Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Sepasang Gelang Tali



Matahari telah terbit, cahayanya menerangi bumi dari kegelapan malam hari. Seperti sebelumnya, siswa - siswi mulai berdatangan dan memasuki gerbang sekolah.


Pagi ini sangat berbeda, seorang idola sekolah berdiri di dekat tangga masuk menuju halaman sekolah. Keyan berdiri sambil menatap layar ponselnya, sesekali matanya melirik ke arah parkiran sepeda motor. Netranya menangkap sosok yang ia tunggu, Keyan menyimpan ponselnya di saku  jaketnya. Lalu menunggu kedatangan orang itu.


"Jasmine" Keyan melangkah menghampiri Valonia yang berjalan bersama Varen. Lengkungan senyum terlihat di bibirnya.


Valonia menanggapinya dengan senyuman tipis. Ia tidak bertanya kenapa Keyan disana?


" Val, kamu ke kelas duluan ya. Aku menemui Sonny dulu." Varen meninggalkan Valonia dan Keyan. Pria ini sudah ada janji temu bersama mantan rivalnya itu


Valonia dan Keyan melanjutkan langkah menuju kelas. Di belakang mereka, ada dua pasang mata yang menatap tidak suka. mereka adalah Tita dan Sindy.


"Keyan kenapa bisa dekat dengan gadis cupu itu?" Gerutu Sindy tak suka.


"Apa bagusnya gadis itu ?!" Tita ikut menimpali dengan perasaan dongkol. Ia sangat kesal. Akhir-akhir ini dirinya telah diabaikan Keyan.


Tita dan Keyan satu kelas, mereka bisa berteman karena ayah mereka rekan bisnis. Dari seringnya bertemu di acara keluarga. Tita memiliki perasaan pada Keyan.


" Jasmine, terimakasih sudah menitipkan materi kemarin pada Alvan, aku bisa memahaminya dengan baik." Keyan membuka pembicaraan terlebih dulu.


" Sama-sama"


"Pagi Valonia" Alvan datang menyusul dari belakang.  Senyumnya merekah indah pagi ini.


"Pagi, Al."Valonia tertular senyuman Alvan. "Apa kamu kehujanan kemarin?"


"Tidak, sudah sampai rumah baru turun hujan . Doa gadis cantik sepertimu rupanya terkabul untuk menunda hujan." Lagi-lagi senyum di bibir Alvan tidak pudar.


Keyan mendengus kesal, kenapa kemaren harus setuju menghadiri acara keluarga yang membosankan itu? Ia melihat pada Alvan yang masih menatap lembut Valonia.


" Jasmine, apa besok ada waktu ? aku ingin mengajakmu lari pagi. Di taman kota." Keyan menatap lekat  iris mata Valonia. Rasanya sangat menyesal karena terlewat sehari tidak bersama gadis ini.


Valonia nampak berpikir, ia mengingat apa saja kesibukannya esok hari. "Pagi masih bisa, tapi kalau siang aku ke butik"


"Besok pagi aku jemput." Keyan tersenyum senang. " Ayo ke kelas." Ajaknya lagi.


"Aku tidak diajak." Alvan menatap Keyan dan Valonia bergantian.


"Tidak." Tegas Keyan kemudian menarik pergelangan Valonia.Tiga orang itu melenggang pergi menuju kelas masing-masing.


...----------------...


Seluruh siswa mengikuti pelajaran dengan tertib, mereka benar-benar mempersiapkan diri untuk ujian akhir nanti. Begitu pun juga dengan Keyan. Dari belakang kursinya ada seseorang yang menatap punggungnya dengan penuh cinta.


" Key." Suara Tita setengah berbisik. Tangannya menyentuh pundak Keyan. Posisi kursinya memang di belakang laki-laki itu.


Keyan menoleh kebelakang, lalu berkata " Ada apa, Ta ?" Tanyanya lalu kembali menghadap ke depan.


Tita tersenyum. "Besok ada acara ?" tanyanya pelan.


"Iya, aku sudah ada janji. Kenapa ?" Sejauh ini Keyan masih menganggap Tita temannya. Mereka tinggal di lingkungan yang sama.


"Aku mau mengajakmu lari pagi di taman kota. Kamu mau?" Tita menatap penuh harap.


"Aku tidak bisa, lain waktu saja."


Tita mengepalkan tangannya kesal, kenapa Keyan seperti ini ? Dulu pria ini tidak pernah menolaknya terkecuali sesuatu itu sangat penting. Dan hari ini, Keyan menolaknya hanya karena janjinya pada Valonia Jasmine. Tita mendengarkan percakapan Keyan dan Valonia tadi pagi.


