Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Pulang



Lima tahun cukup untuk Keyan, Alvan dan Tita merantau di negeri orang. Kini mereka baru saja tiba di tanah air, Tiga tahun lamanya Keyan tidak pernah pulang berbeda dengan Alvan dan Tita mereka akan pulang jika libur.


Keyan menarik nafasnya dalam menatap jalanan kota ini. Rasanya baru kemarin dia belajar dan sekarang beberapa  hari lagi ia akan menggantikan sang Ayah di perusahaan milik keluarganya.


Mobil yang menjemputnya tiba di halaman rumah mewahnya. Tidak ada perubahan di sana masih seperti dulu. Di depan pintu, Bunda Arini menunggu dengan senyum mengembang sempurna.


"Selamat datang, Nak " Bunda Arini memeluk putra sematang wayangnya itu melepas rindu.


"Kamu pasti lelah, Ayah akan kasih kamu waktu tiga hari untuk istirahat sebelum ke kantor." Ayah Johan juga memeluk putranya itu. Terselip bangga dalam hatinya melihat putranya tumbuh sesuai keinginannya.


"Iya, Aku istirahat dulu." Keyan menarik kopernya melangkah menuju kamarnya.


Keyan tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Tak hanya tampan dia juga cerdas. Selama kuliah di Amerika, ia sudah mulai membantu Ayah Johan mengelola usaha mereka. Keyan sudah banyak belajar, Kini dirinya siap jadi seorang pemimpin.


...----------------...


Penerbangan yang lama, membuat Keyan merasa pegal. Cukup lama ia terlelap hingga tidak menyadari jika hari sudah senja. Meski pun di pesawat ia juga tidur tapi rasanya berbeda tidur di atas kasur yang empuk.


Keyan melirik ke jendela kamarnya. Di luar sana nampak temaram. Ia duduk bersandar di dinding kasur melemparkan pandangannya jauh ke luar kaca jendela. Entah apa yang ada di benaknya hanya Keyan yang tahu.


Cukup lama termenung, Keyan menyibak selimut dari kakinya. Ia bergegas ke kamar mandi. Keyan juga sudah merasa lapar.


"Bunda aku lapar." Keyan turun dari undakan tangga. Ia sudah beristirahat dengan cukup hari ini.


"Ayo makan sayang, Bunda sudah memasak untuk mu." Bunda Arini menggandeng lengan putranya itu menuju meja makan.


"Ayah di mana, Bun ?" Keyan mencari keberadaan ayahnya karena tidak melihat pria paru baya itu di ruang keluarga.


"Ayah ke rumah Om Anton, kamu makanlah" Bunda menyerahkan piring kosong agar Keyan mengambil makanan sendiri.


Keyan tidak lagi bertanya, karena sudah tahu tujuan Ayah Johan datang ke rumah pak Anton. Keyan melanjutkan makannya. Setelah makan dia berniat akan pergi ke rumah Alvan.


"Bun, aku mau ke rumah Alvan dulu." Pamit Keyan. Laki-laki ini meraih jaket dan kunci mobilnya. Meski tiga tahun tidak pernah pulang. Tapi, ia belum lupa seluk beluk kota itu walau pun ada perubahan.


Tanpa sadar Keyan melewati Jasmine Boutique, netranya melirik sebentar membaca tulisan yang lumayan besar itu. Keyan kemudian fokus mengemudi. Satu hal yang ia belum tahu, nama butik milik Mama Merry telah berganti nama saat Valonia mengambil alihnya. Mobil Keyan berhenti di halaman rumah Alvan. Bertepatan dengan laki-laki itu juga akan keluar.


"Kenapa tidak menelpon jika mau ke sini ?" Alvan meng-urungkan niatnya membuka pintu mobil.


"Rencana dadakan, kamu mau kemana ?" Keyan turun dari dalam mobil nya.


"Mau keluar, ingin ke REN'Cafe" Alvan melirik jam di tangannya sudah pukul tujuh malam.


"REN'Cafe ? Itukan milik Varen dan Bang Levin. Kamu yakin mau ke sana?" Keyan menunjuk raut wajah tidak percaya.


"Iya, aku mau ke sana. Buang jenuhlah sebelum mulai menjadi anak kantoran." Alvan tertawa kecil. Ia juga akan mulai bekerja di kantor sang Ayah.


"Baiklah, ayo ! Naik mobilku saja." Keyan memilih untuk ikut. Apa salahnya mereka menikmati waktu sebelum menjadi orang sibuk.


