
Hujan mulai mereda hanya menyisakan gerimis. Awan pun mulai berubah warna tidak sehitam saat pagi. Hawa dingin juga berkurang melepaskan pelukannya.
Derry bersandar di dinding sofa sembari meringis membiarkan ibu Marisa mengobati lukanya. Tangis wanita paru baya itu tidak kunjung berhenti mengingat kejadian beberapa menit lalu. Kondisi unit mereka juga masih berantakan dengan barang-barang yang berserakan dimana-mana.
"Mama siap jika kita selesaikan hari ini?" Derry menahan pergelangan tangan Ibu Marisa saat menempelkan salep di bagian wajahnya yang memar.
"Apa ini tidak akan jadi masalah besar?"
"Itu konsekuensi yang harus diterima." Derry menghela nafas panjang. "Aku tetap menahan dokumen itu, agar hakku diberikan. Dengan begitu tidak ada masalah yang terjadi. Hanya kesepakatan bisa menyelesaikan ini semua. Tapi mereka tetap ingin merampas dokumen itu. Maka aku berpikir lebih baik mengakhirinya." Sambung Derry memejamkan matanya. "Kita akan terima hasil akhirnya." Disudut mata Derry ada pecahan kristal bening dan meleleh perlahan.
"Mama mendukungmu. Mari kita akhiri."
"Setelah ini selesai, kita pergi yang jauh. Hanya ada kita berdua. Jangan menoleh ke belakang atau ke sisi kanan dan kiri. Atur pandangan lurus ke depan. Karena batu sandungan ada di depan yang bisa membuat kita jatuh." Derry menyeka air matanya yang sempat keluar.
Ibu Marisa mengangguk dan tersenyum. Sebelum melanjutkan pembicaraan bel unit mereka berbunyi. Ibu Marisa bergegas membuka pintu.
"Silahkan masuk."
"Apa yang terjadi tante?" Valonia langsung memegang lembut tangan ibu Marisa.
"Derry." Keyan melangkah lebar mendapati sopirnya itu babak belur bersandar di sofa. "Siapa yang melakukan ini ?" Tatapan Keyan terlempar ke segala arah.
"Apa ada yang datang?" Valonia membawa ibu Marisa duduk di samping nya.
"Mereka masih mencari dokumen perjanjian itu." Sahut ibu Marisa setelah cukup lama diam. "Ada seseorang yang menyusup ke sini." Lanjutnya lagi dengan raut wajah penuh kesedihan. Hembusan nafasnya terdengar berat.
"Sayang, kita harus mencari tahu masalah ini." Usul Valonia beralih menatap manik mata suaminya. Hatinya sedih melihat wajah Derry yang babak belur. Apa lagi netra ibu Marisa sangat memancarkan luka yang teramat dalam.
"Der, sekarang katakan padaku. Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu." Keyan menatap lekat wajah Derry.
"Aku memang ingin mengakhiri ini. Aku dan Mama akan menerima hasil akhirnya dengan ikhlas. Kami akan menjauh setelah semuanya berakhir. Aku sudah memikirkannya dengan matang."
"Lalu... Apa rencanamu?" Tanya Valonia. Ia semakin sedih. Ibu Marisa dan Derry adalah orang baik dan ia tidak rela jika berpisah dengan mereka.
"Aku butuh bantuan Kak Keyan. Karena satu-satunya orang yang bisa membantuku hanya kakak. Selama ini itulah tujuanku. Berdiri di samping kakak dan berlindung dibawah JFB. Karena masalah ini terhubung denganmu."
Dada Keyan bergemuruh hebat. Tubuhnya gemetar dengan perasaan berkecamuk. Otaknya berusaha mencerna tiap kalimat yang dilontarkan Derry. Iris mata mereka bertemu saling mengunci dengan bahasa kalbu yang hanya mereka tahu.
"Kenapa terhubung denganku ?" Keyan bertanya dengan wajah penuh kebingungan. Manik matanya tak lepas menusuk ke dalam manik mata Derry.
"Karena, dokumen itu ada pada kakak."
"Apa ?! Bagaimana bisa ?"
"Aku menyimpannya di ruang kerja kakak di rumah." Jelas Derry dengan menundukkan kepalanya. "Aku tidak ada pilihan lain. Awalnya aku menyimpan dokumen itu di butik, tapi karena kondisi kak Valo yang sedang hamil. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada nya. Untuk penyerangan waktu itu, ada kaitannya denganku."
