
Kabar diserangnya Jasmine Boutique oleh sekelompok orang sudah menyebar di internet. Para pemburu berita tidak membuang kesempatan ini. Mereka mengambil foto dan vidio di halaman butik Valonia yang kotor dan bau. Rolling door sudah tak putih lagi karena lemparan telur busuk.
Dengan waktu yang bersamaan Keyan dan Varen tiba di Jasmine Boutique. Tak saling sapa, yang dipikiran mereka hanya tentang Valonia Jasmine. Langkah mereka terburu-buru tak sabar menekan angka naik di lift. Keyan sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Ia menyesal datang ke perjamuan Ayah Johan. Keyan merasa dijebak di sini.
"Sayang / Valonia."
Panggil Keyan dan Varen bersamaan. Iris mata mereka langsung tertuju pada Valonia yang dikeliling para pegawainya.
Valonia menoleh ke asal suara dan refleks berdiri karena Keyan menabrak tubuhnya. Laki-laki itu memeluk Valonia erat sambil bersyukur jika istrinya tidak terluka sedikit pun.
"Aku baik-baik saja, hanya terkejut tadi." Valonia paham atas ke khawatiran suami dan sepupunya itu.
"Apa kalian terluka?" Keyan bertanya pada pegawai istrinya. Menatap mereka satu persatu
"Tidak kak."
"Mia !"
Suara panggilan terdengar nyaring mengalihkan perhatian semua orang. Di ambang pintu Sonny berdiri dengan nafas terengah. Ia sangat cemas pada gadis yang dicintainya itu.
"Aku baik-baik saja, Kak." Mia membalas pelukan kekasihnya. Ia juga merasakan degup jantung Sonny berdetak lebih cepat.
"Aku mendengar dari para suster membicarakan butik ini. Salah satu dari mereka memperlihatkan videonya." Cerita Sonny sembari melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Mia.
"Kami semua tidak apa-apa, karena mereka cepat menarik rolling door. Tapi kaca dinding sepertinya ada yang retak." Jelas Valonia tentang kondisi butiknya.
"Di akun resmi Jasmine Boutique juga banyak hujatan untuk kak Valonia." Sambung Sera memperlihat layar laptop pada Keyan dan Varen.
"Kalian tidak apa-apa?"
Rara dan Alvan datang bersamaan. Mereka juga sudah melihat pemberitaan yang tengah hangat diperbincangkan di internet. Belum lagi video yang terjadi di halaman butik.
"Kami baik-baik saja." Valonia tersenyum. Ia merasa sedikit lebih baik karena ada para sahabatnya yang datang.
"Mia, minta pada yang lainnya untuk pulang saja hari ini. Biar untuk tiga hari ke depan butik tutup saja dulu, sebelum berita ini menyurut. Jangan membalas komentar apa pun. Mustahil untuk menghentikannya saat ini. Karena sudah menjadi topik utama." Varen menoleh pada Mia. Setelah mengecek akun milik Jasmine Boutique
"Iya Kak, tapi lebih baik butik ini dibersihkan dulu. Lantai bawah sangat kotor."
"Apa baju-baju di pajangan ada yang kotor?" Keyan bertanya sambil menuntun Valonia untuk duduk di kursi kerjanya.
"Belum dicek kak." Sahut Nanda yang sejak tadi fokus membalas komentar negatif dari orang-orang. Ia bergeming atas perintah Varen untuk tidak membalas komentar buruk.
"Kalau begitu kalian cek dulu ke bawah, jangan membuka rolling door biar nanti kita ganti saja kacanya. Setelah selesai semua kalian boleh pulang. Libur saja tiga hari." Putus Keyan mengambil alih. Karena istrinya itu nampak diam sejak tadi.
Para Karyawan gegas turun kelantai satu. Mereka mengecek semua barang dan kerusakan apa saja yang di alami dari kejadian ini. Sementara itu, Keyan dan yang lainnya duduk di sofa membahas kejadian hari ini.
"Aku yakin ini terencana." Keyan membuka kaleng minuman dan memberikannya pada Valonia. "Aku merasa dijebak." Sambungnya lagi.
