Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Air Mata Keyan



Waktu semakin memangkas malam. Buliran keringat bermunculan di kening Valonia. Gelombang nafasnya tak beraturan, kelopak mata indahnya bergerak gelisah. Tubuh Valonia gemetar hebat, meski begitu tak sedikit pun ada pergerakan dari Keyan. Laki-laki itu seolah tenggelam dalam rasa lelahnya hingga tak bereaksi.


Mata Valonia terbuka perlahan, Mimpi buruk datang dan sama persis seperti sekelebat ingatan yang mampir dibenaknya. Beberapa jam tertidur tak melenyapkan mimpi itu. Namun itu seolah nyata dan Valonia benar-benar mengalaminya.


"Papa, maafkan aku. Jika malam itu aku tidak panik Papa pasti tertolong. Aku jahat ! Aku penyebab Papa meninggal. Aku membunuh Papa !" Gumam Valonia tiba-tiba panik dan menutup kedua telinganya.


Ucapan Tita terngiang, Valonia semakin tak terkendali. Tatapannya begitu kosong. Kejadian tertusuk nya Alvan dan kecelakaan Papa Danu. Serta Keyan yang terusir dari keluarganya. Semakin membuat Valonia merasa bersalah.


Tak mampu mengendalikan emosinya, Valonia tiba-tiba diam mematung. Pikirannya kosong dengan tatapan hampa. Untuk apa dirinya hidup jika jadi penyebab masalah untuk orang-orang terdekatnya?


Tanpa melihat ke sekelilingnya, Valonia menurunkan kakinya dari atas brankar. Dibenaknya selalu terngiang teriakan Mama Merry sesaat sebelum kejadian itu. Valonia juga teringat ketika Papanya tidak beraksi saat dirinya memanggil diantara setengah kesadarannya.


Langkah Valonia semakin cepat meninggalkan ruangannya. Raut wajahnya sangat panik dan sedih. Ia harapan Mama Merry yang bisa mengantarkan Papa Danu untuk ke rumah sakit, ia yang jadi tempat Mama Merry berpegang saat panik melihat suaminya tak sadarkan diri. Namun, harapan itu patah ditengah jalan karena terjadinya kecelakaan itu. Bahkan, kejadian itu merenggut Papa yang dicintainya.


Tanpa terasa Valonia sudah berada di roftoop rumah sakit. Keringatnya mengucur deras, tak sedikit pun Valonia merasakan lelah saat menaiki anak tangga satu persatu hingga ke roftoop. Kakinya tanpa alas tak terasa dingin. Valonia berdiri di sisi pembatas tatapannya lurus ke langit malam dan putus asa.


Semakin angin menerpa tubuh Valonia dalam kesunyian roftoop. Maka, semakin kencang pula bisikan pembunuh di telinganya. Ia semakin merasa bersalah atas meninggalnya Papa Danu.


...----------------...


Keyan panik ketika Endi membangunkannya. Begitu pun Mama Merry sudah terisak penuh ke khawatiran. Endi yang bangun ingin ke kamar mandi melihat brankar kosong hanya tersisa Keyan.


"Tuan Keyan ! Kami melihat istri anda keluar dari ruangan. Dan menaiki anak tangga. Kami curiga Nyonya Valonia ke roftoop, beberapa orang perawat laki-laki sudah menyusul ke sana." Seorang perawat jaga masuk tanpa permisi mengabari Keyan. Setelah salah satu dari mereka melihat Valonia keluar dan tidak kembali.


Keyan berlari menuju lift dan disusul Endi bersama Mama Merry. Dada Keyan berdegup kencang, bibirnya pucat tak berdarah. Tubuhnya seolah tak bertenaga dan gemetar, nafasnya seolah tercekik. Kakinya seakan tak berpijak di lantai.


Keyan berusaha menyadarkan dirinya, dengan beberapa kali menghembus nafas berat. Ia gelisah karena pergerakan lift seakan lambat, ia sudah tak sabar namun juga takut.


Lift terbuka, Keyan langsung berlari membuka pintu yang menembus ke roftoop. Ketakutan nya semakin tak terkendali ketika beberapa perawat laki-laki sudah ada di sana. Perputaran bumi seolah terhenti ketika angin malam menampar tubuh gagahnya.


