
Kelopak mata Valonia yang terasa berat tak bisa ia tahan. Ia pun tertidur hingga tak merasakan getaran ponselnya di dalam tas. Pak Ardi tersenyum melihat wajah lelah Valonia, ia sangat ingat pesan dari Keyan jika istrinya tertidur maka jangan dibangunkan tapi harus dijaga dengan baik, maka dari itu suami Valonia memilih pegawai yang berkerja dengan nya orang yang dapat dipercaya.
Mengingat Keyan, Pak Ardi sangat bersyukur memiliki atasan yang baik dan pengertian. Keyan tahu membalas kebaikan orang lain. Karena itu lah Pak Ardi juga tahu membalas kebaikan Keyan dan Valonia.
Pak Ardi melirik di kaca spion ada mobil yang mengikuti mereka sejak tadi. Awalnya tak ada kecurigaan. Namun, mobil itu masih mengikuti hingga kejalan menuju kediaman Keyan dan Valonia. Perasaan Pak Ardi tiba-tiba menjadi tidak nyaman. Sambil berkonsentrasi menyetir, ia juga melirik mobil yang masih mengikuti di belakang.
Perhatian Pak Ardi teralihkan dengan deringan ponselnya. Ia melihat nama Keyan tertera di sana. Namun, sialnya ponsel itu kehabisan daya saat akan menjawab. Pak Ardi berusaha mencharger ponselnya, hingga tak menyadari jika mobil yang mengikuti mereka sudah menyalip di depan.
Pak Ardi berusaha mencari celah untuk mendahului mobil itu. Namun, sopirnya seolah menutup jalan. Sebentar lagi mereka akan sampai di kawasan tempat tinggal Valonia dan Keyan. Tapi mobil di depan mereka tak mau mengalah.
Pak Ardi menginjak pedal gas begitu ada celah untuk menyalip. Tapi sayang, perhitungan pria paru baya itu meleset. Mobilnya terbentur dengan badan mobil di depannya. Valonia terbangun dari tidurnya.
"Ada ada Paman ?" Valonia mengucek matanya agar penglihatannya jelas. Ia juga terkejut karena merasakan goncangan dari badan mobil.
"Kita sepertinya dihadang rampok, Nyonya ! Sejak tadi mereka mengikuti kita. Saya lambat menyadarinya. Jalanan lumayan sepi, jadi mereka menutup jalan mobil kita."
"Ba—bagaimana ini Paman?" Valonia mulai ketakutan. Inikah perasaan tak nyamannya tadi ? "AWAS PAMAN !" Teriak Valonia ketika mobil di hadapan mereka berhenti tiba-tiba.
"Nyonya, apa anda terluka?" Pak Ardi panik tak bisa mengendalikan mobil mereka. Hingga menabrak mobil yang tadi berhenti tiba-tiba.
"Iya, saya baik-baik saja. Mereka turun Paman ! Bagaimana ini ?" Valonia semakin panik. Ia berusaha merogoh ponselnya di dalam tas. Karena perasaan takut sudah melandanya. Tangan Valonia bergetar alhasil ponsel pun terjatuh.
"Tenang Nyonya. Saya akan hadapi mereka, begitu ada celah anda lari. Jangan pikirkan saya." Pak Ardi melepaskan sabuknya bersiap menghadapi dua laki-laki yang mengetuk pintu mobil mereka.
"Jangan keluar paman !" Valonia memegang bahu pak Ardi. Telapak tangannya semakin dingin.
Belum Pak Ardi menjawab, kaca pintu belakang dipecahkan. Valonia terpaku pada pecahan kaca yang berhamburan mengenai dirinya.
"Keluar !" Perintah laki-laki bertopeng yang memegang besi panjang.
Valonia membisu, tubuhnya gemetar hebat. Air matanya sudah tumpah ruah mewakili ketakutannya saat ini. Tak sabar, salah satu orang bertopeng itu menarik lengan Valonia, memaksanya untuk keluar.
"Nyonya !" Pekik Pak Ardi membuka pintu depan lalu menendang laki-laki yang menarik paksa Valonia.
Perkelahian tak seimbang karena pak Ardi menghadapi laki-laki bertopeng itu seorang diri. Rupanya mereka tak hanya berdua tapi bertiga. Pak Ardi ambruk di tanah dengan luka lebam akibat perkelahian.
Tak banyak bicara, laki-laki yang sejak tadi menahan pergelangan Valonia menarik pisau lipat dari sakunya. Namun, sebelum pisau itu menyentuh kulit istri Keyan ini. Laki-laki yang memegang pisau terpental ke atas tanah. Karena mendapatkan tendangan tiba-tiba.
