Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Niat di balik manisan kedondong



Tiga hari berlalu, kondisi Valonia berangsur membaik. Meski tidak makan nasi. Namun digantikan dengan ubi dan roti. Sebagai suami yang baik, Keyan selalu berusaha memenuhi keinginan sang istri. Tak ada keluhan atau pun penolakan terucap dari bibir Keyan. Ia menjalaninya dengan hati yang senang. Sebab, momen itu akan terjadi ketika wanita berstatus istrinya itu saat hamil saja dan Keyan ingin juga merasakan bagaimana menjadi suami dan calon ayah yang selalu memenuhi keinginan ibu hamil saat ngidam.


Valonia Jasmine bukan tipe sering bermanja-manja. Cambukan hidup yang ia jalani selama ini bisa membuatnya kuat dan mampu mengatasi dirinya sendiri. Ketika dirinya mampu, maka Valonia akan bekerja dan ketika dia merasa lelah. Maka Valonia akan mengistirahatkan tubuhnya.


Seperti saat ini, wanita cantik itu tengah duduk di kursi kerjanya. Memasang payet disalah satu gaun. Tak hanya itu, dia juga mengecek jahitan yang ia kerjakan. Di saat fokus bekerja ponsel Valonia bergetar perhatiannya teralihkan, lalu ia meraihnya dari atas meja.


"Iya sayang." Valonia menempelkan ponsel di kupingnya. Ia bangun dari kursi dan pindah ke sisi kaca yang tertutup tirai. Valonia tidak bisa melihat sinar matahari secara langsung. Karena ia akan merasa pusing dan mual.


"Kamu ingin makan apa?"


"Mia sudah masak sayang. Tadi aku kepingin capcay sayur." Valonia menoleh karena ada seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Baiklah, kalau begitu makan siang aku ke butikmu. Apa ubi mu masih ada ?"


"Habis, hanya sisa untuk makan siang." Valonia mengangguk mempersilahkan seseorang yang mengetuk untuk masuk.


"Aku akan membelinya. Ya sudah aku tutup telponnya. Jangan terlalu lelah sempatkan tidur siang."


Valonia menurunkan ponsel dari kupingnya. Ia melangkah menghampiri seseorang yang menunggunya dengan senyum mengembang. Manik matanya menatap penuh tanya dan selidik. Apa gerangan membawa asisten suaminya ini berkunjung ke butiknya ? Tanpa ada Keyan bersamanya.


"Jangan melihatku seperti itu." Endi  tersenyum canggung melihat tajamnya sorot mata seorang Valonia Jasmine. Rasanya seakan berhadapan dengan calon ibu mertua.


"Dari mana kamu ?"


"A—aku. Aku membelikan mu manisan kedondong. Ini !" Endi menaruh cepat plastik yang di bawa. Ia sengaja membelinya saat perjalanan ke Jasmine boutique.


Sebagai wanita hamil, Valonia senang dan menginginkannya. Tangannya segera mengeluarkan mika kedondong dari dalam plastik. "Apa yang kamu inginkan ?" Tanyanya to the point. Valonia cukup cerdas ada niat terselubung di balik mika manisan kedondong.


Endi meringis masam melihat Valonia menggigit buah kedondong yang sempat ia cicipi tadi dan rasanya nano-nano. Endi tersenyum. "Di mana Sera ?"


"Sedang menemui klien bersama Nanda. Ada apa ?"


"Aku ingin mengajaknya makan siang." Endi menelan saliva nya melihat Valonia begitu menikmati buah kedondongnya. Wajah istri atasannya itu nampak biasa saja saat mengunyah buah itu. Tapi kenapa tadi ia merasa asam manis? Memang berbeda lidah wanita hamil dan lidah biasa seperti dirinya. Begitu pikir Endi.


"Tunggu saja sebentar lagi datang. Kamu sudah ijin sama Keyan ?"


"Aku memang tugas di luar hari ini. Baiklah, aku menunggunya disini saja. Ayo sini ! Aku temani kamu makan kedondongnya." Endi penuh semangat mencocol kedondong dengan sambal garam yang satu paket di dalam mika. Ia bersusah payah mengunyahnya. Selain pedas ada asam manis juga terasa.


Valonia tertawa. "Jangan memaksakan diri."


Endi tersenyum dan menghabiskan buahnya. Tak lama Sera dan Nanda datang. Mereka mengetuk pintu sebelum masuk. Iris mata Sera dan Endi bertemu. Namun, Sera cepat mengalihkan pandangannya.


"Bagaimana?" Valonia mengambil tissue untuk membersihkan tangannya. Ia mempersilahkan Sera dan Nanda untuk duduk.