Keyan menarik kerah baju Derry. Nafasnya memburu disertai tatapan tajam. "Kamu melibatkan Jasmine dalam masalah ini. DERRY !" Teriak Keyan menghempas kasar tubuh laki-laki itu hingga ia meringis.
"Maafkan aku." Derry bersimpuh dihadapan Keyan. "Aku juga tidak menyangka, jika orang itu melibatkan kak Valonia."
"Kamu tahu, istriku hampir mati. Jika bukan Alvan yang menolongnya !" Bentak Keyan. Ia benar menyesalkan kejadian itu. Sekarang ia mengerti kenapa penyerangan itu terjadi. Mungkin saja karena Valonia tahu masalah ini. "Sekarang katakan, siapa ayah biologismu? Biar aku menyelesaikannya." Tegas keyan.
Derry mengangguk. "Akan kutunjukan, bisakah kita ke rumah kakak mengambil dokumen itu ?"
"Baiklah."
"Tante sekarang bersiaplah. Biarkan dulu barang-barang ini." Valonia mengelus lembut punggung tangan ibu Marisa.
Wanita hamil ini beranjak dari tempatnya duduk kemudian menarik tangan Keyan untuk menenangkannya.
"Aku kelepasan... " Keyan merasa bersalah sudah berteriak di tempat itu. Hatinya masih marah dan tidak terima atas kejadian yang menimpa istrinya waktu itu
"Tahan emosimu, aku mengerti perasaanmu saat ini. Sekarang kita harus menyelesaikan masalah Derry." Valonia mengusap dada suaminya dengan lembut.
"Iya, sayang. Maaf aku mengejutkanmu saat berteriak."
Kecupan lembut Keyan berikan di kening istrinya. Tangannya terangkat mengusap perut Valonia Jasmine.
...----------------...
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil Keyan. Laki-laki itu tiada hentinya menggenggam tangan Valonia dan mengecupnya. Ada perasaan sesal yang mendalam di hatinya setelah tahu di balik penyerangan istrinya.
Mobil Keyan berhenti di halaman rumahnya. Laki-laki itu setengah berlari mengelilingi mobil untuk membuka pintu disebelah Valonia Jasmine.
Ibu Marisa menghela nafas panjang. Netranya mengamati rumah besar milik Keyan dan Valonia. Lamunannya buyar ketika Valonia menyentuh tangannya.
"Mari tante."
"Iya, Nak." Ibu Marisa melangkah digiring oleh Derry dan Valonia.
Keyan melangkah lebih dulu. Di ambang pintu utama Bi Noni berdiri menyambut ke datangan mereka.
"Bi, buatkan makanan yang banyak. Ayah dan Bunda juga akan kemari, mereka sebentar lagi tiba dari luar kota." Pinta Valonia.
"Ayo ! Kamu tunjukan dimana dokumen itu." Keyan menuntun istrinya untuk duduk di sofa. "Sayang kamu temani tante Marisa dulu ya." Ia meninggalkan kecupan penuh cinta di kening istrinya.
Derry dan Keyan melangkah meninggalkan ruang tengah. Laki-laki itu membuka pintu ruang kerjanya dengan sedikit keras hingga para asisten rumah menoleh dan ketakutan. Tak pernah mereka melihat tuan rumah mereka seperti itu.
Derry melangkah masuk. Ia menghampiri lemari dokumen. Derry memutar kunci yang tergantung di pintunya. Sementara Keyan hanya berdiri dengan tangan ia selipkan disaku celananya.
"Ini." Derry memperlihatkan dokumen di tangannya. "Kita buka di luar saja." Tahannya ketika Keyan ingin meraihnya.
"Baiklah."
Dua laki-laki itu melangkah keluar dan kembali duduk di ruang tangah. Keyan menjatuhkan tubuhnya di samping Valonia.
"Ini dokumen perjanjian itu. Dan ini sah !" Derry meletakan dokumen itu di atas meja. Ia segera meraih tangan ibu Marisa saling menguatkan. Tak dipungkiri jika ia pun takut pada Keyan.
Tangan Keyan meraih dokumen itu. Dengan perlahan ia membukanya. Iris matanya membaca dengan seksama isi perjanjian itu. Hingga netra nya terhenti di satu nama tercetak tebal dengan tulisan huruf besar.
