Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Kepanikan Keyan



Valonia bersandar di kursinya melepas penat setelah memasang payet di salah satu gaun pengantin. Ia melemaskan otot-otot jarinya. Sembari memutar kursi menghadap kaca ruangannya. Dari atas sana, Valonia bisa melihat jika langit telah redup pertanda senja akan menjemput.


Di ufuk barat, warna langit sudah kemerah-merahan. Valonia menghela nafas panjang lalu menghabiskan sisa air putih di gelasnya. Ingatannya kembali pada percakapan saat pagi bersama Derry.


Ada luka sekaligus rindu yang terlihat dari iris mata laki-laki itu. Senyum palsu yang selalu terlihat mengandung luka teramat dalam. Valonia menghela nafas ketika mengingat semua itu. Rasanya benar-benar miris saat Derry bertanya bagaimana rasanya memiliki Ayah ? Tanpa terasa telaga air di mata Valonia meleleh jatuh ke pipi mulusnya. Perasaannya seperti diremas seolah Valonia bisa merasakan perasaan seorang Derry dan Ibu Marisa.


Valonia tak mampu menahan perasaannya yang ingin menangis. Ia menangis tak bersuara. Entah apa penyebabnya ? Padahal, sebelumnya Valonia bukanlah wanita memakai perasaannya. Tapi hari ini perasaannya begitu sensitif. Tangis Valonia mereda, perasaannya juga sedikit lebih baik. Ia menoleh ke meja kerjanya lalu meraih ponsel miliknya yang bergetar sejak tadi. Valonia gegas berdiri mengambil air putih dan meminumnya. Ia tidak mau jika ketahuan habis menangis.


"Sayang, kamu sudah pulang ke rumah?"


"Sebentar lagi, paman Ardi juga sudah menunggu di bawah. Kamu jangan pulang terlalu malam minta Endi pesan makan malam ya. Jangan sampai melewatkan makan malam mu." Valonia berusaha menjernihkan suaranya yang sengau akibat menangis.


"Tentu sayang, kamu juga hati-hati di jalan. Bila sudah sampai di rumah, kabari aku." Keyan heran kenapa suara istrinya terdengar serak. Namun ia tetap berpikir positif.


"Iya. Aku bersiap pulang dulu ya."


"Baiklah, kalau kamu mengantuk langsung tidur. Jangan menungguku. Aku tutup telponnya sayang." Keyan memutuskan sambungan telpon.


Sementara Valonia langsung bersiap untuk pulang. Namun, sebelumnya ia berkaca melihat matanya yang sedikit sembab. Tak ingin menjadi perhatian orang-orang. Valonia mencuci wajahnya agar lebih segar.


...----------------...


Valonia meninggalkan butik selepas senja. Wanita ini menatap lurus ke depan, pandangannya kosong disertai wajah sedikit murung. Pak Ardi memperhatikan Valonia sejak tadi.


"Anda kenapa Nyonya, apa ada masalah?" Pak Ardi memberanikan diri bertanya karena tak biasanya Valonia Jasmine murung tak bersemangat.


"Saya tidak apa-apa paman. Hanya lelah tadi menyelesaikan gaun pengantin." Valonia menjawab sembari tersenyum. Meyakinkan Pak Ardi jika dirinya baik-baik saja.


"Syukurlah, jika ada sesuatu yang mengganggu anda. Katakan pada saya." Pak Ardi melirik dari kaca depannya.


"Iya Paman."


Keheningan kembali terjadi. Valonia kembali menatap lurus ke depan. Ia memang merasa lelah. Hanya saja perasaannya tak seperti biasanya. Apakah karena cerita Derry ia bersedih ? Atau karena hal lain, Valonia belum mengerti.


"Iya, Al." Valonia menjawab sambil membenarkan letak tasnya.


"Kamu di mana?"


"Aku di jalan pulang." Valonia menjawab sambil menguap. Matanya begitu terasa berat.


"Baiklah, aku menyusul ke rumahmu. Maaf kemarin aku tidak sempat mampir mengambil pakaian pesananku. Terimakasih sudah membawanya ke rumah. Jadi, Aku tidak perlu ke butik. Besok aku ke luar kota jadi sekarang aku akan ambil jas pesananku."


"Baiklah." Valonia melirik lampu merah yang berubah hijau. Mobil perlahan-lahan melaju kembali.


"Aku tutup telponnya."


Valonia menyimpan kembali ponselnya lalu  melihat jam di pergelangan tangannya. Kelopak matanya teras berat sekali padahal baru jam setengah tujuh.


...----------------...


Di kantor JFB, Endi setengah berlari kembali masuk ke dalam ruangan Keyan. Nafasnya terengah dan tangannya menggenggam ponsel. Laki-laki ini mengurungkan niatnya untuk ke pantri.


"Key, ada laporan dari keamanan JFB. Mobil istrimu di ikuti oleh sekelompok orang. Sekarang mereka menyusulnya."


Keyan refleks berdiri, dadanya berdebar kencang. Netra nya terpaku pada wajah asistennya. "Minta Derry siapkan mobil, kita susul Jasmine." Perintahnya langsung meraih ponsel berusaha menelpon istrinya. "Cepat, En!"


"Kamu turun lebih dulu. Aku bereskan ini semua, Derry sudah menuju ke halaman kantor."


Keyan berlari sangat kencang. Perasaannya kacau balau, terlebih lagi ia ingat suara istrinya yang serak saat di telpon. Apa Valonia Jasmine dalam masalah ? Kecurigaan langsung tertuju pada Ayah Johan dan Tita. Karena hanya mereka yang suka cari masalah.


Endi langsung menyusul. Hanya berselang beberapa menit, ia bisa menyusul Keyan di bawah. Derry langsung membuka pintu mobil untuk Keyan.


"Ayo berangkat, istriku tidak menjawab telponnya. En, minta divisi IT kantor untuk melacak keberadaan istriku sekarang." Perintah Keyan sembari masih berusaha menelpon Valonia Jasmine. Tak hanya istrinya pak Ardi juga tak luput ia hubungi.


Ia semakin cemas karena telpon tak kunjung terjawab. Keyan meremas rambutnya frustasi. Tanpa ia tahu jika dua laki-laki bersamanya juga  cemas.