
Awan sudah berubah warna, pertanda jika matahari sudah terbit di ufuk timur. Mengikis kegelapan malam hingga berganti siang. Setelah mengetahui kebenarannya, Alvan jadi iba atas diri Valonia Jasmine. Gadis itu nampak tegar tapi dalam jiwanya begitu rapuh.
Pagi ini laki-laki itu bekerja seperti biasanya, namun dia tidak sendiri ada Keyan bersamanya. Mereka sama-sama mengerjakan sebuah proyek pertama mereka berdua.
"Semua lancar." Keyan meregangkan ototnya. Laki-laki itu berpindah duduk di sofa.
"Semoga semuanya selesai tepat waktu." Alvan juga merasa lega. Ia berdiri dari tempatnya duduk lalu membuka kulkas yang ada dalam ruangan itu. Tenggorokannya kering setelah beberapa jam bekerja. "Bagaimana, Key. Sudah menemukan jawaban di hatimu?" Tanyanya sembari melemparkan satu kaleng minuman ke arah sahabatnya itu.
Keyan menyandarkan tubuhnya di dinding sofa. Ya ! Ia sudah dapat jawaban dalam hatinya. Setelah menelaah dengan tenang tentang perasaannya. Sebesar apapun usaha Keyan. Cinta pertamanya itu masih terpatri dan bertahta. Menempati singgasana sebagai ratu di hatinya.
"Rasa itu masih ada, aku merindukannya saat tidak melihatnya. Jasmine masih ada di hatiku. Aku tidak bisa mengabaikannya atau pun menghapus perasaanku."
Alvan menghembus nafas kasar. Ia tahu jawaban itu memang akan melukai hatinya. Tapi ia harus memastikannya. "Lalu bagaimana dengan dia yang tidak mengenalmu ?"
Keyan tersenyum. "Aku yakin dia berpura-pura, mungkin Jasmine marah padaku malam itu karena mempermalukannya. Jadi dia membalasku seperti ini. Aku akan membuktikan jika dia berbohong dengan tidak mengenalku."
"Bagaimana jika itu benar ?"
Pertanyaan Alvan bagai tamparan untuk Keyan, perasaannya tiba-tiba takut. Apa itu benar ? Netra laki-laki ini menatap dalam pada manik mata sahabatnya itu.
"Apa maksudmu? Apa yang benar? Jangan membuatku takut." Kegugupan itu begitu terlihat sekali saat Keyan beberapa kali menghembuskan nafasnya.
"Valonia memang benar-benar tidak mengenal kita." Alvan menjawabnya dengan jelas, guratan kesedihan itu terpancar di wajahnya.
Keyan menggeleng cepat. "Itu tidak mungkin, Al ! Dia hanya sengaja untuk membalasku." Ia menyangkal dengan kabar yang didengarnya. Dalam hatinya berdenyut nyeri, bagaimana itu bisa terjadi ?
"Semua benar, Key. Varen sendiri yang memberitahuku. Tapi dia tidak mengatakan penyebabnya. Kemarin aku ke butiknya. Ternyata Valo kurang sehat, di sana aku bertemu Varen dan Sonny. Saat itulah dia berpesan padaku jangan memaksakan Valo untuk mengingat kita karena secara tidak langsung itu akan terpikirkan olehnya." Jelas Alvan panjang.
Tubuh Keyan lemas, jadi semuanya benar.
Ia terlupakan !
Kenapa rasanya lebih sakit dari pada penolakan itu ?
Netranya panas dan berembun, sesak di dadanya begitu terasa. Banyak yang terlewati olehnya lima tahun belakangan ini. Sedikit pun informasi tentang Valonia Jasmine tidak Keyan tahu karena dengan sengaja memutuskan komunikasi bentuk apa pun.
"Kenapa kalian masih membahas gadis itu ! Dia sudah jelas melupakan kalian ?!"
Tita masuk dengan penuh kemarahan, ia sudah mendengar semuanya saat akan masuk. Ia marah mengetahui jika Laki-laki yang akan jadi calon suaminya itu masih memiliki cinta untuk gadis lain.
"Ta, kamu sudah mendengar semuanya?" Keyan berdiri menghampiri gadis yang tengah marah itu.
"Iya, aku mendengar semuanya ! Kenapa, Key ? Sedikit saja simpan aku di hatimu. Aku mencintaimu, lupakan Valonia seperti dia sudah melupakanmu." Lelehan air mata Tita perlahan mengalir pelan mewakili perasaannya yang terluka.