"Kamu terluka ?" Alvan datang dengan wajah cemas luar biasa. Ia yang berjanji datang ke rumah Valonia melihat kejadian itu depan matanya sendiri.
"A—aku takut." Valonia tak mampu banyak bicara kejadian ini begitu memukulnya hingga tak bisa bereaksi lebih.
"SAYANG!"
"NYONYA !"
"ALVAN !"
Teriakan pengawal, Keyan dan Endi datang bersamaan. Tubuh Keyan bergetar hebat. Tatapannya mengerikan saat melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sahabatnya itu memutar posisi menggantikan tubuh istrinya.
Keyan bergerak cepat melumpuhkan si pemegang pisau yang terkejut karena salah sasaran. Tak mampu menghindar para penyerang itu menerima begitu saja amukan Keyan dan para mengawalnya.
"Seret mereka." Nafas Keyan memburu. Ia segera menghampiri Valonia yang tak sadarkan diri di gendongan Endi. Ia mengambil alih tubuh istrinya itu lalu membawanya masuk ke dalam mobil. "Bagaimana kondisi Alvan ?" Tanyanya sembari memeluk dan mencium wajah Valonia Jasmine.
"Banyak mengeluarkan darah. Derry membawa dia dan Pak Ardi lebih dulu." Jelas Endi sambil melaju meninggalkan tempat kejadian.
"Selidiki kejadian ini. Jika mereka terlibat maka aku tidak pernah memaafkan mereka !" Keyan semakin erat memeluk tubuh Valonia. Tak dipungkiri saat ini ketakutannya berkali lipat melihat istrinya tak sadarkan diri serta ada luka goresan di tangannya. Bibir yang biasanya pink menggoda saat ini bak kapas putih tak berdarah.
"Pak Johan, Pak Anton dan gadis itu maksudmu. Apa kamu yakin mereka terlibat?"
"Selidiki saja." Tegas Keyan. "Jika ini perampokan, kenapa tidak kehilangan apa pun. Ini jelas bukan perampokan. Dan sepengetahuanku hanya mereka yang tak menyukai istriku."
"Baiklah." Endi menambah laju mobilnya. Ia menyerahkan para penyerang tadi pada beberapa pengawal yang tersisa. Sebelum besok ia turun tangan langsung mengurusnya.
Mobil berhenti di halaman rumah sakit, Endi gegas turun membuka pintu. Keyan melangkah cepat membawa Valonia ke ruang IGD. Ia tak berteriak seperti kebanyakan orang saat panik.
Keyan meletakkan Valonia di atas brankar dan membiarkan para dokter IGD mengambil alih mengurus istrinya. Keyan memilih duduk di kursi tunggu. Pikirannya kacau melihat kondisi istrinya dan Alvan sama-sama tak sadarkan diri.
"Son."
"Siapa sakit ?" Sonny duduk di samping Keyan. Netra nya mengarah ke ruang IGD. Jantungnya berdebar takut jika tebakannya benar.
"Jasmine dan Alvan."
"Apa ?! Valonia ! Kenapa ?" Sonny refleks berdiri di hadapan Keyan. Netra nya tak berkedip saat mendengar kabar itu. Dugaannya benar jika Valonia sedang ada di dalam ruangan yang tak lepas dari tatapan Keyan.
"Mereka diserang. Dalam waktu yang bersamaan Alvan juga di sana dan menolong istriku. Sekarang Alvan kena luka tusukan. Dan Jasmine tidak sadarkan diri."
Sonny menjatuhkan tubuhnya kembali di kursi. Ia sangat terkejut dua sahabatnya mengalami hal buruk hari ini. Sonny segera mengeluarkan ponselnya dan mengabari Varen. Lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke IGD.
...----------------...
Satu jam sudah setelah kejadian, Valonia belum juga bangun. Ia seolah betah dalam tidurnya. Seluruh keluarga berkumpul. Hanya Mama Merry yang belum terlihat. Endi segera menekan berita tentang kejadian ini, setelah salah satu perawat rumah sakit mengunggahnya di media sosial miliknya tentang istri CEO JFB yang diserang. Ia merasa bangga bisa menyentuh owner Jasmine Boutique itu secara langsung.
Perawat itu pun merasa senang bisa melihat Keyan Ganendra duduk di kursi tunggu. Ia ingin berbagi kesenangannya itu pada teman-temannya. Namun, sayangnya hal itu malah terbagi kemana-mana. Maka Endi bersusah payah menekannya agar tidak jadi pemberitaan.
