Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Penyesalan Rara



Beberapa hari kemudian...


Kondisi Valonia semakin membaik. Meski hanya ubi sebagai pengganti nasi. Namun cukup mengganjal perutnya yang sering merasa lapar. Keyan semakin posesif dan memanjakan Valonia Jasmine.


Setiap hari Bunda Arini dan Ayah Johan mengunjungi menantunya. Mereka ikut memanjakan Valonia dengan membawakan beberapa makanan dan juga susu ibu hamil. Tak hanya itu, keluarga Mami Dilla juga turut andil dalam perkembangan calon cucu mereka. Karena jarak tempuh yang lumayan jauh. Mama Merry hanya bisa memberikan petuah melalui telpon.


...----------------...


Ren's cafe dihias sedemikian rupa.  Panggung yang biasanya tempat Varen dan kawan-kawan melakukan pertunjukan musik. Menjelma bak gerbang istana kecil. Tiap penjurunya berhiaskan bunga segar dan cantik. Balon warna pink bercampur putih mempermanis tampilan panggung itu.


Para pengunjung berdecak kagum, tidak ingin membuang kesempatan mereka mengabadikan foto dengan berlatar belakang panggung itu. Kerlap - kelip lampu menghiasai bunga-bunga segar itu semakin mempertajam kecantikannya.


Tidak ada satu orang pun yang berani menyentuh meja berukuran besar bertuliskan 'Tamu VIP' karena dijaga ketat oleh si pemilik kafe. Alunan musik Ballad menggema menghibur para pengunjung. Malam ini mereka di sajikan lagu-lagu romance spesial.


Jarum jam semakin bergerak dari  kanan ke kiri. Hingga berhenti pada angka tujuh. Di dalam kafe, para pengunjung merasa malam ini sangat istimewa. Dapat mencicipi makanan secara gratis jika membawa pasangan.


Di dalam sebuah ruangan, Varen menunggu dengan perasaan berdebar-debar. Sejak tadi ia mengusap telapak tangannya. Berusaha menguasai kegugupan yang mulai merajai sekujur tubuhnya. Kakinya gemetar dan telapak tangannya dingin meresap bagai es.


Sesekali ia menghembus nafas kasar dan menjatuhkan tubuhnya di sofa lalu menenggak bir kalengnya. Lucu, seorang Varen yang selalu di cap sebagai berandalan sukses. Menjadi gugup, cemas tak karuan.


"Ren, bersikap tenang." Tegur Keyan sambil mengupas kulit ubi untuk istrinya.


"Aku gugup."


"Lemah." Cibir Keyan tersenyum. "Aku tidak gugup saat melamar Jasmine." Laki-laki ini begitu percaya diri memuji dirinya sendiri.


"Kamu melakukannya penuh pemaksaan, berbeda denganku." Varen tidak terima.


"Jangan ribut, mereka sudah di depan." Seru Valonia sambil mengunyah umbinya.


Seharusnya, Valonia dan Keyan yang bertugas dan bertanggung jawab malam ini. Tapi karena CEO JFB itu tidak mau istrinya lelah. Keyan melemparkan tanggung jawab pada sang asisten.


"Kalian akan tetap terus disini?" Sonny mendorong pintu ruangan dan melangkah masuk. "Valo, aku senang melihatmu makan banyak seperti ini." Sambungnya tersenyum dan mengambil satu ubi.


"Jangan menatap istriku seperti itu !"


"Kenapa dia yang jadi suamimu? Dasar pencemburu !" Kesal Sonny mengunyah umbinya.


"Kak Varen ! Mereka sudah masuk." Mia datang memberi tahu. Ia tersenyum pada Sonny sebelum meninggalkan ruangan itu.


Orang yang ditunggu Varen tiba. Ia semakin gugup lalu meraih botol air putih dan meminumnya hingga sisa setengahnya. Ia menoleh ke arah Valonia yang juga bersiap.


"Valo, biarkan aku memelukmu sebentar. Aku gugup." Varen menghampiri sepupunya itu lalu memeluknya. "Apa dia akan menerimaku ?" Bisiknya ditelinga Valonia.


"Aku yakin dia menerimamu."


"Aduh hatiku sakit !" Keyan menyentuh ulu hatinya. "Jangan lama-lama Ren, Aku cemburu."


"Ya Tuhan aku bisa gila !" Sonny menatap kesal pada Keyan. Tanpa memperdulikan wajah Keyan yang lesu Sonny langsung melenggang keluar.


Sementara di luar. Rara menatap takjub ke atas panggung. Ia berpikir siapa yang akan dilamar? Konsep lamaran seperti itu adalah impiannya. Rara datang dijemput Endi dan Sera. Meski gadis dingin itu sempat menolak. Namun ketika Valonia yang memintanya. Maka ia tak dapat menolak dan itu keberuntungan untuk Endi. Selama ini meski tersemat gelar fakboy tapi Endi belum pernah memiliki hubungan serius dengan seorang wanita.


"Valo." Rara melangkah menghampiri sahabatnya itu. Gadis ini sangat cantik mengenakan gaun berwarna maroon. Kulit putihnya nampak cerah berpadu dengan warna itu.


"Acara apa ini?" Rara bertanya karena terlihat teman-teman wanitanya mengenakan gaun yang cantik.


"Lamaran."


"Lamaran? Siapa? Sonny dan Mia ya" tebak Rara antusias. Netra nya bergulir melihat ke arah Sonny dan Mia yang saling melemparkan senyum. "Atau... Endi dan Sera. Apa mungkin, Alvan dan Nanda." Sambungnya masih menebak.


