
Semilir angin senja tak mampu menerbangkan perasaan kecewa dan sedih di hati Keyan. Jemarinya bertaut erat di jari-jari halus istrinya. Manik matanya telah merah dan bengkak. Ia masih saja tersedu di balik punggung sang istri.
Valonia membiarkan suaminya melepaskan beban yang hanya dirinya sendiri merasakan seberapa berat tanggungan di hatinya. Bahu wanita ini siap untuk tempat pelipur lara, pelepas penat dan juga memberikan sandaran ternyaman untuk sang suami.
Lembayung senja melambaikan tangan untuk mengucapkan selama tinggal. Matahari benar sempurna kembali ke peraduannya. Kini, tinggal remang-remang yang akan menyambut malam.
Setelah menangis meluapkan perasaannya. Keyan merasa cukup tenang dan sedikit lebih ringan. Ia mengangkat kepalanya sambil menghela nafas untuk menetralkan nafasnya yang masih naik turun. Bibirnya tersenyum tipis dengan netra menatap lekat iris mata Valonia.
Ya, Keyan tahu ada kecewa, kesedihan dan juga kebahagiaan tercetak dengan jelas dari manik mata indah istrinya.
"Maafkan aku... Harusnya, dada ini adalah tempat kamu bersandar sayang. Tempat kamu meluapkan keluh kesah. Tapi aku, malah sebaliknya." Keyan menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
"Itulah gunanya suami dan istri. Ketika istri bersedih maka dekapan suami tempat ternyaman. Begitu sebaliknya, jika suami bersedih maka pundak istri tempat ternyaman." Valonia tersenyum sambil berujar dengan lembut dan menyeka jejak air mata di wajah suaminya. "Pundak ini selalu siap tempatmu bersandar seperti tadi."
"Terimakasih sayang. Ah, aku cengeng sekali hari ini." Keyan terkekeh pelan. "Aku tidak bisa menutupinya."
"Aku juga kecewa pada ayahmu. Demi menutup rahasia besar ini, beliau hampir saja melenyapkan aku. Mungkin saat itu pikirannya kalut dan tidak bisa berpikir dengan baik. Hal ini juga pelajaran untuk kita, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan luar dari kendali kita. Jangan pernah menyembunyikannya." Valonia masih mengusap lembut punggung suaminya. "Jangan marah terlalu lama pada Ayah. Beliau khilaf."
"Iya." Keyan mengecup buku-buku jari Valonia "Terimakasih." Sambungnya menatap lekat iris mata Valonia. "Sudah gelap ayo masuk."
...----------------...
Malam sudah beranjak. Mentari datang dengan senyum cerahnya. Di kasur berukuran king size ini, dua insan yang kemarin habis melepaskan keluh kesah bersama di balkon kamar kini nampak lebih baik dari hari kemarin.
Keyan terbangun lebih dulu. Ia sengaja berdiam diri untuk mengamati tiap sudut wajah istrinya. Ia berharap agar nanti bayi yang dikandung Valonia akan mirip dengannya. Seulas senyum terlihat di bibir merahnya. Ketika mengingat bagaimana perjuangannya hingga ketahap ini.
"Kenapa belum mandi?"
"Sengaja, nunggu istriku bangun. Sayang sekali makhluk secantik ini ditinggalkan sendirian saat tidur."
"Iya sayang. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan bunda kemarin. Tapi mereka butuh waktu untuk bicara." Keyan ikut duduk sambil merapikan bantalnya. Tugas utamanya merapikan tempat tidur.
"Ajak juga Derry nanti." Valonia melenggang masuk ke kamar mandi. Wanita itu semakin hari bertambah cantik di mata Keyan.
...----------------...
Prahara rumah tangga Ayah Johan dan Bunda Arini sedikit dingin setelah kemarin penuh dengan air mata dan keterkejutan. Ya, Bunda Arini terkejut sekaligus kecewa.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa mengkhianatimu. Karena rasa cintaku yang besar padamu dan juga Keyan. Aku memilih menyembunyikannya."
