
Di dinding langit bulan tergantung dengan cantik, sinarnya lembut menerangi gelapnya penjuru bumi. Bintang malam pun bertabur memenuhi lengkungan langit guna mempercantik tampilan langit malam. Semua keindahan malam ini, tak selaras dengan hati seorang laki-laki tampan yang tengah menatap sendu istrinya yang nampak lemas karena makan yang tak teratur.
Valonia kehilangan selera makannya. Wanita itu hanya minum jus dan beberapa roti. Ia menolak makan dan minum air putih. Karena merasa tidak enak di lidahnya. Valonia tak mengerti dengan lidahnya tiba-tiba seolah tidak berfungsi.
"Sayang makan ya." Keyan masih membujuk. "Katakan kamu mau makan apa ?" Ia mengusap lembut rambut panjang istrinya yang fokus makan sisa mangga mudanya.
"Aku tidak selera makan nasi. Tapi aku mau makan oseng sayur tidak usah dicampur yang lain. Khusus sayur saja."
"Baiklah, aku sendiri yang memasaknya" Keyan tersenyum senang sudah lama ia tidak pernah memasak untuk istrinya. "Kamu tunggu disini ya." Ia meninggalkan kecupan di kening Valonia Jasmine sebelum keluar dari kamar.
Valonia mengangguk sambil membuang kulit buah ke tempat sampah. Tak dipungkiri ia merasa lemas karena hanya makanan manisan kedondong dan rujak mangga muda serta jus. Tidak ada karbohidrat yang masuk ke perutnya. Sementara dirinya merasakan cepat lapar dan mengantuk.
Usai berkutat dengan peralatan dapur, akhirnya Keyan datang membawa nampan makanan. Laki-laki itu terlihat puas dengan hasil masakannya. Tak hanya membawa satu mangkuk sayur, Keyan juga membawa satu mangkuk kecil berisi nasi. Ia berharap istrinya mau makan nasi.
"Sudah masak." Valonia tersenyum menyambut nampan dari tangan suaminya. Ia bisa merasakan jika oseng sayur yang di buat suaminya terasa lezat.
"Sudah sayang, sekarang kamu makan ya, aku cemas kamu tidak makan nasi dari pagi."
"Jauhkan nasinya, aku mual melihatnya." Valonia meraih mangkuk sayurnya sambil mencium aromanya.
"Mual?"
"Iya." Valonia mencicipi oseng sayur yang dimasak oleh suaminya ." Enak" ucapnya sambil menyuapi kembali sayur di mangkuk.
"Habiskan, setidaknya itu bisa mengisi perutmu." Keyan merapikan anak rambut istrinya yang berantakan.
Tidak membutuhkan waktu lama, sayur didalam mangkuk habis tanpa sisa. Lidah Valonia memang bisa menerima makanan itu. "Minum jus saja, air putih rasanya pahit." Tolaknya ketika Keyan menyodorkan gelas air putih.
"Aku antar ini dulu ke dapur." Keyan membawa peralatan makan yang telah kosong itu keluar dari kamar. Otak cerdasnya mulai berpikir dengan keras, apa penyebab Valonia tidak mau makan nasi? Dan kehilangan selera makannya beberapa hari ini.
...----------------...
Valonia bergegas bangun dari tidurnya, saat merasakan kantung kemihnya penuh. Ia melangkah dengan gemetar karena merasa kosong diperutnya. Ia tertatih menuju kamar mandi. Usai dengan ritualnya, Valonia mencuci wajahnya lalu menatap dirinya di kaca. Ia melihat wajahnya pucat bak orang sakit. Tak ingin berlama-lama di sana ia segera keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kamu pucat sekali. Ada yang sakit ?" Keyan panik saat berbalik bertepatan dengan Valonia yang keluar dari kamar mandi.
"Aku lemas dan juga lapar. Tapi tidak selera untuk makan." Valonia menjawab lirih duduk kembali di atas kasur. Iris matanya berkaca-kaca tak mengerti dengan keadaannya. "Ada apa denganku?"
"Kasihan sekali istriku." Kepanikan Keyan semakin bertambah melihat istrinya kembali berbaring bahkan menyusupkan wajahnya di dada bidangnya. "Kamu mau makan apa sayang ?" Tanyanya lembut sembari mengeratkan pelukan ditubuh sang istri.
"Aku tidak tahu, aku merasa mual. Tapi tidak mau muntah." Valonia mendongakkan wajahnya menatap lekat suaminya. "Perutku juga tidak enak sejak kemarin." Keluhnya sedih.
"Apa asam lambung mu naik? Atau... kita ke rumah sakit saja. Aku ada dua jam waktu luang pagi ini." Tangan Keyan terulur membelai wajah istrinya yang murung. "Kita tidak boleh membiarkan ini."
"Iya, kita ke rumah sakit saja. Kamu hubungi Sonny." Valonia bangun dan melangkah ke ruang ganti. "Katakan padanya kita akan ke rumah sakit." Sambungnya sambil melangkah.