Menghabiskan beberapa jam pelajaran, bel pulang pun terdengar. Seluruh siswa langsung bersiap untuk pulang. Keyan bergegas keluar dari kelas tanpa menghiraukan Tita yang memanggilnya. Alvan mengikuti langkah Keyan, sambil tersenyum mengejek pada Tita yang kesal.


" Key tunggu !" Panggil Alvan berlari kecil. " Kenapa buru-buru ?"


"Aku mau ke toko sepatu." Keyan melangkah menuju parkiran. Matanya tertuju pada Valonia yang bersiap pulang naik motor bersama Varen. "Jasmine" Panggilnya melangkah ke parkiran motor menemui Valonia.


"Ada apa, Key?"Valonia menurunkan kakinya kembali ke bawah. Ia berdiri di samping motor Varen.


"Ikut aku ya."Pinta Keyan tersenyum. Mendengar permintaan itu, Valonia melirik pada Varen seolah berkata ijinlah padanya. "Ren, aku ingin mengajak Jasmine ke toko sepatu, nanti aku yang mengantarkannya  pulang."  Keyan memahami sorot mata Valonia.


Varen terdiam nampak berpikir sejenak, kemudian berkata."Antar dia pulang sebelum sore. Nanti papa Danu cemas."


"Iya, aku janji akan mengantarkannya sebelum sore. Kami hanya membeli sepatu." Keyan melepaskan helm dari kepala Valonia.


"Lalu, aku pulang dengan siapa ?" Alvan menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah menyedihkan.


"Ayo naik, sebelum mengantarkanmu pulang. Kita mampir ke kafe dulu ya." Varen tiba-tiba baik hati.


Alvan mengangguk senang, meski pun keluarganya kaya. Alvan lebih suka menumpang pada Keyan ketika berangkat sekolah. Tanpa bicara lagi, Varen dan Alvan meninggalkan parkiran sekolah. Sementara itu, Keyan mengajak Valonia melangkah menuju mobilnya.


Dari jauh Rara mengacungkan jempolnya. Hari ini gadis ini menggunakan mobil ke sekolah, karena motornya harus diservis. Tanpa mereka tahu di sudut tempat parkir, Tita menatap penuh kebencian pada Valonia Jasmine.


...----------------...


Di perjalanan sudah dua puluh menit keheningan masih saja menyela di dalam mobil milik keyan. Tidak ada pembicaraan dari keduanya. Valonia benar-benar gugup berduaan dengan Keyan di dalam mobil.


"Kita ke toko sepatu dulu ya." Keyan memecahkan keheningan. Ia pun sebenarnya gugup.


"Iya."


Tidak ingin canggung, Keyan menghidupkan lagu. Tanpa diduga  lagu itu adalah lagu favorit Valonia. Suasana mulai mencair, mereka membahas penyanyi lagu itu. Seolah kesenangan mereka sama.  Obrolan pun tidak tersendat lagi. Mobil Keyan berhenti disalah satu pusat perbelanjaan.


" Ayo turun." Keyan tersenyum menoleh pada Valonia. Ia mematikan mesin mobil setelah terparkir sempurna.


Gadis itu mengangguk kemudian membuka pintu mobil. Mereka melangkah bersama menuju pintu masuk toko. Pegawai toko menyapa mereka dengan ramah.


Tanpa penolakan Valonia mengikuti langkah Keyan. Setiba di rak sepatu Valonia melepaskan tangannya dari genggaman Keyan.


"Tidak perlu sepatu baru, Key. Sepatuku ada di rumah. Kamu saja yang beli ya." Valonia menolak secara halus. Ia tidak enak hati jika dibelikan sepatu oleh Keyan. Gadis ini tidak terbiasa menerima barang dari orang lain.


"Tidak apa-apa Jasmine, pilih saja sepatunya. Aku yang membelikannya. Pilih sepatu dengan warna senada ya." lagi-lagi Keyan tetap memaksa keinginannya.


Valonia berdiri menghadap pada Keyan, tatapannya terlihat serius. Kemudian Ia berkata. "Terimakasih sebelumnya, Key. Atas niat baik mu itu. Tapi maaf aku tidak bisa menerimanya. Kalau kamu mau beli sepatu, belilah untukmu."


