Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Lamaran Varen



Di langit begitu terang menyala. Bulan bersinar indah dan tampil sempurna. Cahaya kekuningannya ikut menerobos pilar bangunan kafe yang berdinding kaca transparan itu. Bulan purnama besar dan sempurna, turut andil menyaksikan lamaran Varen malam ini.


Rara melangkah anggun ke arah panggung, alunan nada hasil gesekan biola mengiringi langkahnya yang pelan. Air matanya tak mengering masih memberi jejak di pipi mulusnya. Tangan kanannya menggenggam kotak putih itu disertai tatapan tak lepas dari wajah laki-laki yang ia abaikan perasaannya dulu.


"Ini." Rara menyodorkan kotak putih itu kepada Varen. Netra nya tak berkedip dengan kesenduan yang terpancar. Ia masih terbawa suasana hatinya.


"Kenapa menangis?" Tangan Varen terangkat mengusap jejak air mata di pipi Rara dengan ibu jarinya. "Apa aku melukaimu?" Tanyanya lembut sembari merapikan helai rambut poni Rara yang menutup kecantikan gadis itu malam ini.


Rara menyeka air matanya sendiri sambil menetralkan dirinya. "A—aku menangis karena bahagia. Iya ! Ini air mata bahagia." Jawabnya terbata dengan seulas senyum penuh kebohongan yang tak selaras dengan hatinya.


"Kamu bahagia? Karena apa?" Varen tersenyum menggenggam kedua tangan Rara. Microphone yang hidup membuat percakapan mereka terdengar jelas diselingi suara gesekan biola.


"Karena kamu akan menikah, sebagai sahabat aku turut bahagia." Rara menarik tangannya dari genggaman Varen. Ia tidak enak hati jika kedekatan mereka akan dilihat calon istri sahabatnya itu.


"Sahabat?" Varen kembali menarik tangan Rara dan menggenggamnya. "Karena kamu sahabatku. Jadi, maukah kamu berdiri disini menemaniku? Untuk melamar wanita yang akan aku nikahi."


"Baiklah." Rara setuju. Meski perasaannya sakit karena terlambat menyambut cinta Varen. Namun untuk kebahagiaan laki-laki itu, ia berusaha untuk menutupi perasaan yang berkecamuk di hatinya.


"Terimakasih." Varen menuntun Rara untuk duduk disebuah kursi berwarna putih.


Rara terlihat bingung bercampur takut. Kenapa ia yang duduk di kursi itu? Tak ingin memikirkannya ia pun menurut saja. Nanti saat wanita yang akan dilamar Varen datang. Ia akan kembali berdiri.


Nada dari lagu romance sudah dimainkan oleh seorang pemain biola. Semua yang hadir di kafe itu sangat terbawa suasana. Mereka menebak dengan opini masing-masing tentang seseorang yang akan dilamar.


Varen meraih microphone lalu tersenyum ke arah Rara yang terlihat tegang duduk di kursi. Kaki Varen melangkah pelan menuju kursi yang di duduki gadis itu. Manik matanya mengunci iris mata Rara agar selalu melihat padanya.


Varen berdiri di hadapan Rara. Lalu meraih kotak cincin yang masih ada di genggamannya. Ia membuka kotak itu sambil tersenyum, meski begitu Varen tak memutuskan kunci mata mereka. Agar Rara bisa menyelami netra teduhnya.


Varen tersenyum dan berkata. "Cincin ini telah lama ku simpan untuk menunggu pemiliknya datang. Malam ini aku akan menyematkan cincin ini pada jari manisnya. Aku yakin, jari-jari lentiknya akan bertambah cantik setelah mengenakannya. Dia adalah wanita yang aku cintai segenap hati. Dia adalah wanita yang aku inginkan menjadi pendampingku dimasa depan. Menjadi ibu dari anak-anakku. Menjadi ratu dalam istanaku kelak. Dia wanita satu-satunya yang aku pilih dari sekian banyaknya wanita. Sebagai teman menuju tua. RARA ALYSSA ! Maukah kamu menikah denganku ?"


Tubuh Rara membeku, air mata di wajahnya belum juga mengering. Apalagi mendengar kalimat Varen sebelum menyebutkan namanya. Tunggu ! Namanya? Apa dia tidak salah dengar?


"Kamu tidak salah nama?"


"Rara Alyssa, kamu wanita yang aku pilih menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku. Sebagai teman dimasa tuaku. Cinta yang aku miliki sudah lama ada disini." Varen menunjuk ulu hatinya sendiri. "Aku mencintaimu ! Sejak bertahun-tahun lalu. Apa kamu mau menikah denganku ?"


"Varen."


Rara tak mampu berkata-kata. Tangisnya pecah dengan bibir tersenyum. Hanya kepalanya yang mengangguk menerima. Ia tak menyangka lamaran ini untuknya. Sungguh, kejutan luar biasa yang pernah di terimanya selain surprise ulang tahun.


"Aku bersedia menikah denganmu."


"Terimakasih." Varen menyematkan cincin di jari manis Rara. "Setelah ini aku akan melamar mu secara resmi pada keluargamu." Ia mengecup lembut kening calon istrinya itu.


"Aku mencintaimu."


Hati Varen bahagia, mendengar kalimat balasan dari Rara. Ia tersenyum lalu mendekatkan wajahnya. Tak ingin membuang kesempatan, Varen langsung menyesap lembut bibir calon istrinya itu.


Varen mengusap bibir Rara dengan ibu jarinya. "Aku sangat bahagia." Ia membawa tubuh Rara ke dalam pelukannya dan berulang kali mengecup pucuk kepalanya.


Di meja VIP. Para sahabat mereka ikut bahagia. Acara malam ini adalah ide dari para wanita yang tengah duduk sambil tersenyum merekah menyaksikan kebahagian Rara dan Varen.


"Sayang, aku ngidam loh."


Valonia menoleh. Tak hanya dirinya, yang lain pun ikut melihat ke arah pemilik suara.


"Ngidam?" Valonia menatap tanya pada suaminya yang tengah tersenyum.


"Iya, ngidam pengen cium kamu."


"Tidak ada ngidam seperti itu?" Sahut Alvan. Ia merangkul pundak Nanda posesif.


"Ada ! Aku buktinya. Ingin mencium istriku." Keyan tak mau kalah.


"Itu bukan ngidam tapi nafsu." Seru Sonny tersenyum sinis. Ia juga memeluk kekasihnya terlarut dalam suasana romantis Varen dan Rara.


"Terserah aku ! Intinya aku ngidam !"


"Ya ampun, Key ! Mana ada ngidam kaya kamu." Endi ikut angkat suara. Meski tidak berpose seperti Alvan dan Sonny. Tapi ia cukup senang sudah berdekatan dengan Sera.


"Kalian tidak per—"


Mata Keyan membulat sempurna terperanjat merasakan bibirnya disesap Valonia. Matanya tak berkedip menatap iris mata istrinya.


"Ngidam mu sudah terpenuhi."


Valonia tersenyum pada suaminya. Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah panggung. Valonia melambaikan tangannya pada Rara dan Varen yang melangkah ke arah meja. Ia mengabaikan Keyan yang terlihat shock meraba-raba bibirnya sendiri.