Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Berbagi Tugas



Derry datang dengan langkah lebar. Usai mengantar Alvan dan Pak Ardi ke rumah sakit. Ia langsung pulang ke rumah Keyan untuk mengambil beberapa keperluan untuk ke rumah sakit. Tak tanggung-tanggung, Bi Noni mengirim koper pada Derry.


"Kak, ganti baju dulu." Derry menyerahkan gagang koper pada Keyan. Laki-laki ini tak beranjak sejak tadi dari sisi istrinya.


Perasaannya tak karuan menghadapi situasi ini. Tapi Keyan tak ingin terlihat lemah meski pun dirinya memang butuh penopang saat ini. Ia harus kuat untuk istri tercintanya, agar orang-orang tahu. Jika Keyan tak akan jatuh hanya karena istrinya tergeletak lemah di atas ranjang rumah sakit.


Bahkan saat ini Keyan ingin sekali menemui pelaku yang sudah dibawa oleh orang-orang nya ke kantor keamanan setempat. Ia ingin sekali mengusutnya hingga jelas maksud dan tujuan dari kejadian ini.


"Kak, Key ! Mandilah. Biar kami  yang menjaga Kak Valonia." Mia membujuk Keyan dengan hati-hati. Karena suami Valonia itu bergeming atas ucapan Derry.


Keyan merasakan tepukan dipundaknya. Ia melihat Levin mengangguk tanda mempercayakan Valonia Jasmine pada mereka di sana. Dengan berat hati Keyan melangkah gontai ke arah kamar mandi. Bahkan ia lupa jika sopirnya juga dirawat sebelah ruangan Valonia dan Alvan.


Di dalam kamar mandi, iris mata Keyan tertuju pada dirinya yang terpantul di kaca. Ia melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Keyan baru menyadari ada noda darah lengket di kemejanya. Hatinya serasa diremas kembali melihat noda darah yang Keyan yakini itu adalah darah istrinya.


Keyan menggenggamnya erat. Menatap tajam pada kemejanya. Hari ini Valonia Jasmine mengeluarkan darah dari kulitnya. Hal yang tak pernah Keyan bayangkan sebelumnya.


...----------------...


Di luar kamar mandi. Varen menggenggam tangan Valonia yang mulai terasa hangat tidak sedingin saat diri nya baru tiba di rumah sakit.


"Aku akan melihat kondisi Pak Ardi lebih dulu. Apa istrinya sudah datang ?" Varen berdiri dari tempatnya duduk.


"Sudah, Kak ! Tadi datang bersamaku." Sahut Derry dengan tatapan tak lepas dari wajah Valonia. Ia merasa sedih ketika wanita yang baru saja jadi temannya ini terbaring lemah di atas brankar. 


Varen mengangguk lalu melangkah ke luar. Ia harus memastikan kondisi sopir sepupunya itu, sekaligus saksi kejadian tadi.


Tidak membutuhkan waktu lama, Keyan sudah bersih dan mengenakan pakaian lengkap. Ia duduk kembali di kursi samping brankar Valonia. Netra nya menatap sendu wajah istrinya yang terlihat masih pucat.


"Key, Papi dan Mami Dilla pamit dulu ya. Besok pagi kami ke sini lagi. Papi juga akan mencari tahu masalah ini." Papi Zaki pamit pada Keyan.


"Iya, Pi ! Tolong besok Papi saja yang jemput Mama Merry di bandara."


"Iya, Nak ! Jangan pikirkan itu." Papi Zaki dan Mami Dilla meninggalkan kamar rawat Valonia. 


Varen datang setelah menjenguk Pak Ardi. Ia bertemu kedua orang tuanya di pintu luar. Laki-laki ini tampak berpikir setelah keluar dari ruangan Valonia beberapa menit lalu.


"Kita berbagi, tidak mungkin, 'kan ? kita membiarkan Om Andre menunggu Alvan sendirian." Varen berdiri di samping Rara. Menatap teman-temannya satu persatu.


