Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Belum cukup kuat



Tetesan hujan malam ini seolah tahu, jika ada hati yang tengah terluka. Langit begitu mendukung muramnya sang pemilik hati. Tangis yang meledak - ledak di dalam kamar gelap sama persis dengan cuaca malam ini. Gelap gulita tak ada bulan maupun bintang. Hanya ada suara tetesan hujan dan dentuman petir.


Tita pulang dengan berderai air mata, saat perjuangannya hari ini tidak membuahkan hasil. Rencana yang ia susun jauh hari gagal begitu saja. Gadis ini berharap bisa membawa Keyan ketengah keluarganya setelah enam bulan hidup sendiri.


"Ta, jangan begini, Nak ! Ayo keluar makan malam dulu." Ibu Tania sudah berulang kali mengetuk pintu kamar putrinya. Namun tidak ada sahutan dari dalam sana.


"Dia belum keluar juga?" Pak Anton menghampiri istrinya yang berusaha mengetuk pintu lagi.


"Iya, Pa. Bagaimana ini ? Kita harus bicarakan pada Johan dan Arini. "Ibu Tania mulai putus asa untuk membujuk putrinya.


Pak Anton menghela nafas berat sambil mengangguk. "Baiklah, kita akan membicarakannya pada Johan." Pria paruh baya itu menuruni anak tangga sambil meraih ponselnya di dalam saku celana.


...----------------...


Selepas kepulangan Tita dari butik, Valonia langsung menelpon Keyan. Ia mengatakan jika perlu bicara serius. Di sinilah laki-laki tampan ini berada, Keyan dengan senang hati memenuhi panggilan wanita pujaannya itu.


"Kamu mau bicara apa ?" Keyan menjatuhkan tubuhnya di samping Valonia. Tangannya terulur mengambil camilan yang ia beli.


"Tentang Tita."


Keyan menegakkan posisi duduknya. "Tita, kenapa dia ?" Tanyanya heran. Kenapa Valonia membahas gadis itu malam ini. Merusak suasana hati saja pikirnya.


"Dia datang ke sini tadi sore. Aku tidak tahu masalah di antara kalian. tapi jangan libatkan aku di dalamnya." Valonia beranjak dari tempatnya duduk lalu melangkah ke arah pintu balkon dan melihat pantulan hujan.


"Dia mengatakan apa ?" Dada Keyan berdebar-debar tak karuan ada rasa takut menyelinap di dalam hatinya. Takut jika kedatangan gadis itu mempengaruhi kesehatan Valonia Jasmine.


Valonia menoleh pada Keyan. "Memintaku melepaskan mu. Diantara kita tidak ada apa-apa. Lalu Atas dasar apa dia memintaku untuk melepaskan mu ?" Ia tertawa pelan.


Netra Keyan berkaca-kaca. Inilah posisi tersulit nya. Kisah dirinya dan Valonia sudah ada sejak lima tahun lalu. Tapi untuk gadis ini mereka baru dipertemukan saat ini. Haruskah ? Keyan menceritakan semuanya.


"Begini Jasmine, kita sudah mengenal sejak lima tahun lalu. Saat itu kita masih SMA, Aku menyukaimu sejak itu. Tapi kita terpisah karena aku melanjutkan di Amerika. Orang tuaku menjodohkan aku dengan Tita. Namun, hatiku tidak menerimanya. Maka dari itu orang tuaku mengusirku dari rumah karena membatalkan rencana pertunangan itu. Kenapa diawal pertemuan kita kemarin aku bersikap kasar. Karena aku kecewa padamu sudah pernah menolak ku." Akhirnya Keyan memutuskan untuk menceritakannya dari pada Valonia dalam kebingungan.


"Aku pernah menolak mu ?" Valonia tidak percaya begitu saja. Bagaimana bisa ? Pertanyaan itu terlintas di pikirannya.


"Iya, saat SMA. Aku mengutarakan perasaanku. Tapi kamu menolak ku." Ujar Keyan berusaha menutupi rasa malunya karena pernah ditolak.


"Karena kamu tidak memiliki perasaan padanya. Kalian tidak dekat, wajar saja kamu lupa." Sahut Varen tiba-tiba masuk. Tatapan laki-laki itu terlihat garang pada Keyan.


Keyan dan Valonia terkejut mendengar suara Varen. Terlebih tatapan tidak bersahabat itu terpancar dari netra nya.


"Ren, kamu menginap?" Valonia langsung menghampiri sepupunya itu. Melupakan pertanyaan yang ia lontarkan tadi pada Keyan.


"Aku menjemputmu, Mami merindukanmu. Setelah hujan reda baru kita pergi." Varen meraih handuk untuk menyeka wajahnya. "Val, buatkan teh, cuacanya dingin." lanjutnya lagi.


"Baiklah." Valonia bergegas pergi ke dapur.


Varen kembali menoleh pada Keyan di sebrang sofa. Laki-laki itu tahu jika dirinya salah dengan menceritakan masa lalu. Tapi dia tidak punya pilihan.


"Aku sudah mengatakan, Jadilah kuat dulu baru kamu layak berdiri di samping Valonia." Tekan Varen. Emosinya terlihat sekali dari sikapnya.


"Maaf, aku tidak tahu cara apa lagi agar Valonia tahu jika permasalahan yang datang padanya ada sangkut pautnya denganku." lirih Keyan menunduk. Dia hanya tidak ingin gadis itu bingung karena tiba-tiba orang menyudutkan seperti yang dilakukan Tita hari ini.


"Key, dengan kamu menceritakan masa lalu, itu sama saja secara tidak langsung kamu memaksanya untuk mengingat kembali. Padahal kamu tahu kami tidak berniat memaksanya untuk mengingat semua yang telah dilupakannya. Kami tidak pernah mengatakan jika dia hilang ingatannya."


"Lalu bagaimana ?" Keyan tiba-tiba bingung. Ia merasa menyesal, harusnya ia memikirkan alasan logis yang bisa Valonia terima.


"Untuk sementara, jauhi Valonia. Lanjutkan rencana mu. Setidaknya akan memberi aman untuk sepupuku dengan kamu menjauhinya maka Tita atau keluargamu tidak menyentuh Valonia. Kamu belum memiliki kekuatan apa pun untuk melindungi Valo saat ini. Aku yakin, setelah kejadian hari ini Tita dan keluarga mu tidak tinggal diam lagi. Mereka akan mencari cara untuk kamu kembali dan menuruti keinginan mereka."


"Kamu sudah tahu ?" Keyan terhenyak


"Valonia tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku. Ini awal permasalahan untuknya. Entah siapa lagi besok yang datang menemuinya."


Keyan terdiam, sampai Valonia datang membawa dua cangkir teh hangat. Netra Keyan menatap lekat gadis pujaan hatinya ini. Varen benar, setidaknya Keyan punya kekuatan untuk melindungi gadis itu. Untuk sementara biarlah mereka berjauhan. Sambil menyusun rencana per-bisnisannya. Keyan juga akan melihat sampai mana keinginan  Ayahnya untuk tetap memaksanya.


...----------------...


Silau mentari pagi, menyapa laki-laki yang tengah terlelap di atas kasurnya. Ia menggeliat sembari membuka mata nya perlahan. Ya. Dia lah Keyan. Tanpa membuang waktu lagi laki-laki ini bersiap untuk pergi ke kantor. Tak lupa, Ia menyiram bunga-bunga yang memberikan nya ketenangan. Keputusan sudah ia ambil semalam. Untuk sementara Keyan akan menjauhi Valonia, agar gadisnya aman dan nyaman. Dia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.