Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Bom Waktu



Keyan datang dengan tergesa-gesa. Karena tidak ingin melupakan janji jika akan menyusul ke pemakaman. Ia tersenyum melihat istrinya dan Derry asik bercerita.


"Kalian malah berbincang di sini."


"Sayang." Valonia gegas berdiri. Ia menerima pelukan sang suami yang selalu berkata rindu padanya.


"Kenapa malah berbincang di sini ?" Keyan meraih keranjang bunga lalu menaburkannya. Sejenak ia diam memanjatkan doa untuk sang Papa mertua.


"Kami sengaja menunggu." Seru Derry ikut berdiri dan membersihkan celananya.


"Sudah selesaikan, ayo ke butik mu. Matahari sebentar lagi terik." Keyan mengapit lengan istrinya dan menuntun Valonia untuk melangkah.  Sementara Derry lebih dulu di depan sepasang suami istri itu.


Mobil Keyan melaju meninggalkan pemakaman. Dan Derry kembali ke kantor untuk membantu Endi. Keyan melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


"Aku sepertinya pulang sedikit gelap. Ada gaun yang harus aku selesaikan." Valonia memecahkan keheningan mereka di dalam mobil.


"Iya, pulang dijemput sopir dari rumah ya. Jangan naik taksi, atau... kita menginap di butik saja. Tapi aku lembur sayang. Mungkin, jam delapan malam baru pulang. Ada sedikit kerjaan yang tak bisa aku tinggalkan."


"Kita bertemu di rumah saja. Selepas senja aku akan pulang ke rumah." Putus Valonia tersenyum. Ia tak ingin jika suaminya dalam keadaan lelah harus ke butik menyusulnya.


Keyan membuka pintu mobil setelah parkir sempurna di garasi butik. Setelah resmi jadi suami Valonia, CEO JFB ini membuat garasi untuk mobilnya karena tempat parkir itu tidak muat untuk dua buah mobil.


"Sayang aku hanya mampir sebentar." Keyan menyamai langkah istrinya. "Tapi aku merindukanmu." Sambungnya manja memberi kecupan di pipi kanan Valonia.


"Harusnya kamu tidak repot seperti ini. Aku bisa mengatur diriku sendiri." Valonia merasa bersalah karena Keyan menyisihkan waktu sibuknya hanya menemuinya.


"Aku suamimu sayang. Jadi aku harus memastikan keamanan mu." Keyan memeluk tubuh Valonia ketika menuangkan air putih.


"Alasan saja. Ini minumlah ! Apa kamu makan dulu ? Biar aku masak, masih ada bahan makanan di dalam kulkas." Tawar Valonia membersihkan sisa air di bibir suaminya.


"Boleh." Keyan mengecup singkat bibir pink istrinya lalu berpindah duduk di ruang tengah kemudian menyalakan televisi.


Valonia cekatan dan ambil langkah cepat dan ringkas untuk mempersingkat waktu memasak, karena tak ingin Keyan terlambat ke kantor. Beruntung, Mia setiap pagi akan menanak nasi untuk mereka makan siang di butik.


Sesekali Keyan melirik istrinya yang tengah memasak. Laki-laki ini sesuka hati mengubah isi dalam ruangan lantai tiga. Agar leluasa melihat Valonia Jasmine. Di mana pun ia duduk maka matanya dapat menjangkau keberadaan istrinya.


"Sayang, apa kamu mendengar percakapan kami tadi ?" Valonia bertanya sambil memindahkan hasil masakannya ke dalam mangkuk.


"Tidak, memangnya kalian membicarakan apa?" Tatapan curiga terlihat di manik mata Keyan. Temperatur di dadanya naik drastis dalam artian level cemburunya mulai terlihat.


Valonia menarik hidung Keyan yang menanti jawabannya. "Singkirkan pikiran jelek mu itu ! Sama denganmu aku tidak akan membagi diri dan hatiku pada orang lain."


Keyan tertawa malu. "Maafkan aku sayang." Ucapnya sembari memeluk tubuh istrinya yang menyiapkan air minum. "Aku tidak bisa menyembunyikan rasa cemburuku."


