Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Permintaan Maaf Fanny.



Kehamilan Valonia yang memasuki usia ketiga bulan, semakin membuat Keyan tak sabar melihat perut istrinya membesar. Laki-laki ini selalu tersenyum ketika menatap perut istrinya yang sedikit menonjol.


Usai melewati permasalahan beberapa waktu lalu. Kondisi cukup tenang dan hangat. Bunda Arini dan Ibu Marisa sering bertemu di rumah Keyan. Mereka tidak canggung lagi ketika sama-sama mencurahkan rasa perhatian dan kasih sayang mereka pada Valonia.


Sebagai istri kedua, Ibu Marisa tidak menuntut hal-hal yang berurusan dengan hati. Di usianya yang sekarang jika membicarakan cinta, wanita paruh baya ini tidak lagi mengharapkannya. Cukup kehidupan layak dan pengakuan untuk putranya sudah membuat Ibu Marisa sangat bersyukur.


"Nak, Valo. Ini kuenya sudah matang." Ibu Marisa meletakkan piring berisi kue di atas meja.


"Terimakasih, Ma." Valonia mendongak sebentar lalu menunduk kembali. Wanita hamil ini tengah merancang gaun pengantin untuk Rara.


"Di makan dulu, nanti dilanjutkan bekerja lagi." Bunda Arini duduk di samping sang menantu.


Valonia mengangguk lalu meraih kue yang masih hangat itu. Ia senang karena kedua wanita paruh baya ini terlihat akur.


...----------------...


Angin bertiup pelan menerbangkan rambut panjang Valonia, wanita hamil ini membiarkan angin menerpa tubuhnya. Masa-masa sulit trimester  pertama kehamilan teratasi dengan baik. Jika karbohidratnya hanya didapatkan dari ubi. Maka sekarang Valonia bisa menggantinya dengan nasi. Meski hanya sedikit tapi lebih baik dari sebelumnya.


Di taman kecil tepat di belakang rumahnya, Valonia menikmati sorenya sambil menatap kebun bunga Jasminum yang tumbuh cantik dari berbagai jenis. Aroma manisnya menyeruak manja di indra penciumannya. Mengingat pohon melati ini, Bibir Valonia melengkung tipis. Banyak cerita yang terjadi selama ini. Pohon yang selalu dipeliharanya dengan baik saat pemiliknya menitipkan padanya. Pohon itu pula yang menginspirasikan suaminya hingga berdirilah JFB.


"Memikirkan apa?" Keyan mendaratkan tubuhnya di samping Valonia. Laki-laki ini sudah segar karena baru selesai membersihkan tubuhnya. Hari ini ia pulang cepat karena pekerjaannya tidak terlalu padat.


"Tidak memikirkan apa-apa. Hanya ingin di sini saja." Valonia menyandarkan kepalanya di dada Keyan. Wangi yang menguar dari tubuh suaminya membuat Valonia tidak tahan jika tidak menempel pada Keyan.


"Bagaimana hari ini? Apa dia rewel?" Keyan tersenyum sambil mengusap lembut perut Valonia dan bibirnya mendarat di pucuk kepala istrinya.


"Hari ini, dia makan kue yang dibuat oleh Mama Marisa." Begitu panggilan Valonia pada wanita paruh baya itu. Tidak pantas rasanya jika berbeda memperlakukannya dengan Bunda Arini.


"Apa mereka akur?" Keyan semakin menarik tubuh istrinya agar rapat dengannya. Dan leluasa membelai  kulit lembut itu.


"Hm, mereka akur tidak terlalu  canggung lagi. Bagaimana dengan Derry?"


"Dia sementara ikut ayah di kantor. Biar Derry banyak belajar dulu sebelum menggantikan Ayah." Keyan masih mengelus-elus perut Valonia.


"Dia pasti bisa."


"Ayo masuk sudah sore. Bagaimana gaun Rara sudah selesai?" Keyan membantu Valonia untuk berdiri dari tempatnya duduk.


"Sedikit lagi."


Keyan dan Valonia berpindah duduk di ruang tengah rumah mereka. Sepasang suami istri itu duduk sambil menonton televisi. Sambil menunggu malam tiba.  Keyan berbaring dan menjadikan pangkuan Valonia sebagai bantalnya. Padahal bulan lalu baru saja ia meminta Valonia tidak menerima pesanan dalam bentuk apapun. Tapi tak disangka Varen melamar Rara dan pernikahan mereka akan dilaksanakan dalam waku dekat. Sebagai sepupu dan sahabat, Valonia ingin menghadiahkan sepasang gaun pengantin untuk Rara dan juga Varen.


"Nyonya, ada tamu ingin bertemu dengan anda." Bi Noni datang ke ruang tengah menghampiri Keyan dan Valonia.


"Siapa?"


"Tuan Levin dan istrinya "


Valonia tercenung sesaat. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum berkata. Mungkin saatnya untuk berdamai, cukup lama ia tidak bertemu pada pasangan suami istri itu. Tak ada gunanya terlalu lama mendiamkan mereka.


