Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Asisten CEO Misterius



Langit pagi sangat cantik. Energi positif begitu terasa menimpa raga seseorang yang tengah berolah raga. Tak memperdulikan tatapan kagum dari kaum hawa yang haus akan belaian. Ia tetap terus mengayunkan langkah untuk berlari di komplek tempat tinggalnya.


Tetesan keringat memberi kesan seksi yang menambah pesona ketampanannya. Demi menjaga kebugaran tubuh, Keyan rutin berolah raga di luar rumah. Sembari menghirup udara pagi yang belum begitu terkontaminasi.


"Selamat pagi, Tuan." Para asisten rumah tangga menyapa Keyan di depan pintu. Mereka berjejer di ruang tengah sesuai instruksi. Entah kapan mereka tiba, sudah berada di ruang tengah rumah Keyan lengkap dengan seragam yang mereka kenakan sebagai ciri khas asisten rumah tangga.


"Selamat pagi. Apa istriku sudah bangun ?" Keyan menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang ia bawa.


"Sudah Tuan, tapi masih di atas." Salah satu asisten rumah tangga menjawab. Nampak usianya lebih tua dibandingkan dengan yang lainnya.


Keyan langsung menaiki anak tangga. Ia bergegas masuk ke dalam kamar. Di sana Valonia baru selesai mandi.


"Sayang ayo turun. Aku akan perkenalkan asisten rumah tangga kita." Keyan melemparkan handuk kecil di tangannya ke dalam keranjang pakaian kotor.


"Asisten rumah tangga ? Sepagi ini ?" Valonia tak percaya. Ia melirik jam di tangannya masih pukul setengah enam pagi.


Keyan tersenyum. "Iya, mereka sudah datang kemarin hanya saja menginap di hotel." Jelasnya sembari  menggenggam tangan Valonia menuruni anak tangga.


"Selamat pagi, Nyonya."


Valonia terkesiap melihat ke arah para asisten rumah tangga yang menyapanya. Ia tersenyum ramah meski dalam keadaan terkejut. Kapan mereka datang ? Bahkan Valonia tidak mendengarkan apa-apa. Ia semakin takjub para asisten rumah tangga itu mengenakan baju seragam yang cantik.


"Selamat pagi." Valonia menjawab lembut. "Kenapa banyak sekali ?" Bisik nya pada Keyan.


"Mereka akan bekerja sesuai dengan posisinya masing-masing." Keyan membawa Valonia Jasmine ke ruang tengah dimana tempat para asisten rumah tangga itu menunggu.


"Tuan, mereka orang-orang yang saya janjikan. Dapat dipercaya dan mampu melakukan tugasnya dengan baik." Seorang wanita paruh baya nampak tegas dan berwibawa. Memperkenalkan orang-orang di belakangnya.


"Terimakasih, Bi Noni. Perkenalkan ini istriku Valonia Jasmine. Sayang kenalkan ini kepala Asisten rumah tangga kita Bi Noni."


"Valonia."


"Noni, Nyonya. Anda bisa memanggil saya Bi Noni sama seperti Tuan Keyan."


Valonia dan Bi Noni saling berjabat tangan memperkenalkan diri. Dia senang Nyonya rumah besar ini ramah dan sopan.


"Sayang, mereka yang akan membantu Bi Noni dalam bekerja. Jadi untuk kalian, diskusikan pekerjaan kalian dengan Bi Noni ya."


"Baik Tuan. Kami mengerti." Para Asisten rumah tangga itu memperkenalkan diri pada Valonia dan Keyan.


Keyan sengaja membawa beberapa orang asisten rumah tangga. Untuk membantu Bi Noni. Karena rumah yang Keyan dan Valonia tempati sangat besar. Keyan tak akan membiarkan istrinya bekerja lagi di rumah setelah pulang dari butik.  Ia tidak ingin istrinya lelah dengan tumpukan pekerjaannya.


Usai perkenalan dengan para asisten rumah tangga. Valonia dan Keyan kembali ke kamar. Karena suami Valonia ini perlu membersihkan diri sebelum sarapan.