"Apa, Alvan. Sudah bangun ?"
Suara Bunda Arini memecahkan kesunyian ruangan tempat Alvan dirawat. Laki-laki itu telah melewati masa kritisnya hanya menunggunya sadar dan pulih.
"Belum." Pak Andre masih menggenggam tangan putranya dengan hangat. Agar Alvan merasakan kehadirannya.
"Alvan sudah menolong menantuku. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain terimakasih."
"Kejadian ini bukan salah siapa-siapa. Ini musibah yang tidak kita tahu. Tentang Alvan yang terkena tusukan mungkin karena kurang waspada." Pak Andre bersikap bijak. Meski ia tahu Alvan pasti bergerak refleks mengganti posisinya dengan Valonia.
"Iya, Keyan dan Endi sedang mencari tahu tentang masalah ini."
"Bagaimana dengan Valonia ?" Pak Andre bertanya tanpa mengalihkan mata dari wajah Alvan.
"Masih belum bangun. Lukanya tidak banyak hanya kena goresan kaca dipermukaan kulitnya. Kata Sonny, dia shock."
"Itu pasti terjadi. Semoga cepat menemukan titik terang terjadinya penusukan ini. Dari asumsi ku sebenarnya ini adalah penyerangan untuk Valonia. Hanya tidak beruntung saja Alvan jadi korban juga." Pak Andre mengatakan dari segi sudut pandangnya atas kejadian ini.
Usai berbincang dengan Pak Andre. Bunda Arini kembali keruang Valonia. Di sana ia melihat menantunya itu belum juga bangun. Bunda Arini menghela nafas panjang melihat putranya yang terlihat berantakan.
"Key, makan malam dulu. Nak!"
Keyan menoleh sebentar lalu beralih melihat pada Valonia lagi. "Aku akan makan setelah Jasmine bangun, Bun."
"Key, kamu harus makan. Nak ! Valonia pasti tidak suka kamu melewati makan malam mu." Mami Dilla ikut bersuara membujuk suami Valonia itu.
"Mami benar, Key ! Kamu harus memiliki tenaga merawat dia dan mencari tahu tentang masalah ini." Seru Varen yang duduk di sebelah ranjang Valonia bersama Rara.
"Nanti saja." Keyan tetap menolak. Iris matanya tak beralih sedetik pun dari wajah pucat istrinya. Ia menyalurkan rasa cintanya melalui genggaman tangannya. Agar Valonia bisa merasakan jika ada suami yang menunggunya untuk bangun.
"Makan sekarang, Key. Jangan sia-siakan pengorbanan Alvan hari ini." Endi meletakkan piring yang berisi makanan. Ia tak mungkin membiarkan atasannya itu menahan lapar dan bersedih terus menerus.
Tak ada bantahan, Keyan langsung meraih piring itu. Sebelum menyuapi makanannya. Ia menatap istrinya sejenak. Perkataan Endi benar adanya, ia harus tetap sehat dan tegar untuk menyibak tirai abu-abu atas masalah yang menimpa istrinya.
Meski berat mengangkat sendok. Keyan tetap memasukan ke mulutnya. Walau teras ampas tanpa rasa, Keyan harus mengunyah makanannya. Agar tetap hidup untuk Valonia Jasmine.
"Jasmine."
Levin datang bersama Fanny. Ia segera menghampiri wanita yang pernah ada dalam hatinya itu. Ia menatapnya lekat dengan perasaan sakit menyaksikan Valonia terbaring lemah di atas brankar.
Buku-buku tangannya memutih, wajahnya merah dengan netra nya yang berembun. Levin bersedih, haruskah seorang Valonia Jasmine mengalami ini semua. Andai Alvan terlambat bisa saja ia tak melihat wanita itu untuk selamanya.
"Bang, ayo kita cari akar permasalahan ini !" Varen menatap tegas pada Levin.
"Kita mulai malam ini." Sambung Levin. Ia akan membalas orang-orang itu dengan tangannya sendiri.
"Pelaku penyerangan ini. Sudah dibawa oleh tim keamanan JFB. Mereka mungkin ada di tahanan. Kalian boleh ke sana besok pagi. Karena Endi juga akan ke sana. Pergilah bersamanya dan cari tahu masalah ini. Aku tahu kalian memiliki kemampuan tanpa melibatkan keamanan. Tapi tetap saja kita harus mengikuti prosedurnya. Karena ini menyangkut istriku." Keyan meletakan piringnya dengan tegas memberi perintah.