Keyan terdiam, menundukkan kepalanya sejenak. Kemudian ia tersenyum lembut. "Baiklah, aku tidak memaksa mu. Tapi jika aku memberikanmu sesuatu apa kamu menerimanya?" Iris mata itu berharap mendapatkan jawaban. Iya !


Valonia Jasmine mengangguk. " Aku akan menerimanya jika sesuatu itu tidak merugikanmu."


Keyan tersenyum. " Baiklah ! aku ingin melihat sepatu-sepatu ini dulu, aku ingin membeli sepatu. Pilihkan warnanya untukku." Ia menarik tangan Valonia menuju rak sepatu pria.


Sambil memilih sepatu, Keyan dan Valonia berbincang, membahas ukuran sepatu dan warna kesukaan.


" Warna putih ini cantik, cocok sama kulitmu, modelnya juga bagus." Valonia menjatuhkan pilihan pada sepatu di tangan Keyan.


Keyan melihat sepatu di tangannya, pilihan Valonia sangat bagus. "Kamu suka yang ini?" ia memastikan lagi.


Valonia mengangguk. " Iya, tapi jika kamu tidak suka. Boleh ganti yang lain sesuai kemauanmu." Ia tiba-tiba tidak nyaman karena telah lancang menjatuhkan pilihan untuk Keyan.


"Aku ambil pilihanmu saja, sekarang duduklah di sana. Kamu pasti lelah, aku ke kasir dulu." Keyan menunjuk kursi tunggu di dekat pintu masuk


Valoni menurut, karena memang dia lelah. Tak hanya lelah Valonia juga lapar. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah empat puluh lima menit mereka di sana. Valonia mengamati isi toko itu. Ia berharap suatu hari nanti butiknya akan ramai pengunjung, tak hanya dari kalangan menengah namun dilirik juga oleh orang-orang berpengaruh. Untuk mendapatkan pencapaian seperti itu. Valonia harus bekerja keras. Dia ingin karyanya diakui.


"Sudah, ayo kita ke toko baju olahraga dulu ya, aku mau beli pakaian olahraga. " Keyan datang membawa paper bag ukuran besar. Valonia tersentak dari lamunannya. "Kamu melamun ?" Keyan menyadari jika gadis bersamanya ini terkejut mendengar suaranya.


"Maaf aku tidak menyadari kamu sudah di sini, persiapanmu seperti akan ikut lomba saja, padahal hanya lari." Valonia mengimbangi langkah Keyan. Mereka bersama melangkah meninggalkan toko itu.


Keyan hanya tersenyum, mereka memasuki toko yang menjual perlengkapan pakaian olahraga. Keyan tidak lagi meminta Valonia mengambil baju, karena ia yakin gadis itu pasti menolaknya.


Keyan memilih baju olahraga berwarna hitam, kali ini ia memilih sendiri sesuai pilihannya. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Keyan mengajak Valonia ke toko aksesoris.


"Kita, ke toko aksesoris dulu ya. Ada yang ingin aku beli." Keyan membawa Valonia ke toko yang dimaksudnya. Laki-laki ini tidak tahu saja jika gadis yang dibawanya itu nampak lelah.


"Kamu mau beli apa ?" Valonia mengikuti langkah Keyan. Meski lelah ia tak mengeluh.


"Tiba-tiba aku ingin membeli sesuatu. Untuk yang ini kamu tidak boleh menolaknya." Keyan melangkah mendekat tempat berbagai macam gelang dipajang.


"Kamu mau beli gelang ?" Valonia Jasmine ikut melihat gelang-gelang itu.


Gelang tali, sangat cantik dan unik. Dengan berbagai macam bentuk dan rupanya. Keyan dan Valonia sama-sama melihat dan memilih. Pilihan mereka jatuh pada gelang yang sama. Gelang itu sepasang bewarna hitam. Tidak besar tapi manis dan unik, sederhana tapi bermakna.


Keyan dan Valonia saling pandang dan tersenyum. Merasa heran atas pilihan mereka yang sama. Cukup lama mengecek kekuatan gelang itu.


"Kamu suka ini?" Keyan mengambil gelang yang agak kecil. Sepertinya itu untuk perempuan.


"Iya, warnanya bagus. Simpel dan cantik." Valonia masih melihat gelang itu.


"Kalau begitu kita ambil ini saja." Keyan menuju kasir membawa gelang di tangannya.


"Tunggu, Key !" Valonia menghentikan langkah kaki Keyan. "Kalau kamu mau gelang itu, aku bisa cari yang lain." Ia baru menyadari jika Keyan juga ingin gelang itu.