Keyan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia mengusap wajahnya kasar. "Semua salahku, aku yang memberimu harapan. Tanpa kusadari semuanya hanya bentuk pelampiasan ku karena kecewa atas penolakan Jasmine."
"Selesaikan masalah kalian, satu hal yang perlu kalian berdua ingat. Valonia tidak ada kaitannya dalam masalah kalian ! Jangan menyeretnya dalam masalah ini, dia tidak tahu apa-apa !" Alvan berucap dengan tegas lalu meninggalkan ruangan itu.
Keyan terdiam begitu juga dengan Tita. Sesaat kemudian gadis itu menangis bersuara meluapkan perasaannya. Haruskah ? Kesakitan lagi yang ia dapat.
"Kenapa memberikan aku harapan ? jika kamu sendiri yang menghancurkannya, Key !" Tita duduk lemah di atas lantai yang dingin. Ia sudah tidak memikirkan lagi wibawanya.
"Maafkan aku, Ta. Bertahun-tahun aku membencinya tapi perasaan itu masih ada, aku berusaha keras melupakannya dengan belajar menerimamu. Tapi semua sia-sia aku semakin mengingatnya. Dia cinta pertamaku. Tapi aku terlupakan, Ta ! Rasanya sakit." Keyan tak bisa menahan lagi air mata yang berusaha merobohkan dinding pertahanannya.
"Lupakan dia, Key. Aku mohon... Pertunangan kita tinggal beberapa hari lagi. Jangan rusak semua itu." Tita memohon dengan sangat agar pertunangan itu tetap berlangsung.
Keyan mengangkat wajahnya, lalu berkata dengan sangat yakin. "Ta, aku minta maaf. Aku tidak bisa meneruskan pertunangan kita. Aku yang bersalah, biar aku yang mengatakannya pada keluarga kita. Aku yang gegabah."
Tubuh Tita semakin gemetar, air matanya tiba-tiba kering. Wajahnya kacau dengan tatapan kosong dan hampa. Kebahagian di ambang mata musnah sudah. Kebahagiaan yang ia ceritakan dengan para sahabatnya lenyap begitu saja. Beberapa menit terdiam, gadis itu beranjak dari tempatnya terpaku. Ia melangkah keluar tanpa menoleh lagi pada Keyan. Tita keluar dari ruangan Keyan tanpa suara dan air mata.
Melihat hal itu, Keyan membersihkan wajahnya dengan terburu-buru. Lalu menyusul Tita. Ia menghiraukan tatapan orang-orang padanya. Keyan juga tidak menggubris panggilan ayah Johan yang melihatnya berlari ke arah lift. Sesampainya di bawah, Keyan bernafas lega Tita datang bersama sopir.
Mobil gadis itu meninggalkan halaman kantor. Bersamaan itu pula, Keyan langsung menuju basemen, sekarang tujuannya adalah Ren'cafe. Ia harus bertemu Varen dan bertanya, kenapa Jasminenya bisa melupakannya ?
...----------------...
"Bagaimana, Tita?"
Alvan langsung melemparkan pertanyaan. Keyan duduk dan menghela nafas panjang. Tiga laki-laki itu melihat matanya sembab, mereka yakin jika Keyan habis menangis.
"Tita mungkin pulang atau kembali ke kantornya. Aku sudah menyelesaikannya." Keyan menjawab tanpa ragu dan menatap satu persatu orang yang ada di meja itu.
"Bagaimana caramu menghadapi keluargamu setelah mengambil keputusan ini ? Aku yakin, Tita sudah mengatakannya pada Om Anton." Alvan merasa iba dengan kisah percintaan sahabatnya itu.
"Aku akan menghadapinya." Keyan menjawab tegas. "Ren, aku minta maaf atas sikapku waktu itu, aku terbawa emosi." ucapnya tulus pada Varen.
"Aku sudah melupakannya, Kenapa membatalkan rencana pertunangan mu dan Tita? Dia pasti kecewa dan patah hati. Dia gadis baik, hanya saja tidak bisa mengendalikan dirinya." Varen memaafkan Keyan dan memberikan sedikit pujian untuk mantan kekasihnya itu.
"Aku mencintai Jasmine."
Varen menoleh pada Keyan lalu menatapnya datar. "Mencintai Valonia kamu harus siap menentang keluargamu."