"Key, apa asisten rumah tidak kebanyakan ?"


Keyan menoleh pada Valonia lalu tersenyum. "Tidak, aku tidak mau kamu lelah."


Valonia menghela nafas panjang. Mungkin suaminya sudah memperhitungkannya begitu pikirnya. "Pakai bajumu." Ia bergegas membuka pintu karena mendengar ketukan dari luar.


"Nyonya, sarapan sudah siap." Bi Noni datang memberitahu jika sarapan sudah tersaji.


"Terimakasih, Bi."


Bi Noni mengangguk lalu turun ke bawah. Ia mengumpulkan para asisten rumah tangga untuk mengatur tugas mereka masing-masing. Lalu menerangkan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di rumah itu.


...----------------...


Terik matahari semakin terasa, Valonia baru saja menyambangi keluarganya di rumah Mami Dilla. Para orang tua begitu senang atas kedatangan pengantin baru. Valonia juga mengantarkan keluarga besarnya ke stasiun untuk pulang ke kampung halaman.


Sesuai dengan ketentuan janji temu. Valonia dan Keyan sudah berada di Ren's Cafe. Mereka menunggu asisten CEO JFB yang akan membahas kerja sama di hari pertunjukan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


"Maaf membuat kalian menunggu."


Seorang laki-laki tampan dan tinggi. Berdiri di hadapan Valonia dan Keyan. Dia tersenyum ramah di awal pertemuan ini.


"Tidak masalah, anda asisten CEO JFB." Valonia bertanya dengan ragu-ragu. Asistennya saja sudah tampan dan muda seperti ini, apa lagi atasannya.


"Ehm..."


Keyan memberitahu keberadaannya diantara istrinya dan Asisten tampan itu. Ia dapat melihat tatapan kagum istrinya untuk asisten tersebut. Bahkan Valonia nampak tak berkedip. Hal itu membuat Keyan cemburu.


"Perkenalkan saya Endi, asisten CEO JFB."


"Valonia Jasmine, ini suami saya Keyan Ganendra."  Valonia menyambut uluran tangan Endi. Tapi tidak pada Keyan, ia melipat kedua tangannya di dada disertai tatapan membunuh.


"Anda sangat cantik, sayang sekali saya terlambat. Bahkan CEO kami tergila-gila pada anda." Endi tersenyum. Pesona ketampanannya berkali lipat.


"Apa maksudnya ini ?! Memuji istri orang itu sangat tidak baik !" Ketus Keyan memanas. Ia tak rela ada tatapan lain yang melihat Valonia Jasmine.


"Terimakasih, boleh kita langsung ke pembahasan ?" Valonia yang tak suka berbasa- basi langsung pada tujuan. Sudut bibir Keyan terangkat sambil menghunuskan tatapan tajamnya pada Endi.


Asisten tampan ini tersenyum sangat manis. "Anda tidak suka berbasa- basi, saya suka sikap anda."


"Kapan kamu berhenti mengagumi istriku !" Keyan semakin berkukus. "Ayo sayang kita pulang !" Ia gegas berdiri menggenggam tangan Valonia.


"Baiklah, CEO kami tidak salah pilih untuk bekerja sama dengan Butik anda." Endi bersikap serius. Keyan pun duduk kembali. "Anda pasti sudah menerima e-mail dari JFB, beberapa hari lagi kami akan mengadakan pertunjukan atas produk terbaru kami. Jadi CEO kami ingin model yang kami pakai mengenakan baju rancangan terbaru dari Jasmine Boutique. Apa anda siap ?"


"Saya siap, kebetulan baju-baju rancangan terbaru kami sudah siap dengan model pakaian yang berbeda-beda." Valonia menjawab penuh semangat dan keyakinan.


"Bagus, semua itu akan dilaksanakan di hari pembukaan kantor induk JFB." Endi mengeluarkan iPad  nya lalu memperlihatkan contoh-contoh perhiasan yang akan dikenakan para model JFB nanti. Agar Valonia bisa menyesuaikan pakaian yang pantas disandingkan dengan perhiasan itu.


