
Satu minggu Kemudian...
Keyan menghilang bak di telan bumi, tidak ada yang tahu kemana perginya. Bahkan, Valonia sendiri tidak tahu rimba nya laki-laki yang selalu datang ke butiknya itu.
"Val, Kemana Keyan ?" Rara bertanya sembari menikmati santapan siangnya. Gadis itu sengaja saat jam istirahat berkunjung ke butik sahabatnya ini.
Valonia menggeleng. "Aku tidak tahu, dia hilang begitu saja." Jawabnya santai. Seolah hilangnya Keyan tidak memberi sentuhan rasa apa-apa.
"Kamu tidak merindukannya ?"
Rindu ? Valonia menggantung sendok nya ketika mendengar pertanyaan Rara. Ya, beberapa hari ini dia merasa ada yang kurang. Baik sendiri mau pun saat berkumpul bersama teman-temannya. Tapi gadis ini menepisnya keras. Jika perasaan yang mampir itu adalah kerinduan.
"Aku tidak tahu."
Rara terhenyak lalu menatap lekat wajah sahabatnya yang perlahan-lahan mulai berisi kembali.
Apa dia semacam batang pisang ? Dingin, hanya punya jantung tidak memiliki hati ! Tapi terasa manis.
"Lupakan saja."
Kehadiran Keyan nampak berpengaruh. Terbukti Valonia bisa tidur kembali setelah mendengarkan musik pengantar tidur yang entah dari mana Keyan dapatkan.
Tubuh Valonia sedikit lebih berisi dari sebelumnya berkat perhatian teman-temannya yang ekstra. Keyan juga ikut andil dalam pemulihan gadis ini. Ia rela disela kesibukannya datang ke rumah Valonia hanya sekedar memasak atau menemaninya makan. Aura kecantikan Valonia Jasmine juga sudah kembali. Tidak lagi pucat dan lemas.
"Kak, ada kiriman dibawah." Mia menutup sambungan interkom. Gadis ini segera menghampiri para pria bertubuh besar yang tengah menuruni kardus dari dalam pick up.
"Barang apa ini ? Saya tidak memesan barang." Valonia datang bersama Rara. Gadis ini merasa bingung karena merasa tidak memesan apa pun.
"Ini titipan untuk anda, Nona. Hari ini kami berkemas di apartemen tuan Keyan. Jadi dia meminta kami mengirim barang yang sudah dikemas ini pada anda." Jelas laki-laki yang sedikit tampan dari tiga orang lainnya.
"Dimana dia ?" Bibir Valonia begitu ringan menanyakan keberadaan laki-laki itu. Padahal sebelumnya, ia terlihat biasa saja.
"Kami tidak tahu, Nona. Tapi Minggu kemarin Tuan Keyan. Meminta kami membereskan apartemennya dan mengantar barang ini ke butik anda."
"Baiklah, bawa masuk saja." Valonia tiba-tiba merasa kecewa karena tidak mendapatkan kabar apa pun tentang Keyan.
"Tapi, Tuan Key. Meminta barang-barang ini di antar ke lantai tiga butik anda. Dan meminta anda menaruhnya di balkon kamar." Laki-laki itu berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. "Percaya pada kami, Nona. Anda bisa melaporkan kami jika berniat jahat." Laki-laki itu sengaja memperlihatkan wajahnya di kamera Cctv.
"Bawalah." Rara segera mempersilahkan. Ia tidak sabar untuk meminta Valonia membuka kardus itu.
Sesuai dengan yang diperintahkan. Empat orang laki-laki itu membawa kardus ke lantai tiga melalui lift. Setiba di sana mereka kembali menunjukkan wajahnya ke arah Cctv. Lalu meletakkan kardus itu di ruang tengah.
"Kami pamit, Nona. Pastikan barang-barang ini ditaruh di balkon kamar anda."
"Terimakasih." Valonia mengantarkan mereka hingga di ambang pintu. Ia kembali ke dalam lalu mendekati kardus-kardus itu.
"Ayo, Val. Buka ! Aku penasaran." Rara begitu antusias.
Valonia membuka kardus itu. Terciumlah aroma manis dari dalamnya. Setelah terbuka ada empat pot tersusun di dalamnya. Itu adalah bunga-bunga melati milik Keyan. Disela tangkai bunga itu ada selembar kertas terselip. Valonia meraihnya lalu membuka kertas itu.