Lutut Keyan semakin rasa terlepas dari cupunya. Namun juga lega melihat istrinya duduk serta kepalanya tertunduk. Dengan tertatih Keyan menghampiri istrinya yang  dijaga oleh dua orang perawat laki-laki.


Tangis Keyan pecah. Sambil menjatuhkan tubuhnya di hadapan Valonia. Tangannya merengkuh erat tubuh dingin sang istri. Tangis Keyan semakin nyaring terselip sesal karena tidak bangun tepat waktu.


"Sayang, ini aku." Keyan mengangkat wajah istrinya dan menangkup kedua pipinya. "Kamu kenapa ?" Lirihnya sembari mengecup kening Valonia. Tangannya kembali memeluk tubuh Valonia yang hanya diam dengan tatapan kosong.


"Key, bawa dia turun dulu. Udaranya semakin dingin." Endi menyentuh pundak Keyan. Lalu berkata. "Terimakasih karena kalian berada disini lebih dulu."


"Sama-sama tuan, sekarang kita turun saja. Rekan kami sudah membawa kursi roda." Salah satu perawat meraih kursi roda.


"Saya gendong saja." Keyan mengangkat tubuh lemah istrinya dan berdiri dengan tegap. Sementara Mama Merry hanya diam menangis dalam kelegaan hatinya.


"Saya minta kerja sama kalian, untuk kejadian ini jangan sampai bocor keluar." Pinta Endi dengan penuh harap.


"Aku yang akan bertanggung jawab." Sonny datang dengan raut wajah panik dan pucat. Kondisinya sama persis seperti Keyan.


"Terimakasih, Son. Ayo kita ke bawah." Endi melangkah lebih dulu mengikuti Keyan.


Keyan memasuki lift, netra nya tak lepas dari wajah istrinya yang diam tanpa ekspresi. Setiba di ruangan rawat, Keyan meletakkan Valonia di atas brankar. Di sana sudah ada Alvan dan Pak Andre serta pak Ardi. Mereka ikut cemas karena Keyan masuk ke ruang rawat mereka untuk mencari Valonia.


Keyan mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya. Hatinya sakit melihat Valonia bak mayat hidup. Jari-jari Keyan merapikan anak rambut yang menutupi wajah Valonia. Ia menoleh ke arah dinding melihat jam sudah menunjukan jam tiga malam. Matanya tak merasakan ngantuk lagi.


"Bagaimana, Son?" Alvan nampak cemas setelah terbangun karena Keyan mencari Valonia di ruangannya.


"Pilihan bagus, semoga besok Valonia kembali seperti semula. Perbanyak sabar, Key. Ini cobaan untukmu." Pak Andre menepuk lembut pundak Keyan menyalurkan kehangatan seorang Ayah.


"Terimakasih, Om. Apa pun kondisi Jasmine, aku tetap di sisinya. Meski harus gila bersama." Keyan mengecup buku-buku jari istrinya sejak tadi ia tempelkan di bibirnya.


"Semoga saja tidak, Nak. Jangan asal bicara." Pak Andre dapat merasakan kesedihan dan cinta yang mendalam dari hati Keyan. "Sekarang, Om dan Alvan kembali ke sebelah. Kabari saja jika ada apa-apa." Pria paruh baya itu melangkah menghampiri Alvan.


"Kamu tidak sendiri, Key." Alvan tersenyum memberi kekuatan dan dukungan untuk sahabatnya itu


"Terimakasih, Al. Cepatlah sembuh." Keyan membalas senyuman Alvan.


Pak Andre mendorong kursi roda Alvan untuk meninggalkan ruang rawat Valonia. Begitu pun Pak Ardi setelah memberi kata-kata penyemangat untuk atasannya itu. Ia kembali ke ruangannya. Besok sopir Valonia itu boleh pulang ke rumah karena dinyatakan telah sembuh.


Sonny dan Endi duduk di sofa sambil menikmati kopi hangat yang baru saja asisten Keyan itu beli di kantin. Mereka butuh kopi untuk menyegarkan mata hingga matahari terbit.