Jantung Keyan berdebar dahsyat. Tangannya gemetar hingga dokumen itu terlepas begitu saja dari tangannya. Iris matanya langsung melihat pada Derry yang juga menatapnya. Ia menelisik garis-garis wajah itu. Kejutan apa ini? Begitu luar biasa. Hingga tubuh Keyan gemetar dengan perasaan yang hanya dirinya yang tahu.
Melihat reaksi suaminya. Valonia meraih dokumen itu dan membacanya. Matanya membulat sempurna. "Tante" lirihnya dengan pelan.
Ibu Marisa tidak mampu menahan air matanya lagi. Ia terisak, luka lama itu menganga kembali. Bertahun-tahun ia berusaha mengobatinya. Tapi tetap saja gagal. Ibu Marisa menepuk-nepuk dadanya sendiri agar himpitan sesaknya berkurang.
Semua orang terdiam, masih dalam rasa keterkejutan. Hanya isak tangis ibu Marisa yang terdengar. Ragam macam pertanyaaan bersarang di dalam otak Keyan dan Valonia. Deru nafas mereka terdengar tipis, sama-sama merasakan sesak bak tertindih puluhan karung pasir.
"Ada apa ini?"
Semua kepala menoleh pada asal suara. Tak jauh dari ruang tengah Bunda Arini berdiri dengan tatapan bingung pada anak menantunya yang terdiam bak patung.
"Bunda." Lirih Keyan dan Valonia. Suara mereka nyaris tak terdengar. Tidak menyangka fakta ini terungkap ketika semua orang berkumpul.
"Ada apa, Nak ?" Netra Bunda Arini bergulir pada dokumen yang tergeletak di atas meja. Sejenak pandangannya berpindah ke wajah ibu Marisa dan Derry. Lalu bergantian menatap tanya pada Keyan dan Valonia. Bunda Arini merasakan ada hal yang tidak beres di sana. Tangannya tergerak meraih dokumen perjanjian itu. "Dokumen apa ini?" Tanyanya sembari membaca. "A—ayah. A—apa ini?" Tubuh Bunda Arini lemas dan luruh ke lantai. "KAMU SIAPA ?! Teriaknya dengan jari telunjuk mengarah pada ibu Marisa. "Kalian berselingkuh dariku. Hah !" Sambungnya dengan intonasi yang lemah. Dunianya seakan runtuh mendapati fakta. Bahwa suaminya memiliki anak bersama wanita lain.
Bunda Arini datang tidak sendiri. Ada Ayah Johan bersamanya. Laki-laki itu terpaku di tempatnya berdiri. Manik matanya terkunci pada sang istri yang luruh di lantai. Luka ! Ini luka yang tidak ingin ia lihat dari sorot mata Bunda Arini. Tapi hari ini datang dengan sendirinya dan menghancurkan segalanya.
Bibir Ayah Johan terkatup rapat. Terlebih melihat air mata di wajah istri yang sangat dicintainya itu. Tubuhnya lemas namun sekuat tenaga ia menopangnya dengan telapak kakinya. Jantungnya berdebar kencang disertai perasaan seakan diremas.
Ingin ayah Johan merengkuh tubuh lemah istrinya untuk menenangkannya. Tapi ia tak memiliki nyali untuk melakukannya. Kesalahan ini fatal bahkan maaf belum tentu merubahnya. Bertahun lamanya rahasia besar ini ia simpan namun pada akhir terbongkar juga. Selama bertahun pula, Ayah Johan menjadi pria jahat hanya untuk menutupi kesalahan tak sengajanya dimasa lalu.
"Dia mama ku." Ujar Derry juga menangis. Iris matanya masih terkunci dengan Keyan. Lelehan air matanya begitu deras menghiasi wajah lebamnya.
Sejak tadi suami Valonia itu hanya diam dengan tatapan tidak lepas dari wajah Derry. Ia berusaha mempercayai jika laki-laki bersama dengannya selama ini adalah adik kandungnya.
"Mama mu ?! Kamu sengaja masuk kedalam kediaman putraku selama ini?" Tangis Bunda Arini pecah. Ia semakin histeris di atas lantai yang dingin itu.
"Maaf..."
Ibu Marisa menangis sesenggukan. Ia tidak tahu harus berbuat apa? Di tengah kekacauan ini. Ia juga tak kalah hancurnya. Bukan ini kemauannya tapi tanyakan pada laki-laki yang masih mematung ditempatnya berdiri. Ya ! Ini konsekuensi yang harus diterimanya.
