan." Seru Mia mengetuk pintu ruang kerja Valonia.


"Al, suruh dia masuk."


Mia mengangguk lalu kembali ke bawah. Seperti biasa Alvan jika berkunjung sendiri tidak langsung masuk ke lantai dua. Tak ingin mendengarkan pembicaraan yang serius, Sera juga menyusul untuk ke bawah.


"Valo." Alvan tersenyum melambaikan tangannya di balik daun pintu. Tangannya mendorong pintu kemudian melangkah masuk.


"Sendiri?"


"Iya, aku ke sini membawakan ini untukmu." Alvan meletakkan sekeranjang buah segar. Bibirnya tersenyum sambil melemparkan tatapannya ke segala arah. Seolah mencari yang tidak ada


"Mencari siapa?"


Alvan berdehem lalu menegakkan duduknya. "A—aku ingin ke kantor Keyan. Kamu mau ikut ?" Tawarnya dengan bibir tersenyum.


Valonia menatap penuh selidik, Alvan akhir-akhir ini sering berkunjung di butiknya. Sama halnya dengan Endi. Atau pun Sonny. Ada apa dengan tiga laki-laki ini?


"Valo tidak akan kemana-mana ?"


Valonia dan Alvan langsung menoleh ke arah pintu. Di sana Varen berdiri dengan membawa rantangan makanan. Kening Valonia berkerut melihat kedatangan sepupunya itu. Kali ini wajah Varen nampak senang dan bahagia. Ada binar cinta di matanya baru saja berkembang.


"Kenapa? Aku hanya ingin mengajak Valonia ke kantor suaminya. Itu pun dia tidak sendiri nanti ada karyawannya yang ikut menemani." Alvan menggeser tubuhnya di ujung sofa.


"Aku juga butuh Valo." Varen tidak mau kalah. Kali ini ia akan menahan sepupunya itu.


"Valonia aku merindukanmu..." Lengkingan suara di ambang pintu begitu mengejutkan.


"Kenapa? Aku merindukan Valonia." Jawab Sonny santai. "Ini aku bawakan kamu ubi yang banyak." Laki-laki itu meletakan ubi di atas meja. Terlihat ubi itu baru saja dimasak karena asapnya masih mengepul.


"Sekarang katakan tujuan kalian kesini?"


"Aku ingin mengajakmu ke kantor Keyan, tapi ajak juga Nanda." Alvan nampak malu-malu mengatakan tujuannya.


"Jadi kamu akan menjadikanku obat nyamuk ?!"


"Bu—bukan begitu. Di sana kamu bisa bertemu Keyan dan aku akan mengajak Nanda makan siang." Alvan merasa gugup. Benar kata Endi berhadapan dengan Valonia seakan berhadapan dengan calon ibu mertua.


Valonia tidak menjawab, ia langsung berdiri dan melangkah menuju meja kerjanya. Tiga laki-laki di ruangan itu menelan saliva nya karena Valonia tidak membuka suara. Bisa saja mereka langsung pada tujuan membawa orang yang akan diajak makan siang. Namun pegawai Valonia rata-rata menurut pada owner Jasmine Boutique itu. Karena saat ini Valonia adalah wali mereka.


"Nanda, naiklah ke lantai dua."


Alvan terbelalak. Ia segera merapikan jasnya lalu menegakkan duduknya. Tangannya juga mendarat di atas kepalanya memastikan tatanan rambutnya masih rapi. Jantungnya berdegup kencang ketikan nama gadis yang menggetarkan hatinya sebulan lalu disebut Valonia.


"Ada apa, Kak?" Nanda masuk setelah mengetuk pintu. Ia menganggukkan kepala pada tiga laki-laki tampan yang duduk di sofa.


"Al, kesini ingin mengajakmu makan siang. Pergilah ! Dia sudah menyuap ku dengan sekeranjang buah."


Nanda menunduk malu. Rasanya ingin segera membebaskan diri dari ruangan itu. Tak dipungkiri jantungnya pun bertalu mendengar nama Alvan.


"Baik, Kak. Terimakasih." Nanda menoleh kepada Alvan yang menatapnya sambil tersenyum.


"Terimakasih Mama mertua. Aku pergi dulu." Alvan penuh semangat berdiri dari tempatnya duduk.


"Kembalikan dia tepat waktu."


...----------------...


Kilas Balik


Nanda bertugas mengantarkan makanan ke rumah sakit atas perintah Varen siang itu. Ia langsung masuk ke ruangan Valonia. Kabar datangnya Tita dan Sindy ke rumah sakit sudah sampai ditelinga mereka.


"Kak, jangan seperti ini." Lirih Nanda menggenggam tangan Valonia yang betah dalam tidurnya. "Siapa yang akan mengurusku jika kakak sakit. Kami butuh Kak Valo." Ia berdiri lalu mengecup kening Valonia dan meraih rantang yang akan diberikan pada Alvan. Nanda masuk ke dalam ruangan Alvan bertepatan dengan Pak Andre yang akan kembali ke kantor. "Om, ini ada titipan Kak Varen untuk Om dan Kak Alvan." Nanda meletakan rantang makanan itu di atas meja.


"Terimakasih, Nak. Padahal Om bisa beli di kantin. Kalau begitu makanannya Om bawa saja ke kantor."


"Baik, Om. Biar aku pisahkan dulu." Nanda memisahkan makanan untuk dibawa Pak Andre.


Dalam diam Alvan tersenyum melihat perhatian Nanda pada Papanya. Tak hanya sekali. Namun berkali-kali. Tidak ada kecanggungan diantara mereka. Pak Andre pun nampak menyukai pribadi Nanda yang baik. Usai menerima kotak makanan, Pak Andre langsung berangkat ke kantor.


"Terimakasih, Nda." Alvan tersenyum tulus dari atas brankar nya. Ia berusaha duduk dengan nyaman.


"Sama-sama, Kak. Kalau begitu aku pamit dulu." Nanda berniat meninggalkan ruangan Alvan.


"Tunggu, Nda. Apa kamu ada waktu luang. Temani aku sebentar, nanti Sonny juga ke sini."


Nanda mengangguk, dari situlah kedekatan Alvan dan Nanda dimulai. Mereka saling memperhatikan dan merasa nyaman satu sama lain. Tak jarang mereka terlibat adegan canggung.


Kilas Balik selesai