Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Terluka



Di penghujung senja, sunset nampak indah dipandang mata. Banyak orang tak menyia-nyiakan kesempatan berfoto mengabadikan momen. Termasuk Valonia dan Keyan, menikmati matahari tenggelam dari roftoop rumah sakit. Helaian rambut panjang Valonia diterbangkan angin menyapu wajah tampan suaminya, Keyan Ganendra.


Pancaran langit sore membias indah di kaki langit. Seindah senyum Keyan yang tengah bahagia. Laki-laki ini melingkarkan tangannya di tubuh ramping Valonia Jasmine dan menjatuhkan dagunya di atas bahu sang istri.


"Aku kurus ya." Valonia membuka percakapan. Setelah lama hening hanya menikmati sapaan angin senja. Meski bicara. Namun tak mengalihkan pandangannya pada ufuk barat yang berwarna jingga.


"Iya, kamu kurus. Tapi nanti bisa berisi lagi." Hibur Keyan sekaligus mengatakan kebenarannya. Bibirnya tak henti-hentinya memberi kecupan di pipi dan di leher istrinya.


"Kapan aku pulang ?"


"Kalau kamu sudah merasa baikan, besok boleh pulang." Keyan memejamkan mata menikmati waktu berduaan yang sedikit langka akhir-akhir ini. Ia membiarkan rambut  Valonia menampar wajahnya.


"Aku sudah merasa lebih baik. Terimakasih, karena selalu di sampingku. Aku mencintaimu."


Keyan semakin mengeratkan lingkaran tangannya. Lalu memberikan kecupan di leher jenjang istrinya. Perasaannya melambung tinggi di udara penuh kebahagiaan mendengar pengakuan cinta dari Valonia Jasmine.


"Aku bahkan lebih mencintaimu sayang. Hiduplah lebih lama untukku. Aku sempat takut melihatmu tidak bangun tadi." Ungkap Keyan atas kegelisahannya yang sepanjang waktu pertemuan di kantornya. Apa lagi melihat satu pohon Jasminum hampir kering dan mati. Kecemasan itu semakin merajai dirinya.


Valonia tertawa. "Ayo turun ! Sudah gelap, nanti aku ingin menjenguk Alvan."


"Baiklah, Ayo !" Keyan membantu Valonia duduk kembali di kursi roda. Lalu mendorongnya dengan hati-hati, disertai senyum yang tak hilang dari bibirnya.


...----------------...


Malam menyambut dengan baik, tak ada awan mendung atau angin yang berhembus kencang. Semua seolah terkendali sesuai porsinya. Valonia baru saja selesai membersihkan dirinya begitu juga Keyan.


"Key, besok surat perintah penangkapan untuk Tita akan keluar. Laporanmu sudah diproses." Endi memberi tahukan tentang perkembangan laporan Keyan.


"Syukurlah." Keyan mengambil handuk dan mengeringkan rambut panjang istrinya. Ia melakukannya dengan hati yang sangat bahagia.


"Bagaimana dengan, Kak Fanny ?"


"Kamu menceritakan semuanya ?"


Pertanyaan Valonia dibalas pertanyaan juga dari Varen untuk Keyan.


"Iya. Aku tidak mau menyimpan rahasia apa pun pada Jasmine." Jelas Keyan tegas. Ia tak ingin menyembunyikan apa pun dari istrinya. "Itu tergantung Bang Levin. Jika dia ingin melaporkan istrinya, aku tidak bisa mencegahnya. Karena secara tidak langsung, Fanny juga terlibat."


"Jangan laporkan, Pikirkan Fendi. Bagaimana dia tanpa ibunya ? Sebagai wanita aku bisa merasakan perasaan Kak Fanny. Hanya saja dia merasakan itu semua tidak pada tempatnya. Andai aku memang menyukai Bang Levin, sejak dulu aku tidak akan membiarkan dia menikahinya. Karena aku tidak memiliki perasaan itu. Maka aku meminta Bang Levin membuka hatinya untuk Kak Fanny. Namun dia tidak memiliki kepercayaan padaku dan juga pada suaminya. Aku tidak mempersalahkan atas keterlibatannya pada Tita dan Sindy hanya saja aku kecewa karena dia tidak memiliki kepercayaan." Ungkap Valonia


"Kamu yakin sayang."


"Iya. Aku sangat yakin dan juga jangan biarkan Kak Fanny menemuiku untuk sementara waktu. Aku tidak mau menemuinya." Tegas Valonia. Iris matanya terlihat datar dan penuh keyakinan atas keputusannya.


"Baiklah, aku akan membicarakannya pada Bang Levin." Sahut Varen. Ia terpaksa menyetujui permintaan sepupunya itu. Karena memang merasa perkataan Valonia ada benarnya. Untuk saat ini, jangan sampai Valonia bertemu dengan Fanny. Manusiawi saja, Valonia juga memiliki amarah dan ia tidak ingin terlibat percekcokan dengan Fanny.