"Benarkah ?!" Keyan melepaskan lingkaran tangannya lalu duduk dengan wajah serius. "Aku tidak tahu hal ini. Selama bekerja denganku dia tak pernah bercerita apa-apa." Lanjutnya sembari menerima makanan dari Valonia.


"Dia menceritakannya sendiri tadi. Tante Marisa korban pelecehan. Tapi laki-laki  itu tak bertanggung jawab. Saat Tante Marisa akan melaporkannya, ia menawarkan diri untuk menikah tapi laki-laki itu ingkar lalu membuat perjanjian baru. Ia siap bertanggung jawab atas diri Derry sampai ia dewasa. Lalu... Membagi hartanya secara adil."


"Tante Marisa setuju?" Keyan bertanya sambil mengambil gelas air putih.


"Iya, karena Tante Marisa berpikir siapa yang akan menerima dirinya yang telah hilang kehormatannya ? Terlebih setelah itu dia hamil Derry."


"Kasian Derry." Keyan menyeka mulutnya dengan tissue.


"Iya, tapi sayang, kamu bersikaplah seperti tidak tahu. Aku menceritakan ini karena kamu memang berhak tahu apa saja yang aku bicarakan dengannya. Biar kamu tidak cemburu." Terang Valonia sekaligus mengejek suaminya.


"Aku percaya padamu, sayangku, istriku, cintaku." Keyan gemas lalu memeluk istrinya erat.


...----------------...


Di bangunan megah seorang pria paru baya tengah gelisah setelah orang suruhannya menyampaikan informasi yang membuatnya terkejut. Ia meremas ponsel milik orang suruhannya itu ketika melihat foto yang ada di dalamnya.


"Jadi, Derry bekerja sebagai sopir ?"


"Iya, Tuan. Sepertinya sudah lama." Jawab penguntit yang tadi mengawasi pergerakan Derry di pemakaman.


"Apa rencana anak itu ? Kenapa harus menjadi sopir ? Apa hubungannya dengan wanita pemilik Jasmine boutique itu dekat?"


"Sepertinya begitu tuan. Dari percakapan mereka yang saya dengar. Tuan Derry sudah menceritakan tentang Ibu Marisa pada pemilik butik itu." Penguntit ini mengulang kembali cerita yang ia dengar di pemakaman.


"Masalah ini seolah bom waktu, aku tidak mau dia meledak menghancurkan ku. Sebelum itu terjadi kita harus menyingkirkan pemicunya." Seringai licik dan jahat terlihat di wajah pria paru baya yang bersandar di kursinya ini.


"Maksud anda ?"


"Minta seseorang untuk menyusup di dalam unit apartemen Marisa, lalu... ambil surat perjanjian itu. Aku harus memusnahkannya agar Derry atau Marisa tidak ada jembatan untuk menuntut ku." Pria itu tersenyum puas atas rencananya.


"Bagaimana dengan pemilik butik itu? Dia sudah mendengar cerita ibu Marisa dari putra anda sendiri. Bahkan dia juga mendukung tuan Derry untuk mengambil haknya."  Penguntit itu tanpa sengaja menyebut laki-laki yang tengah menatapnya tajam ini sebagai Ayah dari Derry.


"Jangan menyebutnya putraku ! Aku tidak menikahi Marisa. Derry hanya sebuah kesalahan akibat pesta itu. Sampai kapan pun aku tidak mengakuinya, apa lagi membagi hartaku ! Untuk wanita itu, karena dia sudah mendengarkan semuanya singkirkan dia."


"Baik tuan, saya akan laksanakan rencana ini secepatnya. Tapi... Bagaimana dengan Tuan Derry ?"


"Singkirkan surat itu lebih dulu dan pemilik butik itu. Dengan begitu tak ada saksi yang mengetahui jika Derry adalah anak diluar nikah. Dan aku ayah biologisnya. Marisa tak bisa menuntut apa-apa karena aku pastikan untuk menolak tes DNA." Perintah laki-laki paru baya ini sembari mengembalikan ponsel milik orang suruhannya.