"Wah bagus sekali, apa ada butik lain yang ikut serta ?" Valonia mengembalikan iPad milik Endi.


"Tidak ada."


"Kenapa CEO kalian memilih butik saya ?"


Endi tersenyum. "Butik anda tidak diragukan lagi. Hasil karya anda memuaskan pelanggan, CEO kami juga memiliki banyak koleksi dari butik anda. "


"Apa ?!"


"CEO kami juga memakai pakaian kerja dari butik anda." Endi memperjelas kembali.


"Jadi kami pernah bertemu ?" Valonia semakin penasaran.


"Sayang, suamimu masih disini jangan penasaran pada laki-laki lain."


Valonia menoleh dan tersenyum. Ia merasa bersalah karena penasaran pada CEO JFB. Hingga tidak mengingat jika Keyan bersamanya.


"Mungkin kalian pernah bertemu, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas CEO JFB hampir seratus persen pakaian yang ia kenakan hasil jahitan tangan anda."


"Sampaikan terimakasihku padanya karena mau melirik karyaku yang tidak seberapa." Valonia menahan rasa penasaran dan berniat mengakhiri percakapan itu. Karena Keyan sudah menekuk wajahnya.


"Anda bisa menyampaikannya ketika bertemu. Terimakasih sudah menerima tawaran kami. Semoga kerja sama kita berjalan lancar dan saling menguntungkan." Endi menjabat tangan Valonia sambil tersenyum. "Anda sangat cantik. Tapi sayang sudah menikah. Jika anda masih lajang saya siap menjadi kandidat suami anda." Sambungnya lagi. Endi melirik pada Keyan yang seolah mengoyak tubuhnya dari jauh.


...----------------...


Usai pertemuan itu, Valonia bisa bernafas lega. Ia merasa senang bisa bekerja sama pada JFB perusahaan baru yang cepat maju dan berkembang.


Valonia dan Keyan berniat kepemakaman Papa Danu. Mereka tidak bertemu Varen di sana karena laki-laki itu tengah merayu Rara yang merajuk di hari pernikahan Valonia.


"Kita langsung saja ya." Valonia meraih tasnya sembari berdiri.


"Iya sayang, sepertinya kita tidak sempat memindahkan barang-barang di butik. Bisa saja aku menyuruh beberapa orang mengemasnya. Tapi aku tidak tahu barang apa saja yang ingin kamu bawa." Keyan merapikan anak rambut istri nya yang tertiup angin.


"Kapan-kapan saja. Aku harus memilihnya lebih dulu." Valonia tersenyum mengikuti langkah Keyan keluar dari kafe.


Wajah pengantin baru ini berseri-seri. Yang paling bahagia adalah Keyan. Bisa memiliki Valonia Jasmine sebagai istrinya.


"Keyan ! Itu benar kamu ?"


Suara seorang wanita menghentikan langkah Keyan dan Valonia. Mereka menoleh ke asal suara.


"Tita"


Keyan dan Valonia melihat Tita dan Sindy melangkah menghampiri mereka.


"Key, kamu kemana saja. Aku merindukanmu." Tita melangkah ingin memeluk Keyan. Namun sayang tangan kokoh Keyan menghentikannya.


"Jaga sikapmu. Aku sudah menikah "


"APA ?! Menikah ?" Tita mundur satu langkah. Ia sangat terkejut sekaligus terpukul. Netra nya langsung melihat jari Keyan yang menggenggam tangan Valonia Jasmine. Di jari mereka juga ada cincin pernikahan.


"Ya, Jasmine istriku"


"Tidak mungkin, kamu bercanda Keyan ! Tidak mungkin kamu menikah dengannya. Kamu calon suamiku." Tita menggeleng. Air matanya berderai, tubuhnya gemetar berusaha tidak percaya ucapan Keyan.