"Bawa mereka masuk." Putus Valonia setelah terdiam beberapa saat. Ia meremas tangan Keyan yang berada di genggamannya. Seolah meminta kekuatan dari suaminya.


Tapi aku tidak berjanji untuk melupakan perlakuan wanita itu


Suara hentakan sepatu terdengar jelas di ruang tengah yang sunyi dalam rumah Keyan. Di penghujung sofa Levin berdiri bersama Fanny dan juga Fendi putra mereka. Ada kerinduan yang terlihat di netra teduh ayah satu anak itu. Kilatan kaca bening begitu nyata di pantulan lampu yang mengenai netra nya. Ada akar-akar merah yang menjalan di putih bola matanya.


Setelah kurang lebih empat bulan tidak pernah bertemu. Ada kedewasaan dari dalam diri Levin. Mereka masih saling tatap dan bergeming dari posisi masing-masing. Tak jauh berbeda Fanny juga masih bungkam. Tercetak nyata di manik matanya rasa bersalah yang begitu besar.


Embun-embun air mata mulai menganak sungai dan mencair perlahan mengguyur pipi mulusnya. Meski begitu, ada pula guratan takut dari garis-garis wajahnya saat tatapan matanya bergulir pada suami Valonia.


Tatapan tajam Keyan menghunus hati dan jantungnya. Sekarang, Fanny bisa melihat bagaimana rukunnya rumah tangga Valonia dan Keyan. Berbanding jauh dengannya. Yang sempat hampir berakhir di meja hijau akibat kesalahannya.


"Mami."


Suara kecil milik Fendi menarik empat manusia dewasa itu ke tepi dari tengah laut lamunan mereka.


"Hai Jagoan. Sini !" Valonia melemparkan senyum tulusnya sambil melambaikan tangannya agar anak laki-laki itu mendekatinya.


"Duduk Bang, Kak Fanny." Keyan berdiri menyalami Levin dan juga Fanny.


"Apa kabar, Key ?" Levin mendaratkan tubuhnya di sisi Keyan. Dua laki-laki itu saling memeluk dan tersenyum.


"Kabar kami baik, Bang. Lama tidak bertemu." Keyan melirik pada Fandi yang bermanja dipangkuan Valonia.


"Iya aku sedikit sibuk. Bagaimana kabar Jasmine ?" Levin juga mengarahkan pandangannya pada Valonia yang terlihat bertambah cantik dimasa kehamilannya ini.


"Dia sehat, Bang. Cuma makannya saja yang agak susah faktor kehamilannya. Ngidamnya masih normal, tapi sekarang sudah lumayan mau makan nasi meskipun tidak banyak."


"Ini aku bawakan makanan. Semoga cocok di lidahnya." Levin menyodorkan rantang yang ia bawa ke hadapan Keyan.


"Sayang, Bang Levin bawakan makanan untukmu." Keyan menyentuh lengan Valonia. Sebab istrinya fokus pada Fendi yang berceloteh ria padanya.


"Terimakasih, Bang. Aku terfokus pada Fendi. Dia sudah lancar bicaranya." Valonia tersenyum pada Levin.


"Iya, perkembangannya bagus. Cepat tanggap juga. Dimakan Jasmine nanti dingin loh." Levin mengulurkan tangannya ke arah Fendi.


"Kebetulan kami belum makan malam. Lebih baik kita makan bersama." Valonia memanggil Bi Noni untuk menanyakan kesiapan makan malam.


Kepala asisten rumah itu mengatakan jika makanan sudah tersaji. Valonia mengajak keluarga kecil Levin untuk makan malam. Terlihat sekali jika Fanny merasa canggung untuk memulai pembicaraan dengan Valonia.


Meskipun sudah makan. Levin tak tega menolak permintaan Valonia untuk makan bersama. Ia tersenyum melihat wanita hamil itu lahap memakan masakan yang ia bawa.


Makan malam itu sunyi hanya ada dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Bahkan Fendi pun, ikut tak bersuara saking menikmati cemilan yang dibuat Bi Noni.


...----------------...


"Aku minta maaf, atas kejadian beberapa bulan lalu." Ucap Fanny duduk di ujung sofa berdekatan dengan sofa yang diduduki Valonia dan Keyan. "Aku termakan hasutan dan juga cemburu buta. Aku menyesalinya. Sungguh ! Berbulan-bulan aku ingin sekali menemui kamu untuk meminta maaf atas tindakanku yang tidak dewasa." Sambungnya dengan tatapan bersalah.


"Itu sudah terjadi dan berbulan-bulan lamanya. Mustahil aku bisa melupakannya, tapi aku sudah tidak memikirkannya lagi. Aku juga berterimakasih karena kejadian itu, aku bisa mengingat kembali. Meski pun caranya cukup ekstrem. Hingga efeknya lumayan sakit aku terima."


"Itu adalah kebodohan terbesar yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Karena ego, aku tidak memikirkan efek yang ditimbulkan atas kejadian itu. Aku benar-benar minta maaf padamu, Valo ! Aku juga minta maaf pada Keyan." Fanny terlihat tulus meminta maaf dan mengungkap rasa sesalnya.