Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Penolakan



Waktu yang ditunggu sudah tiba. Aula sekolah sudah dipenuhi siswa kelas 12. Perasaan mereka berdebar-debar. Mereka gelisah tak tentu rasa. Hal sama juga dirasakan Valonia dan teman-temannya. Semakin gugup saat kepala sekolah melangkah masuk.


"Val, apa aku lulus ? Apa nilaiku bagus ? Aku takut" Lirih Rara. Sejak tadi gadis itu sudah merasakan panas dingin.


"Pasti lulus ! Kamu siswa disiplin dan tidak pernah bolos." Hibur Valonia. padahal dirinya pun gugup setengah mati.


Di pojok ruangan itu Keyan tak henti- hentinya menatap Valonia. Jika orang lain merasa takut. Maka dirinya lebih takut lagi. Alvan menangkap gelagat gelisah sahabatnya itu. Setelah ini dia pun tidak tahu kehidupan apa yang akan dijalankan Keyan. Hidup sendiri tanpa apa pun.


"Key, kamu kenapa ?" Alvan menyentuh pundak Keyan.


Keyan menghela nafas. "Aku takut jika nilaiku jelek. Aku tidak bisa masuk ke kampus yang sama dengan Jasmine nanti."


"Yakinlah, kamu bisa satu kampus dengan Valonia. Apa uangmu sudah siap untuk masuk ke Universitas ?" Alvan takut jika Keyan belum memiliki persiapan.


"Sudah ! Sepulang dari sini aku akan mengajak Jasmine mencari kontrakkan." Keyan menatap ke arah Valonia. "Aku minta pekerjaan pada Bang Levin." Sambungnya lagi.


Di atas podium, kepala sekolah mulai pembukaan dan bicara. Disana tidak hanya dihadiri dewan guru saja. Tapi pemilik yayasan itu juga ada yaitu pak Johan. Kepala sekolah membacakan orang yang masuk sepuluh besar dalam mendapatkan nilai tertinggi.  Urutan pertama adalah Valonia Jasmine tanpa disangka Keyan menempati urutan ke empat setelah Alvan.


Keyan tak percaya atas pencapaiannya itu. Ia ragu untuk naik ke atas panggung. Valonia mengangguk dan tersenyum memberi keyakinan jika itu benar adanya. Dengan senyum mengembang Keyan menyusul teman-temannya naik ke atas panggung. Pak Johan membenarkan jasnya, menandakan jika ia bangga atas pencapaian putranya.


"Tinggal jawabanmu yang belum." Bisik Keyan saat mereka turun dari atas panggung.


Valonia hanya tersenyum, dari jauh Tita menatap penuh benci pada gadis itu. Demi dirinya Keyan menolak permintaan ayahnya. Tita menghampiri Valonia, ia bersedekap angkuh menatap Valonia.


"Kamu puas sudah menghasut Keyan. Aku tidak menyangka, gadis pintar sepertimu tidak memikirkan kehidupan orang lain." Sinis Tita


"Aku tidak butuh komentarmu !" Valonia menatap tajam manik mata Tita. Hingga gadis itu pergi dengan sendirinya.


Rara menghampiri Valonia. "Ada apa ?" Tanyanya karena melihat Tita bersama sahabatnya itu.


"Tidak apa-apa, ayo kita temui Varen" Valonia menarik lengan Rara untuk mengikutinya.


Acara masih berlanjut, Keyan mencari keberadaan Valonia. ia sudah tidak sabar menunggu jawaban dari gadis pemilik hatinya itu. Keyan melangkah kesana - kemari, tanpa ia tahu sepasang mata mengawasinya.


"Jasmine !" Panggil Keyan setelah menemukan keberadaan gadis itu. Ia berlari menghampirinya sambil tersenyum.


"Key, ada apa ?" Valonia berpaling melihat pemilik suaranya itu.


Keyan tersenyum dan berdiri di hadapan Valonia Jasmine, gadis itu tidak sendiri. Ada Varen, Rara dan Alvan bersamanya. Keyan tak hentinya menyelami lautan netra hitam Valonia. Seulas senyum tidak pudar sejak tadi. Hatinya benar-benar bahagia.


"Aku menunggu jawabanmu Jasmine, Aku juga akan mendaftar di Universitas yang sama denganmu. Aku ambil jurusan yang sama." Keyan penuh  semangat mengatakannya.


Valonia terdiam. Ia bisa melihat keseriusan dalam diri Keyan. laki-laki ini nampak bahagia. Entah sedalam apa perasaan Keyan padanya.


"Aku akan memberikan jawabanku padamu, tapi tidak di sini." Valonia melihat sekeliling mereka masih banyak para siswa yang duduk.


"Biarkan saja, biar mereka menjadi saksi jawabanmu. Agar mereka juga merasakan kebahagianku hari ini." Keyan nampak berbinar dan senang.


"Tapi, Key ! Disini banyak orang." Valonia tetap pada keinginannya.


"Valo benar, Key . Harusnya masalah pribadi seperti ini kalian bicarakan berdua." Usul Rara mendukung permintaan Valonia.


...----------------...


Disinilah, dua insan ini. Duduk di  taman sekolah, Mereka masih sama-sama terdiam. Mengingat masa-masa terindah di sekolah itu. Merajut persahabatan dan kisah manis disini. Valonia melihat jauh di ketinggian gedung sekolah itu, rasanya tidak rela berpisah pada teman-teman di kelasnya.


