
Enam jam berlalu. Usai melahirkan, Valonia dipindahkan ke ruang rawat. Persalinan normal terbilang sedikit cepat dari pada umumnya yang biasanya memakan waktu hingga 10 sampai 20 jam. Sangat ia rasakan lelahnya, namun lelah itu terbayar ketika melihat buah hati lahir dengan selamat.
Bayi berat 3,00kg dan panjang 51cm itu sangat cantik. Rambutnya tebal, hitam dan lurus. Pipinya tembem dan kemerahan sangat menggemaskan. Setelah kelahirannya belum juga ia membuka kelopak matanya.
"Jadi kamu perempuan, pantas saja kamu malu."
Keyan tanpa canggung menggendong putri kecilnya. Laki-laki ini sudah membersihkan tubuhnya agar cepat menyentuh bayinya. Manik matanya tak beralih hanya fokus pada wajah duplikatnya itu. Tak menyangka bayi menggemaskan itu mewarisi wajahnya.
"Kenapa kalian tidak memberitahu kami kalau Valonia mau melahirkan."
Suara pengantin baru menggema di dalam ruang rawat Valonia. Alvan sangat kesal karena baru di kabari malam ini.
"Jangan berisik, suaramu nyaring sekali nanti dia terganggu." Suara Keyan nyaris berbisik memperingati Alvan.
"Pengantin baru mana boleh meninggalkan pelaminan. Sekarang kenapa kalian kesini ?" Varen di ujung sofa juga ikut berbisik.
"Kami mau menengok Kak Valo." Nanda menyahut sembari melangkah menghampiri ranjang bayi.
"Harusnya kalian malam pertama, kenapa harus kesini? besok juga bisa." Goda Levin sambil memangku Fendi putranya.
"Aku khawatir besok Nanda tidak bisa melangkah." Alvan membalas candaan Levin. Ia melangkah berdiri di sisi Keyan. "Hei kawan kamu puasa selama empat puluh hari."
"Selama itu ?!" Pekik Keyan ternganga tak percaya
"Iya." Sonny yang berdiri di ambang pintu langsung menyahut. Laki-laki yang masih mengenakan seragam dokternya ini melangkah untuk duduk di sofa.
"Kalau ingin membahas puasa kalian itu. Sana keluar ! Kalian telah mencemarkan pendengaran keponakanku ini." Ketus Rara.
"Aku tidak ikut ya. Itu pembahasan Keyan dan Alvan." Varen membela diri.
"Kak Alvan, sayangnya malam ini. Kamu puasa juga."
"Apa ?!"
Alvan terbelalak bahkan matanya tak berkedip. Fantasi liar yang menggerayangi otak tampannya hilang seketika. Saat kalimat Nanda masuk ke gendang telinganya.
"Kita satu sama." Keyan tersenyum lebar. "Setidaknya, sebelum puasa panjang aku sudah merasakannya." Seketika handuk kecil melayang di atas kepalanya dan menutupi wajah tampan CEO JFB ini. Ia menariknya perlahan melihat pelaku pelemparan handuk itu. "Sayang." Ucapnya takut melihat tatapan garang sang istri
"Kamu ingin mencemari pendengaran putrimu !"
Empat laki-laki lainnya melepaskan tawa. Namun itu tak berlangsung lama saat bidikan tajam terpancar dari manik mata pasangan masing-masing menghunus pada mereka.
Suara Mia melonggarkan cekikan di leher para laki-laki yang sempat terdiam menerima tatapan tajam tadi.
"Indira Dyvia Kirei." Keyan menggendong kembali putrinya yang sempat ia baringkan.
"Indira."
Sonny kembali mengingat satu nama yang melekat di hati namun tak terlihat di mata.
"Iya, Indira. Karena dia perempuan aku memberikannya nama itu yang artinya seseorang yang adil. Dari nama itu aku berharap putriku akan bersifat seperti namanya. Sama seperti seseorang yang telah meninggalkan kita, kesatria sesuai dengan namanya." Keyan menatap lembut wajah putrinya dengan rasa haru.
"Endi yang artinya kesatria dalam bahasa Yunani. Dia memang kesatria." Varen menyandarkan tubuhnya di dinding sofa. Tangannya terulur mengusap lembut perut Rara. "Kalau dia laki-laki aku akan memberikan nama itu agar dia menjadi kesatria untuk Indira dimasa depan." Ucapnya tersenyum.
"Sama seperti kamu yang menjadi kesatria ku selama ini." Sambung Valonia tersenyum.
"Huh... Tidak terasa kita sudah ketahap ini. Rasanya baru saja tumbuh dewasa sekarang akan menjadi orang tua." Alvan menghembus nafas panjang.
"Kalian benar, rasanya baru kemarin aku adu kebolehan di lapangan basket bersama Varen. Dan sekarang tangan ini berganti tugas membantu orang banyak." Sonny menengadahkan tangannya.
"Perjalananku tidak mudah, jatuh cinta membuatku buta dan tuli tanpa sadar menyeret cintaku kedalam lembah masalah. Dan sekuat tenaga aku menariknya kepermukaan agar tidak tenggelam meninggalkanku. Akibat pemikiran dangkal yang aku miliki hingga jadi pembangkang dan menyakiti semua orang." Keyan merangkul pundak Valonia sambil menggendong putrinya. "Cinta pertamaku, wanita pertamaku."
Valonia tersenyum. "Terimakasih bertahan untukku dan berjuang keras demi mempertahankan aku. Terimakasih atas cinta begitu besar selama ini. Cinta pertama dan laki-laki pertama Valonia Jasmine."
...----------------...
Rindu bertabuh di dalam dada,
Getaran cinta bersemayam di dalam relung hati. Semua terasa nyata ketika sosok didamba jauh di mata. Hingga, Angin berhembus seolah berbisik. 'Tunggu, aku akan datang menjemputmu untuk masuk ke gerbang bahagia'
Lengkungan indah dari bibir tercipta manis ketika ilusi kalimat itu seolah nyata terdengar. Padahal hanya diterbangkan angin. Kecewa saat tahu hanya angan yang mempermainkan rasa.
Sabar, seketika menggenggam saat rasa mulai bertebaran. Dan pada akhirnya bahagia itu datang menyambangi tanpa harus menerobos gerbang kokohnya. Bahagia, tahu tempat yang harus ia datangi untuk menyapa.
Potret bahagia keluarga Valonia Jasmine dan Keyan Ganendra terlihat dari garis-garis wajah mereka. Senyum membingkai penuh lengkungan bibir menyambut bahagia atas hadirnya cucu pertama.
Tidak ada amarah dan juga kebencian semua melebur dalam satu kata Cinta.
...The End...