Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Tidak berakhir indah



Deburan ombak pantai menyapu bersih cetakan telapak kaki yang tertinggal di atas pasir. Untuk memberi suasana baru, Keyan mengajak istrinya untuk pergi ke pantai terdekat.


Disinilah mereka berada. Menghadang tamparan angin mengenai tubuh dan wajah mereka. Kepergian kali ini tak hanya berdua namun bersama pasangan lainnya.


Valonia berdiri di bibir pantai membentang tangannya. Meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Bulatan perutnya terlihat saat baju yang dikenakannya tertiup angin. Dengan mata terpejam Valonia menikmati deburan ombak yang menghantam kakinya. Menyapu bersih pasir-pasir yang menempel.


Keyan tersenyum mengabadikan momen hari ini. Ia merasa gemas ketika bulatan perut Valonia terlihat. Laki-laki ini menyusupkan tangannya dari belakang. Merapatkan tubuhnya sembari mengecup lembut pipi Valonia.


"Kamu seksi sekali sayang."


"Ini baju pilihanmu, jangan menyesalinya." Valonia menjawab tanpa membuka mata. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Tapi aku menyesal. Lihat ! Mata-mata jelek itu menatapmu penuh binar."


Dua insan itu tak memperdulikan pasangan lainnya. Mereka benar-benar menikmati liburan sore ini. Di penghujung laut yang tak bertepi kilauan matahari mengayun cantik di atas permukaan air asin itu.


Warna jingga di ufuk barat tersenyum  memberi warna pada pengunjung pantai. Eloknya lukisan alam sore hari memberikan kesegaran pada tubuh dan otak yang lelah bekerja serta berpikir.


Tak mau kalah dengan pasangan Keyan dan Valonia. Dua sejoli yang tengah dimabuk cinta, Alvan dan Nanda turut mengukir bahagia. Sambil bergenggaman tangan mereka menyusuri bibir pantai dengan bertelanjang kaki. Rona bahagia menghiasi wajah keduanya.


"Terimakasih, sudah mencintaiku." Alvan semakin mengeratkan genggamannya.


Nanda tersenyum. "Terimakasih juga sudah memilihku. Aku berhasil, 'kan?"


"Iya. Kamu berhasil, mengganti nama Valonia Jasmine dari hatiku menjadi namamu. Mengganti perasaan yang dulu ada untuknya dengan perasaan baru padamu. Maaf aku pernah mengatakan padamu. Karena aku tidak ingin menutupi apapun darimu. Agar kamu tahu, aku juga bisa jatuh cinta bukan terpaku pada cinta dalam diam."


"Semua orang punya masa lalu. Begitu pun aku. Kita juga tidak pernah tahu jatuh cinta pada siapa. Dan berakhir dengan siapa sebagai pelabuhan terakhir. Aku percaya, perasaan yang kamu miliki hanya untukku." Nanda menghentikan langkahnya menghadap pada kekasihnya.


"Aku akan segera melamar mu." Alvan mendaratkan kecupan singkat di bibir Nanda.


Jika empat pasangan lain. Tengah merasa bahagia. Maka beda hal pada Endi. Laki-laki itu mengikuti langkah Sera yang berjalan di depannya. Endi setengah mati menahan gugup dengan kedua tangan ia selipkan di dalam saku celananya.


Melihat respon Sera akhir-akhir ini. Endi yakin wanita itu juga memiliki perasaan yang sama padanya. Sebagai lelaki lajang Endi juga ingin memiliki pasangan layaknya yang lain.


"Sera, ada yang ingin aku katakan padamu." Endi melirik sejenak ke samping lalu melemparkan tatapannya ke kaki langit penghujung laut.


"Katakan saja, Kak." Sera tersenyum menoleh ke arah Endi sesaat lalu kembali melihat ke depan.


"Begini." Endi mengumpulkan keberanian lagi untuk bicara. Ia gugup dan juga malu. "Selama ini aku yakin kamu sudah melihat sepak terjang ku untuk mendekatimu." Ucapnya merubah posisi untuk menghadap pada Sera.


"Iya." Sahut Sera juga berpindah posisi menghadap Endi. Ia bisa melihat kegugupan laki-laki itu.


"A—aku tidak dapat menahan atau menutupi perasaanku lagi. Saat pertama melihatmu aku tertarik dengan kepribadianmu yang cuek. Lambat laun ketertarikan itu berubah menjadi suka. Sera, aku menyukaimu. Aku serius tidak main-main. Aku tidak mau menjalin hubungan hanya untuk pamer atau mengisi kekosongan sesaat di hatiku. Tapi aku ingin memiliki hubungan yang benar-benar nyata. Saling melengkapi dan juga berjuang untuk bahagia. Sera, maukah? kamu menjadi kekasihku"


Sera terdiam. Mulutnya terkunci, namun iris matanya menatap lekat dasar manik mata Endi. Deburan ombak semakin nyaring terdengar ketika suasana tiba-tiba sunyi. Guratan wajah Sera berubah. Senyum yang sempat ia perlihatkan pudar bahkan hilang tanpa jejak. Endi semakin berdebar menunggu jawaban gadis dicintainya itu. Tak kuasa menahan kegugupan dan debaran hatinya, Endi menundukkan kepalanya. Menatap ujung kakinya yang disentuh air pantai.


"Kak. Maaf, aku tidak memiliki perasaan padamu "


Kepala Endi terangkat. Dadanya bergemuruh hebat dengan perasaan sakit hingga ke tendon tempat aliran darahnya. Apa dia ditolak ?


"Maksudmu?" Lirihnya dengan intonasi rendah disertai sesak yang menekan dadanya.


"Aku tidak memiliki perasaan padamu. Jangan salah artikan sikapku yang menyetujui segala ajakan kamu selama ini. Itu semua hanya semata-mata untuk menghargai mu saja."


Tubuh Endi seolah terlempar dahsyat dari sebuah ketinggian. Runcingnya kayu menyambut tubuhnya yang terhempas ke dalam jurang patah hati. Sakit merajai sekujur tubuhnya, namun sayangnya luka-luka itu sedikit pun tak berdarah. Hingga, tak ada celah untuk mengobatinya selain membiarkannya membaik sendiri.


Endi mengepalkan tangannya berusaha menguatkan dirinya yang pelan-pelan merapuh. Senyum pahit terukir di wajahnya. Ia memberanikan diri untuk menatap manik mata Sera yang terlihat tegas.


"Iya. Aku mengerti. Maaf jika kehadiranku di sisimu membuatmu tidak nyaman. Terimakasih waktu yang kamu luangkan." Endi memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. "Aku tahu cinta itu tak mesti memiliki. Jadi jangan merasa canggung atas perasaanku. Anggap saja itu tidak pernah terucap." Sambungnya lagi. Endi memutar tubuhnya menghadap laut. Dan membiarkan Sera pergi dari sisinya.


Laki-laki ini mendongakkan wajahnya ke atas, agar air mata yang bersiap pecah disudut matanya kembali masuk. Namun sesaknya dada semakin menekannya tanpa ia sadari jika beberapa pasangan mata menatapnya penuh rasa iba dan ikut sakit hati.


Tidak ingin terlihat memalukan. Endi mencoba berlari di bibir pantai untuk mengusir sakit hati dan sesak di dadanya. Pendekatan yang ia lakukan selama ini tidak mampu membuat Sera juga merasakan perasaan yang sama. Pernyataan cinta Endi tidak berakhir indah.