Keyan tersenyum. "Aku memang ingin gelang ini. Tapi akan memakainya bersama mu." Ucapnya lembut penuh perasaan. Valonia terdiam, ia membiarkan Keyan membayar gelang itu.


"Ada lagi yang ingin kamu beli." Ingin rasanya Valonia mengatakan. Aku sudah lelah ! Tapi kata-kata itu ia simpan di dalam hati saja.


Merasa sudah tidak ada lagi yang dibeli. Keyan baru merasakan lapar dan haus.  "Sepertinya tidak ada lagi, Jasmine, kita makan dulu ya. Baru pulang." Ia membawa dua paper bag itu sendiri.


"Iya, aku juga lapar." Valonia memasuki kafe yang tidak terlalu ramai.


"Maaf, jika lapar harusnya kamu memberitahu ku tadi." Keyan merasa bersalah.  Valonia Jasmine hanya tersenyum. Mereka memesan makanan sesuai selera. Keyan menatap Valonia dengan tatapan bersalah. Harusnya sebelum belanja mereka makan terlebih dulu. "Maaf ya, harusnya kita makan dulu tadi. Baru belanja."Keyan meminta maaf atas kecerobohannya itu.


"Tidak masalah, itu pertanda jika kamu belum pernah mengajak seorang gadis untuk jalan-jalan" Valonia tersenyum mengejek.


Keyan  tersenyum kaku dan berkata "Iya, kamu yang pertama aku ajak jalan-jalan selain Bunda dan Tita. Biasanya bila aku jalan sama Bunda, beliau yang mengajakku makan. Jika jalan sama Tita kami tidak pernah mampir makan, setelah menemani belanja. Selama ini aku tidak pernah mengajak gadis untuk jalan-jalan. Bunda dan Tita yang selalu mengajakku." Ia sedikit bercerita.


Mendengar nama Tita disebutkan, raut wajah Valonia Jasmine berubah. Ia teringat dengan Varen, laki-laki sebaik sepupunya itu.  Kenapa tidak berharga di mata seorang Tita ?


" Kamu ada alergi makanan?" Valonia melipat tangannya di atas meja.


"Ada, aku alergi seafood, kenapa menanyakan itu ?" Keyan meletakan ponselnya di atas meja. Ia juga heran kenapa Valonia Jasmine tidak memegang ponsel seperti dirinya?


"Varen selalu bertanya seperti itu, jika mengajak seseorang makan untuk pertama kalinya. Jadi aku menirunya, siapa tahu suatu saat nanti kita ada makan bersama dan tidak tahu jika ada yang memiliki alergi itu berbahaya." Jelas Valonia Jasmine panjang lebar.


"Maaf, aku tidak peka, sepertinya Varen sangat tahu tentang mu." Keyan tiba-tiba merasa tidak percaya diri.


Valonia tersenyum, meski berasal dari keluarga sederhana. Tapi ia tidak kekurangan perhatian. Varen memperhatikannya dan memperlakukannya bak seorang putri. Tidak hanya Varen, Levin pun ikut mencurahkan perhatiannya. Jika Valonia datang ke kafe, maka Levin yang akan turun tangan melayaninya.


"Varen laki-laki luar biasa menurutku di usianya yang sekarang. Ia membuat peraturan jika sedang makan bersama, tidak boleh menyentuh ponsel terkecuali ada telpon atau pesan masuk. Karena diwaktu makan adalah waktu yang sangat berharga untuk kita berkumpul bersama orang-orang yang kita kasihi." Jelas Valonia panjang lebar


"Aku mengerti." Keyan tersenyum lalu menoleh ke arah waiters yang mengantar makanan. "Jasmine !" Ia mengeluarkan gelang yang tadi dibeli. "Jangan lepas gelang ini, agar kamu selalu ingat siapa yang memasangnya untuk mu." Keyan memasang gelang di pergelangan Valonia. "Cantik ! Cocok di kulit mu." Pujinya.


Valonia mengangkat pergelangan tangannya. Ia tersenyum melihat gelang itu nampak manis di pergelangannya. Tak banyak bicara ia juga memasangkan gelang satunya di lengan Keyan.


"Lihat gelangnya sangat cocok di tangan mu. Manis sekali !" Puji Valonia


Keyan bahagia, ia masih menatap lekat gelang tali di tangannya itu. "Aku tidak akan melepaskan gelang ini." Ia memutar-mutar gelang itu sambil tersenyum. Ia meraih ponselnya lalu mengambil foto pergelangan tangan mereka berdua.