"Mereka memilih gaun yang ini, pernikahan akan diadakan bulan depan. Kira-kira apa kakak bisa menyelesaikannya?" Sera menunjuk contoh gambar gaun di dalam buku serta menjelaskannya.


"Satu bulan." Valonia nampak berpikir. "Apa kamu bersedia membantuku? Mia tidak bisa memasang payet. Karena itu pekerjaan yang cukup lama dan rumit. Aku juga dalam kondisi seperti ini tidak mungkin memaksakan diri untuk lembur."


"Aku bisa, Kak." Sera menyetujui. Dia adalah salah satu karyawan yang cepat bisa dalam hal belajar.


"Dan kamu Nanda?"


"Bisa, Kak." Jawab Nanda juga setuju. Jarang-jarang ia bisa turun tangan langsung dalam mengerjakan gaun pengantin.


Selama ini Valonia memiliki karyawan senior. Namun sayang mereka harus berhenti karena mengikuti suami yang bekerja jauh dan Valonia butuh dua orang karyawan yang bisa membantunya.


"Bagus, besok kita mulai mengerjakannya. Katakan pada mereka kita menyanggupinya dan untuk kamu Sera, dia datang untuk mengajakmu makan siang. Kamu harus menerimanya karena dia sudah menyuapku dengan manisan kedondong."


Endi terbelalak, rinci itukah Valonia menjelaskannya ? Ia tersenyum ke arah Sera. Meski pun gadis yang ia dekati cukup dingin menurutnya.


"Baiklah, tuan. Saya menerima ajakan anda kali ini." Sera memaksakan senyum karena tak enak menolak.


"Terimakasih." Endi menatap wajah Sera lekat.


Aku akan menghangatkan dinginnya hatimu Sera.


...----------------...


Matahari merangkak dengan sempurna di ketinggian langit. Badan jalanan mulai penuh oleh kendaraan yang berburu tempat untuk makan siang. Bukan instansi tak menyediakan tempat, hanya saja mencari suasana dan rasa sebagai pemanja lidah. Untuk penunjang semangat bekerja, perut harus kenyang dan mendapatkan asupan gizi yang nikmat.


Mobil Keyan berhenti di garasi Jasmine Boutique. Ia datang  bersama Derry. Sebelumnya suami Valonia itu membeli ubi mentah yang ia simpan di mobil sebagai pengganti nasi sang istri.


"Ayo Der, bawa juga makanan yang kita beli." Ajak Keyan melepaskan kancing jasnya. Laki-laki ini semakin berkarisma saja setelah bergelar sebagai calon ayah.


"Iya, Kak."


"Sayang. Apa hari ini mual lagi ?" Keyan memeluk dan mengecup kening Valonia. Kemudian menuntun istrinya untuk duduk.


"Hanya pagi tadi saja, aku sudah minum vitamin dan anti mual. Ayo makan. Kamu bawa apa, Der ?" Valonia membuka kotak yang Derry bawa.


"Beberapa sayur masak. Hanya sayur tidak dicampur yang lain." Jelas Derry menarik kursi untuk duduk.


"Kamu makan kedondong lagi. kamu tidak membelinya sendiri, 'kan?" Selidik Keyan. Ia tidak mau jika istrinya berkendara sendiri untuk mencari yang ia inginkan.


"Itu dari Endi. Dia kesini mengajak Sera makan siang."


"Endi ke sini." Keyan meraih sendok dan mulai memakan makanannya. Pantas saja asistennya itu tidak kembali ke kantor pikirnya. Rupanya mampir ke butik istrinya.


"Iya, ayo makan."


...----------------...


Usai makan siang, Keyan dan Derry kembali ke kantor. Dan CEO JFB itu merubah jadwal kerja istrinya. Valonia Jasmine tidak lagi bekerja seharian penuh. Ia akan bekerja hanya setengah hari saja. Keyan sengaja hari ini mengajak Valonia ke kantornya dan akan pulang bersama. Rencana itu akan berlaku selama kehamilan Valonia.


"Sayang, kamu tidur di dalam saja jika mengantuk ya." Keyan menggiring istrinya untuk masuk ke dalam ruangan pribadinya.


"Iya, aku sepertinya mengantuk." Valonia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama kelopak matanya menutup.


"Kamu juga istirahat ya, Nak." Keyan mencium perut Valonia dan keningnya. Lalu menaikan selimut untuk menutup ujung kaki istrinya.


Semenjak mengetahui kehamilan Valonia, CEO JFB ini membuat kamar pribadinya senyaman mungkin untuk ditempati istrinya. Sebab, Keyan akan membawa Valonia sehabis jam makan siang ke kantornya dan mereka akan pulang bersama.


"Key, ini dokumen yang akan kita ajukan ke kantor Jewelry Corporation." Endi masuk setelah mengetuk pintu. Laki-laki itu terlihat senang dengan senyum di bibirnya yang terus mengembang.