"Tidak terasa ya, hari ini terakhir kita di sekolah ini. Rasanya baru kemarin aku masuk SMA ini. bertemu teman-teman baru."Valonia menyandarkan tubuhnya di kursi. Netranya masih merekam tiap sudut taman sekolah itu.


Keyan mengangguk. "Kamu benar, rasanya singkat sekali. Terlebih dengan kedekatan kita. Andai sejak pertama aku sudah mengenalmu, mungkin sangat menyenangkan. Aku jadi iri pada Varen dan Rara. Mereka menghabiskan waktu yang banyak bersamamu." ungkapnya panjang lebar.


Valonia hanya tersenyum, samar-samar musik masih terdengar dari Aula. Tapi Keyan memilih meninggalkan ruangan itu demi mencari Valonia.


"Katakan jawabanmu. Setelah ini temani aku mencari kontrakan." Keyan masih menuntut jawaban gadis di sampingnya. "Jangan membuatku kecewa, aku mencintaimu Jasmine." Sambungnya lagi.


Valonia mengubah posisinya duduk. Ia menatap wajah Keyan beberapa detik. lalu kembali ke posisi semula. "Key, maaf...aku tidak bisa menerimamu. " Valonia menundukkan wajahnya.


Keyan terdiam. Senyum yang tidak pudar tadi perlahan menghilang. "Bercandamu tidak lucu, Jasmine. Jangan bercanda." Ia merasa sesak. Berusaha tidak mempercayai pendengarannya.


"Aku serius, Key. Aku tidak bisa menerimamu menjadi kekasihku." Valonia memperjelas  perkataannya.


Keyan tertawa palsu. "Jangan mempermainkan aku, Jasmine ! Kamu tahu perasaanku padamu sangat dalam. Jadi jangan katakan penolakan itu" Ucapnya meraih kedua bahu Valonia untuk menghadapnya.


Sorot mata Keyan terlihat tajam. Irisnya memerah, raut wajahnya terlihat gusar. Ya ! Hatinya sakit mendengarkan penolakan itu. Bukan jawaban ini yang ingin Keyan dengarkan.


"Aku tidak mempermainkanmu, Key ! Cinta tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Semua harus diperhitungkan. Usia kita masih muda dan labil, jadi jangan hancurkan masa depanmu dengan keputusanmu." Tegas Valonia Jasmine.


Keyan menjatuhkan tangannya dari pundak Valonia. Rasanya begitu sesak dan sakit. Kebahagian yang sempat ia rasakan musnah sudah, Valonia merenggutnya dengan kejam. Tubuh Keyan bergetar, tidak ada kata yang dapat menggambarkan perasaannya saat ini.


"Jadi, kamu tidak bisa bersamaku. Karena aku akan hidup  tanpa hak isitimewaku lagi." Lirih Keyan. Pita suaranya bergetar. Ia sudah tidak mampu melihat wajah Valonia lagi. "Apa kamu tidak memiliki secuil rasa pun padaku ?" Tanyanya sambil menunduk. Berusaha menyembunyikan kaca-kaca air yang meng-embun di netranya.


"Aku tidak memiliki perasaan lebih padamu. Maaf, Key ! Sudah menyakitimu." Tak hanya Keyan, Valonia pun menyembunyikan wajahnya.


"Bukan keputusanku yang menghancurkanku. Tapi penolakanmu yang membuatku terluka. Aku bodoh sempat meyakini jika kamu memiliki perasaan yang sama padaku. Aku membencimu VALONIA JASMINE !!!" Keyan berteriak dan lumpuh di rumput. "AKU MEMBENCIMU, SANGAT MEMBENCIMU !" Ucapnya lagi. Keyan tak mampu menahan air matanya lagi. Ia menangis tanpa suara menunduk tanpa mau melihat Valonia disana.


Valonia mampu mengendalikan perasaannya. Ia duduk berniat membantu Keyan berdiri. "Jangan seperti ini. Key !" Ia berusaha meraih tangan laki-laki itu.


Keyan menepisnya. "Jangan menyentuhku. Aku tidak sudi gadis munafik sepertimu menyentuhku !!" Ia berdiri sendiri lalu meninggalkan Valonia seorang diri disana.


Dari balik pohon, Varen, Alvan dan Rara keluar. Mereka sudah mendengar semuanya. Varen meraih tubuh Valonia dan memeluknya. Ia dapat merasakan jika tubuh sepupunya itu bergetar.


Jika ditanya apakah Valonia menyesal ? Jawabannya adalah tidak. Tapi Valonia Jasmine juga terluka lebih dalam tanpa orang lain tahu. Ia memiliki rasa yang sama, tapi Valonia harus membunuhnya sebelum berkembang. Ingin ia egois mempertahankan Keyan di sisinya dengan menerimanya sebagai kekasih. Tapi Valonia tidak bisa melihat jika laki-laki yang telah mencuri hatinya itu hidup dalam kesusahan. Jalan terbaik adalah melepasnya.


"Ayo pulang."


Varen menuntun  Valonia untuk meninggalkan taman. Ia bisa memahami kondisi hati sepupunya itu dengan baik.


"Aku juga pamit. Semoga kita bertemu lagi dilain waktu." Alvan berpamitan pada tiga temannya itu. Ia melihat guratan kesedihan di wajah Valonia. Terlihat sekali jika gadis itu baru selesai menangis.


Seperti itulah perpisahan mereka, bukan berkesan manis. Tapi diakhiri dengan rasa kecewa dan patah hati Keyan. Karena ditolak seorang Valonia Jasmine.