"Apa maksud mu?"
Keyan dan Alvan saling pandang. Lalu kembali melihat pada Varen yang melihat ke arah Levin. Ada cerita yang mereka tidak tahu.
"Katakan saja, Ren. Setelah Keyan tahu biar dia memutuskannya. Tetap memilih Jasmine atau keluarganya." Levin angkat bicara.
Varen mengangguk, untuk apa menyimpannya lagi. Toh ! Valonia Jasmine juga sudah lupa.
"Lima tahun lalu... Ayahmu menemui Valo tidak lama setelah itu, ibumu juga datang menemuinya di hari yang berbeda."
...----------------...
Kilas balik...
Valonia ikut Varen ke kafe karena merasa bosan di rumah. Sambil menunggu sepupunya bekerja, Valonia Jasmine membantu melayani pengunjung. Dari sekian banyaknya pengunjung, ada seseorang memesan kopi dan minta diantarkan oleh Valonia. Gadis itu tidak keberatan, ia dengan senang hati melakukan pekerjaannya.
"Permisi, Pak. Ini pesanan anda, selamat menikmati." Valonia meletakan cangkir itu dengan hati-hati.
"Valonia Jasmine."
Mendengar nama lengkapnya di sebutkan, Valonia refleks mengalihkan pandangannya pada pria yang duduk dengan tatapan tajam padanya.
"Anda tahu nama saya, Pak." Valonia tersenyum kaku. Tangannya meraih nampan dan mendekapnya di dada.
Seulas senyum tipis terlihat di bibir pria paruh baya ini. Netra nya melihat pada asap tipis yang mengepul dari dalam gelas. "Kamu seorang gadis berprestasi dan saya bangga ada murid secerdas kamu di yayasan saya." Pria paruh baya itu meraih cangkir kopi, meniupnya pelan lalu meminumnya. "Duduklah kita perlu bicara." Ia meletakkan gelas itu kembali di atas meja.
Suatu kehormatan untuk Valonia bisa duduk satu meja dengan orang hebat seperti Johan Ganendra. "Terimakasih, Pak Johan. Saya minta maaf tidak mengenali anda." ia duduk rapi dan sopan.
"Terimakasih, berkatmu. Putraku Keyan Ganendra lebih rajin belajar. Nilainya membaik setelah ikut belajar kelompok bersamamu dan teman-temanmu." Ayah Johan berkata tulus saat mengucapkan terimakasih.
Valonia tersenyum. "Itu bukan apa-apa, Keyan anak yang baik dan juga pintar hanya malas belajar."
"Kamu benar, maka dari itu saya akan mengirimnya ke Amerika setelah kelulusan nanti. Dia tidak sendiri ada Tita dan Alvan yang akan ikut bersamanya. Kami sepakat mengirim mereka di sana, selain itu juga agar Keyan dan Tita semakin dekat. Dia adalah gadis pilihan saya untuk pendamping Keyan kelak. Selain dia tidak ada yang pantas untuk Keyan dari segi fisik mau pun materi. Jadi saya minta kamu bujuk lah Keyan agar menerima tawaran saya untuk pergi ke Amerika. Saya kira sebagai gadis cerdas kamu pasti paham." Ayah Johan sengaja langsung menekan hal yang menjadi alasan penolakan Keyan.
Kalimat yang baru saja Valonia dengar itu. Memecahkan perasaannya, siapa yang tahu ada cinta tumbuh di hati gadis pendiam itu. Rasanya baru saja tertampar oleh kenyataan.
Apa yang kamu harapkan Valo. Kamu tidak sepadan dengannya. Jangan mimpi yang terlalu tinggi
Valonia mengepalkan tangannya lalu memaki dirinya sendiri.
"Iya, saya mengerti." Jawabnya tegas.
"Bagus ! Ini yang saya suka. Bicara pada orang cerdas tidak perlu susah payah menjelaskannya. Sebagai bentuk terimakasih saya atas bantuan mu pada Keyan. Sebutkan saja nominal yang kamu inginkan, lumayan untuk mengembangkan butik orang tuamu, saya permisi. Kamu bisa menghubungi sekretaris saya jika sudah menghitung berapa uang yang kamu perlukan." Ayah Johan meninggalkan kafe itu dengan langkah yang angkuh. Tanpa tahu jika Valonia menahan tangis atas penghinaan nya.
Kilas Balik selesai