"Aku juga tidak bisa menebaknya." Keyan merasakan ponselnya bergetar. Hingga semua menjadi diam. Keyan menggeser layar ponselnya untuk menjawab telpon.
"Key, tidak perlu kembali ke kantor. Wartawan banyak di sini. Mereka meminta klarifikasi tentang kejadian hari ini." Endi menyampaikan berita baru yang terjadi di halaman kantor JFB.
"Baiklah, tunggu terkendali aku akan mengklarifikasinya. Tapi aku mau kamu cari informasi siapa yang mengambil foto saat perjamuan tadi dan juga pemilik akun anonim itu."
"Baiklah, selambatnya nanti malam. Aku akan secepatnya mengabarimu. Bagaimana kondisi istrimu ?" Endi merasa yakin bisa menemukan siapa pelaku membuat berita tentang lanjutan perjodohan itu.
"Dia baik-baik saja."
"Syukurlah, aku tutup telponnya." Endi memutuskan sambungan telpon.
"Apa yang terjadi ?" Sonny baru saja selesai memeriksa tekanan darah Valonia. Ia khawatir jika sahabatnya mengalami gula rendah karena Valonia nampak lemas dan pucat.
"Endi memintaku untuk tidak kembali ke kantor. Banyak wartawan di depan kantor, mereka ingin mendengar klarifikasi dariku." Keyan menunjukkan vidio yang baru saja dikirim Endi.
"Sekarang apa rencana mu ?" Varen bertanya sambil meletakkan ponsel Keyan di atas meja. "Hal ini pasti ada efeknya untuk JFB. Kamu lihat semua komentar yang menghujat Valonia."
"Tunggu satu atau dua hari hingga berita ini menjadi dingin. Sambil menunggu kabar dari Endi."
"Apa tidak kelamaan ?" Alvan sudah tidak sabar untuk membalas orang-orang itu.
"Alvan benar, belum lagi serangan komentar di akun resmi Jasmine Boutique. Kita harus membalasnya. Ini akan menurunkan peminat butik ini." Sahut Rara setuju dengan Alvan.
"Untuk komentar itu aku bisa mengurusnya, para pegawai ku pasti tidak akan diam dengan hal ini." Seru Valonia setelah lama bungkam.
"Sayang, untuk saat ini tidak perlu membalas komentar di akun butik mu. Abaikan saja, Endi memastikan paling lambat nanti malam. Dia akan menemui dalangnya. Aku tahu ini membuatmu tidak nyaman. Tapi aku akan membalas mereka." Keyan menyakinkan istrinya sekaligus menguatkan Valonia.
"Kalau begitu kita pulang dulu saja nanti malam berkumpul di rumah Keyan. Kita bahas ini lagi." Varen memutuskan perbincangkan mereka. Laki-laki ini langsung menarik tangan Rara. "Ayo aku antar pulang sudah sore." Ucapnya sembari tersenyum.
"Valo aku pulang dulu ya. Nanti malam aku ke rumahmu." Pamit Rara. Di balas anggukan dari Valonia.
Saat Rara dan Varen melangkah keluar, mereka berpapasan pada Mia, Sera dan Nanda. Ketiga gadis itu baru saja selesai dari lantai satu.
"Bagaimana sudah selesai ?" Sonny meraih tangan Mia untuk duduk di sampingnya.
"Iya sudah. Tapi belum mengkalkulasi kerugian kita."
"Tidak apa-apa." Sahut Valonia lalu menoleh pada Alvan. "Al, rumahmu searah dengan Sera. Apa kamu mau mengantarnya pulang ?" Valonia bertanya pada Alvan.
"Baiklah, ayo bersiap." Alvan setuju karena dirinya memang akan pulang ke rumah.
"Untuk Nanda biar kami yang mengantarmu." Valonia bersiap dibantu oleh Keyan.
Kesepakan terlaksanakan dengan baik. Keyan baru saja menurunkan Nanda di halaman rumah gadis itu. Saking terburu-buru nya suami Valonia ini tidak membawa Derry. Bahkan ia menugaskan sopirnya itu untuk membantu Endi di kantor.