Bunda Arini melemparkan tatapannya pada Ayah Johan setelah mendengarkan penuturan suaminya itu. "Sekarang kamu jawab jujur. Di malam itu, kamu benar-benar mabuk atau dalam keadaan sadar?"
"Malam itu, aku dan Anton menghadiri jamuan dari relasi. Undangannya tidak membawa istri. Setelah selesai acara aku baru merasakan reaksi yang tidak wajar dalam tubuhku. Di samping alkohol tinggi yang kami minum, aku juga merasa libido menguasai. Aku tidak bisa mengendalikannya hingga menyerat Marisa malam itu. Aku menyesal dan ketakutan. Di dalam perusahaan kita ada seseorang yang menginginkan posisiku. Dia juga memiliki saham di sana, jika dia bisa menyingkirkan aku. Otomatis kedudukanku tergeser. Rencana yang mereka susun terjadi. Aku melakukan pelecehan pada manajer hotel itu. Namun, Marisa bergerak cepat untuk mengambil rekaman Cctv saat pagi. Sebagai alat untuk meminta pertanggung jawabanku. Karena aku takut kehilanganmu dan juga terungkapnya masalah pelecehan itu. Aku menjanjikan untuk menikahi Marisa dengan syarat menghapus rekaman Cctv itu. Tapi aku tidak bisa menikahinya dan mengkhianati pernikahan kita."
"Lalu..." Bunda Arini ingin mendengarkan cerita selanjutnya. Ia bisa melihat guratan sesal di iris mata suaminya.
"Karena pernikahan itu belum juga terjadi. Marisa datang membawa hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Aku semakin ketakutan saat mengetahui dia hamil. Yakin hal itu akan jadi skandal. Aku membuat kesepakatan baru pada Marisa, hitam di atas putih. Aku akan bertanggung jawab pada anak yang dikandungnya hingga dewasa dan membagi hartaku secara adil. Dengan syarat, aku tidak menikahinya. Marisa setuju setelah mendengarkan penjelasan tentang malam itu. Ia cukup tenang karena anaknya mendapatkan pertanggung jawaban. Meskipun tak bisa mengembalikan apa yang aku ambil darinya."
"Di mana Anton saat kejadian itu? Kenapa dia tidak membantumu untuk pulang?" Ada nada gusar dalam pertanyaan Bunda Arini.
"Dia pulang lebih awal karena mendapatkan telpon jika Tita sedang demam. Aku menepati janji membiayai Derry dari dalam kandungan hingga pendidikannya. Setelah Derry lulus aku semakin takut jika dia dan Marisa menagih janji yang tertulis itu. Bagaimana aku menghadapi kamu atas pembagian harta nanti? Apa yang akan kukatakan padamu tentang hubunganku dan Derry? Aku menceritakan permasalahan ini pada Anton. Dan dia memberikan solusi padaku untuk menikahkan Keyan dan Tita. Dengan begitu, Dia akan jadi ahli waris satu-satunya. Karena Tita putri sahabatku otomatis dia tidak akan mencurangi Keyan dalam hal warisan. Sementara aku tetap berusaha untuk memusnahkan dokumen perjanjian itu.
Bunda Arini menghela nafas panjang berusaha mengusir amarah yang bersarang dalam hati. Mencoba mengusir sesak di dadanya.
"Apa tindakanmu untuk Derry sekarang? Para komisaris perusahaan akan bertanya siapa dia dan kenapa mendapatkan hak dalam saham kita? Para pemegang saham akan bertanya apa hubunganmu dengannya? Sementara selama ini mereka tahu kamu hanya memiliki satu orang putra."
"Aku akan mengambil resiko apa pun agar Derry bisa mendapatkan hak yang sama. Aku akan menanggungnya." Ayah Johan menatap lekat wajah Bunda Arini. Ia telah siap untuk menghadapi apa yang terjadi.