"Mandi dulu sayang. Kenapa langsung ke ruang ganti?" Keyan menoleh pada istrinya dan bingung bukannya mandi, Valonia malah masuk ke ruang ganti.
"Aku malas mandi. Nanti saja di butik."
Netra Keyan membesar, semakin heran pada tingkah istrinya. Tak ingin larut dalam rasa herannya, Keyan segera meraih ponselnya dan menghubungi Sonny. Usai menelpon. Keyan langsung ke kamar mandi. Hanya menghabiskan waktu dua puluh menit, ia keluar dengan wajah segar.
Bola mata Keyan membulat sempurna mendapati Valonia telah siap dan sudah cantik. Bahkan di atas kepalanya bertengger kaca mata hitam. Semakin membuat Keyan heran, tak ingin bertanya untuk apa kaca mata hitam itu sepagi ini? Ia langsung masuk ke ruang ganti.
...----------------...
"Sudah siap ?" Keyan meraih ponselnya serta tas kerjanya. Ingin rasanya tertawa tapi ia tak punya nyali karena Valonia akan membatalkan niat pergi ke rumah sakit. Tak biasanya Valonia membawa kaca mata sepagi ini. "Atau mau ku gendong ? Kamu sepertinya lemas sekali."
"Aku masih kuat" Valonia melangkah sambil mengapit lengan suaminya. Jari-jarinya mengapit kuat jari Keyan. Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Rasa aneh diperutnya juga menyerang. "Kenapa pusing ?" Valonia merasa semakin lemas dan lapar.
Di ruang makan sudah siap sarapan. Tapi Valonia tak berniat menyentuhnya. Ia hanya menyeruput jus yang dimintanya saat Bi Noni mengatakan jika sarapan sudah siap. Keyan menyelesaikan sarapannya sambil membujuk istrinya itu untuk ikut sarapan. Namun, Valonia tetap menolak. Kini sepasang suami istri itu bersiap untuk pergi. Keyan menggenggam tangan Valonia hingga menuju pintu utama. Tapi langkah wanita cantik itu tiba-tiba terhenti.
Keyan menoleh. "Kenapa sayang?" Hatinya kembali cemas melihat wajah istrinya semakin pucat. Ia menyesal karena sempat ingin menertawakannya tadi. "Aku gendong saja ya."
Keyan tersenyum dalam kebingungannya, penyakit apa yang tengah diderita Valonia saat ini? Dalam hatinya berdoa semoga saja istrinya tidak mengalami penyakit yang parah. Mobil Keyan berbaur dengan pengendara lainnya mengisi badan jalan. Valonia tak melepaskan kaca matanya, sesekali ia menghembuskan nafas panjang.
"Ayo sayang." Keyan meminta Valonia meletakan tangannya ke dalam genggamannya. "Jangan cemas." Tangannya dengan hangat mengusap lembut pundak istrinya.
"Semoga saja tidak ada yang aneh ya. Aku gugup sekali." Valonia menghembus nafas panjang untuk melegakan perasaannya. Langkah kakinya tak bisa cepat karena tubuhnya yang terasa lemas. "Tapi bagaimana jika penyakit serius ?"
"Kita akan hadapi sama-sama. Percaya padaku semua akan baik-baik saja." Keyan semakin cemas melihat bibir istrinya yang memutih. Jarak ke ruangan Sonny lumayan jauh. Hingga Valonia merasa lelah. "Naik ke punggungku sayang." Tanpa Malu Keyan membungkukkan tubuhnya di hadapan Valonia. Ia tak tega melihat istrinya.
Tanpa menolak Valonia langsung menaiki punggung Keyan. Ia meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Keyan merasa jika istrinya tak bergerak, tubuh Valonia terasa berat. Perasaan Keyan tak nyaman, setengah berlari ia membawa tubuh istrinya.
Keyan berputar arah, ia berlari ke UGD. Ruangan yang dekat dengan posisinya saat ini. Keyan menerobos masuk tanpa aba-aba.
"Baringkan di atas brankar, Tuan." Salah satu dokter UGD menyambut tubuh Valonia. "Apa yang terjadi ?" Dokter itu bertanya sambil memasang oksigen di hidung Valonia.
"Saat kami kemari, dia memang sudah lemas. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan nasi. Hanya buah dan jus." Jelas Keyan sambil mengatur nafasnya yang terengah. Keringat dingin muncul di pelipisnya karena takut.
"Baiklah." Dokter UGD mengambil tindakan untuk merawat Valonia.
Keyan memperhatikan tindakan dokter. Ia benar-benar takut kalau Valonia mengalami penyakit yang serius. Laki-laki itu berdiri sedikit jauh dari brankar istrinya. Ia membiarkan dokter melaksanakan tugasnya. Perhatian Keyan terbagi ketika ponsel disaku long coat blazer nya bergetar.
"Iya, Son." Keyan menjawab sambil melangkah keluar. Tak ingin suaranya mengganggu kerja para dokter UGD.
