Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Misi



Satu pasangan telah pergi memulai kisah asmara mereka yang baru saja menumbuhkan tunasnya. Valonia senang akhirnya sahabat suaminya itu menemukan tambatan hatinya. Meski ia pun terlibat menyatukan mereka. Mengingat panggilan Alvan untuknya Valonia terkekeh. Benar sekali, dirinya serasa berhadapan dengan calon menantu yang akan mengajak anak gadisnya untuk berkencan.


Bukan tidak percaya pada teman-temannya. Tapi Valonia harus memastikan jika karyawannya itu ditangan laki-laki yang baik. Selama ini Valonia yang bertindak sebagai wali. Ia sengaja menerima para karyawannya itu dengan latar belakang yang berbeda-beda. Secara tidak langsung Valonia bertanggung jawab atas diri mereka di kota itu.


"Aku ingin mengajak Mia bertemu papaku siang ini. Aku sudah berjanji memperkenalkan mereka. Jadi, aku bawa ubi itu untukmu." Sonny memberikan senyum lebarnya pada Valonia.


"Kamu serius dengannya?"


"Aku serius Valo. Setelah mereka bertemu aku berniat melamarnya. Aku iri pada Keyan. Sekarang dia maju selangkah dariku. Dia sudah bergelar papa." Sonny mengungkapkan rasa iri nya melihat Keyan yang bebas mengekspresikan  rasa cintanya.


Valonia terkekeh. "Bawalah, jangan sampai melukai hatinya, Son ! Dia hanya punya Nenek di kampungnya. Aku keluarganya saat ini "


"Siap, Mama mertua."


"Jangan menyebutku seperti itu !" Geram Valonia. Sekarang Sonny tertular Alvan menyebutnya mama mertua.


Sonny terbahak senang. Tanpa pamit ia langsung melesat keluar. Laki-laki jahil itu meniru Endi yang menyuap Valonia untuk bertemu sang pujaan hati.


"Dan kamu?"


"Aku ingin melamar Rara." Varen menyandarkan tubuhnya. Ia juga tertawa dengan aksi para sahabatnya yang menyuap sepupunya itu.


"Kamu yakin? Apa dia tahu perasaanmu?"


"Aku sering mengatakannya. Tapi dia tidak mempercayaiku." Varen menghela nafas panjang. Memang benar selama ini ia mencintai sahabatnya itu. Hanya saja, tak pernah mengungkap perasaannya dengan benar.


"Ren, ada baiknya kamu pastikan perasaan Rara lebih dulu. Aku tidak mau kamu ditolak dan akan merusak persahabatan kita."


Varen terdiam mendengar saran sepupunya itu. Benar yang dikatakan Valonia. Ia harus memastikan perasaan Rara, apakah ada untuknya atau tidak.


"Bagaimana jika kamu yang memastikannya untukku."


"Caranya?" Valonia meraih keranjang sogokan Alvan. Bibirnya tersenyum melihat buah yang diinginkannya ada disitu.


"Ajak dia berbincang, korek isi hatinya. Agar aku bisa mengatur langkah."


"Baiklah. Nanti malam aku memintanya ke rumah." Valonia berpindah mencicipi makanan yang dibawa Varen.


"Aku akan mengantarnya."


Valonia mengangguk lalu meneruskan makannya. Selera makannya sedikit membaik, meski tidak mau makan nasi. Mual muntah juga tak terlewatkan di pagi hari. Tapi Valonia berhasil melewatinya.


...----------------...


Usai meminta ijin dan pendapat tiga laki-laki yang menjadi tamu Valonia siang ini. Kini suami tampannya yang datang ke butik. Valonia merubah rencana Keyan yang awal mula ingin membawa Valonia ke kantornya selepas makan siang dan pulang bersama menjelang sore. Kini harus dipikir ulang.


Valonia berpikir itu akan merepotkan suaminya. Cukup Keyan memberinya kepercayaan saja. Maka ia bisa mengurus dirinya sendiri.


"Sayang, banyak sekali ubi dan buah mu. Apa ada yang datang?" Keyan mengecup lembut kening Valonia kemudian berjongkok dan mengusap lembut perut istrinya. "Kamu disuap lagi, Nak." Tebaknya sembari mengecup.


"Hm, mereka menyuap kami lagi. Kamu lihat, ada sekeranjang buah. Ubi panas dan juga makanan." Valonia duduk di sofa. "Kamu sudah makan?" Tanyanya sembari mengecup singkat bibir suaminya.


Jantung Keyan berdegup kencang mendapatkan ciuman singkat dari sang istri. "Sudah, di kantor. Aku mau tidur siang sebentar." Keyan meletakkan kepala di bahu Valonia lalu mengecup lembut ceruk leher istrinya.


"Tidurlah." Valonia menepuk lembut punggung tangan suaminya yang menempel di perutnya.


"Aku bercanda sayang." Keyan terkekeh. "Jadi, rencana mu bagaimana? Jujur aku masih trauma membiarkanmu untuk naik mobil sendiri tanpa aku."


"Percaya padaku semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak mau kamu lelah saat jam istirahat harus menjemput. Aku dapat pesanan lagi dan harus aku kerjakan. Disini juga ada kamar di lantai tiga aku bisa istirahat."


"Baiklah, jam kerjamu kembali seperti semula. Jika lelah kamu harus istirahat di lantai tiga. Sore baru aku jemput. Di sini juga segala barang mu masih lengkap." Keyan terpaksa menyetujui.