"Aku sudah minta maaf dengan benar padamu dan keluargamu. Diantara kita tidak terjadi pertunangan, jadi berhenti menyebut dirimu sebagai calon istriku ! Valonia Jasmine adalah istriku." Tegas Keyan. Netra nya terlihat datar dengan sorot dingin.


"Kenapa dia, Key ?! Valonia hamil diluar nikah ! Kamu mau jadi ayah sambung putranya yang tidak tahu siapa ayahnya ?!" Intonasi Tita sedikit meninggi. Hingga mengundang perhatian orang-orang.


Valonia memilih diam, ia membiarkan Keyan menyelesaikannya. Raut wajahnya hanya datar dan biasa saja, seolah hal ini juga jadi tontonan menarik untuknya. Dimana seorang wanita merendahkan diri mengemis cinta yang nyata-nyata menolaknya.


Keyan menoleh pada Valonia. "Kamu punya putra sayang ?" Ia belum mendengar kabar ini, tak hanya itu segel kepemilikannya juga belum ia buka tadi malam.


"Fendi"


Keyan tersenyum, ia mengerti maksud istrinya. Ada kesalahpahaman disini.


"Kamu dengar dia mengakuinya ?" Tita menatap sinis pada Valonia sementara Sindy tengah menyusun kalimat untuk memojokkan Valonia.


"Kenapa kalian bawa-bawa nama putraku ?"


Kehadiran Levin membuat semua mata melihat ke arahnya. Ia datang menggendong Fendi dan tangannya menggenggam tangan Fanny. Mereka datang karena janji pada Varen.


"Jadi Valonia menyembunyikan Keyan selama ini. Tapi dia bersikap seolah tidak tahu ! Cih, munafik sekali ! Hei Fanny apa kamu tahu jika suamimu memiliki anak bersama ****** ini. Baru saja dia mengakuinya." Sindy tak menggubris perkataan Levin yang bertanya kenapa membawa nama putranya.


"Belajarlah untuk lebih cerdas lagi !"


Semua mata terbelalak melihat pipi Sindy merah karena tamparan dari Valonia. Gadis ini tidak banyak bicara namun ia menyelesaikannya dengan tindakan. "Jika tidak, kamu akan selamanya menjadi bodoh !"


Kalimat dan tamparan yang diterima Sindy dari Valonia. Begitu menohok harga dirinya. Darahnya semakin meradang. Ia maju ingin membalas namun langsung dihadang oleh Levin.


"Seujung kuku saja kamu menyentuh Jasmine. Maka aku pastikan kamu menderita seumur hidup." Levin mencengkram lengan Sindy hingga gadis itu merintih kesakitan. Lalu menghempaskan nya dengan kasar.


"Apa kamu sadar menjadi singa untuk Valonia selama ini ? HAH ! Selalu berada di depannya tanpa hubungan apa-apa ?" Teriak Sindy tak terima perlakuan Levin.


"Kamu tidak tahu apa-apa jangan bicara sembarangan !" Keyan mencengkram dagu Sindy dengan erat. "Apa kamu menyukaiku ? Dari sikapmu ini terlihat memiliki dendam pribadi. Padahal kita tidak memiliki urusan apa pun." Sinis Keyan melirik reaksi Tita.


"Sindy kamu mengkhianati ku?" Lirih Tita mengepalkan tangannya. Ia terkejut mendengar perkataan Keyan.


"Bukan begitu Ta. Aku hanya membelamu." Sanggah Sindy tak ingin terjadi salah paham.


"Membela sahabat atau membela perasaan sendiri ?" Valonia melemparkan tatapan dinginnya.


"Keyan baru saja datang tiga hari lalu. Hari kemarin mereka menikah dan Fendi putraku. Aku yang melahirkannya."


Penjelasan dari Fanny mengejutkan Tita dan Sindy. Tanpa bicara lagi mereka berdua meninggalkan tempat itu. Keyan segera meraih telapak tangan Valonia lalu meniupnya. Ia yakin jika Valonia juga merasa sakit setelah menampar Sindy. Telapak tangan istrinya merah, bisa dipastikan Valonia menamparnya cukup kuat.