Alvan mengangguk, kemudian membuka pintu mobil sebelah Keyan. Mereka meninggalkan halaman rumah pak Andre. Di perjalanan mereka sama-sama diam dengan pemikirannya masing-masing.


"Key, kamu mencintai Tita ?" Alvan bertanya sambil menoleh ke sahabatnya itu.


"Jangan memberikannya harapan palsu. Kasian dia ! Tita gadis baik, meski kadang menjengkelkan. Lihat kesetiaannya di sisi kamu selama ini" Alvan merasa miris melihat kegigihan Tita untuk mendapatkan cinta sahabatnya itu.


"Kamu benar, aku sadar Tita yang selama ini selalu berasa di sisiku. Memasak makanan untukku, merawat aku saat sakit. Aku bisa melihat ketulusannya. Tita berhak bahagia." Keyan menyadari keberadaan gadis itu selama di Amerika.


"Kalian sebentar lagi bertunangan, perjodohan kalian tidak bisa kamu hindari. Belajarlah mencintainya, Tita satu-satunya sahabat perempuan, jangan menyakitinya. Jika kamu tidak yakin memberinya cinta maka tolak sekarang agar dia tidak merasakan sakit hati yang sangat dalam." Saran Alvan. Ia menyayangi kedua sahabatnya ini. Dia juga tidak ingin persahabatan itu pecah hanya karena permasalahan hati.


"Aku akan berusaha." Keyan memarkirkan mobilnya di tempat parkiran kafe.


Setelah memarkirkan mobil dengan benar. Keyan dan Alvan turun bersamaan, kaki mereka terhenti melihat kafe itu. Ada cerita di sana tapi untuk apa mengingatnya kembali ? Saat ini mereka datang sebagai pengunjung.


"Ayo masuk." Ajak Alvan melangkah lebih dulu. Kemudian di ikuti oleh Keyan.


Di sana mereka memanggil waiters lalu memesan minuman. Keyan dan Alvan sama-sama mengamati tempat itu. Banyak yang berubah, meja yang sering mereka tempati dulu sudah tidak ada lagi. Bahkan mereka tidak melihat kehadiran Levin mau pun Varen.


Seorang waiters mengantarkan pesanan Keyan dan Alvan, dan kesempatan itu digunakan Alvan untuk bertanya.


"Di mana pemilik kafe ini?" Alvan melontarkan pertanyaan pada waiters itu.


"Bang Levin hari ini tidak datang, karena istrinya kurang sehat."


"Dia sudah menikah?" Alvan terkejut. Tak ingin percaya begitu saja dengan apa yang didengarnya.


"Iya, Bang Levin sudah menikah tiga tahun lalu."


"Kalau Varen di mana?" Alvan kembali bertanya.


"Bang Varen juga tidak datang, sepupunya sedang sakit." Jawab Waiters itu. "Saya permisi." Ia meninggalkan meja dua laki-laki itu.


Keyan dan Alvan saling pandang dengan pemikiran yang sama. Levin sudah menikah dan istrinya kurang sehat lalu Varen tidak datang karena sepupunya juga sakit.


"Itu urusan mereka. Kita tidak ada urusan lagi dengan orang-orang itu." Kebencian Keyan rupanya masih terpatri di hatinya.


"Key, jangan menyimpan dendam. Tidak baik, Rara benar sudah hukumnya kita ditolak atau diterima." Nasehat Alvan.


"Tidak semudah itu, Al ! dia juga harus merasakan bagaimana rasanya sakit hati." Keyan menatap penuh amarah pada Alvan.


"Lupakan dia ! Ada Tita yang harus kamu cintai." Tegas Alvan tak kalah tajamnya menatap Keyan.


Ia merasa Keyan kekanakan-kanakan. Haruskah ? Mendendam kebencian selama ini ? Apa Keyan masih penasaran pada Valonia Jasmine ?


Jika Keyan memang benar-benar mendendam pada Valonia. Maka, dengan terpaksa persahabatan mereka berakhir. Karena, Alvan tidak membiarkan Valonia mendapatkan balasan dendam dari Keyan.


Laki-laki ini meyakini, jika Valonia tidak salah apa pun. Masalah hati tidak bisa dipaksakan. Keyan lah yang aneh, tidak bisa menerima kenyataan. Bukankah ? cinta tidak harus memiliki.


"Kenapa diam ?"


"Tidak apa-apa." Alvan kembali menyeruput minumannya.


Dua laki-laki ini terdiam dalam pemikiran masing-masing. Setelah cukup lama di sana mereka lanjut memuaskan diri bersantai.