"Valo, ini Mama sayang. Kamu dengar Mama, Nak ? Tidur lagi ya masih malam. Jangan takut dan sedih, putri Mama tidak melakukan kesalahan apa pun." Mama Merry berbisik pada Valonia berharap ada respon dari putrinya. "Valo, jangan seperti ini. Kasian suamimu, Nak. Dia sedih melihatmu sakit."


"Ma, jangan paksa dia. Sekarang Mama tidur lagi." Keyan menyentuh lengan Mama Merry sembari tersenyum lembut.


Mama Merry mengangguk, bagaimana pun juga ia harus istirahat. Tubuhnya yang mulai menua tak boleh terlalu lelah. Jika ingin tetap sehat dan bisa bermain bersama cucu-cucunya nanti.


"Key, ini kopi mu." Endi melangkah memberikan kopi milik Keyan. Ia dan Sonny berpindah tempat duduk.


Keyan menerimanya dan meminumnya sedikit demi sedikit. Ia tersenyum melihat mata istrinya mulai sayu, pertanda kelopak mata itu sebentar lagi akan tertutup.


"Sayang tidur lagi ya, jangan takut.  Aku akan menemanimu." Keyan membenarkan selimut Valonia dan mengecup keningnya. Tangannya mengelus lembut pucuk kepala istrinya. "Aku mencintaimu sayang."


...----------------...


Pagi menjelang, tak sedetik pun Keyan memejamkan matanya. Laki-laki ini masih di posisinya, duduk di tepi ranjang sembari menggenggam jemari istrinya.


"Key, mandilah. Nak !" Mama Merry menyentuh pundak menantunya itu dengan lembut. Dia tahu jika Keyan tidak melanjutkan tidur setelah kejadian tadi malam. "Setelah itu kamu istirahatlah nanti jika Valo bangun. Mama akan membangunkan mu."


"Aku nunggu Jasmine saja, Ma." Tolak Keyan masih bergeming di sisi brankar.


"Key, hari ini ada pertemuan penting setelah jam istirahat di kantor kita. Kamu tidurlah, nanti Derry menjemputmu. Sekarang aku ke kantin dulu setelah itu aku akan ke kantor." Endi meraih ponselnya lalu melangkah ke luar ruangan.


Keyan terpaksa menuruti dan dengan berat hati langsung melangkah ke kamar mandi. Ia harus menghadiri pertemuan penting ini. Sebab, demi kerja sama dengan sebuah perusahaan besar pada JFB.


Usai membersihkan tubuhnya, Keyan kembali duduk di sisi brankar. Ia mengecup lembut kening Valonia, meski pun dalam kondisi tidak baik-baik saja. Namun kecantikan Valonia Jasmine tidak memudar.


"Kamu tetap cantik meski pun dalam keadaan tidur. Aku berharap, nanti jika memilik putri akan cantik sepertimu." Keyan meletakkan tangannya di atas perut istrinya. Bibirnya tersenyum seolah membayangkan jika di dalam tubuh Valonia ada putri kecil impiannya.


"Key, sarapan dulu. Setelah itu kamu tidur. Sebentar lagi Varen dan Bang Levin akan mampir sebelum ke kafe. Tadi Varen meneleponku." Endi meletakkan makanan yang baru ia beli.


"Terimakasih, En. Sudah menemani aku di sini." Keyan berpindah duduk di sofa. Sembari membuka makanan yang Endi bawa. "Ma, ayo sarapan. Mama juga boleh istirahat di rumah, nanti Bunda juga ke sini."


"Baiklah." Mama Merry mengambil tempat di ujung sofa. Meski tak berselera tapi ia tetap harus makan.


Nasi lezat itu bagai ampas tanpa rasa setelah menyentuh lidah Keyan dan Mama Merry. Walau begitu mereka harus tetap memiliki tenaga agar sehat selama menemani Valonia Jasmine. Mengingat wanita cantik itu. Ia masih saja terlelap tanpa bergerak sedikit pun. Kelopak matanya tak terbuka meski orang-orang bicara dengan sedikit nyaring.