"Kamu benar." Sambung Levin. Iris matanya masih tak lepas dari wajah Valonia. Ia merasa gagal menjaganya hingga kejadian ini di alami wanita cantik itu.


"Aku dan Rara akan menemani Om Andre. Lalu... Mia pulang ke rumah saja ya, besok kamu harus membuka butik. Karena pesanan akan di ambil besok siang." Varen membagi tugas mereka untuk berjaga malam ini.


"Aku di sini."


Seluruh mata semua tertuju pada Levin. Kecuali Keyan, ia hanya menyimak dan sibuk mengecup punggung tangan istrinya saja.


"Bang, maaf. Tapi kamu harus pulang ada Kak Fanny di sini. Kasian juga Fendi di rumah." Rara dapat melihat raut tak enak di wajah Fanny.


"Kamu benar, maafkan aku sayang." Levin merangkul pundak Fanny dengan perasaan bersalah. "Aku terlalu mengkhawatirkan Jasmine."


"Kalau kamu mau tinggal di sini tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri." Fanny tersenyum lembut.


"Suami dan ibu mertuanya sudah di sini." Levin membalas senyuman istrinya.


"Karena sudah jam delapan, ayo kita berpisah. Siapa tahu Om Andre belum makan dan istirahat." Varen menarik tangan Rara dan di ikuti Levin yang berpamitan untuk pulang.


Tinggallah Endi dan Derry serta Bunda Arini. Mereka diam sejenak larut dalam pemikiran masing-masing. Mereka memang tidak berbagi menemani Pak Ardi di ruang rawatnya. Karena di sana istri dan anaknya sudah ada di tempat.


"Bagaimana kondisi Pak Ardi ?"


"Sudah bangun dan lumayan membaik." Endi menjawab sambil merapikan meja tempat ia menaruh makanan untuk Keyan.


"Syukurlah. Setelah Jasmine bangun aku akan ke sana." Keyan mengangkat tangan istrinya lalu mengecup buku-buku jarinya. "Bunda istirahatlah di rumah. Biar aku saja di sini. Pulanglah ke rumah kami." Mohon Keyan dari nada bicaranya. Ia tak mau jika Bunda Arini ikut sakit.


"Tidak apa-apa, Bun." Keyan menoleh guna meyakinkan ibunya. Bunda Arini mengangguk lalu meraih tasnya.


"Ayo, Der ! Antar saya pulang."


"Iya, Bu." Derry berdiri dari kursinya. Ia menoleh pada Valonia dan menatapnya lekat. Kakinya berayun untuk melangkah menuju brankar. "Cepat bangun, Kak !" Lirihnya pelan.


Endi dan Keyan tercengang, selama mengenal Derry. Tak pernah sekali pun laki-laki itu terlihat lembut dalam berkata. Selama ini intonasi bicaranya cukup datar dan seadanya.


"En, kamu juga ikut pulang ke rumah. Besok pagi temui orang-orang itu."


"Baiklah. Jika perlu sesuatu telpon saja aku. Nanti Sonny akan ke sini mengecek kondisi istrimu, karena perawatannya diambil alih oleh Sonny." Jelas Endi sekaligus menuruti kemauan Keyan.


...----------------...


Detak jarum jam mendominasi suasana di dalam kamar rawat Valonia. Di sana hanya ada Keyan duduk setia menemani sang istri, semua terasa sunyi dan sepi. Keyan merindukan suara Valonia, sudah beberapa jam ini suara dan pergerakan sang istri belum lagi ada.


Hati Keyan benar-benar sakit. Ketika bayang kejadian itu terlintas dibenaknya. Bagaimana jika istrinya yang tertusuk ? Apakah Keyan bisa menghadapinya ?


Keyan menggenggam tangan Valonia. Lalu menempelkannya di pipi. Iris matanya selalu saja mengawasi gelombang nafas di dada Valonia. Meski tak mengalami luka yang serius, namun Keyan tetap saja ketakutan.