"Sepertinya kamu sedang senang." Keyan meraih dokumen yang diletakkan Endi di atas meja. Lalu membacanya sejenak dan menutupnya kembali. "Ajukan secepatnya, aku tidak sabar bertemu pengusaha besar itu."


"Aku memang sedang senang dan aku juga ingin berkenalan secara langsung dengan pemilik Jewelry Corporation. Aku dengar asistennya bersifat dingin beda jauh dari atasannya yang ramah."


"Dia tak hanya ramah. Namun juga manja pada istrinya. Dia selalu bersaing pada putranya." Keyan banyak tahu tentang tokoh idolanya dalam dunia bisnis tersebut.


"Kamu banyak tahu tentangnya." Endi tertawa. Dia sangat tahu bagaimana sahabatnya itu tergila-gila dengan orang yang dimaksud.


"Aku sangat tahu. Saat dia masih menjadi dokter, aku sudah mengikuti akun pribadinya. Dia selalu berbagi momen di sana. Sekarang dia memiliki dua anak satu laki-laki dan yang kedua perempuan."


"Wah sedetil kamu tahu." Endi takjub.


"Bagaimana perkembanganmu dan Sera? Kamu harus perlahan mendekatinya. Dia gadis dingin dan mengalami trauma." Keyan menggantikan topik pembicaraan.


"Lumayan, hari ini dia mau tersenyum bahkan tertawa. Aku tidak tahu apa yang dia alami sebelumnya? Hingga jadi gadis dingin dan menutup diri."


"Dia pernah kehilangan orang yang dicintainya. Saat itu, dia ada janji temu bersama laki-laki itu. Setelah berjam-jam orang itu tak menemui nya. Lalu... Ada telpon mengatakan jika laki-laki itu telah pergi ke kota lain bersama keluarganya. Sejak itu Sera menjadi menutup diri, ia merasa diabaikan dan dicampakkan tanpa penjelasan. Itu yang diceritakan Mia." Ujar Keyan bercerita sedikit tentang Sera.


"Menyebalkan ! Apa laki-laki itu tidak sempat berpamitan padanya. Atau menjelaskan tentang kejelasan hubungan mereka." Kesal Endi menatap segala arah.


"Entahlah, dari cerita Mia. Orang tuanya tidak menyetujui hubungan mereka karena Sera terlahir dari keluarga sederhana."


"Cih, masih saja status sosial jadi masalah."  Endi menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Berjuanglah. Sering-seringlah menyuap istriku. Tapi suap dengan makanan enak atau buahan yang enak. Jangan kamu kasih kedondong terus nanti rusak giginya."


...----------------...


Di dalam satu ruangan besar minim cahaya. Ada seorang pria paruh baya menatap nanar foto di ponselnya. Ia tersenyum kesal sampai detik ini masih belum bisa mendapatkan apa yang dia mau. Nafasnya terdengar kasar sembari meremas erat ponsel di tangannya. Ya, dia harus segera mengakhiri ini semua.


"Bagaimana Tuan, sudah satu bulan lebih kita mendinginkan suasana. Apa rencana anda selanjutnya?"


Pria paruh baya itu berdiri dari tempatnya duduk lalu melangkah pelan ke sisi meja. Tangannya terulur meraih satu kotak rokok yang ada disana. Dengan gerak cepat laki-laki yang bicara padanya menyalakan pemantik. Dalam sekali hisapan rokok itu hidup lalu keluarlah kepulan asap dari hidung dan mulutnya.


"Aku harus mendapatkan dokumen perjanjian itu. Setelah itu memusnahkannya. Kamu tahu dimana tempat tinggal mereka yang baru?" Pria paru baya itu nampak berbeda dari kesehariannya. Aura kejamnya terlihat jika berada di tempat ini.


"Saya tahu, tapi ini cukup berisiko. Ibu Marisa dan Tuan Derry tinggal di unit apartemen milik CEO JFB. Tak hanya itu mereka juga dijaga ketat oleh keamanan JFB."


Penjelasan laki-laki muda itu membuat pria paruh baya ini mengeram kesal. Belum setengahnya rokok itu habis, ia menaruhnya di asbak lalu mematikannya. "Awasi Marisa, setelahnya menyelinap masuk ke dalam unitnya dan cari dokumen perjanjian itu."


"Baik tuan, saya segera melaksanakannya. Tapi jika dokumen itu tidak ada disana, bagaimana ?"


"Awasi Derry. Aku yakin dia pasti menyimpan dokumen itu dengan rapi dan tersembunyi."


"Siap tuan, saya akan bergerak sekarang." Pria muda itu pamit meninggalkan ruangan minim cahaya itu.