"Kalian di mana ?"
"Kami di UGD. Jasmine tidak sadarkan diri saat ingin ke ruanganmu." Jelas Keyan sambil melirik ke dalam ruangan UGD.
"Aku akan ke sana "
Keyan masuk kembali, ia menghampiri istrinya. Para Dokter sudah selesai merawat Valonia. Keyan menggenggam tangan istrinya dengan lembut lalu mengecup buku-buku jarinya. Ia terkekeh dalam rasa sedihnya. Valonia mampu mengguncang dunia tenang seorang Keyan Ganendra.
"Tuan Keyan." Sapa Dokter yang merawat Valonia. Ia berdiri di seberang brankar. "Istri anda tidak sadarkan diri. Secara umum penyebabnya adalah adanya penurunan tekanan darah sehingga mengurangi sirkulasi darah ke otak dan berujung pada kehilangan kesadaran. Dan juga sering melewatkan waktu makan. Hal ini sering terjadi di awal kehamilan karena kurangnya asupan makanan hingga tubuhnya lemas. Sejauh ini tidak ada yang serius. Untuk observasi istri anda akan dirawat inap."
"Di awal kehamilan?" Otak cerdas Keyan tiba-tiba beku setelah mendengar kalimat pertengahan dari penjelasan dokter. Ia berusaha mencernanya dengan sebaik mungkin "Di awal kehamilan?" Gumamnya lagi dengan pandangan mengarah pada perut istrinya.
"Iya, dari hasil pemeriksaan. Istri anda hamil. Untuk lebih lengkapnya saya akan rujuk istri anda ke dokter obgyn. Selamat Tuan Keyan atas kehamilan Nyonya Valonia. Semoga sehat sampai persalinan." Dokter UGD mengulurkan tangannya. Penjelasan yang disertai doa tulus itu. Membuat Keyan terpaku.
"Te—terimakasih Dokter." Keyan terbata membalas uluran dokter cantik itu. Ia masih mencerna penjelasan yang baru saja didengarnya.
"Selamat kawan !" Sonny datang merangkul pundak Keyan. Ia sudah mendengar penjelasan juniornya itu saat akan masuk ke ruangan UGD.
"Jasmine hamil." Keyan seperti orang linglung dengan senyum yang merekah.
"Iya, Valonia hamil sebentar lagi kamu jadi Papa dan aku jadi Om yang tampan." Sonny sangat bahagia atas kehamilan sahabatnya itu. "Sehat-sehat ya, Nak !" Tangan Sonny mengusap lembut perut Valonia.
"Jangan sentuh istriku !" Keyan memukul punggung tangan Sonny. "Son, istriku hamil !" Ia berjingkrak senang dan memeluk tubuh Sonny dengan erat. "Aku jadi Papa, Son ! Kamu tahu itu. Jasmine ku hamil." Keyan meluapkan rasa bahagianya. Ia melupakan siapa dirinya. Anehnya ledakan bahagianya lambat terproses.
"Berisik." Valonia membuka matanya karena merasa terganggu dengan suara suaminya. Ia membuka kelopak matanya lalu menyesuaikan dengan pencahayaan dalam ruangan itu. "Aku kenapa ?" Tanyanya sembari berusaha duduk.
"Kamu hamil sayang ! Kamu hamil !" Bukan menjelaskan penyebabnya. Keyan malah menyampaikan berita baik itu.
"Kamu pingsan karena sering melewatkan waktu makanmu. Dengar kata-kataku dengan baik. Di dalam sini ada keponakanku. Jadi, rawat dan jaga dia dengan baik. Apa pun yang kamu rasakan saat ini. Tolong, dilawan ya. Kamu harus makan dan minum demi kelangsungan hidupnya di dalam rahimmu." Sonny menjelaskan pada Valonia dan mengabaikan Keyan yang sibuk menciumi punggung tangan istrinya itu.
"Benarkah? aku hamil." Valonia tersenyum senang. "Terimakasih Tuhan." Ucapnya lagi. Valonia langsung menabrakkan tubuhnya ke dada Sonny. Ia benar-benar bahagia.
"Sayang kenapa memeluk Sonny?" Keyan tersadar lalu meraih tubuh Valonia dan bergantian memeluk istrinya. "Aku papanya sayang, seharusnya kamu memelukku. Aku yang membuatnya siang dan malam." Sambungnya lagi.
"Dasar tidak tahu malu ! Ayo pindah sekarang, perawat sudah bersiap." Sonny memberi tempat untuk perawat wanita yang akan mengantarkan Valonia ke ruangannya.
"Hati-hati sayang." Keyan posesif dan membantu Valonia untuk duduk di kursi roda. "Geser Son, kamu menghalangi kursi roda." Keyan menggeser tubuh Sonny seperti menggeser manekin.
"Tidak waras." Umpat Sonny membenarkan jasnya lalu mengikuti Keyan dan Valonia. Laki-laki itu langsung menyebarkan berita kehamilan Valonia di grup chat nya.