"Berisik" Keyan memasang wajah lesu. Sekali lagi Rara memisahkan dirinya dan Valonia. "Geser sana, aku mau dekat istriku." Jari telunjuk Keyan menusuk-nusuk lengah atas Rara.


"Key, jangan menyentuhnya !"


Keyan terperanjat, ketika suara seseorang menggema di microphone. Iris matanya tertuju pada mahkluk tampan yang berdiri di atas panggung. Teman-temannya tak bisa menahan tawa melihat wajah terkejut Keyan. Apalagi Valonia Jasmine yang langsung terbahak.


"Sayang aku malu. Rara yang salah, sudah tahu kamu milikku. Kenapa duduk di tengah-tengah?!"


"Aku yang memintanya. Sudah diam disitu. Masih ada Alvan juga di sampingmu." Valonia kembali menghadap ke arah panggung.


Sementara Rara terfokus pada laki-laki yang terlihat tampan mengenakan tuxedo putih duduk manis di belakang piano. Tanpa sadar tangannya meremas sisi gaunnya. Semakin ia menatap Varen maka pesonanya semakin keluar. Jantung Rara bertalu-talu indah ditengah kegugupannya.


Dalam hatinya mulai bertanya-tanya. Lamaran siapa ini? Apakah Varen ? Siapa wanitanya? Apa Varen melamar wanita lain ? Jadi, ia terlambat menyambut hati Varen.


Rara terdiam, suaranya tercekat di tenggorokan. Beruntung sekali wanita yang akan dilamar Varen. Mendapatkan laki-laki baik dan bertanggung jawab seperti sahabatnya itu. Rara merasa sesak sendiri dan mengutuk kebodohannya yang selama ini mengabaikan Varen Azka.


Rara ingin segera melarikan diri dari tempat menyesakan ini. Ia tidak sanggup melihat Varen, laki-laki yang ia cintai menyematkan cincin lamaran pada wanita lain. Namun, Rara juga tidak menyalahkan Varen, jika hati laki-laki itu menemukan tambatan baru.


Selama ini dia lah mengabaikan perasaan Varen dan kata-kata cinta dari laki-laki itu. Kini Rara menyesal, sangat menyesal. Pantas Varen dan Valonia tidak membahas tentang malam ini padanya.


Rara larut dalam lamunannya. Hingga tidak menyadari jika satu lagu sudah berakhir dinyanyikan Varen. Ia juga membalas tatapan lekat dari pria itu untuknya. Tanpa tahu makna yang tersirat di dalam iris mata Varen.


"Untuk gadis bergaun warna maroon. Di kursi VIP. Boleh aku minta bantuan mu?"


Suara Varen meruntuhkan kaca lamunan Rara. Ia segera mengubah mimik wajahnya ketika kursi yang ia duduki bersama yang lainnya disebutkan Varen. Netra mereka saling mengunci ada gambaran berbeda dari tatapan keduanya.


"Ra, Varen meminta bantuan mu?" Valonia menyentuh lengan sahabatnya itu. Ia tersenyum melihat guratan sedih di wajah Rara.


"Gadis bergaun warna maroon. Aku butuh bantuan mu. Malam ini aku akan melamar seseorang."


Rara termangu mendengar perkataan Varen. Tubuhnya mengambang dengan perasaan yang seakan diremas. Sakit, sesak. Haruskah ia menyaksikan lamaran laki-laki yang ia cintai itu pada wanita lain ? Apa ia sanggup ? Rara mencoba tersenyum meski hatinya perih dan terluka. Dengan berat, kepalanya mengangguk.


Tangan Rara gemetar meraih microphone yang  baru saja di antar oleh waiters. "Kamu perlu bantuan apa dariku?" Tanyanya lirih dengan iris mata yang mulai memproduksi  kaca-kaca kristal. Anggap saja malam ini kehadirannya sebagai bentuk dukungannya pada Varen.


"Malam ini, aku ingin melamar seorang gadis. Aku sangat mencintainya. Sebagai sahabat, aku ingin kamu ikut andil dalam kebahagiaanku. Jadi lihat di atas meja. Ada kotak putih yang berisi cincin tolong antarkan padaku."


Rara meletakan mickrophone. Iris matanya menatap sendu pada kotak berwarna putih di atas meja. Tangannya begitu berat terangkat untuk meraih kotak itu. Sesak di dadanya semakin mencekik lehernya. Tiba-tiba pasokan oksigen di paru-paru Rara menipis.


Berat, sangat berat ! Rara menunduk sesaat sambil menghela nafas panjang. Dan menguatkan diri untuk berdiri dan menggenggam kotak putih yang diminta Varen. Sementara itu teman-temannya hanya diam menyaksikan.


Rara tersenyum tipis, baru beberapa hari yang lalu. Ia dan Valonia berbicara masalah hatinya dan Varen. Belum sempat Rara menunjukan perasaannya. Malam ini Varen sudah melamar seseorang. Apa Varen mundur dengan perasaannya ? Apa laki-laki itu lelah. Malam ini adalah malam penyesalan yang paling dalam pernah Rara alami sepanjang hidupnya.


Setelah mampu menguasai perasaannya yang bergejolak. Rara memberanikan diri menatap ke arah panggung dan berdiri tegak. Kaca kristal bening pecah di sudut matanya. Perasaan yang telah dikuasainya tadi kini merajai dirinya lagi. Rara tak memperdulikan tatapan orang-orang padanya. Anggap saja, ia punya alasan atas air mata yang tak ingin berhenti tumpah dari manik matanya.