"Dia belum bangun." Suara Sonny memecahkan kesunyian. Laki-laki ini baru datang setelah pekerjaannya berkurang. Ia belum melihat kondisi sahabatnya itu sejak tadi. "Luka-luka ini akan cepat sembuh, ini hanya goresan di permukaan kulit." Sonny melihat tangan Valonia menyeluruh.


"Tapi kenapa dia belum bangun?"


"Dari hasil pemeriksaan tadi. Dia Shock dan itu akan memberikan trauma untuknya. Terlebih dia menyaksikan sendiri Alvan terkena tusukan." Jelas Sonny duduk di tepi brankar.


"Apa ada pengaruhnya nanti pada insomnia nya ?"


"Semoga saja tidak. Aku tinggal dulu ya. Sebentar lagi dia bangun." Sonny meninggalkan ruangan Valonia. Ia teringat jika belum menelpon Mia kekasihnya.


Benar kata Sonny, pergerakan kecil terlihat pada Valonia. Wanita itu berusaha membuka kelopak matanya. Ia mengerjap beberapa kali menyesuaikan netra nya dengan pencahayaan dalam ruangan itu.


"Sayang." Keyan tersenyum lalu bangkit mengecup kening istrinya. "Katakan jika ada yang terasa sakit, aku benar-benar takut tadi. Aku merindukanmu. Maafkan aku tidak ada bersamamu saat seperti tadi." Sambung Keyan mencium setiap sudut wajah istrinya.


"Aku di mana ?" Suara Valonia terdengar serak ia berusaha untuk duduk. "Al—alvan mana ? Di—dia menolongku. Apa dia terluka ?" Valonia panik di tempatnya duduk dengan iris mata gelisah menatap lekat pada suaminya. Tubuhnya gemetar terpaku pada posisinya.


"Alvan terluka, sekarang dirawat juga. Kamu jangan cemas ada Varen dan Rara di sana." Keyan memeluk tubuh Valonia berusaha menenangkannya. Ia dapat merasakan tubuh istrinya gemetar. Perasaannya semakin sakit melihat ini semua.


"Pak Ardi juga terluka." Lirih Valonia membenamkan wajahnya di dada Keyan. Ia terisak memeluk erat tubuh suaminya. "A—aku takut. Sangat takut !"


"Jangan takut sayang, aku sudah membalasnya. Mereka sudah diamankan. Pak Ardi juga lumayan membaik. Jangan takut lagi ya." Keyan mengecup pucuk kepala Valonia sambil mengusap pundaknya pelan.


"Kamu sudah makan ?"


Keyan tersenyum dalam kondisi tak baik saja Valonia selalu memperhatikannya. "Aku sudah makan sayang. Sekarang kamu yang makan ya."


"Iya." Valonia menurut karena memang dirinya merasa lapar. "Besok pagi antarkan aku melihat Alvan." Pinta Valonia dibalas anggukan kecil dari suaminya.


"Besok Mama Merry datang." Keyan menyuapi Valonia dengan sabar. Hingga suapan terakhir.


Valonia menghentikan kunyahan nya dan menelannya perlahan. "Benarkah ?" Lirihnya disertai tatapan lembut dan berkaca-kaca. Angin rindu langsung menerpa hatinya, disaat seperti ini maka sang Mama akan membelai dan merawatnya penuh kasih sayang.


"Iya, sekarang kamu istirahat lagi." Keyan membantu Valonia untuk bersandar sebelum benar-benar berbaring.


Keyan bernafas lega sembari tersenyum menatap penuh syukur atas bangunnya Valonia setelah beberapa jam tertidur. Laki-laki ini menahan diri untuk tidak meluapkan rasa gembiranya dengan selalu memeluk tubuh istri tercintanya.


"Sayang aku mau berbaring."


Keyan sigap membantu istrinya untuk berbaring. Ia mengatur bantal agar Valonia merasa nyaman.  "Istirahatlah, lupakan kejadian hari  ini." Kecupan lembut kembali mendarat di kening dan bibir Valonia.