"Key, setelah aku cari tahu. Kejadian yang menimpa Valonia dan Alvan tidak ada kaitannya dengan Ayahmu dan juga Tita serta Papanya. Tidak ada petunjuk tentang masalah itu." Endi memberikan laporan tentang pencariannya atas penyerang pada Valonia. Laki-laki tampan itu menyandarkan tubuhnya di dinding sofa.


"Kamu yakin, Ayahku tidak terlibat ? Setahuku mereka yang tidak menyukai Jasmine." Keyan meragu dan masih yakin atas perasaannya. Meski mulutnya bicara tapi tangannya bergerak menyisir rambut panjang istrinya.


"Orang yang melakukan ini bermain cantik." Sahut Varen setelah berpikir keras untuk menemukan sedikit saja petunjuk.


"Jangan mencurigai ayahmu, sayang ! Itu tidak baik." Seru Valonia tak ingin Keyan menjadi durhaka.


Keyan tersenyum kaku. Tak seharusnya membahas masalah itu di hadapan Valonia. Keyan memberikan isyarat agar Endi tak membahasnya lagi. Di dalam ruangan Valonia sudah jadi ruang pertemuan para sahabatnya. Mereka membahas banyak hal disana.


...----------------...


Matahari pagi menyapa dengan sedikit cahaya yang menembus mendungnya awan putih. Seolah durja awan pun perlahan berubah hitam disertai angin yang sedikit tidak ramah.


Tita menggeliat di atas kasur. Menikmati nyamannya tidur dalam hawa dingin yang memeluknya. Usai pertengkaran hebat Pak Anton dan ibu Tania beberapa hari lalu. Ia dan ibu Tania memutuskan tinggal terpisah. Kini gadis itu tersenyum membuka matanya.


"Ta, kamu sudah bangun. Nak?" Ibu Tania mengetuk daun pintu kamar putrinya. Dari suaranya terdengar ada kecemasan.


"Aku sudah bangun, Ma." Tita menjawab sembari menyibak selimut dari tubuhnya.


"Nak, selesai bersih-bersih. Segeralah turun. "Ibu Tania meninggalkan pintu kamar Tita.


Tita tak mencerna suara Ibu Tania dengan benar. Ia terlena dengan kenyamanan yang ia rasakan beberapa hari ini. Tak menunggu lama, gadis itu segera melangkah ke kamar mandi. Senandung kecil terdengar bersamaan turunnya air shower.


"Ta."


Langkah Tita terhenti. Netranya tertuju pada beberapa orang yang duduk di sofa ruang tamu. Tubuhnya tiba-tiba gemetar. Ingatannya kembali pada pernyataan Keyan beberapa hari lalu. Hawa dingin yang menusuk pori-pori kulitnya semakin dingin terasa. Tubuhnya limbung dan lemah. Tak menyangka jika Keyan dan Varen melakukannya. Ia mengira dua laki-laki itu hanya mengancamnya.


"A—ada apa ini, Ma ?" Tita bertanya seolah belum mengerti tujuan tamu-tamu itu. Meski terkesan tak memahami. Tapi raut keterkejutannya tak bisa mendustai


"Mereka mencarimu." Lirih ibu Tania. Ia baru saja tahu jika Tita melakukan hal yang memalukan. Tadinya ibu Tania berpikir, Tita hanya bertengkar dengan Sindy.


"Maksud Mama ?"


"Kamu mempermalukan Mama, demi laki-laki yang tidak mencintaimu. Kamu melakukan hal rendah seperti ini. Untuk apa kamu mengganggu Valonia? Agar Keyan bisa kamu miliki ! Sadarlah, Ta ! Dia sudah beristri dan dia mencintainya. Jangan buang harga dirimu demi laki-laki !" Intonasi ibu Tania meninggi. Air matanya meleleh deras. Luka hatinya kembali terbuka. Mengingat ada orang ke tiga dalam rumah tangganya. Maka sebagai korban ia bisa merasakan perasaan Valonia jika ada orang ketiga menyusup ke dalam rumah tangganya.


"Aku minta maaf, Ma..." Mohon Tita. Ia menguatkan diri untuk menghampiri sang ibu dengan tangis pecah mengiba. Ya, penyesalan sudah menggerogotinya. Kenyataan perselingkuhan pak Anton dan Sindy sangat menamparnya. Hingga ia sadar bagaimana sakitnya jika diduakan. Meski ia belum mengalaminya tapi melihat kesedihan ibu Tania. Tita cukup tahu rasa sakitnya.


"Mama kecewa ! Mama tidak bisa membantumu. Keyan dan Varen sudah melaporkanmu. Mereka datang untuk menjemputmu dengan surat penangkapan resmi." Tak ingin menyaksikan Tita dibawa pihak keamanan. Ibu Tania langsung bangkit dan melangkah cepat untuk masuk ke kamarnya. Dadanya sesak. Kenapa ? Kenapa putri yang begitu dicintainya tega berniat menghancurkan rumah tangga orang lain ?