Sementara Valonia hanya diam tanpa tangis atau pun bersuara. Pikirannya tidak tahu pergi kemana. Di sisi kanannya ada Bunda Arini yang tersakiti karena fakta baru ini. Di sisi kirinya ada Ibu Marisa yang menjadi korban dan tersakiti bahkan bertahun-tahun lamanya.
"Maaf kata mu ! Setelah merebut suamiku, kamu baru mengatakan maaf ! Apa kamu berpikir sebelum melakukan ini? Kamu sudah melukai hatiku dan putraku ! DIMANA HATI NURANI MU ?!" Teriak bunda Arini dengan tangis yang belum mereda. Rasanya begitu tidak percaya atas kejadian ini.
"Mereka korban."
Tangis bunda Arini terhenti setelah mendengarkan suara Keyan. Lama terdiam ia akhirnya bersuara. Iris matanya sangat merah antara menangis dan juga emosi.
Sementara Ayah Johan berusaha melepaskan paku yang membuatnya mematung. Laki-laki paruh baya itu melangkah menghampiri istrinya yang masih duduk di lantai.
"Korban?" Suara Bunda Arini sangat serak terdengar.
"Ibu Marisa adalah korban laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu !" Keyan menoleh ke arah Ayahnya yang kembali membeku. "Dia yang melakukannya dengan tidak punya hati untuk mempertanggungjawabkan." Sambung Keyan lagi.
"Maaf." Suara Ayah Johan tercekat di tenggorokannya. Ia sekuat tenaga mencairkan kebekuan ditubuhnya. Dengan tertatih pria paruh baya ini melangkah. "Aku melakukan kesalahan besar padamu Arini."
Tubuh Bunda Arini seakan tidak berpijak. Hatinya sangat sakit dan dadanya menyesak seolah tidak memberikannya kesempatan untuk bernafas.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa salahku? Apa kamu tidak bahagia? Kenapa tidak jujur? Aku bisa melepaskan mu bersamanya."
"Bukan seperti itu, Aku dan Marisa tidak ada hubungan apa pun. Waktu itu saat pertemuan di hotel X. Aku minum terlalu banyak, hingga akal sehatku tidak bekerja. Setelah pertemuan selesai, semua orang sudah pulang. Hanya tersisa aku dan beberapa orang. Itu sedikit ingatan yang melekat."
Bunda Arini menatap kosong, setelah mendengarkan penjelasan ayah Johan. Ia semakin kusut dan kacau.
"Kami tidak menikah." Sahut ibu Marisa.
Iris mata Bunda Arini langsung menatap tajam pada wanita itu. Ia masih berusaha mencerna tiap kalimat yang diucapkan suaminya.
"Malam itu aku tidak pulang. Aku menyeret paksa Marisa untuk masuk ke dalam salah satu kamar yang aku minta. Setelah terbangun pagi, aku pulang begitu saja, aku menceritakannya pada Anton apa saja yang tersangkut di ingatanku malam itu.Ternyata ada yang mencurangi aku. Karena itulah aku tidak bisa mengendalikan diri ketika melihat Marisa malam itu. Semua itu terbukti di rekaman Cctv." Ayah Johan menyambung ceritanya kembali.
"Aku datang ke kantornya. Untuk meminta pertanggung jawaban dengan cara menikahi ku. Siapa yang akan menerima aku yang telah tidak sempurna. Aku datang dengan membawa bukti rekaman saat dia membawaku." Sambung Ibu Marisa sesekali mengusap air matanya. "Dia menyetujui dengan syarat aku menghapus rekaman itu. Aku sudah berharap penuh saat pulang dari kantornya. Tanpa pikir panjang lagi aku menghapusnya. Sebulan sejak kejadian itu aku datang lagi dengan membawa bukti surat pemeriksaan dari rumah sakit yang menyatakan aku hamil. Karena kejadian itu terjadi saat masa suburku." Tangis ibu Marisa kembali pecah. Derry beralih tempat duduknya dan membawa ibunya ke dalam pelukannya. "Dia menolak menikahi ku, karena tidak bisa mengkhianatimu dan juga Keyan. Aku kembali mengancam dengan mengatakan jika rekaman itu belum aku hapus. Lalu dia membuat dokumen ini dengan isi dia akan bertanggung jawab pada kehidupan Derry dan membagi hartanya setelah dewasa."