'Jasmine, aku titip bayi-bayi kita ya. Rawat mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Sama seperti aku merawat mereka tanpa kamu. Taruh mereka di balkon kamarmu, sama seperti di apartemenku. Biar mereka selalu dekat sama Maminya. Aku hanya pergi sebentar, jika merindukan aku. Hiruplah aroma bayi-bayi kita. Mereka akan mengeluarkan aroma yang menenangkan terlebih pada malam hari. Bayi-bayi Jasminum itu tahu, jika malam hari. Tempatnya orang merindu. Makanya mereka mengeluarkan aroma yang manis. Aku selalu merindukanmu. Ingat ! Jangan cari Papi baru buat bayi-bayi Jasminum. Mereka tidak akan menerimanya. Jaga diri dan kesehatan baik-baik ya. Di kertas ini aku tegaskan Valonia Jasmine hanya untukku dan bayi-bayi kita.'
Rara terbahak ikut membaca surat yang ditinggalkan Keyan. Rupanya laki-laki itu menanggapi ocehan Sonny hingga menganggap bunga melati itu bayi-bayinya. Valonia terlihat malu dengan isi surat itu.
Tapi, tak di pungkiri jika dia suka dengan isi surat itu. Meski terlihat lucu tapi terbukti Keyan menganggap keberadaannya selama ini.
"Ayo bantu aku memindahkan bunga-bunga ini."
"Baiklah, ayo ! Apa, Keyan berhalusinasi ?" Tawa Rara masih tersisa.
"Entahlah, hilang tanpa pamit. Malah meninggalkan bayi-bayi malang ini bersamaku." Valonia juga ikut tertawa.
"Apa kamu tidak mau punya bayi-bayi seperti ini, Ra ?"
Varen tiba-tiba muncul lalu mengangkat satu pot dan ikut menatanya. Di ruang tengah, masih tersisa tiga dus besar. Bisa dipastikan isinya macam-macam jenis bunga melati.
"Aku masih waras dengan tidak menganggap bunga sebagai bayiku." Sahut Rara santai.
"Bayi sungguhan, kalau mau. Ayo kita menikah !"
Lamaran dadakan dari Varen membuat Valonia kesal. Gadis ini dengan sengaja menginjak ujung sepatu sepupunya itu.
"Apa kamu tidak berniat melamarnya secara romantis ?!" Kesal Valonia.
"Salah tempat ya." Varen menggaruk kepalanya karena memang gatal. Rara menggeleng kepalanya mendengar ocehan dua bersaudara itu.
"Sudah selesai !" Valonia tersenyum senang setelah semua pot bunga tertata rapi.
"Baik-baik ya tinggal sama Mami kalian." Rara kembali tertawa.
"Ayo menikah !" Lagi-lagi Varen mengeluarkan kalimat yang menggelitik hati Rara.
"Dia tertular virus Keyan." Cibir Rara menutupi kegugupannya. Ia dan Valonia meninggalkan balkon.
Varen tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto lalu mengirimkannya.
...----------------...
Di halaman kantor Pak Andre. Tita menghadang langkah Alvan. Gadis itu sudah dua hari berturut-turut datang ke sana hanya ingin bertanya kemana Keyan ?
"Al, tolong katakan di mana, Keyan? Apartemennya sudah kosong. Kemarin Tante Arini sudah memberi tahu alamatnya. Tapi aku ke sana tidak ada siapa-siapa." Tita memasang raut wajah memelas.
"Aku juga tidak tahu, Ta. Setelah Papa memecat Keyan. Hubungan kami merenggang, ini adalah kemauan kalian. Memaksanya kembali dan menikahi mu. Sekarang Keyan menghilang." Alvan terlihat kesal.
"Valonia ! Ya, gadis itu pasti tahu dimana Keyan ?" Tita meninggalkan Alvan dengan buru-buru.
Harapan Tita hanya di Jasmine Boutique. Ia yakin Keyan ada di sana dan Valonia menyembunyikan laki-laki itu. Suasana jalanan yang padat membuat perjalanannya sedikit melambat.
Beberapa kali ia memaki karena terjebak macet. Maklum jam pulang kantor sudah tiba. Badan jalanan terlihat penuh. Dengan tak sabar Tita sudah menekan klakson beberapa kali.
Dengan penuh rasa kesal. Tita tiba di Jasmine Boutique. Gadis ini terburu-buru keluar dari mobilnya ketika melihat Mia menggeser pintu kaca untuk menutup butik itu. Sebelum menurunkan rolling door.
"Di mana Valonia ?" Tita bertanya dengan nafas tersengal.
"Kak, Valo sudah pulang."
Tita tak puas dengan jawaban Mia. "Katakan di mana rumahnya ?" Tanyanya dengan nada sedikit memohon.
"Dia, pulang ke rumah Bang Varen." Mia kembali menutup pintu.
Tita seketika lemas, tak tahu harus kemana lagi mencari Keyan. Harapan satu-satunya di sini. Tapi tidak menemukan Valonia. Tita tak ingin putus asa. Besok dia akan kembali ke sini lagi. Sampai ia tahu keberadaan Keyan saat ini.