"Ma. Bantu aku... Jangan biarkan mereka membawaku. Aku tidak bisa disana, Ma..." Tita histeris melihat punggung ibunya menghilang di balik daun pintu. Ia berontak di tempatnya berdiri. Karena tangannya ditahan oleh dua petugas wanita.


"Mari, Nona !"


Tita pasrah dibawa. Iris matanya menatap lekat daun pintu yang tertutup rapat. Wanita yang telah menghujaninya dengan kasih sayang sejak bayi itu. Kini bersembunyi di balik daun pintu tak ingin melihat wajahnya. Tita menyesal, sangat menyesal. Hatinya hancur telah melukai perasaan ibu yang membesarkannya selama ini.


Berselang beberapa menit, hujan turun mengguyur bumi. Langit ikut menangis merasakan sakit


nya perasaan seorang ibu. Gadis mungil yang ia besarkan dengan tangannya sendiri. Gadis yang dirawatnya penuh cinta. Menjelma jadi wanita angkuh dan egois. Ibu Tania mengintip dari tirai jendela hingga mobil keamanan menghilang dari gerbang rumahnya.


Tangis ibu Tania pecah, tubuhnya luruh ke lantai dengan tangan mencengkram kain tirai. Ia seolah tak rela, Tita dibawa untuk menanggung jawabkan kesalahannya. Namun jiwa wanitanya membiarkan putrinya itu menyadari kesalahannya.


...----------------...


Semakin deras hujan semakin muram pula hati seseorang yang tengah menatap jauh di balik kaca ruangannya. Dari sebuah kursi kebesarannya, Pak Anton dapat melihat curah hujan yang begitu lebat mengguyur bumi. Dalam hatinya sangat menyesal telah menduakan istrinya yang setia.


Tak hanya sekali. Namun, berkali-kali  Pak Anton melakukannya.Demi popularitas, ia melemparkan kekurangan dirinya pada ibu Tania. Lalu dengan polosnya, istri setianya itu percaya pada selembar kertas hasil pemeriksaan mereka berdua bertahun-tahun lalu.


Pak Anton mengutuk kebodohannya, merasa dirinya yang tak sempurna. Ia mencari kesenangan dengan menduakan istrinya. Menjadikan kesepian sebagai alasannya. Kaca lamunan Pak Anton pecah di saat ponselnya bergetar di atas meja. Netranya melihat nomor sang asisten yang tertera.


"Ada apa ?" Pak Anton dengan malas menjawab. Ia menghela nafas berat sembari melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.


"Pak, hari ini Putri Anda Nona Tita resmi di tahan."


"Apa ?! Siapa yang melaporkannya ?" Pak Anton terkejut. Kesalahan apa yang telah diperbuat putrinya itu. Ia membawa tubuhnya berdiri merapat pada kaca tembus pandang di ruangannya. Dari sana ia bisa melihat kendaraan yang hilir mudik bergerak.


"Tuan Keyan dan Tuan Varen melaporkannya. Karena Nona Tita telah mengganggu Nyonya Valonia Jasmine. Sekarang istri tuan Keyan sedang dirawat di rumah sakit."


"Baiklah, saya akan menemui Tita." Pak Anton memutuskan telpon dengan raut wajah kecewa. Anak sahabatnya sendiri telah menyeret Tita ke dalam bui.


Kenapa Tita tidak mengatakan jika ia menemui Valonia ? Pantas saja Keyan dan anak berandalan itu marah. Dasar gegabah !


Dengan perasaan kesal Pak Anton langsung menghubungi Ayah Johan. Kakinya melangkah lebar sambil bicara ditelpon.


...----------------...


"Jadi, menantu kesayanganmu itu gila ! Malang sekali putramu, mendapatkan istri tidak waras." Sinis Ayah Johan duduk di ruang tengah rumahnya. Ia sengaja pulang cepat setelah mendapatkan kabar dari Pak Anton.


"Sayang sekali kamu harus kecewa, karena menantuku itu. Tidak jadi gila." Balas Bunda Arini kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Apa kamu tahu, yang telah dilakukan Keyan pada Tita? Demi membela wanita itu, ia melaporkan Tita. Tak hanya itu dia juga menampar putri Anton !"


Bunda Arini menghentikan langkahnya lalu berkata. "Dia pantas mendapatkannya ! "


"KAMU !" Tunjuk Ayah Johan semakin marah. Gelombang nafasnya memburu naik turun. Wajahnya merah disertai iris mata yang tajam.


"Kenapa? Kamu tidak terima wanita yang kamu inginkan sebagai menantu itu ditahan ! Kalau memang karena perbedaan status sosial. Lalu... Apa yang membuat Tita begitu berharga dimatamu? Padahal, kita semua tahu jika dia hanya anak pelayan yang kebetulan bernasib baik diadopsi oleh Tania. Aku jadi kasian padanya, Anton menduakan Tania dengan gadis yang seumuran dengan putrinya."


Ayah Johan bungkam, dia belum tahu soal perselingkuhan Pak Anton. Yang ia tahu hanya masalah Tita. Emosinya meredup dan membiarkan Bunda Arini masuk ke dalam kamarnya.