"Terimakasih sayang. Tadi Varen ke sini. Dia berniat melamar Rara, tapi aku ragu takut perasaan Varen ditolak. Jadi aku ingin memastikannya malam ini. Mereka akan ke rumah, kamu ajak Varen menjauh dariku nanti. Karena aku ingin berbicara serius dengan Rara."


"Siap sayangku." Keyan memundurkan tubuhnya lalu berbaring dan menjadikan pangkuan Valonia sebagai bantalnya.


...----------------...


"Kalian berdua mau kemana?"


Keyan menahan pergelangan Valonia ketika melewatinya.


"Ke ruangan tengah sayang. Kamu ajaklah Varen berbincang."


Valonia dan Rara duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Rara mengupas ubi yang yang masih hangat untuk Valonia. Karena saat mereka makan malam tadi, sahabatnya itu hanya duduk menemani.


"Ini, makanlah ! Kamu belum makan malam." Rara memberikan ubi pada Valonia.


"Kata Bi Noni, ini akan berlangsung sampai tiga atau empat bulan. Masa-masa ini adalah paling berat di awal kehamilan. Di mana, lidah sensitif menerima makanan."


"Aku juga iri melihatmu makan ubi." Rara segera mengambil satu ubi lagi untuknya. Ia meniru Valonia memakan ubi dicampur sayur dan ikan. "Ternyata enak."


"Yang masak Varen loh."


"Benarkah ?! Aku tidak menyangka pria sepertinya ahli di dapur. Selalu penuh kejutan." Rara kembali mengambil ubi.


"Kalau kamu menikah dengannya, lidahmu akan dimanja terus oleh Varen."


Rara merona lalu meraih gelas air di atas meja. "Belum tentu aku yang jadi istrinya. Pria sepertinya akan memiliki standar sendiri. Apa yang bisa dilihat dia dariku. Aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah." Ungkapnya tidak percaya diri.


"Apa kamu tidak menyadari, bagaimana sikap dan perhatiannya selama ini?" Valonia menyeruput jusnya. Kemudian lanjut mengupas ubi lagi.


"Bisa saja hanya bercanda. Varen sahabat kita."


"Bagaimana, jika itu bukan candaan ?" Valonia menatap lekat netra sahabatnya itu. "Bagaimana, jika itu bentuk ungkapan perasaan Varen sesungguhnya?"


Rara tertegun lalu meletakan ubinya di dalam piring. "Apa, itu mungkin ?"


"Mungkin saja, apa kamu pernah melihat Varen dekat dengan gadis lain? Apa pernah kamu melihat Varen memperlakukan gadis lain sama seperti memperhatikanmu?" Valonia menegakkan duduknya lalu memindah posisi untuk menghadap Rara. "Ra, apa yang kamu lihat selama ini. Itu adalah perasaan Varen sesungguhnya."


"Benarkah?" Jantung Rara bertalu-talu. Netra nya tak berkedip menyelami keseriusan dari iris mata Valonia. Wajahnya tercetak rona merah dengan sangat jelas. "Jadi, dia serius selama ini."


"Hm." Valonia kembali memakan ubinya. "Dia serius selama ini. Pertanyaannya, apa perasaanmu sama?"


Rara menunduk malu, ia menghela nafasnya berulang kali. Rasa gugup begitu menguasainya ditambah lagi debaran jantungnya semakin kuat. Ya, tidak bisa didustai selama ini dia pun menyimpan rasa yang sama. Hanya saja, kepercayaan dirinya kurang. Mengingat gadis yang pernah jadi mantan Varen adalah sekelas Tita. Mungkin, segi materi mereka imbang. Tapi tidak pada tampilan. Rara sedikit tertutup maka Tita lebih berani.


"Aku tidak percaya diri. Selama ini aku berkaca dari Tita. Aku beranggapan jika gadis tipe Varen adalah sekelas Tita atau kamu. Sedangkan aku ?"


"Ck... Berandalan sekali pun pasti ingin dapat pasangan yang baik. Apalagi Varen yang memang laki-laki baik. Mungkin, tampilan luarnya memang seperti itu. Tapi hatinya... Dia tipeku, pria nyaris sempurna." Puji Valonia. "Aku bukan mempromosi dirinya ya..." Sambungnya terkekeh. "Jadi, pastikan untukku. Bagaimana perasaanmu pada sepupuku itu? Andai ada cinta untuknya. Tunjukanlah ! Jika tidak ada, bantu dia untuk mencari pelabuhan lain yang siap menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Karena Varen selama ini menyukaimu."


"Jangan ! Ba—baiklah, aku jujur. Aku menyukai Varen sejak kita masih SMA. Sikap ketus ku adalah hanya pembentengan diri. Aku takut kecewa dengan perasaanku sendiri. Jika tidak bersambut dengan baik."


"Selama itu? Wah, kamu setia juga mencintai dalam diam."


Rara mendengus kesal. "Lalu, apa bedanya dengan kamu?"


"Itu Beda, Ra. Keyan itu kekanakan."


"Siapa yang kekanakan? Hm..." Keyan datang bersama Varen. Laki-laki itu langsung menempel pada istrinya dan mengarahkan tangan Valonia ke mulutnya untuk memakan ubi di jari istrinya.


"Sudah malam ayo pulang." Varen tersenyum lembut. "Lama-lama disini membuatku ingin cepat menikah juga." Sambungnya lagi. Iris matanya menatap lekat wajah Rara yang merona.


"Misi berhasil"


"Misi?" Sahut Rara tak mengerti.


"Misi menghabiskan ubi."


Varen tersenyum lebar. Itu tandanya Valonia berhasil mengorek isi hati Rara "Ayo pulang ! Calon istri !"